Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #372


__ADS_3

Setelah menemukan tempat yang cocok, mereka lalu membentangkan tikar yang tadi mereka bawa sekaligus menyusun semua makanan serta minumannya di atas tikar tersebut. Sebelum mereka makan, mereka menyempatkan untuk berfoto bersama sebagai kenang - kenangan ketika kelak mereka sudah tua. Setelah itu mereka semua lalu makan siang bersama dengan menggunakan nasi padang yang tadi mereka beli. Melihat kekompakan mereka semua, Josh merasa sangat bersyukur sekali karena telah dipertemukan dengan mereka berempat yang dimana kekompakannya terasa sangat kental sekali.


Josh juga menjadi belajar banyak hal mengenai persahabatan dan pengalaman - pengalaman menarik lainnya dari mereka berempat. Dahulu Josh merupakan seseorang yang individualis serta sulit sekali berteman karena sifatnya yang sedikit sombong sekaligus besar kepala. Namun setelah Josh masuk ke dalam geng mereka, seketika sifat Josh berubah 180 derajat dan sekarang Josh menjadi mengetahui apa arti persahabatan yang sesungguhnya. Saat Josh melihat sifat Liam yang selalu sangat rendah hati, Josh menjadi sangat malu kepada dirinya sendiri.


Josh malu kepada Liam karena sejatinya Liam yang lebih kaya raya dari dirinya namun Liam selalu rendah hati serta selalu menolong teman - temannya termasuk orang - orang sekitarnya tanpa memandang status atau apapun, sedangkan dia selalu saja egois dan merasa sombong karena harta yang dimiliki olehnya padahal semua hartanya itu tidak sebanding dengan harta yang dimiliki oleh Liam. Mungkin karena pengaruh Liam juga adiknya perlahan - lahan mulai berubah menjadi lebih baik dan tidak seperti dulu saat sebelum mengenal Liam.


Josh sekarang mendapatkan sebuah jawaban mengapa orang tuanya sangat memaksa Jane untuk menerima perjodohannya dengan Liam. Saat ini mereka sedang berbincang mengenai tempat yang sedang mereka kunjungi sembari makan siang bersama. Selesai makan siang Liam langsung berbaring di atas tikar tersebut dam melihat awan - awan di langit, karena kebetulan sekarang cuacanya sangat cerah meskipun di daerah utara terasa dingin. Liam lalu menjadikan paha Ricko sebagai bantalnya saat dia berbaring di atas tikar itu.


"Ckckck rasanya seperti aku sedang mengantar kalian berdua pacaran ya rupanya," ucap Dio mengoceh melihat kebersamaan mereka berdua.


"Lalu kenapa? masalah? ya terserah aku ingin berbuat bagaimana," jawab Liam menanggapi ucapan Dio.


"Kalian berdua ini terlalu so sweet sekali," ucap Chicko menggoda mereka berdua.


"Hahaha benar juga ucapan Chicko, nanti aku akan memotret kalian berdua lalu aku kirimkan kepada istri kalian masing - masing bahwa kalian berdua sedang selingkuh disini hahahaha."


"Woyy Dio jangan aneh - aneh kamu!!" teriak Ricko.


"Wuihh ampun mas Ricko, maaf."


Josh tertawa melihat tingkah mereka.


"Dio ini sekali diteriakin oleh Ricko langsung ciut mentalnya."


"Hahaha langsung kena mental," ucap Chicko mengejek Dio.


"Hufttt kalian tidak tahu saja jika Ricko sudah marah terlihat sangat menyeramkan sekali," ucap Dio lesu.


"Benarkah begitu? seumur hidup aku belum pernah melihat Ricko marah," tanya Chicko penasaran.


"Aku pernah melihat sekali, dan meskipun bukan aku yang dimarahi namun tetap saja aku merasa takut sehingga sejak kejadian itu aku menjadi tidak berani menyenggol Ricko."


Ricko tertawa sembari menepuk - nepuk bahu Dio.


"Hahaha sudahlah, aku tadi tidak marah kepadamu."


"Ayo jalan - jalan saja," ucap Chicko mengajak mereka semua.


"Kalian bertiga saja, aku dan Liam akan disini menjaga barang - barang kalian."


"Ayolah ikut saja Ric," ucap Josh memaksa.


"Nanti giliran saja, dan sekarang giliran kalian bertiga."


