
Teman - teman Liam kembali melanjutkan bermain game mereka dan membiarkan Liam yang tengah asik dengan dunianya sendiri, sedangkan Jane masih berada di taman belakang rumah Liam untuk berbincang ria dengan Mrs Robinson sembari menemani Rosie mengerjakan tugas kuliahnya. Sekitar satu jam kemudian Rosie menutup laptop miliknya dan pergi menuju kamarnya untuk beristirahat, begitu juga dengan Mrs Robinson yang mengajak Jane untuk masuk ke dalam rumah namun Jane menolak karena dia masih ingin berada di taman itu sembari memandangi bunga - bunga yang bermekaran sangat indah. Jane kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk berkeliling taman melihat bunga - bunga tersebut dari dekat. Tetapi tidak berselang lama ada suara langkah kaki yang mendekat ke arah Jane dan langsung memeluk Jane dari belakang. Namun saat Jane ingin menoleh untuk melihat siapa orang yang memeluknya tiba - tiba orang itu memeluk Jane semakin erat dan meletakkan kepalanya di bahu Jane. Kemudian dia mencium bau parfume yang berada di leher Jane hingga membuat Jane merasa geli, dan Jane kemudian menoleh sedikit ke arah bahu kanannya untuk memastikan siapa orang yang berani memeluknya dari belakang tanpa meminta izin terlebih dahulu darinya. Ternyata orang itu ada Liam yang diam - diam melarikan diri dari kamarnya dan teman - temannya untuk bertemu dengan Jane.
Liam sengaja melakukan hal tersebut agar teman - temannya tidak melihat Jane walaupun Ricko sebenarnya sudah mengetahui jika Jane sedang berada di rumah Liam. Kemudian tangan Liam menarik pergelangan tangan Jane untuk mengajaknya jalan - jalan di sekitar taman belakang rumahnya. Saat Liam memeluk Jane tadi, Liam tiba - tiba merasakan hal aneh yang terjadi pada jantung dan perutnya. Jantungnya tiba - tiba berdegup dengan kencang dan secara tidak beraturan, sedangkan perutnya tiba - tiba terasa seperti ada ribuan kupu - kupu yang berterbangan di dalam perutnya itu. Liam merasa takut jika dia mulai mengalami penyakit serangan jantung dan itu membuatnya terus kepikiran saat sedang berjalan - jalan bersama dengan Jane. Saat melewati pohon bunga yang bewarna biru Liam lalu berhenti sejenak untuk memetik bunga tersebut dan memasangkannya di telinga Jane. Saat itu terjadi kontak mata antara Liam dengan Jane walaupun hanya sesaat, dan jantungnya kembali berdegup dengan kencang. Liam semakin yakin jika dia mulai mengalami penyakit jantung dan dia nanti akan berniat akan menulis surat wasiat. Mereka berdua kembali ke kursi taman dan Jane langsung duduk di pangkuan Liam dengan kedua tangan Liam yang melingkar di perut Jane. Tanpa mereka berdua ketahui ternyata teman - teman Liam mengintip mereka dari dalam rumah karena gerak gerik Liam yang terlihat mencurigakan sejak tadi.
"Itu pasti bukan Rosie kan?" tanya Dio berbisik kepada Ricko dan Chicko.
"Tidak mungkin itu Rosie karena mereka berdua terlihat mesra sekali," jawab Chicko.
"Siapa tau itu memang Rosie."
"Itu bukan Rosie karena mana mungkin Liam mulai tertarik dengan adik tirinya," ucap Chicko sembari terus mengawasi Liam dari kejauhan.
Dio kemudian melirik ke arah Ricko "kamu tau siapa wanita itu?"
Ricko menggelengkan kepalanya "aku tidak tau," ucapnya berbohong.
"Ayolah balikkan badanmu karena aku ingin melihat wajahmu." Dio bergumam menatap punggung Liam dan Jane dari kejauhan.
"Lebih baik kita kembali ke kamar Liam saja dan jangan mengganggu mereka berdua karena mereka pasti juga sangat membutuhkan privasi," ucap Ricko menepuk bahu Dio dan Chicko.
"Tapi aku sangat penasaran sekali dengan wajah wanita itu Ric."
"Sudahlah hentikan Dio! kalau Liam sudah siap pasti dia akan memperkenalkan kekasihnya kepada kita semua."
Chicko menepuk bahu Dio "benar yang dikatakan oleh Ricko, Liam pasti akan mengenalkannya kepada kita suatu saat nanti."
