Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #308


__ADS_3

Rosie yang merasa penasaran lalu meminta izin untuk mengusap perut Jane, dan setelah diizinkan Rosie lalu mendekati Jane untuk mengusap perutnya. Rosie merasa sangat gemas sekali dengan Jane karena pipinya yang bertambah chubby. Semakin lama Rosie malah asyik bermanja ria dengan kakak iparnya itu sembari berbincang mengenai fashion dan film, sedangkan Liam hanya sibuk menonton film kartun kesukaannya yaitu spongebob. Beberapa jam kemudian Liam pergi ke ruangan pribadinya untuk bermain game begitu dia selesai makan malam. Saat melihat grup chat ternyata kosong dan alhasil Liam hanya bermain sendiri atau bersama orang random di game tersebut. Walaupun teman - temannya tidak aktif di game, akan tetapi Liam merasa senang karena dapat berbincang dengan orang lain yang dia temui di dalam game.


Setelah bermain selama 1,5 jam Liam lalu naik ke atas untuk menemui istrinya yang sedang membaca buku di balcony rumahnya. Liam lalu bertanya dimana keberadaan adik kesayangannya itu, dan saat diberitahu bahwa dia sedang di kamar Liam langsung pergi ke kamar sebelah untuk melihat adik kesayangannya itu. Liam mengetuk pintu kamar tersebut lalu dia memasuki sebuah kamar yang bernuansa pink yang memang telah didesign sendiri oleh Rosie. Karena rumah tersebut telah dianggap seperti rumah keduanya, jadi kamar tersebut sudah menjadi kamar pribadi Rosie di rumah Liam. Jane maupun Liam tidak pernah keberatan mengenai apa yang dilakukan oleh Rosie di rumahnya asalkan Rosie tidak menjual rumahnya, itu saja. Liam menghampiri Rosie yang sedang duduk termenung sembari menatap ke arah luar jendela, dan setelah itu Liam mengejutkannya sembari memeluknya.


"Kenapa melamun?" tanya Liam masih memeluk Rosie.


"Tidak apa - apa."


"Jangan berbohong kepadaku, ayo ceritakan semuanya!"


"Memang tidak ada apa - apa kok, lalu apa yang mau diceritakan ha?"


Liam lalu berbaring di atas ranjang Rosie.


"Oh sekarang kamu begitu, sudah bisa main rahasia - rahasiaan denganku rupanya?"


"Ihh aku tidak berbohong Liam," ucap Rosie sembari memukul - mukul tubuh Liam.


Bukannya merasa kesakitan namun Liam justru malah tertawa terbahak - bahak melihat adiknya yang merasa kesal seperti itu.


"Iya deh iya kalau kamu tidak mau menceritakannya kepadaku."


"Apanya yang mau diceritakan kalau ceritanya saja tidak ada."


"Oh."


Rosie lalu berbaring di samping Liam.


"Apakah kamu sudah merasa sangat bahagia dengan hidupmu?" tanya Rosie secara tiba - tiba.


"Aku sudah lumayan merasa bahagia sekarang, memangnya kenapa?"


"Tidak ada, hanya saja aku takut jika kamu tidak akan pernah merasa bahagia."


"Wah sedang apa kalian berdua?" tanya Jane yang tiba - tiba masuk ke dalam kamar Rosie.


"Aku dan Rosie sedang deeptalk," jawab Liam.


"Apakah kehadiranku mengganggu pembicaraan kalian berdua?"

__ADS_1


"Tidak eonni, sama sekali tidak kok hehe."


"Rosie tadi bertanya apakah aku sudah merasa bahagia sekarang? lalu aku menjawab jika aku sekarang sudah merasa bahagia serta merasa jauh lebih baik dari sebelumnya."


"Oh begitu rupanya."


"Iya eonni, aku merasa khawatir jika Liam tidak akan pernah merasa bahagia."


"Aku sekarang merasa bahagia kok, apalagi nanti akan ada anggota baru di team kita."


"Siapa?" tanya Rosie penasaran.


Liam lalu mengusap perut Jane.


"Ini dia calon anggota baru team kita," ucap Liam dengan tersenyum.


"Benar juga, nanti aku akan sering menginap disini jika keponakan aku sudah lahir, boleh kan eonni?"


"Tentu saja boleh, besok kamu ajak dia main ya?"


