Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #405


__ADS_3

Setelah pembicaraan tersebut Liam langsung menggendong Jane ala bridal menuju ke ranjangnya. Liam kemudian mencium bibir Jane sekilas dan menatap wajahnya setelah dia menidurkannya di atas ranjang. Namun kemudian Jane memberitahu kepada suaminya itu bahwa sekarang dia sedang ada tanggal merah sebelum kebablasan. Mendengar hal itu Liam langsung mengerti dan berbaring di samping Jane. Melihat raut wajah suaminya yang sedikit kesal, Jane kemudian tersenyum seperti sedang mengejek suaminya. Jane lalu memeluk Liam dan menyempatkan untuk berbincang dengannya sebentar sebelum mereka tidur.


Liam merasa sangat nyaman saat rambutnya diusap oleh Jane sembari mereka berbincang bersama. Liam sangat jarang sekali mendapatkan hal seperti itu, jadi dia langsung merasa senang saat Jane melakukannya. Sesekali Jane juga menciumi pipi Liam sampai dia tertidur di tengah - tengah perbincangan mereka. Jane sangat memaklumi hal tersebut karena memang Liam terlihat sangat lelah sekali setelah bekerja seharian di kantor, apalagi Jane juga sudah terbiasa di tinggal tidur terlebih dahulu oleh Liam saat mereka sedang berbincang.


3 hari kemudian Liam mendapatkan telepon dari grandma jika ada pertemuan orang tua di kampus Rosie, dan memang sehari sebelumnya Rosie sudah memberitahu hal tersebut kepada Liam agar dia bersedia datang ke kampus. Kedua orang tua mereka sudah terlanjur pergi ke Australia sejak 2 hari yang lalu karena Mr Robinson akan menangani beberapa proyek disana. Grandma merasa lega jika Liam bersedia menyempatkan diri untuk menghadiri pertemuan tersebut. Sesampainya disana Liam lalu berjalan menuju ke sebuah gedung pertemuan dan mencari Rosie sebentar karena ingin bertemu dengannya.


"Maaf pak saya ingin bertanya sebentar," ucap Liam dengan petugas kebersihan disana.


"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin bertanya dimana letak gedung P yang akan digunakan untuk pertemuan orang tua?"


"Oh anda tinggal lurus kesana lalu belok ke kiri, dan gedung pertemuannya berada di samping gedung kesenian."


"Baik pak, terima kasih."


"Sama - sama pak."


"Dia murid baru ya pak?" tanya salah satu mahasiswi di kampus itu.


"Sepertinya dia salah satu wali murid, karena dia bertanya mengenai letak gedung pertemuan yang akan digunakan untuk pertemuan orang tua."


"Dia terlihat sangat tampan sekali seperti eksekutif musa ah andaikan saja dia menjadi suamiku, pasti aku akan selalu merasa bahagia."


"Belum tentu neng, biasanya pria yang tampan hanya bikin makan hati saja setiap harinya karena selalu dikejar - kejar oleh wanita lain."


"Hiss bapak ini, menghancurkan imajinasiku saja."


"Hahaha habisnya si eneng selalu saja seperti itu jika ada pria tampan, lagipula sepertinya dia juga sudah mempunyai seorang istri."


"Benarkah pak?"


"Benar neng, tadi sekilas terlihat jika dia sudah memakai cincin nikah."


"Oh begitu," ucapnya lesu."


"Hei ternyata kamu disini? ayo masuk nanti dimarahi oleh Pak Parjo kalau kita terlambat masuk kelas."


"Oh okay Rosie."


"Kenapa kamu terlihat sangat lesu sekali Cer?" tanyanya penasaran.


"Tadi aku ketemu dengan seorang pria yang sangat gagah dan tampan sekali seperti seorang eksekutif muda, eh akan ternyata dia sudah mempunyai seorang istri."


Rosie tertawa.


"Hahaha darimana kamu tahu kalau dia sudah mempunyai seorang istri?"

__ADS_1


"Pak Bot yang mengatakannya."


"Jadi kamu tidak bertemu dengannya secara langsung?"


"Tidak, aku hanya melihatnya dari kejauhan. Tapi sumpah dia terlihat sangat tampan sekali meskipun aku hanya melihatnya dari kejauhan, hmmm jika dia memintaku menjadi istri kedua, pasti aku akan langsung menjawab iya."


