
Liam lalu kembali memakai kacamanya dan pergi meninggalkan restaurant tersebut karena merasa sangat kecewa, bukan karena makanannya ataupun pelayanannya yang buruk namun sikap serta sifat kakaknya yang terlalu keras kepala. Di dalam hati kecil Liam, dia berulang kali mengucap kata maaf kepada Mrs Robinson karena dia telah gagal membujuknya agar kembali ke rumah. Liam mengendarai mobilnya menuju ke kantor, dan saat berada di persimpangan lampu merah kaca mobil Liam diketuk oleh seseorang. Saat Liam membuka kaca mobilnya ternyata ada seorang anak perempuan yang menawarkan beberapa tangkai bunga mawar yang masih segar, dan satu tangkainya dihargai 5 ribu rupiah. Liam kemudian mengambil uang 100 ribu an yang berada di dashboard mobilnya, dan membeli semua bunga mawar tersebut. Anak perempuan itu tersenyum kegirangan saat Liam mengatakan kepadanya bahwa dia akan membeli semua bunga miliknya. Anak perempuan itu mengucapkan terima kasih kepada Liam sembari tersenyum, lalu Liam mengusap rambutnya dan anak itu langsung pergi karena lampunya akan berubah warna menjadi hijau. Liam langsung menancap gas saat lampunya sudah bewarna hijau, dan 45 menit kemudian telah sampai di kantornya. Liam lalu membawa semua bunga mawar yang tadi dia beli untuk diberikan kepada Yunna dan untuk diletakakkan di meja kerjanya.
Sesampainya di ruangan kerjanya, Liam langsung mengisi gelasnya dengan air untuk meletakkan bunga mawar tersebut agar tidak layu. Liam terus memandangi bunga mawar itu sembari memperhatikan embun air di gelas yang semakin lama menetes secara perlahan. Liam masih merasa tidak percaya dengan ucapan Lian tadi saat di restaurant, dan untung saja Mrs Robinson alias mommy nya tidak berada disana dan mendengar ucapan dari putranya yang selalu dia cari. Liam tidak bisa membayangkan jika Mrs Robinson tadi mendengarkan kata - kata yang dikeluarkan oleh putranya tersebut, dan mungkin saja seketika hati Mrs Robinson akan terasa hancur setelah mendengar kata - katanya yang sedikit menyakitkan. Liam kemudian mengambil handphonenya dan menghubungi istrinya tersebut hanya untuk sekedar berbincang sebentar sebelum dia pergi meeting. Sejujurnya Liam menghubungi Jane hanya untuk menghibur hatinya yang sedang merasa campur aduk antara sedih dan kecewa yang menjadi satu. Suara dan sebuah cerita yang Jane katakan di telepon dapat membuat Liam tertawa kembali hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, dan waktunya Liam untuk pergi rapat dengan didampingi oleh Yunna.
"Oh ya terima kasih untuk bunga mawarnya tadi," ucap Yunna dengan tersenyum.
"Iya sama - sama."
"Kenapa tadi kamu membeli banyak bunga mawar?" tanya Yunna penasaran.
"Oh tadi ada anak kecil yang menawarkan aku bunga mawar itu, karena aku merasa kasihan dengannya karena masa kecilnya dihabiskan untuk panas - panas berjualan di jalan jadinya aku membeli semuanya agar dia bisa bermain."
"Ternyata dibalik sikap dinginmu itu, kamu adalah orang yang baik hati."
"Tidak juga, terkadang aku juga jahat."
Yunna tertawa kecil.
"Kamu ini bisa saja."
"Nanti habis rapat ini selesai, mau tidak pergi kulineran denganku?" tanya Liam menoleh ke arah Yunna.
Yunna mengangguk setuju.
"Boleh saja, memangnya kamu ingin mengajakku kemana?"
"Ke tempat bakso klenger, aku sedang ingin makan bakso jumbo yang beratnya mencapai 2 kg."
Yunna merasa terkejut.
"Ha? apa itu tidak kebanyakan untuk kita berdua?"
"Sepertinya tidak, hanya 2 kg saja kok."
"2 kg itu banyak Li."
"Kita lihat saja nanti."
1 jam kemudian meeting tersebut telah selesai, dan Liam langsung mengajak Yunna ke tempat yang tadi sudah dia janjikan kepada Yunna sebelum meeting.
"Wah ini baksonya?" tanya Liam.
