
Ricko hanya tertawa melihat Liam, setelah itu Ricko menyusul Liam bermain skate di taman. Semakin sore, taman itu semakin ramai termasuk para remaja yang juga ingin bermain skateboard atau hanya melihat orang lain yang sedang asik memperlihatkan trick mereka saat bermain skateboard. Terkadang mereka juga saling menantang satu sama lain termasuk Ricko dan Liam yang sudah saling beradu memperlihatkan kemampuannya masing - masing. Tiba - tiba ada seorang remaja yang menantang Liam untuk melakukan trick yang terlihat sangat sulit, dan tanpa berfikir panjang dia langsung menerima tantangan dari seorang remaja tersebut. Semua orang langsung mengkosongkan arena tersebut dan mulai melihat Liam melakukan tantangan tersebut.
Liam mulai meluncur dari atas tetapi karena merasa sedikit ragu, akhirnya Liam terjatuh dan punggungnya terbentur besi yang biasa untuk mereka bermain skate. Semua orang berteriak, tetapi Liam berkata bahwa dia baik - baik saja dan mulai mencobanya kembali. Liam terus terjatuh, dan saat Liam jatuh tenyata Jane melihatnya. Jane langsung menyilangkan kedua tangannya untuk memberi kode kepada Liam agar dia tidak melakukannya lagi, tetapi Liam tidak mau mendengarkan Jane dan dia terus mencoba tantangan tersebut. Akhirnya Liam berhasil menyelesaikan tantangan tersebut setelah beberapa kali mencoba, semua orang langsung bersorak dan diiringi dengan tepuk tangan dari orang - orang yang menontonnya. Liam langsung berjalan ke arah Jane dan Gita diikuti oleh Ricko di belakangnya untuk beristirahat sebelum pulang.
Jane langsung memberikan salah satu minumannya saat dia tau Liam sudah berada di depannya "kan sudah aku bilang untuk tidak meneruskannya, kenapa kamu masih meneruskannya?"
Liam duduk dan meminumnya "aku hanya tidak mau kalah itu saja, lagipula aku juga tidak kenapa - kenapa hanya luka sedikit saja."
"Haha sudahlah Jane, kamu kalau melarang Liam tetap saja akan sia - sia karena memang sifat nya begitu, dia sudah biasa menghancurkan tubuhnya dari dulu."
Liam mengangguk setuju "benar apa yang dikatakan oleh Ricko, luka kecil ini tidak berarti bagiku asalkan aku dapat memenangkannya."
Mendengar hal tersebut, Jane langsung memutar bola matanya sembari meminum soda miliknya "terserah padamu saja, yang penting aku sudah memperingatkanmu."
Lalu tiba - tiba Jane mendapatkan sebuah telepon, Jane langsung berdiri dan pergi mengangkat teleponnya. Sedangkan mereka bertiga melanjutkan perbincangannya. Beberapa menit kemudian, Jane kembali ke tempat duduknya dan ikut berbincang kepada mereka.
"Eh bagaimana kalau kita berempat dinner bersama setelah ini?"
"Aku setuju apa yang dikatakan oleh Gita, bagaimana Liam?"
"Baiklah, kamu tidak ikut kan Jane? nanti akan ku antar kamu pulang ke rumahmu."
"Tentu saja aku akan ikut, nanti antarkan aku pulang ke apartement saja ya?"
"Heh kenapa begitu?"
"Semua anggota keluargaku pulang ke Korea termasuk oppa, jadi aku akan pulang ke apartement saja."
"Baiklah, tapi sepertinya aku tidak membawa kunci unitnya karena tertinggal di rumah."
Semua orang terkejut mendengar ucapan Liam termasuk Jane yang langsung menepuk dahinya. Setelah itu Ricko dan Gita menatap mereka berdua dengan tatapan penuh intimidasi. Berbeda dengan Jane yang merasa sedikit canggung, Liam justru hanya tertawa cengegesan melihat Ricko dan Gita.
"Apa maksudnya ini Liam?"
Liam tersenyum "hehe begini bro, aku akan menjelaskannya kepada kalian tapi jangan bilang siapa - siapa ya?"
"Iya, cepat jelaskan!"
"Sebenarnya Jane dulu sering menginap di unit apartement ku, sudah sekitar 1 bulanan lah."
