
Kembali lagi ke cerita dimana Jane dan Liam sedang tertidur pada malam hari setelah mengalami kejadian yang sedikit memicu serangan jantung karena salah sasaran, dan penyebabnya sudah di jelaskan di episode 148. Liam pada malam itu sedang tertidur nyenyak di pelukan Jane, sedangkan Jane tiba - tiba saja terbangun dari tidurnya tepat di jam 3 pagi waktu Korea Selatan. Jane lalu menatap wajah Liam yang masih tertidur dengan tatapan yang sangat dalam penuh arti sembari mengusap pipinya dan menyibakkan poninya. Sekarang Liam tampil dengan rambut berponi namun tetap pendek dan rapi karena gaya rambutnya sudah diubah oleh Jane, dahulu Liam selalu menguncir rambutnya karena rambutnya yang gondrong. Bukan hanya gondrong saja namun Liam yang dulu lebih suka memelihara jenggot dan kumisnya karena menurutnya itu membuat tampilannya lebih manly. Dahulu sebelum bertemu dengan Jane tampilannya sangat sangar dan benar - benar seperti badboy ataupun mafia minyak goreng (becanda), tapi setelah bertemu dengan Jane tampilan Liam berubah 180 derajat karena Jane telah merubah penampilannya menjadi softboy dan seperti idol - idol Korea. Jane tidak suka dengan pria yang berkumis ataupun berjenggot karena dia merasa geli dengan tampilan yang seperti itu.
Jane lebih suka dengan pria bersih, rapi dan wangi karena itu kesan utama yang dapat membuat dirinya merasa nyaman. Karena tiba - tiba Jane merasa haus akhirnya dia melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk mengambil sebotol air putih. Setelah mengambil sebotol air putih Jane kemudian menghampiri Josh yang masih tertidur pingsan di atas sofa, dan setelah itu Jane kembali berusaha membangunkan kakaknya tersebut. Josh lalu terbangun dan terduduk di sofa sembari memegang tengkuk lehernya yang masih terasa sakit setelah dipukul dengan menggunakan sebuah tongkat. Jane kemudian memberikan botol minumannya tadi kepada Josh, dan Jane duduk di samping Josh sembari mengusap tengkuk leher Josh. Dirinya meminta maaf kepada kakaknya tersebut karena kesalahpahaman yang terjadi semalam sembari memeluknya dengan erat dari samping. Jane lalu memapah Josh menuju kamar agar kakaknya tersebut bisa kembali beristirahat, dan setelah itu dia kembali ke kamarnya. Saat pagi menjelang Liam kemudian memeluk Jane dari samping dan menyelipkan kepalanya di leher Jane.
"Selamat pagi," ucap Liam dengan suara parau karena sehabis bangun tidur.
"Selamat pagi sayang, bagaimana tidurnya?" tanya Jane sembari merapikan rambut Liam yang berantakan.
"Lumayan nyenyak, tapi tidak senyenyak di ranjangku."
Jane tersenyum "mulai sekarang sepertinya kamu harus membiasakan untuk tidur di atas ranjangku selama seminggu ini, dan jika kita sudah menikah nanti kita akan tinggal di rumahku ini kan?"
Raut wajah Liam seketika berubah "aku akan memikirkannya terlebih dahulu."
"Kenapa? bukankah kamu sudah menyukai rumah ini?" tanya Jane mengusap pipi Liam.
Liam lalu memegang tangan Jane yang berada di pipinya "aku menyukainya bukan berarti aku harus tinggal juga, itu ibaratnya sama seperti aku menyukai sebuah bukit bukan berarti aku juga harus tinggal di bukit itu selamanya."
"Lalu?"
"Kita tinggal di rumahku!"
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku disini?"
"Aku tidak tau, tetapi aku juga tidak mau jika orang - orang berfikir bahwa aku hanya seorang pria yang menumpang hidup kepadamu."
"Kenapa harus memikirkan apa yang orang katakan?"
"Sudahlah aku malas membuat keributan denganmu di pagi hari," ucap Liam sembari membalikkan tubuhnya membelakangi Jane.
Jane lalu mendekati Liam dan memeluknya "maaf."
"Kenapa kamu meminta maaf?" tanya Liam yang masih membelakangi Jane.
"Karena aku sudah membuat keributan denganmu sehingga membuat suasana hatimu menjadi jelek di pagi hari."
