
Di pagi harinya, Liam bangun dari tidurnya dan langsung mandi. Selesai mandi Liam panik karena setelan jas yang dia siapkan sebelum tidur tidak ada di tempatnya. Liam yang masih memakai handuk mandi, berkeliling di sekitar kamarnya mencari baju nya itu. Liam berjalan kesana kemari sembari membuka semua laci - laci meja dan pintu - pintu lemari di walk in closet nya. Saat Liam sedang sibuk di walk in closet nya, Jane memasuki kamar Liam dan memanggil - manggil Liam karena Liam tidak berada di ranjang atau area kamarnya. Jane tetap berteriak memanggil Liam sembari membuka jendela dan mematikan ac kamarnya. Karena Liam tidak merespon panggilan Jane, akhirnya Jane keluar dari kamar Liam dan kembali ke kamarnya untuk memakai make up. Beberapa menit kemudian, Liam keluar dari walk in closet nya dan melihat setelan jas yang berbeda berada di atas ranjangnya. Liam yang merasa keheranan lantas membawa setelan jas tersebut ke kamar Jane untuk menanyakannya kepada Jane dengan badannya yang masih memakai handuk mandinya.
Liam Membuka pintu kamar lalu menunjukkan setelan jas tersebut "kok jas yang aku siapkan semalam tidak ada, dan kenapa menjadi berbeda?"
Jane masih sibuk dengan make up nya, jadi dia tidak memperhatikan Liam "oh jas kamu jelek, oleh karena itu aku menyiapkan yang baru untuk kamu chiken. Begitu saja tidak paham."
"Setelan jas aku itu masih bagus, dan kamu buang kemana jas aku?"
(Masih sibuk dengan make up nya) "ya aku buang di tempat sampah depan apartement. Sudahlah pakai saja jas yang aku belikan untuk kamu, jangan cerewet jadi orang."
"Kamu ini dasar wanita kurang ajar."
"Ihh kamu ini masih pagi jangan membuat aku emosi."
Kemudian Jane berdiri dari kursinya dan kemudian menatap Liam. Jane terkejut karena Liam yang sedari tadi masuk dan marah - marah dikamarnya ternyata hanya memakai handuk mandinya saja yang memperlihatkan perut six pack nya. Jane kemudian berteriak dan langsung menutup kedua matanya menggunakan kedua tangannya dan mengusir Liam keluar dari kamarnya. Mendengar Jane berteriak dengan kencang, Liam langsung menghampiri Jane dan membungkam mulut Jane rapat - rapat.
(Masih membungkam mulut Jane) "sssttt diam Kitten jangan berisik ini masih pagi. Kamu melihatku seperti sedang melihat setan saja, dasar wanita tidak jelas."
Kemudian Jane menyingkirkan tangan Liam yang sedang membungkam mulutnya "ihh singkirkan tangan kamu dari mulut suci ku ini, ihh."
"Mulut suci apaan? bukannya mulut kamu itu sudah ternodai karena sering cium sana cium sini?"
__ADS_1
Jane kemudian memukul badan Liam setelah mendengar ucapan Liam "sembarangan kalau kamu berbicara Chicken."
"Haiss sudahlah. Sekarang kembalikan jas aku yang kamu buang di tempat sampah."
"Tidak mau itu sudah jelek, lagipula aku sudah menggantinya dengan jas yang baru. Cepat kamu berganti baju dan berdandan lah yang rapi, karena aku tidak mau jika harus berjalan berdampingan dengan seorang gembel di acara nanti."
"Bikin menyesal saja mengajak kamu pergi ke acara karena ternyata kamu orangnya ribet sekali, ini lah itu lah ihh. Tau begitu aku tidak mau mengajakmu."
Kemudian Jane mendorong Liam keluar dari kamarnya dengan paksaan "sudah sana pergi berdandan yang rapi dan wangi!!"
