Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #85


__ADS_3


Liam lalu membantu Jane membereskan semua peralatan makan yang mereka gunakan dan mencucinya. Setelah selesai mencuci semua peralatan makan tersebut mereka berdua bersantai di ruangan tengah sembari bermain dengan Kiko. Liam juga melihat semua ikan peliharaannya yang berada di dalam aquarium dan memberinya makan. Jane hanya memperhatikan Liam bermain bersama semua ikan peliharaannya tersebut, lalu Jane pergi ke dapur untuk membuatkan Liam jus alpukat kesukaannya. Saat membuat jus alpukat Jane terus kepikiran tentang perasaannya kepada Liam yang masih ragu - ragu. Jane sudah mulai merasa nyaman saat berada di samping Liam, tetapi di sisi lain Jane juga masih ragu jika Liam benar - benar menyukainya karena bisa saja di hati Liam masih ada Nat yang jelas - jelas mereka lebih lama dekat ketimbang dengan dirinya dan Liam kemarin jauh - jauh pergi ke New York hanya untuk menemuinya. Bisa saja jika rasa yang Liam miliki untuk Nat kembali tumbuh ketika mereka berdua menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari, lagipula tadi malam waktu Jane memeluk Liam dia mencium bau parfume wanita di baju yang Liam pakai sepulang dari New York dan jelas - jelas itu bukan parfume miliknya.


Mungkin Nat terus menempel kepada Liam sewaktu berada di New York dan tidak bisa dipungkiri jika mereka berdua ternyata lebih dekat dari yang dikira. Jika seperti itu Jane menjadi takut untuk menerima Liam dan memilih untuk sedikit menjaga jarak dengannya seperti dulu agar tidak disangka sebagai orang ketiga di dalam hubungan mereka berdua. Liam yang mengetahui jika Jane melamun dari tadi, Liam kemudian mendekati Jane dan memeluknya dari belakang yang membuyarkan lamunan Jane. Liam metakkan dagunya ke bahu Jane sembari bertanya alasan mengapa dia melamun dari tadi namun Jane langsung menghindari Liam dan melepaskan tangan Liam yang mengelilingi perutnya hingga membuat Liam merasa terheran dengan tingkah Jane tersebut. Jane kemudian memberikan jus alpukat yang tadi dibuat oleh dirinya kepada Liam agar Liam berhenti bertanya kepadanya. Jane kemudian berjalan menghampiri Kiko yang sedang berada di ruang tengah. Selesai menghabiskan jus alpukat yang dibuat oleh Jane kemudian Liam menghampiri Jane yang sedang bermain dengan Kiko di ruang tengah dan terus menempel kepada Jane namun terus - terusan menghindari Liam hingga membuat bertanya - tanya kepada dirinya sendiri apa dia mempunyai salah kepada Jane sehingga membuat Jane marah dan terus menghindarinya.


"Liam berhentilah menempel kepadaku!" ucapnya membentak Liam.


"Apa salahku sehingga kamu seperti sedang menghindariku?"


"Kepalaku sedang sakit, jadi tolong mengertilah."


"Baiklah, maaf."


"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah utamamu, orang tuamu pasti menunggumu."


"Nanti saja, aku belum ingin untuk pulang ke rumah utama."


"Kenapa begitu?"


"Tidak apa - apa, aku hanya sedang ingin bersamamu karena aku sangat merindukanmu."


"Aku tidak merindukanmu dan sedang tidak ingin bersamamu, jadi pulanglah."


"Kenapa kamu jadi mengusirku padahal ini unit apartement milikku?"


Jane lalu berdiri "baiklah kalau begitu biar aku saja yang pergi bersama dengan Kiko."


Liam kemudian menggenggam pergelangan tangan Jane untuk mencegahnya pergi "kumohon jangan pergi meninggalkanku sendiri disini."


"Berhentilah merengek seperti anak kecil Liam, dan biarkan aku untuk sendiri terlebih dahulu."


"Tapi kenapa Jane?"


"Karena aku tidak menyukainya."


"Jane kenapa kamu menjadi begini?"


"Suasana hatiku sedang tidak baik ditambah dengan kepalaku sedang sakit, jadi kumohon untuk mengerti Liam."

__ADS_1


"Baiklah jika itu yang kamu mau maka aku akan pergi."


Liam lalu menelepon seseorang dan memintanya untuk menjemput ke apartementnya. Liam membanting pintu apartement di depan Jane, kemudian dia pergi meninggalkan Jane sendirian di apartementnya dan memilih untuk pergi bersama teman - temannya dengan membawa ransel beserta koper miliknya. Saat itu Jane seketika sedikit merasa bersalah kepada Liam karena perlakuannya tadi, namun tiba - tiba saja perut Jane merasa kram dan Jane kemudian pergi ke kamarnya. Liam meminta Ricko untuk mengantarkannya pulang ke rumah utamanya terlebih dahulu karena ingin meletakkan tas dan kopernya di rumah utama lalu setelah itu mereka pergi ke cafe tempat Dio bekerja. Liam mengendarai motor miliknya begitu juga dengan Ricko, Di jalan Liam mengendarai motornya dengan sangat cepat hingga membuat Ricko harus selalu berada di samping Liam untuk memperingatkannya apalagi jika tempramen Liam sampai kambuh bisa sangat berbahaya sekali.


