
Liam masih saja memeluk erat tubuh Jane tersebut karena mau bagaimanapun juga Jane tetaplah istrinya, bahkan istri satu - satunya seumur hidupnya. Liam sudah berjanji kepada Mrs Robinson serta kedua orang tua Jane jika dia akan selalu menjaga Jane segenap jiwanya. Liam berusaha menenangkan Jane serta meyakinkannya bahwa dirinya tidak akan pergi jauh darinya. Memang terkadang Liam benci kepada Jane namun dia tidak niatan sekalipun untuk berbuat sesuatu yang bisa menyakitinya, dan justru Liam akan terus berusaha untuk belajar mencintai Jane. Jane lalu menyandarkan kepalanya di dada Liam sembari mendengarkan Liam bernyanyi untuk mencoba menenangkannya.
Setelah itu Liam memakai bajunya dan menemani Jane jalan - jalan sebentar sembari menghirup udara segar di pagi hari. Liam menggandeng tangan Jane selama mereka berdua mengitari halaman rumah mereka yang luas, sedangkan Jane sesekali mengusap perutnya. Liam lalu berhenti sebentar untuk memberi makan semua ikan koi peliharannya yang berenang - renang bebas di aquarium maupun kolam. Karena sudah bosan jika hanya berkeliling di halaman rumah, Jane lalu mengajak Liam untuk berjalan - jalan santai berkeliling desa. Setelah Liam mengangguk setuju, Pak Kang lalu membuka gerbang pintu rumah mereka yang tinggi serta kokoh. Mungkin itu menjadi yang pertama kalinya mereka berdua berjalan - jalan santai berkeliling desa karena mereka berdua selalu saja sibuk dengan urusan mereka masing - masing.
Banyak pasang mata yang menatap mereka berdua karena Liam dengan Jane terlihat sangat asing bagi mereka semua. Memang selama ini mereka berdua juga jarang bersosialisasi dengan tetangga sekitar hingga mungkin saja membuat mereka semua beranggapan seperti itu, ditambah lagi dengan perut Jane yang sudah membesar karena sedang mengandung. Namun itu semua tidak membuat mereka berdua menjadi sedih ataupun merasa tersinggung karena Liam itu sudah terkenal dikalangan teman - temannya jika dia orang yang sangat cuek dengan keadaan sekitarnya, dan begitupun dengan Jane yang sama seperti Liam.
Tiba - tiba saja ada sebuah wanita paruh baya yang menghampiri mereka berdua.
"Kalian berdua yang tinggal di rumah baru itu yang berada di barisan ketiga setelah gang masuk?" tanya wanita tersebut.
"Iya bu, kami berdua yang tinggal di sana dan lagipula rumah itu juga sudah lumayan lama hehe."
"Wah salam kenal. Oh ya saya tinggal di ujung sana dan kebetulan saya ini ibu RW (rukun warga)," ucap wanita tersebut sembari menunjuk ke arah timur."
"Oh ya salam kenal juga, sayang Liam dan ini istri saya Jane."
"Sudah menikah berapa lama?"
"Sudah sekitar satu tahun lebih 9 bulan bu," jawab Liam sedikit malas.
"Oh begitu, kalian berdua masih muda sekali seperti anak ABG."
"Hehe iya."
Tatapan mata wanita tersebut lalu tertuju kepada perut Jane.
"Istrinya sedang mengandung ya?" tanyanya kembali.
"Iya, doakan agar semuanya lancar saat persalinan ya bu."
"Pasti dong, semoga istri dan anak anda selamat serta sehat saat persalinan."
"Aminn," ucap Liam dan Jane secara bersamaan.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi mau ke tukang sayur dulu."
"Baik bu."
Setelah wanita tersebut melenggang pergi, mereka berdua lalu kembali melanjutkan perjalanannya berkeliling desa.
"Memang kalau bertemu dengan orang meskipun tetangga dekat sendiri harus bertanya sampai se-detail itu ya hubby?" tanya Jane menatap Liam.
__ADS_1
"Biasalah ibu - ibu apalagi saat kita tinggal di desa, pasti jika bertemu atau hendak bepergian selalu ditanya secara mendetail seperti ingin pergi kemana dan dengan siapa hahaha."
"Kenapa begitu?"
"Ya karena kalau tidak bertanya sampai mendetail seperti itu pasti tidurnya tidak akan nyenyak."
"Oh begitu," jawabnya sembari mengangguk paham.
"Di Korea Selatan tidak ada yang seperti itu ya?" tanya Liam sembari berjalan pelan.
"Jarang sih karena semua orang rata - rata sibuk dengan aktivitasnya masing - masing, kalau di Aussie?"
"Sama, jarang juga hahaha."
"Karena kamu tinggal di hutan sih jadinya jarang ada tetangga yang lewat depan rumahmu dan bahkan di sekitar rumahmu banyak bodyguardnya, jadi mereka enggan untuk berinteraksi denganmu."
"Kenapa begitu?"
"Takut kalau tiba - tiba salah berbicara terus di dor hahaha."
"Masuk akal juga."
"Kesana yuk beli minuman di mini market," ucap Jane menunjuk ke arah toko kecil yang terletak di tengah - tengah rumah warga.
"Itu warung lah nona, bukan mini market."
"Oh beda ya?"
"Beda dong. Ayo kesana sembari beristirahat sebentar, kamu mau beli apa?"
"Minuman yang menyegarkan. Kamu bawa uang?"
"Sebentar aku check dulu," ucapnya sembari morogoh semua saku celananya.
"Ada tidak? aku lupa tidak membawa dompet."
Liam kemudian menemukan sesuatu dari dalam sakunya.
"Nah ini dia, tapi hanya 10 ribu."
"Kira - kira boleh tidak ya?" tanya Jane bingung.
__ADS_1
"Kita coba saja dulu, kalau kurang kita hutang."
"Dih, tapi ya sudahlah."
Liam lalu memanggil penjual warung tersebut.
"Permisi, bu tumbas." (tumbas artinya beli dalam bahasa jawa).
"Oh nggih (iya)," ucap penjual tersebut dari dalam.
"Bu beli minuman," ucap Liam.
"Oh ya silahkan ambil sendiri mas, mbak."
"Iya bu."
Jane lalu mengambil sebotol air mineral dingin, sedangkan Liam mengambil sebotol kopi dingin.
"Sudah bu, jadinya berapa?"
"Jadinya 7000 mas."
"Ini uangnya, terima kasih."
"Sama - sama."
Mereka berdua beristirahat sebentar di warung tersebut sembari menghabiskan minumannya masing - masing, dan setelah itu mereka berdua kembali pulang ke rumah untuk sarapan pagi. Setelah itu Liam berbaring di sofa ruang tengah untuk menonton film kartun spongebob. Namun semakin lama justru Liam malah ketiduran seperti biasanya saat sedang menonton spongebob. Jane yang baru saja selesai mandi dan berniat menemui suaminya itu, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika menemui bahwa suaminya tengah tertidur pulas di ruang tengah dengan televisi yang masih menyala. Jane lalu memesan makanan untuk makan siang secara online., dan saat makan siang tiba Liam lalu terbangun daei tidurnya.
"Kamu sedang apa sayang?" tanya Liam yang tiba - tiba berdiri di sampingnya.
"Aku sedang menyiapkan makan siang hubby."
"Eh kamu masak sendiri?"
"Tidak hubby, aku tadi pesan makanan online kok."
"Oh aku kira kamu memasak sendiri."
"Tidak hubby, mari makan."
"Okay."
__ADS_1