"Iya, bagaimana? apa tiba - tiba kamu mulai berubah fikiran?" tanya Yunna menggoda Liam.
*ehem* Liam membersihkan tenggorokannya.
"Ti-tidak, aku akan tetap menghabiskannya karena aku merasa sangat lapar."
"Baiklah, biar aku potongkan jika kamu sudah sangat lapar hehe."
"Tidak perlu, aku saja yang mencoba untuk memotongnya."
__ADS_1
"Silahkan," ucap Yunna sembari menyerahkan pisaunya kepada Liam.
Liam kemudian memotongnya dan setelah itu dia menuangkan sambal ke dalam bakso tersebut.
"Wahh sepertinya sangat menggugah selera."
"Tambahkan lagi sambalnya!"
"Sudah cukup, nanti kalau kebanyakan sambal perutku akan sakit karena terkena diare."
"Huuu pengecut sekali."
"Aku bukan pengecut, akan tetapi aku sangat memperdulikan kesehatan lambungku."
"Dasar kamu ini."
"Kalau kamu ingin sambal yang lebih kan kamu bisa menuangkannya ke dalam mangkukmu sendiri."
"Benar juga."
Liam tertawa.
"Makanya otaknya itu dipakai."
Yunna kemudian mulai mencicipi bakso tersebut.
"Hmmm sangat lezat sekali, dan pedasnya terasa."
"Iya benar juga, ternyata tidak sia - sia kita jauh - jauh datang kemari hanya untuk mencicipi bakso ini."
"Wahhh kapan - kapan aku akan kembali lagi kemari bersama dengan teman - temanku dan juga istriku."
"Benar itu."
Yang awalnya mereka kira tidak akan mampu menghabiskan bakso tersebut karena porsinya sedikit besar untuk 2 orang, akhirnya mereka berdua bisa menghabiskannya karena rasanya yang sangat lezat. Setelah menghabiskan bakso itu mereka berdua lalu pulang ke rumahnya masing - masing, akan tetapi Liam pergi mengantarkan Yunna pulang terlebih dahulu sebelum dia pulang. Liam berniat ingin langsung pulang namun dia melupakan bunga mawar yang tadi dia letakkan di meja kerjanya, alhasil dia lalu kembali ke kantor untuk mengambil bunga mawar tersebut dan langsung pulang ke rumah.
"Ini untukmu," ucap Liam sembari memberikan bunga mawar itu.
Jane tersenyum dan memperlihatkan gummy smilenya.
"Terima kasih hubby."
"Iya sama - sama, sini cium dulu."
"Aku sudah membuatkan kamu teh hangat."
"Terima kasih, eh Nat kemana?" tanya Liam sembari mengedarkan pandangannya melihat sekeliling.
"Nat sedang mengemasi barang - barangnya karena dia besok akan pulang ke New York."
"Oh begitu."
__ADS_1
Liam kemudian meminum teh hangatnya.
"Oh ya hubby, kenapa tumben sekali kamu menghubungiku saat jam sibuk kantor?"
"Tadi tiba - tiba saja aku merasa rindu sekali denganmu, oleh karena itu aku menghubungimu."
"Oh begitu, aku juga selalu merindukan hubby saat hubby pergi bekerja."
"Benarkah?"
Jane mengangguk sembari menyelipkan rambut ke telinga.
"Iya hubby."
Liam kemudian memeluk dan mencium pipi chubby Jane.
"Uhhh kamu sangat menggemaskan sekali."
"Sebentar hubby, aku ingin mencari vas untuk meletakkan bunga mawar ini agar tidak layu."
"Okay sayang."
"Wah bunganya terlihat sangat indah sekali Jane," ucap Nat saat menghampiri Jane.
"Iya, Liam yang membelikannya."
"Wah aku merasa sangat iri sekali denganmu."
Jane kemudian mengambil setangkai mawar tersebut dan memberikannya kepada Nat.
"Ini ambillah untukmu."
"Wah terima kasih Jane."
"Sama - sama."
"Hubby tadi lembur sebentar ya?" tanya Jane saat bersandar kepada Liam.
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku tadi habis mencoba bakso yang sangat besar bersama Yunna, dan lihatlah perutku menjadi buncit."
"Oh."
"Kenapa sayang? kamu merasa cemburu?"
Jane mengangguk.
"Iya hubby, aku cemburu."
__ADS_1
"Jangan cemburu, besok kapan - kapan aku akan mengajakmu untuk mencicipi bakso itu."
"Okay hubby."