
Mereka berdua melakukan panggilan vidio sekitar 30 menit, dan setelah itu Liam berpamitan kepada Jane untuk beristirahat karena dia merasa sangat kelelahan. Liam kemudian mematikan semua lampu di ruangannya karena Liam tidak bisa tidur jika ruangannya bercahaya. Liam kemudian melepas baju yang dia pakai dan hanya memakai celana pendeknya saja untuk tidur. Di saat dia mulai tertidur lelap, tiba - tiba dia mengalami mimpi buruk hingga membuatnya terbangun di jam 4 pagi. Liam duduk bersandar di headboard ranjangnya, lalu menghela nafasnya dengan kasar. Dia merasa sedikit kacau karena mimpi buruknya tersebut, dan dia langsung mengusap wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya. Liam mengambil handphone miliknya dan mengambil selfie dirinya yang sedang bertelanjang dada, lalu dia mengirimkannya kepada Jane dengan disertai sebuah pesan untuk Jane.
Setelah itu Liam beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke arah jendela ruangannya yang luas tersebut. Dia membuka gorden jendela itu, dan berdiri di sana memandangi suasana kota New York. Liam hanya diam sembari memandangi suasana kota dengan lampu - lampu yang gemerlap di setiap sudutnya sembari merenung. Liam merasa jika dia masih memiliki rasa suka kepada Nat, tetapi di sisi lain dia juga memiliki rasa sayang kepada Jane. Bahkan sekarang dia sudah mulai merindukan Jane, dia rindu dengan Jane yang galak dan cerewet. Tidak tau kenapa Liam sangat menyukai Jane yang seperti itu, oleh sebabnya dia selalu bertingkah usil dan nakal ketika bersama dengan Jane. Menurut Liam gummy smile dan pipi chubbynya juga sangat menggemaskan sekali seperti kue bakpao. Saat sedang merenung, tiba - tiba dia dikejutkan oleh bunyi dering handphone miliknya. Liam kemudian bergegas mengangkat telepon itu.
(On vidio call)
"Hei Chicken bukankah aku tadi menyuruhmu untuk tidur dan beristirahat, tapi mengapa kamu masih mengirimiku pesan dengan di sertai fotomu itu?"
"Aku tadi sudah tidur, tetapi aku tiba - tiba bermimpi buruk jadi aku terbangun."
"Oh begitu. Kasihan sekali kamu," ucapnya sembari tertawa.
Liam lalu memanyunkan bibirnya "dasar kamu ini menyebalkan sekali."
"Terserah, aku akan menutup teleponnya kalau begitu."
"Jangan dong, temani aku karena aku menjadi tidak bisa tidur."
Jane tersenyum "baiklah, aku akan menemanimu."
"Nah begitu dong. Eh kamu sekarang sedang sibuk?"
"Tidak, aku baru saja sehabis pulang dari kantor."
"Oh begitu, sudah makan?"
"Nanti."
"Makanlah atau nanti pipi chubby kamu itu akan mengecil jika kamu tidak makan, terus nanti kalau pipi kamu mengecil aku tidak bisa menggigitnya."
"Berhentilah menggigit pipiku Chicken, nanti aku akan berjerawat karena banyak kumannya dan kamu juga punya rabies," ucap Jane mengejek Liam.
"Memangnya aku ini anjing apa, eh Kiko sudah kamu bawa ke dokter hewan kan untuk vaksin?"
"Nanti aku akan membawanya. Eh kamu jadi menginap di hotel mana?"
__ADS_1
"Di hotel P milik keluargaku dan di kamar 2318 lantai 23. Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Liam merasa keheranan.
"Tidak apa - apa, hanya bertanya saja."
Liam kemudian berbaring di ranjangnya "aneh sekali. Kamu jadi mau minta oleh - oleh apa?"
"Terserah kamu saja."
"Tas, pakaian, perhiasan branded atau sebuah villa?" tanya Liam sembari bercanda.
"Jangan yang terlalu mahal seperti villa karena aku tidak akan pernah menempatinya dan aku ini kan hanya temanmu."
"Bagaimana kamu bisa menganggap bahwa kamu ini hanya temanku sedangkan kedua orang tuaku sudah menganggap dan menyayangimu seperti menantunya sendiri?"
Jane menjadi tersipu malu, dan dia kemudian berusaha menyembunyikan pipinya yang merah tersebut karena tersipu malu "darimana kamu mengetahui hal itu?"
"Rahasia "
"Kenapa kamu tidak memakai baju seperti tadi di foto yang kamu kirimkan?"
