
Malam hari saat langit sedang hujan sedang, Liam sedang menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja pribadinya. Liam sangat fokus membaca setiap detail dari isi yang tertera di layar laptopnya, meskipun terkadang dia sudah menguap karena tidak tahan mengantuk. Rasanya Liam ingin sekali cepat - cepat tidur namun karena pekerjaannya belum selesai jadi dia tidak bisa tidur sekarang, dan kalaupun dipaksakan nanti hasilnya dia tidak bisa tidur karena selalu kepikiran. Liam kemudian berjalan menuju pintunya untuk mengintip apa yang sedang istrinya lakukan saat ini.
Ternyata Jane sedang menonton film karena memang baby Ace sudah tidur sejak tadi. Rasanya Liam ingin sekali menonton film bersama istrinya seperti pasangan lainnya namun sekarang Liam harus menyelesaikan pekerjaannya, dan jika dia sudah selesai pasti Jane sudah tertidur pulas. Di tengah kebimbangan itu, Liam langsung berjalan kembali ke meja kerjanya dan bersiap untuk kembali bekerja. Semangat Liam menjadi menggebu - nggebu karena dia ingin cepat - cepat bermanja ria dengan istrinya, apalagi suasananya yang sangat mendukung sekali.
Liam terus mengetik di laptopnya sembari diiringi dengan suara rintikan hujan pada malam itu, dan tiba - tiba saja ada suara langkah kaki yang berjalan ke arah ruang kerja Liam yang tak lain tak bukan adalah istrinya sendiri. Jane berjalan ke arah jendela ruangan tersebut untuk menutup gorden ruangan itu yang masih terbuka. Setelah itu dia berjalan menghampiri Liam sembari mengusap rambutnya sendiri.
Liam sempat berfikir mengapa istrinya itu justru terlihat sangat cantik sekali saat sedang menggunakan baju piyamanya, apalagi jika rambut hitam panjangnya tergerai bebas hingga semakin menambah nilai plus di mata Liam. Jari jemari Jane lalu menyentuh bahu Liam dan mulai memijatnya secara perlahan, sehingga membuat Liam semakin ingin cepat - cepat tidur.
"Sudah malam ayo tidur hubby," ucap Jane pelan.
Ucapan Jane itu berhasil membuat Liam merinding karena seperti ada kupu - kupu yang berterbangan di perutnya. Dia merasa aneh mengapa tiba - tiba saja dia merasakan hal seperti itu, sedangkan dari dulu dia tidak pernah merasakan hal tersebut sebelumnya.
"Sebentar ya sayang, masih tanggung dan bentar lagi pasti akan selesai."
"Hum baiklah, tetapi jangan tidur kemalaman."
"Iya sayang," ucap Liam tersenyum.
"Baiklah, aku tidur duluan ya?"
"Iya silahkan."
Setelah itu Jane melenggang keluar dari ruangan Liam, akan tetapi tidak sampai 6 menit Jane kemudian kembali menghampiri Liam.
"Aku akan menemanimu bekerja malam ini, aku sangat merasa kasihan denganmu dan akan terkesan sebagai istri yang kurangajar."
"Eh kenapa berfikir seperti itu?" tanya Liam menatap Jane.
"Habisnya kamu malam - malam masih bekerja, masa aku akan tidur duluan? kan kesannya seperti tidak sopan."
"Tidak apa - apa Jane, tidurlah jika kamu menginginkannya."
"Tidak hubby, aku akam duduk di sofa untuk menemanimu bekerja malam ini."
"Ya sudah jika itu keinginanmu," ucapnya lalu kembali fokus menatap layar laptopnya.
Jane kemudian kembali pergi ke luar, dan tidak lama kemudian dia menghampiri Liam sembari membawa secangkir cokelat hangat untuknya.
"Ini diminum dulu, semangat hubby."
"Terima kasih sayang."
"Sama - sama, aku duduk disana ya?"
"Okay."
__ADS_1
Liam kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Jane sibuk membaca sebuah buku yang Liam letakkan di meja dekat sofa. Mungkin karena sudah bosan membaca buku tersebut, Jane lalu berjalan menuju rak buku Liam untuk mencari buku lain yang akan dia baca. 30 menit kemudian Liam sudah menutup laptopnya, dan mendapati bahwa istrinya tengah tertidur di sofa. Liam lalu menggendong Jane ke ranjangnya dan bersiap untuk tidur.
