
"Aku sudah mendengar dari adikmu jika kamu ingin mengelola restaurant dan aku sudah memutuskan bahwa kamu boleh mengelola restaurant tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya dad?"
"Kamu juga harus bersedia mengelola perusahaan daddy yang di sini jadi.." (terpotong)
"Jadi maksud daddy aku mengelola perusahaan dan restaurant begitu? haiss lama - lama daddy seperti William Daendels yang memaksaku untuk bekerja rodi."
"Hei begini nih kalau kamu kebanyakan membaca buku sejarah. Kamu itu mengaku sebagai seorang workaholic tetapi disuruh mengelola perusahaan dan restaurant saja mengeluh, apa kamu lupa jika kalau kamu sering bekerja lembur sampai tengah malam ha?"
"Tapi kalau begini, lama - kelamaan aku akan membelah diri seperti amoeba hufftt."
Mrs Robinson yang menyimak perdebatan mereka berdua hanya menggeleng sembari tertawa kecil.
"Bagaimana? kamu setuju atau tidak?"
"Ya udah deh aku setuju. Bagaimana jika dari jam 8 pagi sampai makan siang aku pergi ke kantor dan setelah makan siang sampai jam 4 sore aku berada di restaurant?"
"Baiklah kalau itu mau kamu, kamu boleh melakukannya asalkan tidak ada yang terbengkalai aku setuju."
"Nah begitu dong, deal?"
"Deal."
Setelah perbincangan tersebut, suasana menjadi sunyi dalam beberapa waktu sampai pada akhirnya Mrs Robinson memecah keheningan tersebut dengan pertanyaannya.
"Begini nak kapan kamu akan mengenalkan kekasihmu ke daddy dan mommy?"
"Ha? kekasih? haiss mom, dad aku belum ingin memiliki seorang kekasih setelah kejadian itu bahkan aku tidak berniat untuk menikah. Kenapa tiba - tiba membicarakan hal itu mom?"
"Begini nak, kami ingin segera menimang cucu."
"Tapi mom aku belum menginginkan itu, lagi pula mommy dan daddy masih muda dan aku masih ingin menikmati masa muda ku."
"Tapi kami berdua ingin sekali segera menimang cucu, dan kami rasa kamu sangat cocok dengan teman kamu yang waktu itu makan malam bersama kami."
"Ah si Jane, dia sudah memiliki seorang kekasih mom mana mungkin aku menghancurkan hubungan mereka berdua agar aku bisa menjalani hubungan dengannya, lagi pula kami tidak merasa cocok satu sama lain."
"Kalau kamu tetap dengan keputusan mu atau kamu terlalu lama mengenalkan kekasihmu kepada kami, maka kamu akan kami jodohkan dengan salah satu sahabat daddy."
"Ah jangan aneh - aneh deh dad, aku tidak mau di jodohkan, lagipula kalau waktunya sudah tepat dan aku sudah ingin menikah maka aku akan mengenalkannya kepada kalian berdua, mana mungkin aku akan menikah secara diam - diam."
"Ya sudahlah terserah kamu, tapi kalau kamu tidak segera mengenalkan pada kami maka kamu akan tetap kami jodohkan dengan anak sahabat daddy paham?"
Lalu Liam berdiri dari tempat duduknya "paham dad, ya sudah aku mau workout dulu."
"Haiss anak itu susah sekali di kasih tau."
Mrs Robinson kemudian mengusap pundak Mr Robinson untuk menenangkannya "sabar hon sabar. Liam itu tipe orang yang tidak suka di tekan dan cenderung ingin berjalan sesuai keinginannya sendiri, jadi kalau kamu menekannya maka dia akan memberontak dan melawanmu."
"Haiss tapi sampai kapan dia akan keras kepala seperti itu? tolonglah bantu aku, kan dia anakmu."
"Hei dia juga anakmu, lagipula sifat keras kepalanya juga menurun darimu."
Mr Robinson lalu berdiri dari tempat duduknya "haiss sudahlah aku ingin beristirahat."
Mrs Robinson hanya mengangguk dan tersenyum sembari menatap Mr Robinson berjalan menaiki tangga, setelah itu Mrs Robinson pergi ke dapur untuk memasak makan malam.
*Di sisi lain*
Jane dan Rosie sudah berada di sebuah restaurant dan tengah berbincang saat sedang menunggu pesanan mereka. Mereka membicarakan banyak hal dari soal camilan, kuliah dan saling bertukar pengalaman. Beberapa menit kemudian, makanan mereka berdua telah di sajikan di atas meja, dan kemudian menyantap makanan masing - masing sembari sesekali melanjutkan perbincangan mereka.
