
Liam lalu pergi ke rooftop dengan menaiki lift pribadi bersama dengan teman - teman Jane yang jumlahnya sekitar 7 orang sembari mendengarkan Jane berbincang dengan teman - temannya itu. Jane kemudian melihat ke samping kanan pinggulnya karena tangan Liam tiba - tiba saja merangkul pinggulnya secara tidak sengaja. Hal itu membuat Jane merasa lega karena ternyata Liam bisa diajak kompromi, karena pasti mereka akan berfikir jika dirinya dan Liam merupakan pasangan yang sangat normal layaknya pasangan lainnya. Namun kenyataannya mereka berdua adalah pasangan terfreak yang pernah ada di muka bumi ini karena selalu saja bertengkar hingga membuat rumahnya hampir roboh dan berantakan seperti kapal titanic (hahaha bercanda sih mereka tidak sampai seperti itu, tapi menurutku mereka pasangan terfreak aja sih).
Sesampainya di rooftop semua teman - teman Jane merasa kaget karena banyak sekali berbagai macam daging, makanan, serta minuman yang sudah tersaji di meja, bahkan bukan terlihat seperti acara BBQ biasa melainkan seperti pesta kebun besar - besaran. Semua ini adalah ide Liam agar Jane memberikan kesan yang baik kepada teman - temannya saat mereka pertama kalinya mengunjungi rumah baru Jane. Liam mengerahkan semua energinya, tenaga, serta sebagian uang tabungannya yang sebenarnya ingin dipakai membeli DVD PS agar teman - temannya tidak memandang rendah Jane karena menikahi pria biasa. Mungkin difikiran Liam pria biasa adalah seorang pria yang tidak termasuk atau bekerja dalam dunia entertaiment, oleh karena itu Liam menggolongkan dirinya sebagai pria biasa yang hanya bekerja di kantor serta tidak banyak dikenal oleh orang lain layaknya seorang superstar. Liam juga menyediakan sebuah televisi serta peralatan untuk karaoke agar teman - teman Jane bisa karaokean sembari berpesta BBQ.
"Kamu harus berterima kasih kepadaku karena aku sudah membantumu untuk membuat teman - temanmu merasa terkesan kepadamu," bisik Liam di telinga Jane.
Jane berdecak.
"Ck baiklah berapa jumlah nominal yang harus aku bayar untuk semua ini?" tanyanya berbisik.
"Kamu tidak perlu menggantinya dengan uang namun cukup memberikan service yang terbaik setelah acara ini selesai serta saat setiap weekend, bagaimana?"
"Baiklah tidak masalah, aku jamin kamu tidak akan pernah merasa menyesal setelah membantuku."
"Kita lihat saja nanti malam." (smirk)
"Jane, apakah aku boleh mencicipi semua hidangan yang berada di atas meja ini?" tanya Lee, salah satu teman Jane.
"Tentu saja kamu boleh mencicipinya, dan kalau perlu habiskan saja tidak apa - apa."
"Terima kasih Jane."
"Okay."
"Wah keren sekali rooftop rumah Jane karena ada jacuzzi nya juga," ucap Lee berbincang dengan temannya yang lain.
"Benar, dan airnya sangat wangi sekali."
Lee lalu mengambil air dengan tangannya dan mencium baunya.
"Hmm kamu benar airnya sangat wangi. andaikan saja aku membawa baju ganti pasti aku akan langsung menceburkan diriku ke dalam jacuzzi ini."
"Huss kamu tidak boleh memakainya karena mungkin area pribadi Jane dan suaminya, nanti kalau kamu memakainya takut jika airnya akan terkontaminasi olehmu."
"Sembarangan kalau berbicara, memangnya tubuhku ada virusnya?"
"Tidak ada."
"Nah itu tau."
"Memang tidak ada, karena kamu adalah virusnya hahaha."
__ADS_1
"Ck menyebalkan sekali."
Tiba - tiba salah satu teman Jane yang bernama Choi memanggil Lee dan Eugene.
"Hei jangan banyak berbicara, cepat kemari dan membantuku," ucap Yuji.
"Iya," ucap mereka berdua serempak.
