
Mereka berdua kembali berjalan menyusuri Central Park. Keadaan tempat itu sangat ramai oleh pengunjung yang semakin berdatangan. Nat terus menggandeng pergelangan tangan Liam dengan sangat erat seperti prangko yang menempel di amplop. Mereka berdua lalu memutuskan untuk duduk di atas rumput yang terletak di dekat danau untuk beristirahat. Liam memejamkan matanya sembari menikmati hembusan angin sepoi - sepoi. Nat kemudian meminta Liam untuk berbaring di pangkuannya, Liam lalu menuruti permintaan Nat dan dia berbaring di pangkuan Nat. Dia lalu membelai dan memainkan rambut milik Liam yang tertiup angin. Meskipun sikap Liam terlihat sedikit berbeda dari yang dulu dia kenal, rasa cinta Nat kepada Liam masih tetaplah sama seperti dulu. Saat Nat ingin bersantai menikmati pemandangan Central Park di sore hari, tiba - tiba pikiran itu terus muncul di otaknya.
Ya memang sih jika dibandingkan dengan Jane, Nat itu tidak ada apa - apanya. Hampir semua orang tau jika Jane itu wanita yang serba bisa mulai dari menjadi model, berakting, bernyanyi, memasak dan lain - lain. Apalagi belum lama ini muncul berita jika hubungan Jane dengan kekasihnya sudah berakhir dan itu mungkin bisa memperkuat dugaan jika Liam memang sedang dekat dengan Jane, tetapi tidak mungkin jika Liam yang membuat Jane berpisah dengan kekasihnya karena Liam bukan tipe pria yang seperti itu. Nat tidak mengikuti akun media sosial milik Jane, jadi dia tidak tau jika Jane pernah mengunggah foto dirinya bersama dengan Liam sewaktu di boutique. Sekitar 30 menit mereka berdua di tempat itu sebelum mereka berdua memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Nat.
Sesampainya di rumah orang tua Nat, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah orang tuanya memberitahu kepada Nat jika orang tuanya sedang pergi keluar sebentar. Akhirnya mereka berdua menunggunya di ruang tamu dan Nat mempersilahkan Liam untuk duduk. Sebenarnya Nat ingin mengajak Liam menunggu si kamarnya saja sembari menonton film namun Liam menolaknya dan lebih memilih untuk menunggu di ruang tamu. Bibi lalu membuatkan minuman untuk mereka berdua. Tidak lama kemudian orang tua Nat pulang dan terkejut melihat Nat membawa seorang pria ke rumahnya. Orang tua Nat lalu menyapa Liam dengan sangat ramah setelah dia memperkenalkan Liam kepada kedua orang tuanya.
"Dad, mom, kenalkan ini Liam teman dekat aku sewaktu di Australia."
Liam lalu berdiri dan menjabat tangan ayah Nat "saya Liam Gerard, temannya Nat dan senang bertemu dengan anda."
Ayah Nat membalas jabatan tangan Liam "saya Richard, daddy nya Nat."
Liam lalu beralih menjabat tangan ibu Nat "senang bertemu dengan anda."
"Saya Ella, mommy nya Nat dan senang bertemu dengan anda juga."
"Silahkan duduk Liam," ucap Richard.
Liam tersenyum "terima kasih."
"Jadi sekarang anda masih tinggal di Australia?" tanya Ella.
"Tidak tante, saya sekarang tinggal di Indonesia bersama dengan adik perempuan saya dan terkadang orang tua saya juga singgah sebentar di Indonesia."
"Adik anda umur berapa tahun?"
"Sekitar umur 22 tahun dan sedang kuliah di jurusan bisnis."
Ella mengangguk "oh begitu."
"Sebenarnya tujuan saya kemari untuk mengunjungi anda sekalian untuk meminta izin membawa Nat pergi ke California selama 2 hari," ucap Liam sedikit gugup.
Ella tersenyum "baiklah, saya mengizinkan anda untuk membawa Nat pergi ke California."
__ADS_1
"Tetapi jaga Nat dengan baik selama di sana," ucap Richard sembari menatap Liam dengan tajam.
"Baik, saya berjanji akan menjaga Nat dengan baik selama di California."
Richard terus memperhatikan Liam "sudah berapa lama kamu dekat dengan Nat anak saya?"
"Sekitar 3 tahunan."
"Sudah lama juga ternyata, jadi kapan kamu akan melamar putri saya?"
