Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #189


__ADS_3

Mereka berdua bercengkrama di tepi kolam renang sembari memakan camilan yang tadi mereka beli di supermarket. Liam baru merasa bahwa rumahnya yang sekarang terasa sangat sepi, yah tetapi itu bagus karena Liam tidak terlalu menyukai keramaian. Hanya saja Liam sedikit merindukan rumah utamanya karena ada adik kesayangannya yang membuat suasana rumah menjadi ramai. Liam menghela nafasnya lalu melihat lingkungan sekitarnya yang tampak berbeda dari sebelumnya. Akhirnya Liam bisa menempati rumah dari hasil kerja kerasnya selama ini setelah sekian lama dia menanti rumah ini selesai dibangun dan renovasi ulang karena ada beberapa hal yang membuatnya sedikit tidak suka. Saat ingin mengeluh mengenai apa yang dirasakan saat ini tiba - tiba niat tersebut dia urungkan karena dia sadar, mungkin Jane sekarang juga sedang merasakan apa yang dia rasakan dan sedang menahannya untuk tidak mengeluh kepada dirinya saat ini.


Jane bisa saja lebih merasakan kesepian di rumah barunya karena biasanya ada appa, eomma , dan oppa nya yang selalu mengusir rasa kesepiannya itu. Namun sekarang Jane hanya mempunyai Liam di rumahnya yang baru, yang otomatis Liam harus bisa membuat Jane agar dia tidak merasa kesepian lagi. Liam lalu menjahili Jane yang sedang melamun mengigit pipinya yang chubby itu, dan setelah itu Liam berlari untuk bersembunyi di dalam kamar mandi. Jane langsung berteriak sembari mengejar Liam yang pergi masuk ke dalam rumahnya. Jane mencari kesana kemari namun tidak kunjung menemukan tempat persembunyian Liam. Lalu tidak sengaja Jane menemukan handphone Liam yang tergeletak di atas meja.


Jane lalu mengambilnya dan melempar handphone Liam ke luar rumah dan mengunci pintu utama rumah tersebut. Liam yang sedari tadi mengintip dari pintu kamar mandi, dirinya seketika merasa panik ketika Jane melempar handphone miliknya karena semua data game ada di handphone itu. Mendengar suara langkah Jane yang semakin lama semakin menjauh, dengan cepat Liam keluar dari tempat persembunyiannya dan pergi keluar rumah untuk mencari handphone miliknya tadi yang dilempar oleh Jane. Ternyata Jane sedari tadi hanya bersembunyi di balik gorden, karena tubuhnya yang mungil itu dia bisa dengan mudah bersembunyi dimanapun yang dia inginkan tanpa diketahui oleh seseorang. Jane lalu berjalan mengendap - ngendap dan langsung mengunci pintu utama rumah sembari tersenyum jahat.


"Sedang mencari apa tuan?" tanya pak satpam yang sedang berjaga malam dirumahnya.


"Handphone, tadi Jane melemparnya di sekitar sini namun aku tidak kunjung menemukannya," ucap Liam kebingungan.


"Biar saya bantu mencari tuan."


"Okay pak."


Pak Kang yang baru saja keluar dari rumah depan pun langsung ikut membantu mereka berdua mencari handphone Liam.


"Nah ini tuan handphone milik anda sudah ditemukan," ucap Pak Kang mengangkat handphone tersebut.


"Wah terima kasih Pak Kang."


"Sama - sama tuan."


Liam lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya namun tiba - tiba saja pintu rumahnya dikunci "JANEE!!!"


Jane hanya tertawa sembari mengintip Liam dari balik jendela rumah.


"Hahaha mampus, tidur diluar saja sana!"


*dok dok dok* Liam mengetuk jendela.


"Jane buka pintunya," ucap Liam memohon.


Jane menggelengkan kepalanya "tidak mau, nanti kamu menggigit pipiku lagi."


"Aku janji tidak akan menjahilimu lagi asalkan kamu buka pintunya."


"Aku tidak percaya huuuu bullshit."


"Jane, diluar dingin aku butuh kehangatan."


"Ya sudah nanti aku kasih selimut dan bantal."


"Tidak mau, aku maunya dipeluk olehmu."

__ADS_1


"Aku tidak mau dipeluk olehmu."


Liam lalu pergi menemui Pak Kang "pak, tolong bukain pintunya."


"Saya kan tidak mempunyai kunci cadangan tuan, jadi bagaimana saya membukanya?"


"Benar juga, kalau begitu tolong bujuk Jane untuk membuka pintu dong."