"Rosie, aku ingin menanyakan suatu hal kepadamu boleh kan?"
__ADS_1
"Boleh eonni, mau tanya apa?"
"Liam itu sudah punya pacar?"
"Belum, memangnya kenapa? eonni suka ya dengan Liam?"
"Tidak bukan begitu, aku cuma menanyakannya saja kok karena pria seperti Liam mana mungkin belum mempunyai seorang pacar."
"Mungkin saja eonni itu buktinya Liam saja belum mempunyai seorang pacar, malah dia dulu curhat sama aku kalau ingin melajang saja."
"Kenapa begitu? oh kalian ternyata sering curhat satu sama lain ya?"
"Karena ada suatu kejadian yang membuat dia trauma ingin memiliki pacar. Iya sering kok kita berdua saling curhat, maka dari itu aku sudah tau kebiasaan, sifat, apa hal yang paling di benci dan di sukai nya. Aku bisa lho membantu eonni kalau memang eonni menyukai Liam hahaha."
Jane bertanya dengan penasaran "memangnya kejadian seperti apa?"
(Tertawa) "ada deh rahasia, kalau aku membocorkannya nanti aku tidak diberi uang jajan lagi dengan Liam."
(cemberut)
"Ihh eonni kok imut sekali kalau baru cemberut begitu, ini sih sebenarnya masuk tipe nya Liam hahaha."
"Tipe apaan?"
"Iya, tipe wanita idaman Liam. Sebenarnya Liam itu suka wanita yang imut sekali seperti eonni."
"Masa sih? memang sebenarnya Liam itu orangnya seperti apa sifatnya?"
"Hahaha pasti eonni mulai menyukai Liam kan?"
"Tidak juga sih mana mungkin aku menyukai dia, lagipula aku cuma menanyakan saja karena dia pria yang paling menyebalkan yang pernah aku temui."
"Oke begini, aku kasih tau rahasia kalau Liam itu sebenarnya tipe cowok yang humoris, setia, perhatian, royal banget. Tapi karena suatu kejadian dia menjadi berubah 360 derajat begitu, dan sekarang dia menjadi cuek dan dingin dengan wanita lain."
"Jinjja? (benarkah?) kok bisa ya?"
"Jangan mengada - ngada, kamu kan adiknya mana mungkin bisa menikah dengan Liam."
"Bisa - bisa aja sih kalau Liam nya mau, karena aku ini bukan adik kandung."
"Hah maksudnya?"
"Iya aku ini sebenarnya hanya anak angkat nya Mr. dan Mrs. Robinson."
Jane dibuat semakin penasaran "kamu hanya anak angkat? tapi sepertinya kalau dilihat dari perlakuan mereka, kamu bukan seperti anak angkat mereka."
"Iya memang aku di keluarga mereka sebagai anak angkat tapi mereka memperlakukan aku seperti anak kandung sendiri dan bahkan aku dari dulu sampai sekarang mereka membiayai dan menghidupiku dengan layak seperti anak kandung mereka sendiri, bahkan Liam sudah menganggap ku seperti adik kandungnya sendiri. Maka dari itu kemungkinan kuat kenapa aku tidak bisa menikah dengan Liam meskipun hanya sebagai saudara angkat."
"Oh begitu, aku boleh menanyakan suatu hal lagi tidak?"
"Silahkan."
"Memang kamu di angkat jadi keluarga mereka sejak kapan? dan apakah mereka pernah mengungkit - ungkit kalau kamu itu hanya anak angkat? sorry banget sebelumnya."
"No problem. Aku diangkat menjadi keluarga mereka saat Liam masih SMP atau kapan ya aku lupa, tapi jarak kami hanya sekitar 3 tahunan saja. Kalau mereka pernah mengungkit soal aku ini hanya anak angkat atau tidak jawabannya adalah mereka sama sekali tidak pernah mengungkit - ungkit hal tersebut bahkan dari aku pertama bergabung di keluarga itu dan sampai sekarang. Mereka sangat memyayangiku bahkan aku ketika meminta sesuatu dengan mereka, mereka tidak pernah menolak permintaan aku."
"Kamu pasti beruntung sekali ya ada di keluarga itu?"
Mata Rosie mulai berkaca - kaca "iya aku sangat beruntung sekali."
Jane yang menyadari bahwa mata Rosie mulai berkaca - kaca, kemudian berpindah duduk di samping Rosie dan mengusap - ngusap pundak Rosie pelan sembari menenangkannya.
"Udah cup cup, jangan menangis sorry ya udah bikin kamu nangis."
