Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #328


__ADS_3

2 minggu kemudian Liam telah menyelesaikan lukisan awan - awan di dinding, dan sekarang dia tinggal memulai untuk melukis astronoutnya di dinding atas tempat tidur kamar calon anaknya. Liam membuat sketsa astronout tersebut di mulai dari bagian kepalanya terlebih dahulu karena jika dimulai dari badannya terlebih dahulu pasti akan sangat sulit membuat kepalanya, pengalaman pribadi hehe. Ibaratnya nanti pasti tidak akan pas serta proporsional jika dimulai dari bagian badannya terlebih dahulu. Liam sangat telaten sekali menggambar dengan menggunakan pensil B5 agar lebih jelas serta tebal.


Dia sangat fokus sekali menggambar sketsa tersebut untuk memastikan bahwa tidak ada bagian yang terlewat hingga membuatnya tidak proporsional serta tidak sesuai dengan harapannya. Setelah bagian kepala selesai, Liam kemudian melukis bagian tubuhnya serta menambahkan beberapa detail kecil agar terlihat seperti di contoh gambarnya. Karena Liam orangnya sedikit nyleneh saat sedang melukis, akhirnya dia menambahkan sebuah gambar bathtub di astronout tersebut. Liam ingin memberikan kesan jika astronout itu sedang memainkan sebuah pesawat kertas sembari berendam di bathtub.


Liam juga menambahkan sebuah detail kecil seperti bintang - bintang, beberapa planet, serta ada kucing yang sedang melayang dengan memakai helm kaca seperti Sandy di animasi Spongebob (gambarannya nanti saya letakkan di paling bawah setelah ini selesai). Setelah sekiranya semua selesai, barulah Liam mewarnainya dengan cat acrylic miliknya. Warna demi warna dia tuan ke dalam pallete kaca miliknya serta mulai menggoreskan kuasnya secara perlahan untuk memberikan kesan yang indah di gambar tersebut. Karena punggungnya sudah merasa lelah, Liam lalu mencuci kuas serta pallete miliknya dan langsung menemui Jane yang sedang menonton televisi di ruang tengah.


"Utututu bumil kesayanganku hehe," ucap Liam menciumi wajah Jane.


"Apa?" tanya Jane ketus.


"Ihh jangan galak - galak dong, nanti cantiknya hilang kalau kamu galak."


"Biarin."


"Sayang, nanti malam boleh tidak jika aku pergi nongkrong bersama teman?"


Jane berfikir sejenak.


"Iya deh boleh asalkan hanya selama 1 jam saja, kalau lebih dari itu kamu harus siap - siap menerima hukumannya!"


"Apa itu hukumannya?"


"Rahasia."


Liam lalu mendekati Jane dan memeluknya.


"Apa kamu lupa jika kamu ini sudah memiliki seorang anak yang harus dimanja juga?"


"Siapa? bukankah anakku masih ada di dalam perutku?"


"Bukan anak yang itu, tetapi anak yang lain."


Jane langsung paham siapa yang dimaksud oleh Liam itu.


"Ututu maaf ya aku lupa jika aku sudah mempunyai seorang bayi lain hehe."


"Kamu ini selalu saja begitu."


Jane menciumi pipi Liam.


"Tumben sekali kamu tadi sudah selesai lebih awal."


"Punggung serta pinggangku sudah merasa sangat pegak sekali."

__ADS_1


"Lho, bukan tangannya yang pegal?"


"Kalau tangan pegalnya hanya sedikit, beda kalau pinggang dan punggungku apalagi aku harus duduk di atas tangga jadi pegalnya double."


"Ya sudah istirahat saja hubby sayang."


Liam mengangguk.


"Hei jagoan daddy sedang apa?" tanya Liam saat berbaring di pangkuan Jane.


"Hubby, tolong ambilkan air minum di kulkas."


"Oh okay."


Dengan cepat Liam lalu mengambilkan Jane segelas air minum untuknya dan setelah itu dia kembali berbaring di pangkuan Jane.


"Jane, kenapa bumi itu bulat?"


"Karena agar memudahkan untuk berotasi sehingga ada pagi, siang, sore, dan malam."


"Salah."


"Lalu jawabannya yang benar apa?" tanya Jane penasaran.


Jane langsung shock mendengar gombalan dari Liam yang terlihat sangat cringe itu.


"Apa hubungannya?"


