
Liam merasa terheran mengapa barang - barang itu harganya sangat mahal sekali, padahal pakai tepung terigu kan juga bisa. Liam semakin merasa terheran sekaligus tidak percaya karena satu wadah kecil itu ternyata memiliki harga sampai jutaan untuk merk yang biasa dibeli oleh Jane. Pantas saja Jane sekali menggerutu membahas - bahas mengenai barang - barangnya, apalagi dia juga sering merasa kesal saat dirinya menyentuh alat make up nya secara sembarangan.
Ternyata menjadi cantik itu butuh modal yang sangat lumayan menguras kantong, apalagi sekelas Jane yang notabene dia adalah seorang model terkenal. Tentu saja Jane tidak bisa membeli ataupun menggunakan make up secara sembarangan karena jika tidak cocok maka itu akan berdampak buruk pada wajahnya, apalagi wajahnya itu merupakan aset berharganya. Oh jadi ini yang membuat wajahnya seharga milyaran rupiah serta dan akan tetap selalu menghasilkan uang milyaran rupiah meskipun Jane hanya sedang bersantai dirumah saja, begitu fikir Liam.
Dahulu Liam pernah mendengar desas desus dimedia sosial ada yang pernah mengatakan bahwa Jane bisa membeli sebuah mobil lamborghini saat dia sedang bernafas 6 menit saja tanpa melakukan hal apapun, karena memang Jane sudah menandatangani beberapa kontrak brand mewah luar negeri (menjadi brand ambassador maupun menjadi global ambassador). Namun meskipun banyak orang mengatakan hal seperti itu, akan tetapi Liam belum pernah sekalipun ditunjukkan jumlah uang di rekening milik Jane.
Liam menjadi berfikir apakah memang istrinya itu sangat kaya seperti yang mereka katakan atau hanya karena media membesar - besarkannya saja? jika itu benar berarti membelikannya sebuah motor vespa waktu itu hanyalah seperti membeli permen saja. Liam terus melamun memikirkan hal tersebut hingga membuat Jane merasa bertanya - tanya mengenai yang sedang difikirkan oleh Liam. Mungkin karena takut suaminya kerasukan malam - malam, akhirnya mau tidak mau Jane langsung menampar Liam hingga membuat pipinya memerah. Liam langsung berteriak karena merasa terkejut dengan tamparan Jane.
"Arghh sakit!! kenapa sih sayang? aku salah apa lagi heum?" tanya Liam sembari mengusap pipinya yang memerah akibat ditampar oleh Jane.
"Habisnya kamu tiba - tiba melamun seperti itu, aku kan jadi takut jika kamu kerasukan."
"Tapi jangan ditampar juga dong sayangku cintaku, sakit nih."
"Tidak apa - apa, agar hantu yang ingin masuk ke dalam tubuhmu jadi langsung terlempar ke planet pluto setelah aku tampar tadi."
"Uhh sakit sekali, tanggungjawab karena kamu membuat pipiku memerah seperti ini!"
Jane lalu mencium serta mengusap pipi Liam yang merupakan bekas tamparannya agar sembuh.
"Nah bagaimana, sudah sembuh belum?" tanya Jane.
"Masih kurang."
"Oh masih kurang tamparannya? kamu ingin ditampar lagi dan gantian yang sebelah?"
"Ti-tidak jangan, sakit tau."
Jane tertawa.
"Hahaha kamu ini sangat lucu sekali deh."
"Lucu apanya? nyeri iya," ucap Liam merasa semakin kesal.
"Ululuh sayangku sini," ucap Jane mengusap pipi Liam.
"Jane, aku lapar."
"Ingin makan apa?"
__ADS_1
"Ayo buat mie instan saja? bibi mungkin sudah pulang jam segini."
"Baiklah, mari kita buat mie."
"Sebentar, aku akan meletakkan guling disini agar baby Ace tidak jatuh."
"Okay."
Liam lalu meletakkan kedua gulingnya di samping kanan dan kiri baby Ace agar tidak terjatuh dari atas ranjang, meskipun ranjang mereka berdua sangat luas seperti harapan orang tua. Setelah itu mereka berdua pergi ke dapur untuk membuat mie instan, dan Liam sengaja memasak 2 mie instan agar mereka berdua merasa kenyang.