"Sepertinya suasana hatimu sedang buruk Li."


"Kamu benar Ric, awalnya aku sangat bahagia namun ada seseorang yang menghancurkannya."


"Siapa?" tanya Ricko.


"Jane."


"Kalian berdua ini selalu bertengkar, sekarang apa yang menyebabkan kalian bertengkar?"


"Aku tidak tau, suasana hatinya tiba - tiba berubah dan malah memarahiku tanpa alasan yang jelas. Ternyata wanita itu sangat rumit, menyebalkan sekali."


"Ya begitulah, terkadang sangat sulit untuk memahami seorang wanita. Bisa saja dia sedang kedatangan tamu bulanan sehingga suasana hatinya bisa berubah - ubah."


Liam merasa bingung dengan ucapan Ricko "apa maksudnya tamu bulanan?"


"Kamu tidak mengetahuinya?"


"Tidak," ucapnya sembari meminum ice cappucino miliknya.


"Ya memang benar karena mereka tidak pernah memberitahuku apapun mengenai hal yang sedang kamu bicarakan itu."


"Ah kamu ini."


"Aku tidak bisa menjelaskan kepadamu secara detail tetapi kamu harus menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kamu menemuinya kembali dan jika bisa bawakan saja cokelat, makanan pedas atau apapun itu seperti yang aku lakukan kepada Gita sewaktu dia mengalami hal tersebut."


"Baiklah nanti akan aku coba."


"Jangan gunakan emosimu apalagi sampai tempramenmu kambuh untuk menghadapinya, tetapi gunakanlah sisi lembutmu dan penuh kesabaran agar dia bisa merasa nyaman. Dia masih tinggal di apartementmu bukan?"


"Iya masih."


"Kalau begitu gunakanlah saranku itu dan jangan biarkan dia sendirian."


"Nanti akan aku pesankan kue strawberry kesukaannya sebelum pulang ke apartement."

__ADS_1


"Baguslah. Oh iya selamat ulang tahun Liam semoga panjang umur, sehat selalu, dan semoga Tuhan selalu memberkatimu."


"Amin, terima kasih Ricko."


"Sama - sama. Apakah ada pesta?"


"Tenang, itu bisa di atur. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Gita?"


"Kami berdua masih baik - baik saja dan masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal lebih dalam lagi sebelum ke jenjang yang lebih serius."


"Baguslah, semoga kalian berdua langgeng terus sampai nikah."


"Amin."


"Aku rasanya jenuh sekali dengan semua ini."


"Jenuh karena apa?"


"Ya kamu tau sendiri kan bagaimana orang tuaku yang terus - terusan memintaku untuk segera menikah? rasanya aku ingin sekali pergi entah kemana, intinya ingin menghilang saja."


"Iya aku tau, tapi apa kamu tidak berfikir tentang Rosie atau kedua orang tuamu itu?"


"Iya aku memikirkan itu, tetapi semakin lama aku semakin merasa jenuh dengan semua ini. Apa kamu pernah merasakan bagaimana rasanya seperti menjadi orang yang tidak berguna karena keahlianku yang sangat berbeda dari daddy?"


"Aku tau jika kamu lebih ahli bermain skateboard, melukis ataupun menyanyi ketimbang dengan mengurus perusahaan, tetapi coba kamu mulai mencintai pekerjaanmu seperti kamu mencintai semua hobi mu tersebut karena aku lihat Mr Robinson sangat berharap banyak kepadamu Li."


Liam menghela nafasnya dengan kasar "aku ini rasanya seperti orang yang tidak berguna karena orang tuaku sudah mempunyai segalanya dan aku seperti tidak pernah mencapai apapun untuk membuat orang tuaku merasa bangga kepadaku."


"Jangan berfikir seperti itu, mungkin bisa saja mereka merasa sangat bangga kepadamu meskipun dalam hal lain dan pasti mereka juga bangga karena mereka mempunyai seorang anak yang sangat baik kepada orang lain."


Liam tertawa "aku tau kamu pasti hanya berusaha menghiburku saja dengan berbicara seperti itu kan?"


"Tidak, aku bersungguh - sungguh mengatakan hal tersebut Liam. Jika kamu ingin menghilang, setidaknya fikirkan tentang Rosie yang betapa bahagia dan beruntungnya dia bisa diberi kesempatan untuk merasakan memiliki anggota keluarga yang sangat lengkap yang juga mencintainya dengan tulus."


Liam menundukkan kepalanya "ya, kamu benar."


"Kamu sudah menjadi anak yang baik, kakak yang baik, saudara yang baik, sahabat ataupun teman yang baik dan kamu harus mempertahankan itu semua Li. Asalkan kamu tau jika aku juga sangat bangga karena mempunyai sahabat sepertimu."


"Terima kasih Ricko, memang tidak salah aku bercerita kepadamu dan berbagi keluh kesahku selama ini."

__ADS_1


"Tidak apa - apa itu gunanya seorang sahabat. Sudahlah jangan membiacarakan hal seperti ini di hari ulang tahunmu karena kita harusnya berbahagia."


"Kamu benar."


__ADS_2