"Siap eonni. Wah aku tidak sabar untuk melihat Liam junior hehe."


"Liam junior?" tanya Liam sembari mengernyitkan dahinya.


Liam berfikir sejenak.


"Hmm sebenarnya aku tidak begitu setuju karena ini anak aku dan Jane, jadi yang paling tepat adalah Line junior."


"Line junior?" tanya Rosie kembali.


"Line dari nama kami berdua yaitu Liam dan Jane, lalu disingkat menjadi Line."


Jane dan Rosie lalu tertawa.


"Sejak kapan kamu membuat singkatan seperti itu hubby?"


"Mmm aku lupa sejak kapan, tetapi yang pasti ada seseorang yang memberikan singkatan tersebut."


"Oh begitu."

__ADS_1


"Jika misalnya anak Liam adalah seorang laki - laki, bukankah itu akan menjadi Liam junior? iya kan eonni?"


"Iya Rosie apalagi jika wajah dan tingkah lakunya hampir mirip, pasti orang - orang akan semakin berkata bahwa itu Liam junior hahaha."


"Hahaha benar eonni, tetapi aku tidak ingin dia mempunyai tingkah laku seperti Liam."


"Eh memangnya kenapa?" tanya Jane penasaran.


"Liam itu orangnya sangat absurd sekali, jadi aku tidak ingin dia bertingkah laku seperti itu."


"Benarkah? sepertinya tingkah laku Liam normal - normal saja."


"Mungkin waktu Liam bertingkah seperti itu eonni sedang tidak ada, kalau tidak percaya tanya saja dengan Ricko yang selalu menyaksikan tingkah absurd Liam."


Jane semakin dibuat tertawa dengan ucap Rosie itu, dan semakin lama mereka berdua justru malah asyik membicarakan mengenai tingkah absurd Liam yang jarang diketahui oleh banyak orang. Malam semakin larut namun mereka bertiga masih saja terus berbincang bersama. Satu minggu kemudian Liam sedang merenung di balcony kamarnya sembari menatap ke arah kolam renang. Seperti biasa Liam hanya memakai celana kolornya saja tanpa mengenakan pakaian atasan karena dia baru saja bangun tidur, sedangkan Jane masih tertidur pulas di ranjangnya. Setiap kali Liam bangun terlalu pagi di hari libur bekerja, dia pasti selalu merenung di balcony kamarnya sembari melihat suasana sekeliling rumahnya yang masih asri.


Liam sengaja mendirikan rumahnya di pedesaan karena suasananya yang masih asri serta tidak terlalu bising dengan suara kendaraan, walaupun letaknya dipedesaan namun lokasinya tidak terlalu jauh dari perkotaan dan juga perusahaannya.


Berbeda dengan rumah milik orang tuanya yang berada di kota karena mereka mendirikannya di perumahan elite, Liam justru menginginkan lokasi rumahnya di pedesaan karena dia sering memandangi suasana sekitar hanya untuk mencari inspirasi. Hari Sabtu yang tenang, begitu fikir Liam saat dirinya mengambil nafas lalu menghembuskannya. Liam lalu berjalan ke meja kerjanya dan dibukannya sebuah kotak berisi cat lukis yang bewarna warni. Dia lalu melangkahkan kakinya mengambil sebuah kanvas berukuran sedang dan mulai melukis di balcony kamarnya. Entah sejak kapan balcony itu telah menjadi tempat favorite Liam di rumah itu. Liam mengarahkan kuas lukisnya secara perlahan serta mencelupkannya di cat yang dia ingin gunakan.


"Hubby sedang melukis apa?" tanya Jane memeluk Liam dari belakang.


"Melukis bunga daisy yang kemarin kamu susun di dalam vas bunga."


Jane lalu melihat ke arah kanvas Liam.


"Wah indah sekali, mmm bolehkan aku yang meneruskannya?" tanya Jane ragu - ragu.


Liam langsung berdiri.


"Tentu saja, silahkan duduk di sini."


"Wah benarkah?"


"Tentu saja, dan pegang kuas ini!"


"Okay hubby."


"Aku perhatikan kamu sudah mulai mahir melukis, tidak ingin mencoba melakukannya sendiri dari awal sampai akhir?"

__ADS_1


"Tidak hubby, aku masih belum yakin akan hal itu."


"Oh baiklah."


__ADS_2