Liam merasa terkejut dengan ucapan Richard, Nat yang mengetahui jika Liam merasa bingung ingin menjawab apa kemudian Nat berkata "dad, jangan bertanya seperti itu kepada Liam."
"Kenapa daddy tidak boleh bertanya seperti itu, lagipula kalian juga sudah lama dekat kan?"
"Iya dad tapi Liam masih sibuk mengurus perusahaan milik keluarganya, lagipula kami ini hanya bersahabat saja kok."
"Perusahaan apa yang sedang kamu jalankan?"
"Real estate om, keluarga kami juga mempunyai beberapa restaurant dan beberapa hotel yang tersebar di beberapa negara."
"Kebetulan di New York kami yang mempunyai hotel P yaitu hotel berbintang 5."
"Daddy tau Mr Robinson bukan?"
"Iya tau, dia adalah termasuk jajaran top 10 pengusaha terkaya di seluruh dunia dan di bawahnya ada Mr Kim. Memangnya kenapa?"
Nat tersenyum "yang di depan daddy sekarang adalah putra sulungnya Mr Robinson."
Kedua orang tua Nat merasa terkejut. Richard lalu memastikannya dengan bertanya langsung kepada Liam sendiri "benarkah kamu putra sulungnya Mr Robinson?"
"Benar, saya putra sulungnya dan Mr Kim adalah sahabat dari daddy saya yang juga sahabat keluarga Robinson."
"Oh seperti itu, pantas saja wajahmu seperti tidak asing bagi saya dan juga pantas saja jika rangking Mr Kim selalu berada tepat di bawah Mr Robinson karena memang ternyata keluarga Robinson dan keluarga Kim sudah bersahabat."
"Benar om."
__ADS_1
Setelah itu orang tua Nat mengajak Liam untuk mekan malam bersama dengan keluarganya. Mereka semua menikmati hidangan yang sudah di olah oleh asisten rumah tangga di rumah orang tua Nat. Kehangatan juga terasa di keluarga Nat hingga membuat Liam bersyukur sekali karena Liam selalu mendapatkan seorang teman yang memiliki kehangatan di keluarganya seperti keluarganya, keluarga Mr Kim dan keluarga sahabat - sahabatnya. Saat Nat berbincang dan bercanda dengan kedua orang tuanya Liam tersenyum memperhatikan mereka dan setidaknya itu bisa mengobati sedikit kerinduan kepada keluarganya saat ini. Setelah selesai makan malam bersama, kemudian Richard mengajak Liam untuk berbincang sebentar dan setelah itu Nat berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke NYC Times Square untuk melihat hiruk pikuk tempat tersebut saat malam hari. Mereka berjalan - jalan bersama dan Nat mengajak Liam untuk berfoto bersama di tempat itu. Pokoknya Nat ingin mengambil foto saat bersama Liam di semua tempat yang mereka kunjungi untuk di unggah di akun instamili pribadinya.
"Kamu ingin ice cream?" tanya Liam.
"Iya."
"Okay, sebentar aku akan membelinya untuk kita." Liam lalu berjalan menghampiri kedai ice cream tersebut dan membeli ice cream untuk mereka berdua.
Nat memperhatikan Liam yang sedang membeli ice cream "dari dulu dia memang pria yang manis," ucapnya sembari tersenyum.
Liam lalu menghampiri Nat dan memberikan ice cream rasa kesukaannya "ini ice cream rasa kesukaanmu yaitu ice cream rasa vanilla."
"Thank you honey," ucapnya menerima ice cream tersebut sembari tersenyum.
"Your welcome." Liam lalu memakan ice cream miliknya, dan kemudian mereka berdua melanjutkan berjalan - jalan bersama.
Nat juga memakan ice cream miliknya "and sorry."
"For what?"
"Jika orang tuaku banyak melontarkan pertanyaan kepadamu hingga mungkin membuatmu merasa tidak nyaman hon."
"It's okay, mereka hanya ingin memastikan apakah putri kesayangannya bergaul dengan orang yang tepat atau tidak."
"Aku tau jika kamu itu pria yang baik hon."
"Kamu tau itu, tetapi orang tuamu tidak mengetahuinya jadi apa salahnya jika mereka memastikannya."
"Tetapi aku merasa sangat tidak enak denganmu hon."
Liam tersenyum "aku kan sudah bilang tidak apa - apa, jadi kamu tidak perlu merasa begitu Nat."
"Okay hon, i love you."
"I love you too."
__ADS_1