"Tidak kok eonni bukan salah eonni, tidak apa - apa hanya saja terkadang kalau cerita tentang ini ingin menangis terharu saja, karena kalau aku tidak diangkat menjadi keluarga mereka mungkin aku tidak bisa hidup dengan layak dan bisa merasakan kasih sayang dari seorang orang tua dan kakak."
__ADS_1
"Iya, kamu harus bersyukur atas itu. Cup cup pulang yuk udah sore pasti kamu di cariin."
Kemudian Rosie hanya mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. Mereka berdua membawa belanjaan mereka dan berjalan pergi dari mall untuk pulang ke rumah. Setelah beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai di rumah Rosie dan masuk ke dalam rumah, dan mereka disambut oleh Mrs Robinson dengan wajah sedikit cemas.
Rosie berteriak "mommy Rosie pulang."
Menghampiri Rosie dan memeluknya "akhirnya pulang juga, tadi mommy khawatir sama kamu karena kamu tidak izin jika pergi ke mall. Apa ini? kamu membeli camilan sebanyak ini? ckckck."
"Hehe iya mom tau sendiri kan Rosie sangat membutuhkan amunisi, eh tapi tadi Rosie udah izin dengan Liam kok mom"
Kemudian melepaskan pelukannya "iya - iya tadi kakak kamu sudah memberitahu mommy dan daddy, eh ada nak Jane."
Memeluk Mrs Robinson "iya tante tadi saya yang mengajak Rosie pergi ke mall. Maaf ya tante bikin tante khawatir."
Lalu Mrs Robinson membalas pelukannya "iya tidak apa - apa, maklum ditinggal berdua sama kakaknya jadi sedikit khawatir apalagi kakaknya kalau sudah sibuk bermain game, sudah lupa dengan dunia. Silahkan duduk, mau dibuatin minum apa?"
"Oh hehe, tidak perlu repot - repot kok tante tadi sudah mampir ke restaurant dengan Rosie."
"Oh ya sudah, saya tinggal ke atas dulu ya nak Jane."
"Baik tante."
Kemudian Rosie dan Jane berjalan menuju ruang tengah untuk bersantai dan beristirahat sebentar. Tidak lama kemudian, Liam berjalan melewati ruang tengah karena ingin ke dapur mengambil minuman dingin, karena merasa haus sehabis workout. Liam yang melihat Jane dan Rosie kemudian menghampiri mereka berdua.
Liam melihat isi dari kantong belanja tersebut "wah camilan siapa ini banyak sekali?"
"Ini punyaku mau?" ucap Rosie.
"Oh pantas saja, eh tadi dicariin sama daddy, biasa lah anak perempuan nya tiba - tiba menghilang jadi panik pak tua."
"Ih Liam kan aku udah meminta izin dengan kamu, dan aku aduin ke daddy lho kalau kamu mengejek pak tua."
"Iya udah aku bilangin ke daddy kalau kamu pergi ke mall dengan Jane, dan sudah bilang dengan aku tapi kamu tau sendiri lah pak tua seperti apa kalau anak perempuan kesayangannya tiba - tiba tidak ada dirumah langsung heboh. Kamu itu ya tukang mengadu seperti kera."
"Kan mulai, DADDY KAK LIAM NAKAL!!"
Dengan cepat Liam membungkam mulut Rosie "ssstt jangan teriak - teriak seperti di hutan. Kamu jelek."
Jane hanya tertawa kecil melihat dan menyimak pertengkaran kakak beradik tersebut.
Lalu Rosie melepaskan tangan Liam dari mulutnya "ihh Liam menyebalkan sekali, pantas saja eonni Jane bilang kalau Liam itu orang yang sangat menyebalkan."
"Apa Kitten? kamu ini berani - beraninya mengejekku bahwa aku ini pria yang menyebalkan."
"Iya memang kamu itu pria yang menyebalkan sekali chicken wle." (menjulurkan lidahnya)
"Wah wah kalian ini sudah bersekongkol mau melawan aku. Perundungan ini namanya."
(Hahahaha Jane dan Rosie tertawa mengejek Liam)
"Mm Rosie aku pulang dulu ya? pasti oppa aku udah nyariin aku."
Lalu Rosie mengantar Jane sampai di depan pintu dan melambaikan tangannya "iya hati - hati ya bye."
Jane membalas lambaian tangan Rosie "bye. Salam ke om sama tante ya?"
"Oke eonni."
"Kamu tidak pamit dengan aku nih?"
"Tidak perlu hahaha."
"Ya udah bye."
Jane menatap Liam yang pergi masuk ke rumahnya "cie Chicken marah."
__ADS_1
"Bye eonni."
"Bye Rosie."