"Ckckck kamu ini, masih banyak ikan dilautan."


"Maksudnya?"


"Masih banyak pria lain diluar sana yang masih lajang, eh kenapa kamu malah memilih pria yang sudah beristri."


"Habisnya dia terlihat sangat tampan sekali, aku kan jadi tergoda."


"Dasar kamu ini, selalu saja kebiasaan seperti itu dan tidak pernah kapok ditipu oleh beberapa pria diluaran sana."


"Hmmm iya juga sih, aneh sekali diriku ini."


"Sekarang baru sadar ternyata hahaha."


"Eh kamu sudah mengerjakan tugas kemarin?"


"Sudah, untung saja kakakku sangat pintar jadi dia bisa membantuku mengerjakan semua tugasku dengan sangat mudah dan cepat."


"Membantu mengerjakan atau minta dikerjakan?" tanya Ceryl menggoda Rosie.


"Maksudnya?" tanyanya bingung.


"Tentu saja tidak, kakakku sangat keras sekali. Dia memilih untuk mengajariku sampai aku paham, dan dia sangat anti untuk mengerjakan tugasku. Setiap dia mengajariku pasti dia menggunakan soal yang berbeda, dan setelah aku memahaminya barulah aku diminta untuk mengerjakan soal tugasku sendirian."


"Enak sekali mempunyai kakak yang sangat pintar."


"Iya sih, tapi kalau dia sudah dalam mode serius pasti sangat menyeramkan sekali."


"Apakah kakakmu itu sangat tampan?"


"Ck mulai lagi deh," ucap Rosie berjalan meninggalkannya menuju ke kelas.


1 jam kemudian setelah selesai menghadiri acara pertemuan tersebut, Liam lalu berjalan - jalan di sekitar kampus Rosie. Liam sangat menyukai suasana kampus Rosie dan itu memgingatkannya dengan masa - masa dulu saat dia masih kuliah. Meskipun berbeda kampus namun Liam tetap menyukai suasana di kampus ini. Setelah itu Liam berjalan menuju ke kantin karena dia masih merasa lapar, dan kebetulan hari ini pekerjaan di kantornya tidak banyak jadi dia bisa berjalan - jalan di kampus ini sampai puas. Liam membeli beberapa makanan dan langsung memakannya di sana sembari melihat keadaan sekeliling.


"Wah bagaimana ini? aku sangat bingung membuat designnya," ucap salah satu mahasiswa yang duduk di samping Liam.


"Tidak tahu juga, aku juga bingung dengan cairan yang dimaksud oleh dosen."


"Benar, katanya bisa membuat sebuah lukisan tampak nyata seperti sebuah foto."


"Hei apakah kamu tahu mengenai cairan itu?" tanyanya kepada Liam.

__ADS_1


"Cairan apa?"


"Sebuah cairan yang dapat membuat lukisan terlihat nyata seperti sebuah foto."


"Oh cairan itu, aku mempunyainya dirumah."


"Apa namanya?"


"4K fluid paint, cari saja di toko online sudah banyak yang menjualnya."


"Terima kasih atas infonya."


"Ya."


"Apa kamu bisa membantuku mengenai tugas ini?"


"Tugas apa?"


"Tugas melukis sebuah totebag."


"Sepertinya aku bisa."


"Susah sekali melukisnya karena banyak cat yang melebar kemana - mana."


"Oh ini karena catmu yang kebanyakan air dan juga kuasmu yang kebesaran. Kalau ingin melukisnya coba memakai kuas nomor 000 atau 00, pasti akan mudah karena kuas itu bulunya sangat kecil sekali."


"Oh begitu, belinya dimana?"


"Toko online, harganya sekitar 12 ribuan jika belum naik."


"Mahal sekali."


"Kamu jurusan apa?" tanya Liam.


"DKV."


"Kalau tidak ingin membutuhkan modal banyak, jangan masuk ke jurusan itu."


"Oh kamu alumni jurusan DKV di kampus ini?"


"Tidak, aku alumni di kampus seberang."


"Oh begitu, pantas saja kamu sangat paham betul mengenai hal tersebut."


"Ya begitulah."


"Dari auramu sudah tercium jika kamu ini anak seni."

__ADS_1


"Dih dasar tidak jelas."


"Dasar kamu ini."


__ADS_2