
Liam kemudian memalingkan wajahnya dan melihat pemandangan sekitar yang sangat indah, sedangkan Jane hanya tersenyum tipis lalu dia memilih untuk menonton band. Jane sangat menikmati nyanyian dari band tersebut hingga band itu menyanyikan sebuah lagu yang menurutnya sangat menggambarkan seperti Liam yaitu yang mempunyai lirik, "hari ini kau mesra, besok lusa kau dingin kau buatku penasaran." Jane langsung seketika mencolek tangan Liam yang berada di atas meja. Liam kemudian menoleh ke arah Jane dan tanpa sadar dia justru menatap wajah Jane yang sedang tersenyum dengan sangat manis. Seketika waktu seperti berhenti berjalan untuk sesaat namun anehnya jantung Liam justru yang berdetak dengan kencang seperti mobil yang sedang balapan. Perut Liam kembali merasakan seperti banyak kupu - kupu yang berterbangan di dalam perutnya tersebut. Intinya dia merasakan sesuatu aneh terjadi di tubuhnya yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan sama sekali seumur hidupnya, apalagi band di cafe tersebut hari ini sedang menyanyikan lagu - lagu cinta seperti milik penyanyi Tulus dan lain - lain. Liam kemudian menggelengkan kepalanya saat tersadar dari lamunannya. Jane yang sedari tadi bingung karena tiba - tiba Liam menatapnya kemudian dia memilih untuk meminum minuman milik Liam yang tadi sudah ditukar olehnya.
Terlihat jika Jane sedikit risih dengan rambutnya yang terurai apalagi Jane lupa tidak membawa kuncir rambut. Liam yang melihat hal tersebut tangannya langsung bergerak menyelipkan rambut Jane ke belakang telinganya. Setelah itu Liam memakan cake miliknya sembari menikmati nyanyian band yang sudah menyanyikan judul lagu berbeda namun masih milik penyanyi aslinya yang sama. Langit mulai berubah menjadi gelap yang menandakan jika hari sudah malam dan pengunjung semakin berdatangan untuk menikmati waktu bersama dengan pasangan, teman, maupun keluarganya di cafe tersebut. Karena merasa masih lapar Liam kemudian memesan makanan dan minuman yang berbeda dari tadi, begitupun juga dengan Jane. Liam kemudian menjahili Jane dengan mencolek - colek pipi chubby nya sembari menunggu pesanan mereka berdua datang. Liam tersenyum gemas saat mencolek pipi chubby Jane, senyuman Liam sangat manis hingga memperlihatkan kedua lesung pipinya yang terlihat secara jelas. Jane lalu mengambil handphone miliknya dan memotret secara diam - diam wajah Liam yang sedang tersenyum manis. Liam yang sadar jika Jane sedang memotretnya secara diam - diam kemudian dia mengambil handphone Jane dari tangannya.
"Sejak kapan kamu mengagumiku hingga memotretku secara diam - diam seperti tadi?" tanya Liam melihat ke layar handphone Jane.
"Sejak kamu bisa tersenyum manis hingga memperlihatkan lesung pipimu dengan jelas seperti tadi."
Liam langsung tersipu malu "senyumku tidak semanis yang kamu katakan, bahkan aku saja tidak bisa tersenyum."
"Lalu yang ada di layar handphone ku itu siapa jika bukan dirimu, Liam?" tanya Jane sembari tersenyum.
"Mungkin itu kembaranku, aku tidak bisa tersenyum seperti itu bahkan wajahku tidak setampan yang ada di layar handphone milikmu."
Jane mengambil handphone miliknya dari tangan Liam dan kemudian dia memotret dirinya bersama dengan Liam. Setelah itu Jane menunjukkan hasil fotonya tersebut kepada Liam, "lalu ini siapa jika bukan kamu?"
"Tidak mungkin aku setampan itu."
Jane menggelengkan kepalanya "kamu itu sebenarnya sangat tampan bahkan senyumanmu sangat manis jika saja dari dulu kamu bisa menjaga penampilanmu seperti sekarang Liam."
"Benarkah?" tanya Liam yang masih tidak percaya dengan ucapan Jane.
"Iya Liam. Rambut pendek, tidak berkumis, serta pemilihan gaya pakaian yang cocok denganmu itu membuatmu menjadi lebih tampan apalagi jika kamu sering tersenyum seperti tadi."
"Itu semua berkat kamu yang mau mengubah penampilanku secara perlahan tanpa diminta."
"Mulai sekarang sempatkan waktu untuk memperhatikan penampilanmu."
Liam mengangguk "baiklah, tetapi tolong bantu aku."
"Pasti aku akan membantumu, jadi apakah aku boleh menyimpan ini?" tanya Jane sembari memperlihatkan foto Liam yang tadi.