Liam duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya sembari melihat ke layar handphone miliknya karena dia sedang berkirim pesan dengan Ricko. Saat ini Ricko sedang membeli perlengkapan sebagai oleh - oleh untuk Gita saat besok dia berkunjung bersama keluarganya. Ricko sangat mengerti jika selera Liam rata - rata tidak mengecewakan, jadi dia meminta Liam untuk membantu memilihkannya. Awalnya Ricko mengajak Liam untuk pergi membeli perlengkapan tersebut namun kali ini Liam tidak bisa karena akan ada tamu dirumahnya, oleh karena itu Liam meminta Ricko untuk mengiriminya pesan jika butuh sesuatu. Setelah itu Liam terus memperhatikan Jane yang sedang bercanda ria bersama teman - temannya sembari memanggang beberapa daging.
"Ini bagian dari daging babi yang paling special, jadi kita sepakat akan memberikannya kepada Liam."
"Tidak perlu, lebih baik kalian yang memakannya saja."
"Eh kenapa Jane?" tanya Eugene.
"Maaf tapi Liam tidak menyukai daging babi."
"Oh begitu rupanya, kalau begitu berikan yang ini saja untuk Liam karena ini daging sapi."
"Nanti aku akan memberikannya," ucap Jane menatap Liam sekilas.
"Okay Jane, sebentar lagi juga sudah matang kok."
"Ada apa?"
"Tidak ada apa - apa kok," jawab Liam sembari menatap layar handphonenya.
"Apa kamu butuh sesuatu sehingga terus memperhatikanku seperti tadi?" tanya Jane kembali.
"Jangan terlalu dekat dengan teman - teman priamu itu."
"Kenapa begitu, apa kamu merasa cemburu?"
Liam beralih menatap wajah Jane.
"Apa aku terlihat sangat aneh jika aku merasa cemburu melihat istri kesayanganku sangat dekat dengan pria lain?"
Jane menggeleng.
"Tidak aneh, hanya saja......"
__ADS_1
"Hanya saja?"
"Hanya saja aku merasa sedikit terkejut saat kamu mengatakan bahwa kamu merasa cemburu ketika aku terlalu dekat dengan pria lain, karena ini pertama kalinya aku mendengar kalimat itu dari mulutmu."
"Jadi?"
"Aku merasa sangat lega."
"Kenapa begitu?" tanya Liam sembari menaikkan alisnya sebelah kanan.
"Itu artinya kamu sangat mencintaiku."
"Oh."
"Kenapa respondmu seperti itu?" tanyanya memprotes Liam.
"Lalu aku harus bagaimana? menciummu di depan teman - temanmu ha?"
"Jika kamu bisa melakukannya sih tidak masalah bagiku, lagipula mereka juga sudah mengetahui bahwa kita ini sudah sah sebagai pasangan suami istri."
Liam lalu berdiri dan langsung mencium pipi Jane serta mengusap rambutnya di dapan teman - teman Jane sebelum dia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Seketika hati Jane merasa berbunga - bunga layaknya taman bunga yang sedang bermekaran, dan dirinua juga sempat terdiam sejenak untuk mencerna semua ini karena jarang sekali Liam berbuat seperti ini di depan banyak orang, apalagi teman - teman Jane yang baru ditemui oleh Liam untuk yang pertama kalinya. Setelah itu Jane kembali bergabung bersama teman - temannya dan memanggang beberapa daging serta sosis untuk dinikmati bersama - sama saat malam hari. Beberapa menit kemudian Liam yang telah selesai dari kamar mandi langsung kembali menemui Jane, tetapi tiba - tiba saja Lee merangkul tangan Liam sembari membawa sepiring daging sapi yang baru saja selesai dipanggang olehnya.
"Hei bung, cobalah hasil pangganganku ini."
Melihat hal itu Jane langsung memengang dahinya.
"Aduh."
"Kenapa Jane?" tanya Eugene.
"Sebenarnya Liam tidak terlalu suka dengan kontak fisik seperti itu kepada seseorang yang baru dikenalnya."
"Oh begitu, tp biarkan sajalah biar Lee yang dimarahi hahaha."
"Iya."
"Bagaimana bung?" tanya Lee.
Liam lalu merasakannya.
"Hmm not bad." (tidak terlalu buruk).
__ADS_1
"Yass."