"Saya tidak pandai membujuk orang apalagi nona Jane."


"Pak Kang kan sudah lama bekerja dengan Jane, masa tidak bisa membujuknya."


"Sangat sulit membujuk nona saat sedang marah."


"Terus saya bagaimana Pak? masa saya tidur di teras rumah?"


Pak Kang lalu berfikir sejenak "kalau begitu anda tidur dengan saya saja, bagaimana?"


Liam menghela nafasnya "hmm baiklah, daripada aku tidur di teras."


"Mari tuan."


"Ah ya sebentar, aku ingin mencari angin disini."


Liam, Pak Kang, dan pak satpam kemudian duduk berjejer dan melamun di depan pos satpam. (FYI) Rumah yang Liam buatkan untuk Pak Kang berada di belakang pos satpam ya bisa dibilang bergandengan dengan pos satpam rumah Liam agar jika Jane membutuhkan bantuan Pak Kang, dia bisa langsung membantu Jane. Lalu rumah untuk bibi yang akan bekerja di rumah Liam berada di samping rumah Liam dan berjarak sekitar 30 meter an dari rumah Liam. Dia sengaja membuat rumah untuk bibi serta Pak Kang karena Liam hanya ingin mendapatkan ruang pribadinya sendiri tanpa gangguan dari orang luar. Liam melakukan hal tersebut karena dia tidak terlalu suka rumah utamanya saat asisten rumah tangga, bodyguard, serta supir tinggal di satu atap dengan keluarganya jadi Liam seperti tidak bisa memiliki ruang untuk sendiri.


"Aku punya ide," ucap Liam secara tiba - tiba.


"Apa tuan?" tanya Pak Kang.


"Saat semua pintu rumah itu dikunci hanya ada satu jalan agar aku bisa masuk ke dalam sana."


"Melalui apa tuan? apakah ada ruang bawah tanah seperti di film - film itu tuan?" tanya pak satpam.


"Bukanlah, aku tidak mempunyai cukup dana untuk membuat ruang bawah tanah."


"Tetapi bukankah anda juga mempunyai basement dan itu juga masuk dalam kategori ruang bawah tanah?"


Pak Kang mengangguk setuju "benar juga yang dikatakan oleh pak satpam."


"Oh iya juga ya? eh tetapi maksud aku jalan bawah tanah yang seperti di film - film lah."


"Oh," ucap Pak Kang dan pak satpam serentak.

__ADS_1


"Pak Kang mempunyai tali tambang yang kira - kira bisa menahan berat badan manusia?"


"Sebentar," ucap Pak Kang sembari masuk ke dalam rumah.


*Beberapa menit berlalu*


"Ini tuan," ucap Pak Kang menyerahkan tali tersebut kepada Liam.


"Bagus, ayo ikut aku."


Liam kemudian mengajak Pak Kang dan pak satpam ke samping rumahnya, lalu dia melempar tali tersebut ke balcony yang mengarah ke kamarnya dan mengikatnya dengan sangat erat.


"Nah satu - satunya jalan agar aku bisa masuk ke dalam rumah adalah dengan memanjat balcony kamar utama karena Jane selalu saja lupa mengunci pintu balcony."


"Darimana anda tau mengenai hal tersebut?"


"Aku sering memperhatikannya sejak dulu sebelum kita menikah."


"Benar juga, tetapi apakah aman?"


"Tenang saja, kalau jatuh mungkin hanya patah tulang saja dan aku sering mengalami hal tersebut."


"Terserah anda saja," ucap pak satpam pasrah.


Liam kemudian mulai memanjat tersebut secara perlahan namun pasti. Sekitar kurang lebih 30 menit kemudian Liam telah sampai di balcony kamarnya namun lampu kamarnya sudah mati. Liam mengacungkan jempolnya untuk memberi kode bahwa sudah aman. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya dan menyusul Jane tidur.


"Kamu tidak akan bisa mengalahkan aku karena aku adalah mantan maling mangga tetangga," ucap Liam memeluk Jane dari balik selimut.


"Maling!!! maling!!! teriak Jane.


"Maling? Mana malingnya?"


*Bugh bugh bugh* Jane memukuli Liam.


"Arrghhh sakit!! aku bukan maling."


Jane menyalakan lampu "eh hubby, kok bisa?"


"Hahahaha aku pasti akan selangkah lebih maju darimu Jane."


"Ihh menyebalkan."


Liam lalu mendorong Jane ke ranjang "kamu harus membayarnya." (smirk)

__ADS_1


__ADS_2