"Hmm baiklah jika keinginamu seperti itu."

__ADS_1


"Halah bilang saja kalian berdua ingin berduaan, iya kan?" tanya Chicko menggoda mereka berdua.


"Ssstt," ucap Liam.


Mereka bertiga lalu tertawa, dan setelah itu mereka bertiga berjalan - jalan disekitar kawasan itu namun sebelum berangkat Dio menyempatkan untuk mengejek mereka berdua.


"Awas nanti kena grebek warga hahaha," ucap Dio mengejek Liam dan Ricko.


"Hei!!" teriak Ricko.


"Huh sekarang hanya ada kita berdua disini, iya kan Ric?" tanya Liam.


"Benar," jawab Ricko.


Liam lalu duduk dan menuang kopi ke dalam gelas plastik.


"Ah haus sekali, kamu menginginkannya juga tidak?"


"Boleh."


Setelah Liam meminum setengah kopinya, Ricko lalu mengambil gelas plastik itu dari tangan.


"Gantian," ucap Ricko merebut gelas itu.


"Aku sedang menginginkannya," jawab Ricko meminum kopi itu.


"Dih."


"Apa kamu merasa sudah lebih bahagia sekarang heum?" tanya Ricko tiba - tiba.


"Ya begitulah, terkadang aku merasa bahagia dan terkadang aku tidak merasa bahagia sama sekali."


"Kenapa begitu? ceritakan saja semuanya kepadaku dan jangan dipendam terus karena itu tidak baik."


"Rasanya susah sekali jika kita berpura - pura bahagia, rasanya sesak sekali setiap mengingat serpihan - serpihan memory yang membuat kita down."


Ricko mengusap punggung Liam.


"Sabar saja, memang terkadang kita mengalami hal seperti itu dan namanya juga kehidupan. Ayolah semangat untuk hidup."


"Hidup demi kamu?"


"Tidak, demi anak dan istrimu itu yang utama."


Liam menghela nafasnya kasar.

__ADS_1


"Hufftt baiklah Ric."


30 menit kemudian mereka bertiga telah kembali, dan sekarang giliran Liam serta Ricko yang berjalan - jalan bersama menikmati pemandangan di sekitar kawasan itu. Terkadang Liam menggandeng tangan Ricko saat sedang berjalan - jalan, dan setelah itu mereka berdua menyempatkan untuk mengambil gambar mereka berdua agar Liam bisa mengunggahnya di akun instamili pribadinya. 1 jam kemudian mereka berlima mulai beres - beres untuk pulang, dan setelah semuanya selesai serta tidak ada sampah ataupun barang yang tertinggal barulah mereka berlima pulang ke rumah Dio untuk mengantarkan teman - temannya. Setelah itu Liam pulang ke rumahnya dan langsung mandi sore, karena dia ingin langsung menggendong baby Ace.


"Hai jagoan daddy, kamu tidak merepotkan eomma bukan?"


"Baby Ace anak yang baik hubby, dia tidak terlalu rewel hari ini meskipun dia habis diimunisasi."


"Oh begitu, baguslah."


*Pada malam hari.*


"Hmmm aku sangat merindukanmu Jane," ucap Liam memeluk Jane dari belakang.


"Benarkah begitu? aku fikir kamu sudah lupa denganku saat sedang bersenang - senang bersama teman - temanmu."


"Tidak sayang, aku benar - benar merindukanmu."


Liam langsung mencium bibir Jane dan tidak lama kemudian Jane melepaskannya.


"Hmm nah kan sudah mulai."


"Hehe bolehkah aku mendapatkannya heum?" tanya Liam memegang pipi Jane.


Tanpa fafifu Jane langsung mencium bibir Liam.


"Aku sebenarnya juga sangat merindukanmu," ucap Jane yang duduk di pangkuan Liam sembari mengalungkan kedua tangannya ke leher Liam.


"Benarkah?"


Jane mengangguk.


"Iya sayang," ucapnya dan setelah itu Jane kembali mencium Liam.


Ciuman Liam lalu turun ke leher Jane.


"Aku akan membuat tanda daerah kekuasaanku lagi hahaha."


"Ckckck dasar suamiku yang sangat aneh."


"Hehe, tidak apa - apa kan sayang?"


"Sudah hubby, lebih baik lakukan yang lain saja."


"Hmm okay."

__ADS_1


__ADS_2