
Liam langsung melangkahkan kakinya menuju motornya dan saat dipertengahan jalan menuju parkiran, tiba - tiba ada seorang pria dengan pakaian yang sedikit lusuh sedang duduk termenung disamping barang dagangannya yang masih banyak. Melihat hal tersebut Liam langsung menghampiri pria tersebut sembari masih menggendong Jane karena merasa iba. Dari sorot matanya, bapak penjual balon itu merasa sangat bahagia sekali saat Liam berniat ingin membeli dagangannya yang dia jual. Liam kemudian membeli 2 buah balon berbentuk dinosaurus dan unicorn untuk dibawa pulang. Liam kemudian memberikan balon tersebut kepada Jane dan dia melanjutkan langkahnya menuju parkiran motornya. Liam kemudian mengendarai motornya untuk pulang ke rumah sembari berbincang ringan dengan Jane. Begitu sampai dirumah Liam langsung mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di kaki Jane karena kakinya juga tergores akibat sepatu sandal yang digunakannya. Setelah itu dia pergi untuk mandi sore, sedangkan Jane menonton televisi di ruang tengah sembari berbaring di sofa. Sesekali Jane memperhatikan balon tersebut yang melayang - layang di dekat televisi.
Jane tidak menyangka jika dibalik sifat Liam yang terlihat cuek seperti tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, sebenarnya dia masih memiliki hati dan perasaan peduli terhadap keadaan sekitarnya. Mungkin karena trauma yang dia miliki di masa lalu membuatnya menjadi pribadi yang tertutup serta cuek dengan lingkungan sekitarnya, yah istilahnya Liam merasa jera menjadi orang yang peduli terhadap orang lain jika akhirnya dia diperlakukan tidak adil. Tidak lama kemudian Liam langsung tiduran di sebelah Jane dan memeluknya dari samping sembari menenggelamkan wajahnya di leher Jane. Rambutnya yang belum kering dengan sempurna serta harum wanginya karena sehabis keramas, membuat Jane semakin betah di peluk - peluk oleh Liam. Karena kelakuannya tersebut membuat bibi mengurungkan niatnya untuk menyapu ruang tengah dan memilih kembali ke dapur. Pak Kang yang tiba - tiba masuk ke dalam rumah untuk membuat kopi pun refleks langsung membalikkan badannya menghadap ke pintu karena tidak ingin mengganggu kemesraan mereka berdua.
"Maaf tuan dan nyonya, sa-saya tidak berniat untuk mengganggu anda."
Jane langsung menepuk tangan Liam.
"Tidak apa - apa Pak Kang, ada apa?" tanya Jane.
"Saya hanya ingin membuat kopi saja kok di dapur."
"Oh begitu."
"Sa-saya permisi," ucap Pak Kang berjalan ke dapur sembari menutup wajahnya dengan menggunakan tangan kanannya.
"Iya."
Pak Kang yang sedang membuat kopi tersebut lalu dihampiri oleh bi melati.
"Tadi dimarahi tidak pak?"
"Tidak hahaha."
"Aku kira bakal dimarahi."
"Tidak kok, mungkin nanti gerbangnya akan aku tutup saja dan tidak menerima tamu jika seperti ini."
"Kenapa begitu?"
"Takut mengganggu mereka berdua disaat - saat mereka berdua sedang bermesraan."
"Kenapa begitu?"
Pak Kang lalu menghela nafasnya dan melanjutkan mengaduk kopinya.
"Entah mengapa aku sangat suka saat melihat mereka berdua sedang bermesraan seperti itu, rasanya terlihat lebih tulus dan tidak dipaksakan."
"Bukankah anda sudah lumayan lama menjadi bodyguard nyonya Jane? apa sebelumnya anda tidak melihat nyonya bermesraan seperti itu?" tanya Bi Melati penasaran.
"Dahulu aku sering melihatnya seperti ini namun tidak sampai ke tahap yang seperti ini." Pak Kang lalu meminum kopinya.
"Oh begitu."
"Aku titip nona Jane kepadamu ya."
"Anda ini bicara apa? ucapan anda ini membuatku merasa merinding."
"Kenapa membuatmu merinding?"
"Biasanya orang yang mengatakan hal seperti itu pasti akan...."
Pak Kang tertawa.
__ADS_1
"Tidak hahaha, aku masih sehat."
"Hufftt syukurlah."
