
Di lain sisi, Liam sekarang sedang berbaring di ruang tengah sembari memainkan PS karena sekarang dia memiliki waktu senggang serta sifat manja Jane sedang tidak kambuh. Liam bisa bersantai ria memainkan stick PS tersebut untuk melanjutkan permainannya yang sudah di simpan di sistem, dan untuk hari yang damai ini dia berencana untuk menyelesaikan semua misi di dalam game tersebut. Dengan memakai kacamatanya, Liam berusaha keras untuk menemukan petunjuk di dalam teka teki tersebut, dan tiba - tiba saja tenggorokannya merasa haus karena sudah terlalu lama berfikir. Dengan masih memakai kacamata perseginya itu, Liam lalu berjalan ke dapur untuk mengambil sebotol soda di dalam kulkasnya serta mengambil sisa cookiesnya kemarin. Melihat Bi Ijah yang sedang sibuk membersihkan meja dapurnya, tiba - tiba saja terlintas sebuah ide untuk menjahili Bi Ijah. Liam berjalan mengendap - endap lalu menepuk punggung Bi Ijah sembari mengejutkannya.
"BAA!!! teriak Liam sembari tertawa.
"Eh copot eh copot, haiss tuan muda mengagetkan bibi saja."
Liam tertawa.
"Hahaha kenapa bi?"
"Tuan muda ini. Eh sedang mencari apa di dapur tuan muda?"
"Aku sedang ingin mengambil soda serta cookies yang kemarin."
"Oh begitu, ingin bibi ambilkan?"
"Tidak perlu bi, bibi lanjutkan saja kerjanya."
"Baik tuan muda."
Liam lalu membuka kulkas dan mengambil sebotol minuman soda dingin. Lalu dia menghampiri meja mini bar dan berniat untuk mengambil sebuah toples yang berisi cookies, akan tetapi ketika sampai disana ternyata toples yang dicarinya tidak ada padahal kemarin terakhir kali dia meletakannya disana.
"Bi, toples yang disini kemarin sekarang ada dimana ya?" tanya Liam.
Bi Ijah lalu menoleh ke arah Liam.
"Toples yang dimana tuan?"
"Yang di meja ini, kemarin aku meletakannya disini."
"Waduh saya kurang tau tuan, coba nanti tanya nyonya atau Melati."
"Oh okay bi."
Tidak lama kemudian Bi Melati datang menghampiri Bi Ijah.
"Bi, saya sudah selesai."
"Oh iya, sebentar lagi pekerjaanku juga akan selesai kok tunggu sebentar ya."
"Okay bi."
Liam langsung menghampiri Bi Melati.
"Nah kebetulan kamu muncul, kamu tahu tidak dimana toples yang aku letakkan di meja mini bar?"
__ADS_1
"Toples apa tuan?" tanya Bi Melati.
"Toples yang berisi cookies kemarin, aku rasa masih sisa setengah."
Bi Melati lalu berfikir sejenak untuk mengingat - ngingat tentang sebuah toples yang berisi kue cookies. Lalu setelah itu Bi melati menjentikkan jarinya.
"Oh toples itu."
"Iya, kamu letakkan dimana toples itu?"
"Saya letakkan di rak atas."
Liam lalu bergegas mencari toples tersebut di rak.
"Mana bi, kok semua toplesnya kosong?" tanya Liam sembari masih terus mencari toples yang dimaksud.
"Memang sudah kosong tuan, maka dari itu saya mengembalikannya di rak."
Liam langsung menepuk jidatnya.
"Kenapa tidak bilang?"
"Aku fikir tadi tuan bertanya mengenai toples tersebut karena ingin mengisinya, jadi aku memberitahu jika ada di rak. Kemarin nyonya meminta tolong kepada saya untuk mencucinya karena isinya sudah habis setelah nyonya memakannya sembari bermain handphone."
"Oh begitu, ya sudah."
