
Jane melangkah menuju ke kamar baby Ace untuk memberinya susu, sedangkan Liam masih sibuk berganti pakaian. Sesampainya di kamar baby Ace, Jane menggendongnya dan membawanya ke ranjang satunya untuk memberikannya susu. Bayi mungil itu langsung meminumnya dengan sangat cepat karena mungkin dia sudah merasa haus, maklum ibunya sedang sibuk mengurus bayi yang satunya jadi baby Ace harus menunggu sebentar. Jane menciumi pipi chubby baby Ace karena merasa gemas kepadanya.
Baby Ace sangat mungil seperti boneka, bahkan dahulu besar tubuhnya saja hanya sebesar pergelangan tangan Liam. Secara tidak sengaja susunya tumpah alias muncrat hingga membuat wajah baby Ace menjadi kotor, dan tidak lama setelah itu baby Ace langsung menangis. Jane meraih tissue di meja sampingnya dan membersihkan wajah baby Ace serta beberapa tumpahan susunya. Jane lalu berdiri dan menengakan baby Ace yang tengah menangis sembari menutup semua gorden di kamarnya. Alhirnya setelah 45 menit baby Ace bisa tenang dan sekarang kembali meminum susu.
Disisi lain Liam saat ini sedang berada di bawah untuk bermain game di televisi besarnya. Liam mencoba menyelesaikan misi yamg terdapat di dalam game tersebut agar mendapatkan penghargaan. Televisinya sangay besar sekali, jadi dia bisa dengan puas bermain PS disana dan terkadang waktu musim bola teman - teman Liam mengadakan nobar. Namun karena hal tersebut dapat memicu keributan, jadi Jane membuat beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh teman - teman Liam agar tidak berisik. Setelah puas bermain PS, Liam lalu ke kamar baby Ace untuk menemuinya dan juga menemui ibunya.
"Hai baby Ace jagoan daddy, masih tidur ya ternyata?"
"Tidak hubby, tadi baby Ace sudah terbangun dan menangis namun sekarang dia kembali tertidur."
"Kenapa menangis, ada masalah?" tanya Liam khawatir.
"Tadi susunya muncrat kemana - mana sampai ke wajahnya juga, dan langsung aku bersihkan menggunakan tissue."
"Oh begitu, sepertinya kamu harus memompanya lagi agar tidak sampai kemana - mana kan sayang."
"Iya hubby benar, tolong pegang sebentar baby Ace karena aku ingin memompa susunya nya terlebih dahulu."
"Iya Jane."
Liam kemudian menggendong baby Ace, sedangkan Jane memompa susu untuk baby Ace agar tidak meluber kemana - mana. Sesekali Liam juga memperhatikan Jane yang sedang melakukan hal tersebut.
"Seperti itu sakit tidak sih?" tanya Liam penasaran.
"Kadang iya dan kadang tidak, tergantung memposisikannya agar nyaman sih."
"Oh begitu."
"Baby Ace masih sangat doyan susunya?"
"Masih, sekarang baru ditinggal sebentar saja sudah minta susu lagi."
"Oh baguslah, biar cepat besar dan main sepak bola."
"Baby Ace mau kamu ajari bermain bola?"
"Iya sayang, biar tubuhnya selalu kuat dan sehat."
"Oh begitu."
"Jadwal imunisasinya lagi kapan?"
"Minggu depan sebelum kita berangkat ke Bali."
"Tidak bisa dimajukan waktunya menjadi beberapa hari sebelumnya?"
__ADS_1
"Nanti aku tanya dokter terlebih dahulu, dan kalau bisa aku akan langsung membawanya ke dokter."
"Oh begitu."
2 jam kemudian mereka berdua lalu makan malam bersama, sedangkan baby Ace ditidurkan di ranjang boxnya. Selesai makan malam mereka kembali ke kamar baby Ace untuk berbincang dengannya.
"Baby Ace kenapa tidak besar - besar ya?" tanya Liam penasaran.
"Nanti semakin lama dia juga akan besar dan bahkan akan lebih besar darimu."
"Sepertinya begitu."
"Mmm hubby aku ingin bertanya kepadamu boleh?"
Liam mengangguk.
"Boleh, kamu ingin bertanya apa?"