Pak Kang sudah merasa lega karena orang yang dicintainya sekaligus cinta pertamanya sudah hidup bahagia dengan seorang pria yang memiliki sifat yang baik, seorang pria yang mungkin dapat dia percaya bisa menjaga Jane dengan sangat baik bahkan dengan segenap jiwanya. Tugasnya sekarang hanyalah move on dari Jane dan mulai mencari seseorang yang akan mengisi hatinya selain Jane. Meskipun itu terdengar tidak mudah namun dia bertekad untuk tetap melakukannya. Disisi lain Liam semakin bersikap manja kepada Jane hingga membuat Jane merasa keheranan.
"Kamu itu sangat menggemaskan sekali sampai rasanya ingin aku gigit," ucap Liam sembari mencubit pipi chubby Jane.
"Hubby, sakit ah."
Liam hanya tersenyum saja.
"Jane, aku ingin dicium."
"Hmm sekarang sudah mulai manja ya ternyata?"
"Hehe, cepat cium aku!!"
Jane kemudian mencium bibir Liam sekilas.
"Kamu ingin makan malam dengan apa?"
"Terserah kamu saja," ucap Liam sembari naik ke pangkuan Jane.
"Huh kamu berat sekali hubby."
"Aku mengantuk."
"Okay. Tidur di pelukanmu terasa sangat nyaman sekali karena aku bisa mendengar detak jantungmu yang terus berdetak dengan sangat kencang."
"Itu semua karenamu, kamu yang membuatku merasa seperti ini."
"Benarkah?"
"Iya, jadi kumohon jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak akan meninggalkan kamu apapun keadaannya karena kamu merupakan penangkal mimpi burukku serta matahari keberuntunganku."
Jane lalu mencium bibir Liam sembari mengusap pipinya dengan sangat lembut hingga membuat Liam merasa seperti ada kupu - kupu yang berterbangan di perutnya. Setelah itu mereka berdua melepaskannya dan menghela nafasnya sembari terus menatap satu sama lain dengan tatapan yang sangat dalam.
"Bagaimana kalau nanti setelah makan malam kita mengunjungi rumah orang tuamu?"
"Ide yang bagus, kebetulan disana ada Seoujun dan kemarin dia selalu menanyakanmu."
"Benarkah?"
"Iya hubby, katanya dia ingin bermain lagi denganmu."
"Hohoho ternyata jiwa kebapakanku ini sudah terlihat ya rupanya?" tanya Liam penuh percaya diri.
"Iya hubby," ucap Jane sembari mengusap rambut Liam.
"Aku tahu jika kita tidak ingin terburu - buru memiliki seorang anak namun aku hanya ingin mengatakannya kepadamu jika aku tidak sabar mengusap perutmu yang mulai buncit dan merasakan pergerakan seseorang di perutmu itu."
__ADS_1
"Akupun sebenarnya juga begitu, tetapi rasanya kita harus mempersiapkan lebih matang untuk menjadi orang tua."
"Benar. Jangan perdulikan ucapan orang lain, dan kalau perlu aku akan menyayat bibir seseorang yang berani berkata yang tidak - tidak kepadamu."
"Jangan seperti itu hubby."
"Kenapa?"
"Tidak baik bersikap seperti itu."
"Baiklah."
"Kamu ingin anak laki - laki atau perempuan?"
"Aku ingin anak laki - laki namun jika misalnya Tuhan memberi kita anak perempuan tidak masalah karena sama saja, yang terpenting kamu sehat serta anak kita juga sehat begitu selesai melahirkan."
"Iya hubby."
"Tetapi di keluargaku sangat sulit mendapatkan anak perempuan, oleh karena itu mommy dan daddy lebih memilih untuk mengadopsi Rosie daripada nanti keluarnya laki - laki lagi."
"Begitu rupanya."
1 Jam kemudian mereka berdua telah selesai menyantap hidangan makan malam, dan setelah itu mereka berdua lalu bersiap - siap pergi ke rumah orang tua Jane.
"Uncle Li!!" teriak Seojun menghampiri mereka berdua.
Liam lalu menggendong Seojun.
"Hai jagoan, sudah lama kita tidak bertemu bukan?"
"Iya, ayo main denganku."
"Baiklah, let's go!!"
"Dari kemarin dia terus menanyakanmu Liam," ucap eomma Seojun.
"Benarkah? haha."
"Iya uncle, aku rindu dan ingin menunjukkanmu mainan baruku."
"Coba tunjukkan kepadaku!"
"Ini dia," ucap Seojun menunjukkan mainan dinosaurus miliknya.
"Aku suka dinosaurus."
"Uncle suka dinosaurus juga?"
"Tentu saja, dari aku kecil sampai sekarang masih menyukai dinosaurus."
"Ayo main perang dino."
"Okay."
__ADS_1