"Mmm tidak ada, semua itu aku lakukan agar author bisa mencapai jumlah kata yang ditentukan karena author sedang bingung."


"Oh."


1 jam kemudian Liam langsung bergegas menuju ke cafe dengan menaiki motor sport miliknya untuk bertemu dengan teman - temannya.


"Hai guyss hahaha."


"Wuihh tumben seorang bapak Liam Gerard Robinson yang katanya mempunyai istri galak seperti macan betina kok bisa datang kemari?" tanya Dio mengejek Liam.


"Bisa dong, aku memakai jampi - jampi agar diizinkan oleh istriku hahaha."


"Eh sudah dari tadi Li?" tanya Ricko menepuk punggung Liam.


"Eh lho Ricko juga diizinkan kemari oleh istrinya?"

__ADS_1


"Jelas dong, aku tadi sudah membantu istriku beres - beres rumah jadi sekarang diizinkan kemari."


"Oh begitu."


Satu persatu dari mereka telah datang ke cafe tersebut meskipun Chicko menjadi seseorang yang datang paling terakhir serta otomatis dia terlambat karena katanya sedang ada urusan dengan keluarganya. Mereka berlima lalu berunding untuk menentukan posisi yang tepat saat bermain futsal, karena waktu itu Dio pernah ditantang oleh temannya untuk tanding futsal. Ricko kemudian berkata kepada Liam untuk memintanya mengajak Lian, kakaknya bermain di teamnya. Sebenarnya Liam kurang suka dengan Lian karena ada saja sesuatu hal yang membuatnya bertengkar dengannya jika sedang bersama.


Namun mau bagaimana lagi, Ricko sudah menyarankan sekaligus meminta Liam untuk mengajak kakaknya tersebut dan alhasil dia menghubungi Lian untuk memintanya ke cafe tersebut. Liam tidak terlalu dekat dengan Lian meskipun dia adalah kakaknya sekaligus kembarannya, karena pemikirannya yang bersebrangan jauh alias tidak sefrekuensi dengan dirinya. Liam justru lebih dekat dengan Ricko, Dio, Chicko, dan Josh karena mereka berlima sudah sefrekuensi serta memiliki pemikiran yang hampir sama.


Salah satu hal lain yang membuat Liam tidak dekat dengan Lian karena Lian orangnya sangat kaku serta tidak bisa diajak bercanda, beda dengan mereka berempat yang justru sering sekali bercanda bersama. 30 menit kemudian Lian telah sampai di cafe tersebut dan mereka berenam langsung membicarakan strategy saat akan menghadapi team lawan. Beberapa hari kemudian saat hari Sabtu sore, Liam sedang bersiap - siap akan pergi ke lapangan futsal yang sudah dia sewa untuk pertandingan hari ini. Liam yang telah memakai jersey yang bertuliskan Liam G lalu berjalan mengendap - endap sembari menenteng sepatu bolanya menuju ke basement rumahnya agar tidak ketahuan oleh Jane.


"Ehem mau kemana?" tanya Jane saat memergoki suaminya yang hendak menyelinap keluar rumah.


Liam langsung menjatuhkan sepatunya.


"Mmm a-aku ingin pergi futsal, boleh kan?"


"Tidak!!"


"Jane please, izinkan aku untuk pergi main futsal bersama teman - teman."


"Aku bilang tidak, ya tidak!!"


"Okay."


Liam langsung duduk di sofa, sedangkan Jane memungut sepatu bola Liam yang tadi terjatuh di lantai dan meletakannya kembali di rak sepatu. Jane kemudian membawa sebuah kotak sedang dan memberikannya kepada Liam.


"Ini untukmu."


"Apa ini?" tanya Liam penasaran.


"Buka saja."


Saat membuka kotak tersebut Liam langsung tersenyum lebar karena mendapat sebuah sepatu bola dengan warna biru langit kesukaannya dan juga bertuliskan namanya Liam G.


"Eh ini untukku?"


"Iya hubby, kamu boleh pergi asalkan memakai sepatu yang ini dan tidak memakai sepatu butut miliku itu."


"Hehe darimana kamu tahu jika aku akan pergi futsal."


"Huftt oppa yang memintaku untuk mengizinkanmu pergi tanding futsal sejak 3 hari yang lalu."


"Oh begitu, terima kasih sayang."

__ADS_1


"Iya hubby, sama - sama."


__ADS_2