"Aku lebih nyaman tidur hanya dengan menggunakan celana kolor saja tanpa baju."
"Kan perut aku sixpack karena aku selalu rajin berolahraga dan itu bagus, jadi kenapa harus malu?"
Jane memutar bola matanya "baiklah terserah kamu saja. Eh atau jangan - jangan kamu tidur dengan," ucapannya terpotong.
"Aku kan sudah mengatakannya berulang kali jika aku bukan pria yang seperti itu, dan lihatlah kalau tidak percaya." Liam lalu menunjukkan seluruh ruangannya kepada Jane untuk membuktikan bahwa dugaan Jane itu tidak benar.
"Iya aku percaya."
Liam lalu menyandarkan handphone miliknya di atas meja "lihatlah, aku seperti pemain UFC bukan?"
"Tidak, kamu tidak cocok menjadi pemain UFC karena mungkin kamu akan langsung tumbang ketika mendapatkan sekali pukulan." Jane mengejek Liam kembali.
"Bisa tidak sih, kalau sehari saja kamu tidak mengejekku?"
"Tidak bisa, wlee." Jane menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Liam kembali berbaring di atas ranjangnya dan menyelimuti badannya tersebut. Mereka berdua terus berbincang melalui vidio call hingga Liam tertidur lelap saat mendengarkan cerita Jane. Mengetahui jika Liam sudah mulai tertidur dengan lelap, Jane kemudian memandangi wajah Liam yang sedang tertidur tersebut. Wajah Liam masih tetap tampan walaupun ketika dia sedang tertidur, begitu kira - kira batin Jane. Setelah Jane puas memandangi wajah Liam, dia langsung mematikan teleponnya. Jane kemudian meletakkan handphone miliknya di atas meja, lalu pergi ke dapur untuk makan namun tiba - tiba dia sedang ingin makan steak jadi dia langsung mengambil tas dan dompetnya. Jane lalu menemui pak Kang dan meminta untuk di antar ke sebuah restaurant. Setelah itu Jane menggendong Kiko dan mengajaknya pergi ke dokter hewan setelah dia makan malam. Pak Kang lalu mengendarai mobilnya menuju ke sebuah restaurant sesuai dengan keinginan Jane. Sesampainya di depan restaurant, Jane mengambil tas miliknya dan meminta pak Kang untuk menjaga Kiko yang berada di dalam mobil.
Jane masuk ke dalam restaurant dan di sambut oleh waiters yang sedang bertugas "selamat datang nona, anda mau pesan apa?"
"Saya mau pesan steak satu dan lemon teanya satu."
"Baik nona, tunggu sebentar."
15 menit kemudian waiters menghampiri meja Jane sembari membawakan pesanannya tadi "ini pesanan anda nona, selamat makan."
"Terima kasih," ucapnya sembari tersenyum.
Jane kemudian menyantap hidangannya tersebut, dan setelah selesai dia langsung kembali ke mobilnya tetapi saat berjalan keluar restaurant tiba - tiba ada seseorang yang menahan tangannya "Jane, tunggu sebentar aku ingin berbicara denganmu."
"Tidak Kyle, aku sudah tidak ingin berbicara kepadamu lagi."
"Tunggu Jane, tolong dengarkan penjelasan aku terlebih dahulu."
Jane berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kyle "tidak ada yang perlu di jelaskan lagi Kyle, hubungan kita sudah berakhir."
"Itu hanya salah paham Jane, aku sangat cinta kepadamu dan kita bisa mulai dari awal lagi."
"Aku sudah lelah menghadapimu yang selalu saja berkata seperti itu, lepaskan aku." Jane masih berusaha melepaskan tangannya.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu mau balikan denganku."
"Aku sudah tidak sudi untuk bersamamu lagi."
"Jane, please." Kyle terus memohon kepada Jane untuk kembali dan genggamannya semakin kuat hingga Jane merasa kesakitan.
"Aww, lepaskan aku. Pak Kang tolong aku."
Pak Kang yang memdengar Jane berteriak, lalu bergegas keluar mobil menghampiri Jane. Pak Kang langsung memukul punggung Kyle hingga tersungkur ke tanah. "Anda tidak apa - apa nona?" tanya pak Kang khawatir.
"Tidak apa - apa pak."
"Baiklah nona kita pergi dari sini," ucap pak Kang sembari menuntun Jane masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Notes: jangan lupa like dan favorite di setiap episodenya ya, terima kasih.