
Keesokan harinya mereka berdua sudah berada di New York dan Liam sedang meminum juice alpukat di kamarnya sembari menyelesaikan lukisannya karena masih ada yang kurang sedikit. Setelah itu dia pergi ke gym hotel untuk berolahraga karena dia ingin lebih membentuk tubuhnya untuk di tunjukkan kepada Jane. Liam memulai pemanasan terlebih dahulu, baru setelah itu dilanjutkan dengan olahraga inti. Liam sangat fokus berolahraga sembari mendengarkan musik favoritenya dengan menggunakan headphone miliknya. Tiba - tiba handphone milik Liam berbunyi, dan dia langsung menjawab panggilan vidio call dari Jane tersebut. Jane merasa terheran kenapa Liam sangat berkeringat sekali. Liam langsung membalikkan kameranya ke arah cermin dan menujukkan hasil dari olahraganya tadi. Jane hanya tersenyum sembari mengacungkan jari jempolnya untuk Liam. Mereka berdua berbincang dan bercanda bersama, lalu setelah itu Jane mematikan teleponnya karena ingin pergi.
Liam lalu melakukan pendinginan sebelum dia pergi kembali ke kamarnya. Liam kemudian berjalan menuju kamarnya, dan sesampainya di kamarnya Liam meminum air mineral yang sudah tersedia di kamarnya. Setelah itu Liam pergi untuk mandi. Nat membunyikan bel kamar Liam begitu dia berada di depan pintu kamarnya. Mendengar bel kamarnya berbunyi, Liam langsung membuka pintunya dan menyuruh Nat untuk masuk. Setelah itu mereka berdua pergi untuk makan siang di restaurant hotel itu sebelum pergi ke boutique seperti yang telah direncanakan kemarin. Nat tersenyum begitu mengetahui Liam memakai hoddie dan sepatu darinya. Selesai makan siang mereka berdua langsung pergi menuju boutique merk ternama yang terdekat. Sesampainya di boutique tersebut, mereka berdua lalu melihat - lihat terlebih dahulu mana yang cocok.
"Kamu ingin membeli apa hon?" tanya Nat sembari menggandeng tangan Liam.
"Tas."
"Baiklah, untuk siapa?"
"Mommy dan Rosie."
Nat mengangguk "oh begitu. Aku akan membantumu untuk memilihnya."
Nat mengambil sebuah tas bewarna putih "bagaimana dengan yang ini? sepertinya ini cocok untuk mommy."
"Aku rasa begitu."
"Kalau backpack ini cocok untuk dibawa Rosie kuliah."
"Baiklah, aku juga ambil yang ini."
Nat lalu berbicara kepada pegawai boutique "tolong yang 2 ini ya."
"Baik nona."
"Kamu kalau mau ambil saja, aku yang akan membayarnya."
Nat terkejut "kamu benar, bukannya 2 tas itu sudah sangat mahal lalu bagaimana kalau 3 tas yang kamu ambil hon?"
"Tenang saja, itu masih sangat murah untukku lagipula aku sekarang sudah mempunyai blackcard milikku sendiri."
"Baiklah, aku memilih yang ini saja hon."
"Benar yang ini?"
"Iya benar hon."
"Baiklah, tolong yang ini juga."
__ADS_1
"Baik."
Liam lalu melihat sebuah handbag yang sangat lucu dan dia berfikir pasti akan sangat cocok untuk Jane, jadi dia mengambil tas tersebut. Nat terkejut melihat Liam kembali mengambil sebuah tas yang harganya sangat mahal bahkan lebih mahal dari tas yang dia ambil, lalu dia bertanya kepada Liam "benar kamu mau membeli tas ini?"
"Iya benar."
"Apa kamu tidak melihat harganya terlebih dahulu?"
"Iya aku melihatnya, dan tidak masalah karena aku suka dengan tas ini jadi aku mengambilnya."
"Totalnya $13.000."
Liam lalu menyerahkan blackcard miliknya "ini, pakai ini saja."
Pagawai boutique kemudian menyerahkan papaer bag belanjaan Liam beserta blackcard miliknya "ini, terima kasih."
"Sama - sama." Mereka berdua lalu pulang ke hotel Liam karena Liam akan membereskan semua barang bawaannya.