(blam) kemudian Jane menutup dan mengunci pintu kamarnya agar Liam tidak bisa masuk kembali. Setelah itu Jane kembali melanjutkan aktivitasnya yang sedang berdandan memakai make up. Di sisi lain, Liam lalu berjalan kembali ke kamarnya dan dengan terpaksa memakai jas yang diberikan oleh Jane. 20 menit kemudian, Liam telah selesai bersiap - siap dan keluar dari kamarnya dengan rapi dan wangi. Liam pergi ke dapur untuk membuat kopi dan kemudian duduk di ruang tengah untuk bermain dengan Kiko sembari meminum kopinya. Jam telah menunjukkan pukul 08.20 dan Jane masih saja belum keluar dari kamarnya. Lantas Liam langsung mengetuk - ngetuk pintu kamar Jane seperti seorang rentenir yang sedang menagih hutang. Tak lama setelah itu Jane keluar dari kamarnya dan langsung memukul badan Liam.
"Sakit tau, dari tadi badan aku di pukul terus. Memangnya aku samsak tinjumu apa?"
"Ssttt sudah jangan berdebat lagi, sekarang jam 08.30 ayo berangkat agar tidak telat. Eh tapi tumben kamu cantik juga hahaha."
Jane berjalan duluan menuju ke lobby "masa bodoh aku tidak akan tergoda oleh rayuan kamu, dasar buaya berkedok ayam."
Berusaha mengejar Jane "Kitten tunggu."
Akhirnya mereka berdua berangkat menuju tempat acara reuni akbar Liam. Selama berada di mobil, mereka berdua hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata sedikitpun. Jane juga hanya terus menatap keluar jendela kaca mobil saja, sedangkan Liam hanya diam fokus menyetir walau juga terkadang melirik Jane. Jane yang menyadari jika Liam menatapnya, kemudian Jane menepuk - nepuk pipi Liam untuk mengisyaratkan agar Liam tidak terus - terusan menatapnya. Liam yang mengetahui maksud isyarat dari Jane, kemudian dia hanya tersenyum saja.
"Kenapa sih kamu senyum - senyum begitu?"
__ADS_1
"Ya memang tidak boleh?"
"Tidak!! karena kalau kamu tersenyum begitu pasti mencurigakan."
(Melepas setabelt nya) "sudah sampai ayo turun. Eh tunggu sebentar."
"Apaan sih Liam?"
Kemudian Liam turun dari mobilnya dan berlari kecil menuju pintu sebelah untuk membukakan pintu Jane sembari tetap tersenyum. "silahkan nona cantik dan manis hahaha."
"Tumben kamu begini, kamu kerasukan setan ya?"
"Tidak kok, cuma tiba - tiba mood aku jadi bagus aja."
Jane tersenyum lalu merangkul tangan Liam dengan erat, dan membuat Liam terkejut atas perlakuan Jane karena Liam fikir tadi Jane jadi badmood gara - gara ribut dengannya tadi pagi. Liam hanya mematung dan diam karena menurutnya kakinya susah di gerakkan, lantas Jane juga ikut berhenti melangkah.
"Kok berhenti?"
"Sebenarnya aku sangat gugup sekali."
"Kenapa? ayo masuk."
"Tidak tau saja kenapa tiba - tiba begitu gugup."
__ADS_1
Kemudian Liam mengambil nafas lalu membuangnya dan dia melakukannya secara berulang untuk meredakan rasa gugup nya. Jane mengusap punggung Liam untuk membantu meredakan rasa gugup Liam. Tak membutuhkan waktu lama untuk meredakan rasa gugup Liam, setelah itu Liam menatap Jane dan mengisyaratkan agar Jane kembali merangkul tangannya. Tanpa basa - basi Jane langsung merangkul tangan Liam dan memasuki ruangan tersebut. Setelah mereka berdua memasuki ruangan tersebut secara berdampingan, semua orang yang ada di ruangan tersebut dibuat heboh karena melihat Liam datang dengan seorang model terkenal dari brand fashion mewah yang penampilannya sangat glamour. Semua mata langsung tertuju menatap mereka berdua karena perpaduan yang sangat sepadan antara tampan dan cantik, dan juga kecocokan kasta mereka berdua. Semua tatapan mereka membuat Liam semakin gugup dan Liam beralih menatap Jane.