"Eh hubby, aku ketiduran ya?" tanya Jane yang tiba - tiba terbangun.
"Iya sayang, ayo kita tidur."
"Hubby memangnya tidak lelah bekerja terus?"
"Tidak, lagipula tidak ada pilihan karena memang aku sekarang bekerja untuk menghidupi keluarga kecilku."
"Tetapi uang kita sudah banyak, jadi untuk apa kita selalu bekerja terlalu keras?"
"Iya sih namun jika tidak begini maka uang kita juga akan habis seiringnya waktu."
"Benar juga, tapi hanya saja aku merasa sangat kasihan kepada hubby dan aku takut jika hubby nanti akan jatuh sakit jika seperti ini terus."
Liam mengusap rambut Jane.
"Maka dari itu doakan aku terus ya agar selalu diberi kesehatan serta dimudahkan dalam mencari rezeki."
"Tentu saja, aku akan terus mendoakan hubby agar semuanya lancar."
"Iya sayang."
"Hubby sedang lapar?" tanya Jane menatap Liam.
"Iya, tiba - tiba saja aku merasa lapar."
"Ingin makan apa?"
"Mungkin suasana seperti ini enaknya makan mie instan kali ya?"
"Boleh, sebentar ya aku buatkan terlebih dahulu."
"Okay."
Jane kemudian beranjak dari ranjangnya dan pergi ke dapur membuatkan mie instan untuk suaminya. Tidak lama kemudian Liam menyusul Jane yang sedang membuat mie instan karena merasa khawatir jika terjadi sesuatu, apalagi tadi Jane sudah sangat mengantuk. Ternyata sesampainya disana Jane sudah selesai membuat mie instan dan hendak dia bawa ke kamar.
"Eh hubby kok menyusulku?" tanya Jane bingung.
"Aku hanya sedang ingin menemuimu."
"Oh begitu."
"Mmm bagaimana kalau kita makan disini saja?"
__ADS_1
"Boleh," ucap Jane meletakkan semangkuk mie instan di atas meja mini bar.
"Eh ini apa?" tanya Liam menatap mangkuk lain.
"Oh ini tteokbokki dan ini sangat cocok dimakan bersama mie instan, kamu mau coba?"
"Boleh."
Jane kemudian mengambil mie serta tteokbokki dengan menggunakan sumpit, dia lalu meniupnya agar dingin. Setelah sedikit dingin, Jane lalu menyuapkannya ke dalam mulut Liam.
"Bagaimana rasanya?"
"Hmm sangat lezat."
"Sini aku suapi lagi."
"Tidak perlu, lebih baik kamu makan sendiri saja dan aku juga akan makan sendiri."
"Aku hanya ingin mencicipinya sedikit, dam sekarang aku sedang sangat ingin menyuapi suami kesayanganku."
"Oh begitu, baiklah."
Jane lalu menyuapi Liam mie instan itu sedikit demi sedikit serta meniupnya agar tidak panas membakar mulut. Pada malam itu masih terus terdengar suara rintikan hujan, dan mereka berdua sedang asyik memakan mie instan sembari berbincang bersama.
"Sekarang sudah mulai musim penghujan ya hubby?"
*Nom nom nom.*
"Iya, uhuk."
"Eh hati - hati," ucap Jane membersihkan mulut Liam dengan menggunakan tissue.
"Rasanya sangat menyenangkan sekali jika kita berdua seperti ini."
"Benar hubby, hufftt rasanya jarang sekali kita bisa seperti ini karena selalu sibuk dengan urusan kita masing - masing."
"Iya, kita bahkan terlihat seperti teman serumah saja dan bukannya terlihat seperti sepasang suami istri karena kita terlalu sibuk menangani hal apapun sendirian."
"Di dalam sebuah hubungan komunikasi itu sangat dibutuhkan, dan aku ingin kita selalu berbincang berdua seperti ini."
"Aku juga sama Jane."
"Rasanya kita semakin menjadi asing karena kesibukan kita masing - masing."
"Kamu benar."
__ADS_1