"Hmm baunya sangat menggoda iman sekali," ucap Liam saat sedang mengaduk mie instan di dalam panci.
"Ckckck kamu ini hobi sekali membuatku gemuk," ucap Jane menggerutu.
"Ya tidak apa - apa agar kamu semakin menggemaskan sekaligus pipimu semakin chubby."
"Hmm."
"Dih kamu ini hobi sekali menggerutu, dan untung saja suamimu bukan Lian hahaha."
"Kenapa begitu?"
"Lian tidak suka dengan orang yang selalu menggerutu sepertimu, nanti dia pasti akan berteriak - teriak memarahimu jika kamu menjadi istrinya yang selalu menggerutu seperti itu."
"Dia memang seperti itu namun jika ada orang yang selalu menggerutu didepannya, pasti dia akan langsung berteriak - teriak memarahinya."
"Oh begitu, sangat menakutkan."
"Hahaha sama seperti Arthur, akan tetapi bedanya Arthur akan memarahimu dengan kata - kata kasar yang membuat telingamu menjadi panas."
"Bukankah mereka berdua sama saja?" tanya Jane bingung.
"Tidak, Lian akan memarahimu seperti itu dengan kata - kata yang menusuk ke ulu hati sedangkan Arthur akan memarahimu dengan kata - kata kasar yang tidak pantas didengar oleh seorang wanita."
"Lalu kalau kamu?" tanya Jane menggoda Liam.
"Kalau aku mungkin akan menggunakan keduanya, ya ibaratnya dicampur saja hahaha."
"Kamu juga menakutkan," ucapnya mulai mundur menjauhi Liam.
__ADS_1
"Hahaha itu semua tergantung bagaimana sikapmu kepadaku, jika kamu tidak berulah selama menjadi istriku ya aku tidak akan berbuat seperti itu."
"Waktu itu kamu sangat menyeramkan sekali saat sedang marah, maka dari itu aku menjadi sedikit takut kepadamu serta takut berbuat ulah lagi."
"Sedikit takut?"
"Mmm tidak maksudku takut, aku menjadi takut kepadamu dan aku akan berjanji untuk menjadi istri yang berbakti kepada suami."
"Hahaha iya."
Liam kemudian menyajikan mie instan itu ke dalam satu mangkuk saat mie itu sudah matang. Liam sengaja menjadikannya satu ke dalam satu mangkuk karena dia sedang ingin makan berdua bersama istrinya dalam satu mangkuk. Setelah itu mereka berdua mulai memakan mie instan itu bersama, akan tetapi sebelum itu Liam mengikat rambut Jane agar tidak memgganggunya saat sedang makan.
Mereka berdua makan bersama di meja mini bar sembari melihat pemandangan diluar yang masih hujan gerimis. Sungguh memang sangat nikmat memakan mie instan disaat sedang hujan apalagi jika memakannya bersama seseorang yang kita sayangi. Mereka berdua memakan mie instan itu sembari berbincang santai membicarakan mengenai banyak hal, termasuk mengenai impian mereka di masa depan.
*Slurrpp.*
"Entah mengapa ini menjadi moment yang sangat langka untukku," ucap Liam tiba - tiba.
"Kenapa begitu hubby?"
"Jujur aku belum pernah mengalami hal seperti ini seumur hidupku."
"Aku fikir kamu justru sering melakukan hal seperti ini dengan beberapa kekasihmu, terutama dengan Nat."
"Beberapa kekasih?" tanya Liam bingung.
"Bukankah kamu itu seorang playboy yang memiliki banyak kekasih?"
Liam kemudian menyanyi.
"Aku memang pecinta wanita namun ku bukan buaya, yang setia pada seribu gadis ku hanya mencintai dia. Mmm dia yang aku maksud adalah kamu."
"Oh begitu."
"Sejujurnya aku bukan playboy, dan mungkin orang menganggapku seorang playboy karena coverku terlihat seperti badboy."
"Benarkah begitu?"
"Iya sayang, bahkan saat aku menikah dengamu saja aku masih seorang perjaka hehe."
__ADS_1
"Artinya kamu...."
"Iya."