"Baiklah," ucap Dio berjalan meninggalkan tempat itu bersama teman - temannya.
Disisi lain Liam yang masih memeluk perut Jane kemudian meletakkan sebuah cermin ke atas meja, dan ternyata Liam sudah mengetahui jika teman - temannya ada di belakangnya mengawasi mereka berdua sejak tadi "syukurlah mereka berdua sudah pergi."
"Kenapa kamu malah memelukku seperti ini jika kamu tau bahwa kamu diawasi oleh teman - temanmu?" tanya Jane penasaran.
__ADS_1
"Aku sengaja saja sih karena aku fikir akan lebih menarik jika aku mempermainkan mereka," ucapnya sembari tertawa.
"Kamu ini sangat jahil sekali."
Liam tertawa "rasanya aku gatal sekali jika tidak mempermainkan mereka saat ada kesempatan."
Jane kemudian berdiri dan duduk di samping Liam "dasar Liam, ternyata saat kamu sakit masih bisa mengerjai orang."
"Memang aku sedang sakit?"
Jane memutar bola matanya "tadi badanmu masih panas saat memelukku apalagi saat meletakkan kepalamu di bahuku."
Liam kemudian berbaring di pangkuan Jane "kalau sekarang bagaimana?"
Jane lalu memegang dahi Liam "sekarang sudah sedikit turun suhu tubuhmu."
"Itu karena apa yang aku inginkan sudah terpenuhi."
"Mau bertemu denganmu dan bermanja - manjaan dengan kamu."
Jane tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya "baiklah jika itu kemauanmu babe."
"Kamu mengatakan apa?"
"Tidak tau, lupa."
Liam merasa kesal dan bibirnya cemberut "sudahlah."
"Kamu terlihat seperti anak kecil jika sedang seperti ini."
"Bodo amat," ucapnya merasa kesal kepada Jane.
__ADS_1
Jane lalu mengusap rambut Liam dengan lembut dan memainkannya sembari menatap wajahnya yang sedang terlihat kesal kepadanya. Cuaca saat itu tidak terlalu panas dengan hembusan angin sepoi - sepoi yang membuat pohon - pohon di sekitar taman tersebut terlihat seperti sedang menari - nari. Daun - daun kering juga terlihat berterbangan dan terjatuh ke tanah karena tertiup oleh angin, begitupun juga dengan rambut Jane yang dimainkan oleh angin. Mereka berdua masih terus asik berbincang dan tidak lama kemudian Liam mulai tertidur dengan sendirinya, sedangkan Jane terus memainkan rambut Liam walaupun Liam sedang tertidur. Tidak lama kemudian Mrs Robinson kembali menemui Jane yang masih di taman dan dia merasa terkejut karena melihat putranya tersebut yang terlihat sangat damai saat tertidur tidak seperti biasanya.
"Eh tante," ucap Jane menyapa Mrs Robinson.
"Ssstt, jangan terlalu kencang agar Liam tidak bangun."
"Baik tante."
"Apakah badannya masih sangat panas?"
"Sudah sedikit turun suhunya, tidak sepanas tadi."
Mrs Robinson menghela nafasnya lega "syukurlah. Liam terlihat sangat tenang sekali ketika tertidur di pangkuanmu Jane."
"Memang sebelumnya Liam tidak pernah tertidur sampai seperti ini tan?"
"Liam tidak pernah tertidur seperti ini sejak 3 tahun yang lalu, dia sering terlihat gelisah saat tidur."
"Memangnya kenapa bisa begitu?" tanya Jane merasa penasaran.
"Itu semua karena trauma yang dia alami hingga membuat sikapnya berubah 180 derajat, dan sekarang aku lihat sikap Liam perlahan mulai berubah kembali seperti dulu sejak mengenalmu Jane."
Jane merasa terkejut "benarkah, tante?"
"Benar Jane, jika sikapnya berubah kembali seperti dulu maka tante akan sangat berterima kasih kepadamu."
"Tidak perlu berterima kasih kepadaku tante, mungkin ini keinginan Liam secara pribadi untuk kembali seperti dulu."
"Liam bukan tipe orang yang seperti itu Jane, Liam akan berubah jika ada seseorang yang secara tanpa sadar mampu mengendalikan hatinya dan sepertinya hati Liam telah menemukan seseorang yang menjadi penghuni hatinya setelah sekian lama dibiarkan kosong."
"Memangnya siapa tante?"
__ADS_1
Mrs Robinson mengusap bahu Jane "kamulah orangnya Jane."