"Terserah kamu saja siapa tau kamu butuh untuk menakuti tikus," ucap Liam tertawa.
"Tikusnya justru tidak akan takut, namun malah jatuh cinta denganmu bahkan semut pun akan memgerubungi fotomu karena terlalu manis."
"Hei, sejak kapan kamu bisa merayuku seperti itu nona Jane?"
__ADS_1
Jane berfikir sejenak "sejak aku dekat denganmu mungkin."
Pelayan cafe kemudian menghampiri meja mereka berdua ketika mereka sedang berbincang bersama. Jane mulai mencicipi makanan yang dia pesan "wah ini sangat lezat," ucapnya sembari melihat ke arah Liam.
"Benarkah?"
Jane lalu mengambil satu sendok makanannya dan mengarahkanya ke arah mulut Liam "coba saja."
"Baiklah," ucapnya lalu setelah itu menerima satu suapan dari Jane.
"Bagaimana?"
"Iya, sangat lezat."
"Mau lagi?"
Liam menggelengkan kepalanya "sudah cukup. Kamu makan saja, kalau ingin lagi pesanlah lagi biar aku yang membayarnya."
"Benar kamu yang akan membayar semua pesananku?" tanya Jane setengah bercanda.
Jane langsung menutup mulut Liam, kemudian dia melihat ke arah sekitar "ssttt, jangan berbicara seperti itu di tempat umum."
"Memangnya kenapa?"
"Pokoknya jangan!"
"Baiklah nona. Setelah ini anda ingin pergi kemana?"
"Pulang ke apartement saja bagaimana?"
"Sesuai permintaan anda."
"Kamu juga butuh istirahat apalagi kamu kemarin sakit."
"Iya sayangku. Mau pulang sekarang?"
Jane mengangguk, Liam kemudian membayar bill cafe tersebut dan setelah itu dia mengajak pulang Jane ke apartement. Jalanan lumayan padat karena itu malam minggu sehingga banyak orang yang berpergian keluar. Saat sedang berhenti di lampu merah Liam lalu membuka kaca mobilnya dan memanggil penjual balon yang dihiasi oleh lampu. Liam membeli satu balon itu dan memberikannya kepada Jane hingga membuat Jane tertawa kecil, lalu setelah itu mereka berdua melanjutkan perjalannya menuju apartement. Sesampainya di dalam unit apartement Jane kemudian menuju kamar Liam dan melemparkan tasnya di atas ranjang lalu setelah itu Jane membaringkan tubuhnya di atas ranjang Liam, sedangkan Liam berada di dapur untuk memgambil air dingin.
__ADS_1
Setelah itu Liam pergi ke kamarnya dan duduk di sebelah Jane "sedang apa kamu di kamarku?" tanya Liam sembari memukul pelan paha Jane.
"Tidur," ucap Jane singkat.
"Kamu lebih baik tidur di kamarmu saja, dan jangan lupa mengganti bajumu."
"Baiklah." Jane lalu pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Beberapa menit kemudian dia kembali ke kamar Liam.
Liam terkejut melihat Jane "sudah aku katakan jangan memakai pakaian seksi seperti itu."
"Memangnya kenapa? lagipula ini juga hanya piyama tidur, kan tidak mungkin aku memakai gaun saat tidur."
"Memang lebih baik kamu memakai gaun saat tidur."
"Terserah apa yang kamu katakan, aku akan tetap memakai ini," ucap Jane berteriak.
"Oh jadi kamu ingin sengaja menggodaku heum?"
"Tidak juga, tetapi mari kita lihat seberapa kuat dirimu menahan godaan dari tubuhku yang seksi ini."
Liam langsung mematikan lampu kamarnya dan membaringkan tubuh Jane, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Jane "baiklah jika itu keinginanmu maka aku akan mewujudkannya," ucapnya berbisik di telinga Jane.
Jane tertawa "aku tau jika kamu hanya bercanda."
Liam lalu mulai menarik tali yang berada baju piyama Jane secara perlahan "mari kita lihat seberapa seksi tubuhmu yang sangat kamu banggakan itu."
Jane terkejut mendengar ucapan Liam, lalu dia menampar pipi Liam "dasar kurang ajar."
"Aduh," ucapnya kesakitan sembari memegang pipinya yang ditampar oleh Jane.
Jane berteriak "pria brengsek."
Liam tertawa " maka dari itu jangan suka memancingku, baru begitu saja sudah ketakutan bagaimana jika tadi benar terjadi?"
Jane menujuk wajah Liam "awas saja sampai itu benar terjadi, aku akan langsung memotong milikmu."
Liam tertawa lebih keras "dasar."
__ADS_1