Setelah sampai di hotel, Liam langsung meletakkan semua paper bag itu lalu membereskan semua pakaian dan barangnya dengan di bantu oleh Nat. Saat sedang membereskan semua barangnya, Liam tiba - tiba mendapatkan sebuah telepon. Dia langsung berjalan ke luar kamarnya untuk menjawab telepon tersebut begitu mengetahui orang yang menghubunginya dari layar handphone. Melihat hal tersebut Nat menjadi sangat curiga dengan Liam karena Liam jarang sekali menghindar darinya saat mengangkat telepon. Nat bertanya - tanya, kira - kira siapa yang menghubungi Liam hingga dia harus pergi menjauh dari dirinya untuk mengangkat telepon itu? apakah pacaranya atau mungkin itu benar Jane dan mereka berdua benar - benar sedang menjalin sebuah hubungan? begitu yang sedang di fikirkan oleh Nat.
Setelah itu Nat kembali merapikan dan memasukkan semua pakaian Liam ke dalam kopernya. Nat lalu menatap semua paper bag milik Liam yang berisi tas tadi dan berfikir aneh mengapa Liam sekarang gemar membeli tas - tas mewah apakah dia sedang mengoleksinya secara pribadi atau untuk diberikan kepada seseorang? sepertinya tidak mungkin jika satu tas yang dipilihnya secara pribadi untuk dia gunakan sendiri sedangkan itu sangat jelas jika tas itu adalah tas untuk seorang wanita dan tidak mungkin untuk di pakai pribadi. Setelah selesai menjawab telepon tersebut Liam kembali masuk ke kamarnya dan langsung menghampiri Nat sembari mengusap lembut rambut Nat.
"Tidak sedang memikirkan apa - apa kok."
Liam lalu duduk di samping Nat "kalau tidak memikirkan apapun kenapa kamu melamun?"
"Itu mungkin tidak sengaja saja hon."
Liam lalu berdiri dan mengambil sebuah lukisan yang telah di lukis sendiri olehnya "ini untukmu sebagai kenang - kenangan dariku."
Nat mengambil lukisan tersebut dan menatapnya "wah ini indah sekali, apakah kamu sendiri yang melukisnya hon?"
Liam tersenyum "tentu saja, kemarin kamu ingin jika aku melukismu di atas kanvas kan?"
Nat mengangguk "iya hon, terima kasih."
"Sama - sama Nat," ucap Liam sembari kembali mengusap rambut Nat.
"Aku akan memajangnya di kamar apartement pribadiku."
"Baiklah, apakah ini belum selesai?"
__ADS_1
"Belum, masih ada beberapa pakaian yang belum aku masukkan hon."
"Sini aku akan membantumu."
"Tidak perlu, kamu lebih baik memasukkan barang - barang milikmu di ransel saja karena kamu tidak pandai merapikan pakaian di dalam koper."
Liam tertawa "ternyata kamu masih mengingatnya, dan kemarin sebelum berangkat kemari mommy yang memasukkan semua pakaianku ke dalam koper."
"Sudah kuduga, dulu kamu juga sering memintaku untuk memasukkan pakaianmu ke dalam koper saat berada di Australia karena kamu tidak berhasil merapikannya."
"Kamu benar Nat."
"Apa kamu akan terus meminta bantuan mommy untuk ini?"
"Tidak, aku akan meminta bantuan kepada istriku di masa yang akan datang."
"Baiklah. Eh lalu paper bag ini akan ikut kamu masukkan ke dalam koper atau bagaimana?"
"Jangan, kalau bisa jadikan satu saja lalu aku akan menentengnya menggunakan sebelah tanganku."
"Apa nanti tanganmu tidak akan merasa pegal?"
"Tidak, mungkin hanya sebentar saja kok."
"Baiklah hon, apakah kamu sudah selesai merapikan ranselmu dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal?"
Liam memeriksanya kembali "sudah selesai dan sepertinya tidak akan ada yang tertinggal kok Nat."
"Baiklah kalau begitu, aku juga sudah selesai merapikan kopermu dan kamu akan turun sekarang?"
"Tentu saja dan aku tidak sabar untuk segera pulang."
"Memangnya ada seseorang yang sedang menunggumu di Indonesia?"
"Rosie."
"Oh begitu, mari kita turun sekarang dan aku akan membantumu membawa kopermu."
"Tidak Nat, biar aku saja yang membawa koperku dan kamu membawa paper bag ini."
"Baiklah hon."
__ADS_1