
Padahal seorang pria boleh saja menangis jika mereka menginginkannya karena seorang pria juga memiliki perasaan, sama seperti seorang wanita. Baru kali ini Jane melihat sisi lain dari Liam Robinson yang merupakan anak sulung sekaligus pewaris dari keluarga Robinson. Jane mengira jika Liam seperti tidak memiliki beban dalam hidupnya karena dia selalu tampil ceria bahkan selalu menghiburnya ketika Jane merasa sedih, namun semua itu salah. Di balik sifatnya yang ceria dan humoris ternyata dia menyimpan banyak keresahan di hatinya yang tidak mungkin dia tunjukkan di depan banyak orang.
Jane terus memandangi wajah Liam yang sedang menangis tersebut sembari mengusap air matanya yang berjatuhan. Jane menjadi bertanya - tanya di dalam hatinya, apakah sebenarnya semua pria seperti ini? atau mungkin seorang pria akan bersikap kuat dan tegar di hadapan orang lain, tetapi justru dia akan bersikap rapuh hanya di hadapan orang - orang terdekatnya atau bahkan hanya kepada wanitanya saja? Liam adalah salah satu contoh pria yang hatinya sangat rapuh tetapi berkedok sebagai pria kuat dan tidak takut mati hingga akhirnya semua kedoknya tersebut telah terbongkar di hadapan Jane. Orang seperti ini sangat membutuhkan seorang pendamping yang bisa memahami dirinya dengan setulus hati dan bisa menjadi tempat cerita ketika dia sedang membutuhkan sebuah dorongan.
Jane terus memenangkan Liam dan mengusap air matanya. Pak Kang ingin menghampiri Jane untuk memberikan makanan yang sudah di belinya namun setelah melihat itu dia mengurungkan niatnya tersebut. Jane yang tidak sengaja melihat pak Kang dari kejauhan lalu dia memberi isyarat kepadanya agar jangan menghampirinya terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian Jane sudah bisa menenangkan Liam, lalu Jane berbicara kepada pak Kang melalui telefon untuk memberikan makanannya sekarang juga. Pak Kang lalu menghampiri Jane, tetapi Liam yang mengetahui jika ada pak Kang juga di taman tersebut kemudian menyembunyikan wajahnya di leher Jane.
"Ini nona makanan yang anda inginkan tadi," ucap Pak Kang sembari memberikan dua kotak yang berisi makanan.
"Terima kasih Pak Kang."
Pak Kang lalu menatap Liam yang menyembunyikan wajahnya di leher Jane "sama - sama nona. Itu," ucapnya yang tidak jadi meneruskan pertanyaannya.
Jane tersenyum "tidak apa - apa pak."
"Oh baiklah kalau begitu saya akan menunggu di tempat tadi jika nona membutuhkan bantuan saya."
"Baik pak."
Pak Kang lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah itu Jane membuka kotak makanannya lalu meletakannya di meja, sedangkan Liam masih menyembunyikan wajahnya di leher Jane.
Jane mengusap rambut Liam "ayo makan dulu, daritadi kamu pasti belum makan kan?"
Liam lalu menatap wajah Jane yang sibuk menyiapkan makanan mereka berdua "apakah Pak Kang mengetahui jika aku menangis?"
Jane tersenyum menatap Liam "sepertinya tidak, tetapi jika Pak Kang berani membocorkannya pasti akan aku pecat," ucapnya mengajak Liam bercanda.
"Kamu ini seenaknya saja memecat orang."
"Ya tidak apa - apa dong. Makanlah!" ucap Jane sembari kembali mengusap air mata Liam.
"Aku tidak lapar."
"Kenapa begitu? nanti kalau kamu tidak makan kamu akan sakit."
"Tidak mungkin."
Jane lalu mengambil se sendok lauk dan nasi, kemudian dia berusaha membujuk Liam "sini aku suapi."
"Aku tidak mau."
Jane terus berusaha membujuk Liam untuk makan "ini makanlah!"
__ADS_1
Akhirnya Liam mau makan dengan di suapi oleh Jane, Liam memang saat ini sedang bersikap seperti anak kecil. Liam lalu bertanya kepada Jane "bagaimana pekerjaanmu di kantor?"
"Aman, aku sudah menyelesaikan semuanya."
"Oh begitu. Jane?"
"Ya?"
"Jika kamu kembali ke apartement, sandinya adalah 1519 karena tadi kuncinya sudah di ganti."
"Oh baiklah."