"Sejak kapan kamu punya apartement?"
__ADS_1
"Sudah sejak beberapa minggu setelah aku pulang dari Australia sih sepertinya."
Gita menatap Jane dan Liam secara bergantian "kalian berdua tidak melakukan hal yang aneh - aneh kan?"
Jane langsung menyangkal pertanyaan Gita "tidak kok, kami pisah kamar tenang saja."
"Syukurlah kalau begitu."
"Tenang saja Liam, kunci apartement yang kamu berikan kepadaku selalu ada di tasku kok ini aku sudah membawanya."
"Ya sudah kalau begitu."
"Mau berangkat sekarang?"
"Pulang terlebih dahulu saja bagimana? badan aku gatal ini mau mandi dulu di apartement."
"Ya sudah Li, nanti mau ketemuan di mana?"
"Di pom bensin dekat perempatan saja."
"Oke deh, ayo sayang kita pulang."
Liam tertawa "idih sekarang panggilannya sayang."
"Iri bilang sahabat."
(Tok tok tok) "Kitten, sudah selesai belum?"
Jane berteriak "belum, tunggu sebentar!"
Liam lalu memutuskan untuk menerobos masuk ke dalam kamar Jane "lama sekali sih, ngapain aja dari tadi?"
Jane merasa terkejut "kamu ini selalu saja sembarangan masuk kamar orang."
"Hei ingat ini unit apartement milik siapa?"
"Iya deh iya aku tau."
"Cepat dong!"
"Iya sabar, aku baru memakai lipstick ini."
"Tidak pakai saja sudah cantik kok kamu."
__ADS_1
"Sstt diam."
Liam kemudian berbaring di ranjang milik Jane sembari menunggu Jane selesai memakai make up nya. Liam kemudian menghirup udara dan berkata "ternyata bau kamar ini berubah ya, semenjak kamu menempatinya."
"Memangnya kenapa? apa tidak enak baunya?"
"Tidak, bukan begitu tapi lebih harum aja bau parfume kamu."
"Oh begitu, ini bau parfume yang kamu berikan untukku waktu itu."
"Pantas saja sepertinya tidak asing baunya, eh apakah jika aku sudah menikah dan tinggal sekamar dengan istriku apakah wangi kamarku akan berubah?"
"Sepertinya begitu."
"Lalu, kenapa tidak kamu saja yang menjadi istriku?"
Jane kemudian menghentikan aktivitasnya dan berfikir sejenak "jujur sebenarnya aku masih ragu denganmu Liam, kamu tau kan kalau kita belum begitu mengenal satu sama lain?"
"Ya aku tau itu, sudahlah mari kita pergi."
"Ayo."
Liam dan Jane langsung memutuskan untuk pergi berjalan - jalan bersama dengan Ricko dan Gita. Sesampainya di basement apartement, Liam langsung memasangkan helm di kepala Jane dan mulai mengendarai motornya menuju ke tempat yang tadi telah disepakati. Sesampainya di pom bensin, Ricko dan Gita sudah menunggu mereka berdua di sana.
"Wah, kalian berdua itu emang serasi hahaha."
"Serasi dari Hongkong?"
"Memang serasi kok, ya kan beb?"
"Iya beb."
"Sudah, lebih baik sekarang kita berangkat agar tidak kemalaman."
"Baiklah."
Lalu mereka semua mengendarai motornya menuju restaurant milik keluarga Liam untuk makan malam bersama, mereka sengaja memilih dinner di restaurant tersebut karena tempatnya sangat dekat dengan pusat perbelanjaan. Selama di perjalanan Jane hanya diam saja sembari menikmati suasana kota di malam hari. Liam yang melihat Jane hanya terdiam, lantas menggoda Jane dengan menambah kecepatan motornya.
Jane lantas memukul punggung Liam "pelan - pelan saja jangan mengebut."
"Ah sakit tau. Makanya pegangan agar tidak jatuh."
"Tidak mau, kamu cuma mau modus."
__ADS_1
Liam langsung meraih tangan Jane dan meletakannya diperutnya "pegangan begini, kalau kamu sampai jatuh kan bisa repot aku."
Jane memutar bola matanya dengan malas "Iya."