Liam kemudian mengejar Jane dan mengintipnya dari jauh dan ternyata Jane sedang ingin membuat sesuatu. Jane mengeluarkan sebuah mangkuk, mixer, dan beberapa bahan - bahan seperti bahan untuk membuat kue. Sebelum itu Jane mengikat rambutnya terlebih dahulu agar tidak ada rambutnya yang jatuh ke adonan kue. Jane memasukkan tepung serta memecah telur ke dalam mangkuk itu. Beberapa menit kemudian saat Jane hendak ingin mencetak adonan tersebut, Liam lalu menghampiri Jane dan memeluknya dari belakang. Tidak hanya itu saja, Liam juga menggigit telinga Jane hingga membuatnya merasa risih. Liam selalu saja mengganggu seperti itu saat Jane sedang berusaha membuat sesuatu. Tetapi Jane tidak pernah marah sekalipun dan justru merasa senang saat Liam seperti itu karena tandanya Liam ingin selalu dekat dengannya, dan berusaha untuk selalu dekat dengannya.
"Jane, sedang membuat apasih sebenarnya?" tanya Liam sembari masih memeluk Jane dari belakang.
"Katanya kamu tadi mencari cookies buatan mommy yang aku habiskan kemarin?"
"Darimana kamu mengetahuinya?"
"Bi Melati yang bercerita kepadaku."
"Memangnya kamu bisa membuat cookies seenak buatan mommy?" tanya Liam meremehkan.
"Kita lihat saja nanti bagaimana rasanya."
"Okay. Mmm kamu tidak marah kepadaku?"
"Marah kenapa? apa kamu berbuat salah kepadaku?"
"Siapa tahu begitu, karena seharian ini aku tidak mendengar ocehanmu yang menyebalkan itu."
__ADS_1
"Kamu berkata jika ocehanku itu sangat menyebalkan, lalu mengapa kamu malah mencarinya saat tidak mendengarnya?"
"Ya untuk memastikan bahwa kamu tidak marah atau ngambek kepadaku."
Jane beralih menatap Liam.
"Jika kamu tidak mendengar ocehanku, bukan berarti aku marah kepadamu hubby namun aku sedang merasa sedikit lelah saja dan ingin beristirahat."
"Lalu mengapa kamu harus sampai repot - repot membuatkanku cookies jika kamu sedang ingin beristirahat?"
Jane mengusap pipi Liam dan mencium pipinya walaupun dia harus berjinjit agar bisa mencium pipi Liam.
"Karena aku sayang denganmu."
"Oh, aku juga sayang kepadamu."
Jane kembali melanjutkan mencetak kue dengan ditemani oleh ocehan Liam yang selalu saja bertanya. Tidak lama kemudian Jane telah selesai mencetak kue cookies tersebut dan memasukkan loyang itu ke dalam oven. Saat itu Liam lalu mengangkat Jane dan mendudukannya di atas meja minibar.
"Kenapa hubbyku yang paling cerewet serta kebanyakan tanya?"
"Aku lelah selalu menunduk saat ingin menatap wajahmu, jadi aku mendudukanmu ke atas meja."
"Oh begitu, mmm aku merasa heran kenapa sekarang kamu banyak bertanya sedangkan dulu kamu itu orangnya kalau berbicara hanya sepatah atau duapatah kata saja."
"Sejak aku kecil mommy selalu berkata seperti itu mengenaiku, jika aku ini anak yang selalu cerewet serta banyak bertanya."
"Benarkah begitu?"
Liam mengangguk.
"Iya Jane."
"Tetapi kenapa waktu kita bertemu untuk yang pertama kalinya kamu tidak seperti itu?"
"Karena kita belum saling mengenal serta kata mommy tidak boleh berbicara kepada orang asing."
"Kalau sekarang masih merasa asing denganku?"
"Sedikit, saat aku melihatmu di instamili kamu jadi merasa asing untukku."
"Kenapa begitu?"
"Kamu seorang superstar yang memiliki banyak fans, dan aku hanyalah orang biasa yang selalu mencari kebahagiaan."
"Oh, kalau sekarang apa sudah menemukan kebahagiaanmu?"
__ADS_1
"Sudah, yaitu hidup bersamamu dan akan lengkap jika kita mempunyai seorang baby di masa depan."
"Iya."