Liam lalu mengambil kotak makannya dari Jane "sini aku akan memakannya sendiri, sekarang kamu makanlah juga."
Jane kemudian mulai makan makanannya, Liam terus memperhatikan Jane saat sedang makan tersebut lalu Liam "Jane, aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku."
Jane seketika terpaku dan berhenti makan, lalu Jane menatap Liam "apa maksud kamu Liam?"
"Semakin lama aku merasa jika aku sangat membutuhkanmu, ya aku tau mungkin aku bukanlah pria yang sempurna dan bahkan sangat lemah yang tidak pantas untukmu."
"Semua manusia memang tidak sempurna, aku bahkan juga tidak sempurna dan memiliki banyak kesalahan di masa lalu."
"Iya aku tau, tetapi bagaimana jika di kemudian hari aku menyesal karena tidak memilihmu?"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Fikirkan dulu secara matang, dan tetap pergilah ke New York lalu setelah itu kamu baru memutuskan akan bagaimana."
"Baiklah. Setelah ini pulanglah karena sebentar lagi menjelang malam."
"Lalu kamu bagaimana?"
"Aku juga akan pulang ke rumah utamaku karena koperku berada di rumah."
"Baiklah kalau begitu. Oh ya, mungkin aku tidak bisa mengantarmu di bandara karena aku ada meeting besok pagi."
"Tidak apa - apa."
"Kamu jadi berangkat pagi kan?" tanya Jane sembari makan.
"Iya. Oh ya, tapi awas saja jika kamu sampai menertawakanku atau memberitahu orang lain jika aku menangis."
"Tidak akan Liam, aku janji."
__ADS_1
"Rasanya memalukan sekali aku menangis di pelukanmu."
Jane lalu menatap Liam "kenapa harus malu?"
"Ya malu saja, mungkin kalau kamu menangis di depan umum tidak apa - apa sedangkan aku pasti akan di tertawakan karena tidak macho."
Jane tertawa mendengar ucapan Liam "tidak Liam, walaupun kamu menangis di pelukanku pasti aku akan tetap menganggapmu sebagai pria yang macho."
"Tidak, pasti kamu berbohong."
Jane lalu mengusap rambut Liam lalu menarik kepala Liam di dekapannya "aku tidak berbohong, justru aku senang jika kamu mulai terbuka kepadaku."
"Apakah sekarang kamu menganggapku sebagai anak kecil heum?"
"Maunya bagaimana?"
"Aku maunya jadi anakmu saja."
"Kenapa begitu?"
"Sepertinya lebih enak jadi anakmu walaupun kamu sangat galak seperti kucing garong," ucapnya mengejek.
Jane lalu menjewer telinga Liam "apa kamu bilang?"
Liam meringis kesakitan "ampun, aku hanya bercanda saja."
Jane lalu melepas tangannya dari telinga Liam "baiklah, sekarang kita pulang ya?"
Liam mengangguk. Selesai makan, Liam dan Jane kemudian pergi dari tempat tersebut. Jane mengusap lembut pipi Liam dan setelah itu dia pergi berjalan menuju mobilnya, pak Kang hanya diam mengikuti Jane di belakangnya dan setelah itu pak Kang membukakan pintu mobil untuk Jane. Sedangkan Liam berjalan menuju motornya dan mengendarai motornya untuk pulang ke rumah utama. Selama di perjalanan, Jane hanya terdiam sembari menatap kaca jendela mobil. Pak Kang yang melihat Jane murung, lalu dia bertanya kepada Jane untuk memastikannya.
"Apakah anda baik - baik saja nona?"
"Iya pak."
"Kita akan pulang ke rumah atau apartement nona?"
"Pulang ke rumah saja pak, tetapi saya ingin mampir ke apartement untuk mengambil barang saya yang tertinggal."
Pak Kang mengangguk "baik nona."
Pak Kang lalu mengendarai mobilnya menuju apartement, sesampainya di apartement Jane kemudian memasukkan kode sandi yang seperti Liam katakan. Setelah terbuka, Jane langsung ke kamarnya dan mengambil beberapa barang miliknya. Tetapi sebelum pergi dari apartement, Jane menyempatkan diri untuk masuk ke dalam kamar Liam. Jane duduk di atas ranjang Liam kemudian dia seperti meninggalkan secarik kertas di atas ranjang Liam. Setelah itu dia pergi dari apartement Liam dan pak Kang mengendarai mobilnya menuju rumah Jane.
Notes: Jangan lupa like episodenya ya teman - teman, terima kasih.
__ADS_1