"Kenapa setiap pagi itunya baby Ace selalu berdiri ya? apakah itu normal atau harus diperiksakan ke dokter?"
"Itu normal sayang, karena setiap pagi semuanya juga seperti itu. Mungkin itu semua karena ingin pipis atau apa begitu."
"Oh begitu."
"Kamu kira kenapa?" tanya Liam sembari tertawa.
"Tidak akan terjadi apa - apa kok hahaha."
"Sudah malam, tidur yuk!" ajak Jane setelah meletakkan baby Ace ke ranjang boxnya.
"Baiklah sayang."
Mereka berdua lalu pergi ke kamar untul beristirahat namun sebelum tidur Jane menyempatkam waktunya untuk memijat suaminya terlebih dahulu agar tidurnya semakin nyenyak. Setelah itu selesai barulah mereka berdua tidur. Mereka sedang tidak melakukan hal itu lagi karena Jane sedang kedatangan tamu, jadi Liam hamya bisa menggigit jarinya saja karena tidak mendapatkan jatah untuk malam ini. Disisi lain saat ini Mr Robinson sedang berbincang di balcony kamarnya sembari duduk di sofa bersama istrinya. Mereka berdua saat ini sedang berada di Australia.
"Aku tidak menyangka bahwa semuanya akan seperti ini, karena jika mengingatnya dahulu aku hanya mempunyai satu rumah yang tidak terlalu besar di Australia saat daddy sedang merintis perusahaannya."
"Benar hon, semua proses itu pasti akan membuahkan hasil juga."
"Sekarang aku sudah mempunyai segalanya seperti rumah di beberapa negara, mobil - mobil mewah, uang yang banyak, dan lain sebagainya."
"Iya hon, kamu sudah memiliki semua hal itu dan yang terpenting jangan pernah lupa agenda kita setiap bulannya untuk memberikan bantuan kepada panti asuhan."
"Pasti hon. mana mungkin aku melupakannya."
"Iya."
__ADS_1
Mr Robinson memandangi halaman rumahnya yang sangat luas serta area lapangan golf pribadinya.
"Kamu ingin bagaimana sekarang jika sudah seperti ini?"
"Maksudnya?" tanya Mrs Robinson bingung.
"Kamu menginginkan apa lagi dariku heum?"
"Aku hanya menginginkan semua anak - anakku bisa hidup layak serta pembagian hartanya sangat adil jika suatu saat itu sudah turu. pemberitahuannya dari daddy."
"Kamu ini sangat aneh sekaligus membuatku sangat terheran, karena kamu selalu memikirkan tentang semua anak - anakmu sebelum memikirkan dirimu sendiri."
"Memang, alasan aku bertahan hidup hanya karena anak - anakku, aku ingin melihat mereka bahagia dengan kebahagiaannya masing masing."
"Bagaimana denganku?"
"Aku juga berharap jika kamu bisa hidup bahagia denganku saat ada maupun saat aku sudah tiada, jadi jika aku sudah tidak ada aku menitipkan anak - anak kepadamu."
Seketika Mr Robinson menatap istrinya dan memeluknya.
"Hon jangan berkata seperti itu, aku belum rela jika harus kehilanganmu. Nanti aku dengan siapa kalau kamu tidak ada?"
"Kan ada banyak orang, ada anak - anak kita juga."
"Tetap tidak mau. sudah jangan membahas hal seperti itu lagi karena aku bisa menangis saat membayangkanmu sudah tidak ada di sisiku serta menamani di setiap langkahku."
"Jya sudah."
"Kamu tidak ingin membeli tas atau hal lainnya?"
"Tidak hon, tasku sudah banyak."
"Yang lainnya?" tanya Mr Robinson memastikan.
"Tidak ada juga hon, besok lagi saja kalau aku sudah membutuhkannya."
"Hmm baiklah jika itu kemauanmu."
"Kemarin katanya Rosie sedang berkencan dengan seorang pria teman satu kampusnya ya?"
"Benar, dan aku meminta Liam untuk mengawasinya serta mengurusnya."
"Eh memangnya Liam tidak sibuk?"
"Tidak hon, dia selalu senggang dan lagipula ada grandma juga yang bisa dipercayai untuk menjaga Rosie."
__ADS_1
"Oh begitu."