__ADS_1
"Oh," ucap Liam singkat.
Jane lalu mencubit pipi Liam "ayolah sayang, jangan mengambek seperti ini."
"Hmm."
Jane langsung membalikkan tubuh Liam "ututu, kok sekarang kamu jadi ngambekan seperti ini sih?"
"Benarkah?"
"Iya sayang," ucap Jane sembari mulai menggelitiki Liam.
Liam tertawa karena merasa geli "hahaha sudah hentikan! aku merasa geli."
"Maka dari itu jangan ngambekan seperti tadi, kalau kamu bersikap seperti itu maka aku akan menggelitikimu lagi."
"Aku tidak ngambek ataupun marah tetapi aku tidak ingin disebut seperti itu karena aku kan seorang pria, jadi aku harus bekerja keras agar bisa menghidupi keluargaku kelak."
Jane mengangguk paham "oh begitu."
"Aku bukan tipe pria yang suka menumpang hidup kepada seorang wanita."
"Maksudnya?"
"Iya, kamu itu tipe pria yang selalu memuja - muja harga dirimu itu karena menurutmu harga diri memang diatas segalanya, ibaratnya kamu lebih memilih untuk meminum air kotor daripada harus menerima air bersih dari seorang wanita."
"Kamu hampir benar, aku tidak suka harga diriku diinjak - injak oleh orang lain apalagi oleh seorang wanita."
"Iya," ucap Jane mengiyakan pernyatan Liam agar Liam tidak marah lagi dengannya.
"Kamu tidak berangkat syuting?"
"Sebentar lagi karena aku ingin memelukmu sebelum bersiap - siap."
"Oh."
__ADS_1
"Kemarilah sayang ululuh," ucap Jane sembari memeluk Liam.
"Sayang Jane."
Jane lalu mencium rambut Liam "nanti jangan lupa keramas karena rambutmu sudah mulai bau."
"Iya."
Setelah memeluk Liam, Jane yang masih memakai piyama pendek diatas lutut tersebut kemudian beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap - siap sebelum pergi syuting, sedangkan Liam berjalan menuju balcony kamar Jane untuk menghirup udara segar sembari melihat pemandangan sekitar perumahan. Begitu Jane selesai mandi dirinya langsung menghampiri Liam dan menyuruhnya untuk mandi. Sekitar 20 menit kemudian mereka berdua kemudian turun ke bawah untuk sarapan pagi. Jane lalu menghampiri kamar Josh untuk mengajaknya sarapan namun Josh masih ingin tidur karena tengkuknya yang masih terasa sakit. Selesai sarapan Jane langsung pergi ke lokasi syuting, sedangkan Liam membereskan dapur serta meja makan.
"Liam." panggil Josh sembari menghampiri Liam yang sedang mencuci piring.
"Ya, ada apa?" tanya Liam menoleh ke arah Josh.
"Kenapa kamu mencuci piring?" tanya Josh merasa keheranan.
"Karena aku merasa tidak enak jika hanya berdiam diri di rumah ini, jadi aku memutuskan untuk membantu membersihkan rumah saja selama tinggal disini."
"Hei hentikan! kamu tidak perlu melakukan hal semacam ini."
"Tidak apa - apa Josh lagipula aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan semacam ini," ucap Liam sembari terus mencuci piring.
"Apa adikku yang menyuruhmu untuk melakukan hal semacam ini?"
"Tidak, aku melakukannya atas dasar kemauanku sendiri karena aku memang suka bersih - bersih."
"Aku saja tidak pernah melakukan hal semacam ini, lalu kenapa kamu justru suka melakukan hal seperti ini padahal derajatmu lebih tinggi?"
Liam hanya tersenyum mendengar ucapan Josh, lalu dia berkata, "kamu ingin menu sarapan apa?"
"Jangan bilang kamu akan memasakan aku sarapan juga."
"Benar."
Josh kemudian melihat Liam memasak sarapan untuknya yaitu sandwich telur mata kebo. Josh semakin dibuat terheran dengan tingkah Liam tersebut "kamu ini ternyata pintar memasak juga."
__ADS_1
"Tidak juga, yah anggap saja ini permintaan maafku karena telah memukul tengkukmu sampai pingsan."
"Aku yang seharusnya meminta maaf karena tingkah konyolku itu."