Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #283


__ADS_3

Liam memeluk Jane dengan sangat erat hingga membuat Jane merasa terkejut sekaligus merasa keheranan kenapa Liam tiba - tiba seperti ini. Jane merasa seperti ada yang berbeda dengan pelukan Liam kali ini, seperti ada sesuatu yang ingin diungkapkan oleh Liam namun tidak bisa diungkapkan. Jane menduga jika sebenarnya Liam meminta agar segera dibuatkan seorang anak, atau mungkin ada hal lain yang sedang mengganggu fikirannya saat ini. Tetapi Jane lebih yakin jika sebenarnya Liam minta dibuatkan seorang anak namun dia tidak tega untuk berbicara langsung kepadanya, mungkin saja karena Liam takut jika dirinya akan marah jika Liam mengungkapkan keinginannya yang sebenarnya serta akan menganggap bahwa Liam terlalu memaksa.


Jane lalu mengusap punggung Liam serta menciumi pipinya, dan setelah itu Liam melepasakannya dan menatap wajah Jane dengan sendu. Liam lalu kembali bercerita kepada Jane mengenai isi buku yang waktu itu dibelinya di Paris saat sedang honeymoon bersamanya, dan Liam mengatakan bahwa isi bukunya sangatlah bagus. Jane yang masih duduk di mini bar lalu merapikan rambut Liam yang berantakan dengan menggunakan tangannya sembari mendengarkan Liam yang sedang bercerita. Jane merasa jika akhir - akhir ini Liam sudah mulai sering bercerita banyak hal kepadanya dan tidak menutup dirinya lagi seperti dulu.


Ting!! suara dari oven yang menandakan bahwa kue sudah matang.


Jane yang hendak turun untuk mengeluarkan cookies tersebut dari oven tiba - tiba saja dicegah oleh Liam.


"Biar aku saja."


"Baiklah, tetapi hati - hati ya karena panas."


"Iya aku tahu."


"Sarung tangannya ada di sebelahmu hubby," ucap Jane memberitahu Liam karena melihat Liam celingak - celinguk mencari sarung tangan.


Liam lalu menoleh ke samping.


"Oh iya."


"Awas hati - hati," peringat Jane.


"Iya babe tenang saja," ucap Liam sembari berusaha mengeluarkan loyang cookies dari dalam oven dengan hati - hati.


"Hmmm bau harumnya tercium sampai sini."


"Benar Jane, baunya sangat harum hingga membuatku menjadi tidak sabar untuk mencicipinya."


"Akan lebih lezat jika dicelupkan ke dalam cokelat panas."


"Itu ide yang bagus," ucap Liam menyetujuinya.


"Aku akan membuatkan cokelat panasnya untuk kita berdua."


"Okay babe."


Ting tong!! bel rumah Liam berbunyi.


"Siapa Jane?" tanya Liam sembari menata cookies itu ke dalam sebuah toples.


"Bisa minta tolong bukakan pintunya hubby?"


"Okay babe, sebentar."


Liam langsung berlari menuju ke pintu utama untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya di malam - malam begini saat dirinya sedang ingin deeptalk bersama istrinya. Saat pintunya dibuka, ternyata orang tersebut adalah Ricko yang datang dengan membawa sebuah komik pesanan Liam. Ricko lalu memberikannya kepada Liam dan Liam langsung mempersilahkan Ricko untuk masuk ke dalam rumahnya. Liam merasa bahwa Ricko sedang terlihat sangat gelisah sekali dan mungkin saja Ricko sedang ingin bercerita kepada dirinya hingga dia harus repot - repote membawakan komik pesanannya juga, padahal Liam berkata akan mengambilnya di rumah Ricko sembari bermain kesana.


"Siapa hubby?" tanya Jane saat menghampiri Liam.

__ADS_1


"Ricko. Tolong kamu buatkan secangkir cokelat hangat lagi ya untuk Ricko."


"Okay hubby sebentar." Jane lalu melenggang pergi kembali ke dapur.


"Eh tidak perlu repot - repot Li, aku hanya sebentar saja kok disini."


"Apanya yang repot? hanya air saja kok, lagipula tidak perlu terburu - buru untuk pulang."


"Apa aku tidak mengganggu kalian berdua yang hendak beristirahat?"


Liam langsung merangkul bahu Ricko.


"Haiss ini baru jam 8 malam, santai saja Ric."


"Oh baiklah jika tidak mengganggu kalian."


"Santai saja, seperti dengan siapa saja kamu ini pakai acara tidak enak saja."


"Hehe aku lebih tidak enak dengan Jane, takut dia keberatan jika aku disini."


"Jane, kamu tidak keberatan bukan jika Ricko ingin bermain disini malam ini?" tanya Liam menatap Jane yang berjalan ke arahnya sembari membawa sebuah nampan yang berisi 3 cangkir cokelat hangat serta cookies.


"Tidak hubby, ini silahkan dinikmati."


"Terima kasih Jane."


Setelah menyajikan hidangan tersebut Jane lalu duduk di samping Liam.


"Jadi, ada apa Ric datang kemari?" tanya Liam.


"Aku sebenarnya sedang bingung sekali dan butuh saran darimu Li."


"Mmm sepertinya ini masalah pria, apa sebaiknya aku pergi saja?" tanya Jane sembari menatap mereka berdua.


"Jangan Jane, kamu disini saja tidak apa - apa kok karena mungkin saja aku juga butuh saranmu hehe."


"Baiklah Ric, ceritakan semuanya kepada kami berdua tentang kebimbanganmu itu."


Ricko mengangguk.


"Jadi begini, aku tahu mengenai alasan yang sebenarnya mengapa ayah Gita belum ingin menerima lamaranku."


"Memangnya apa alasannya?" tanya Liam penasaran.


"Ternyata ayah Gita sudah mempunyai seorang calon untuk Gita, dan aku sekarang merasa bingung sekali harus berbuat apa agar ayah Gita mau menerima lamaranku."


Jane dan Liam langsung merasa terkejut dengan ucapan Ricko.

__ADS_1


"Darimana kamu mengetahuinya Ric?" tanya Jane.


"Gita yang menghubungiku melalui telepon, dia memintaku untuk cepat melamarnya sehingga bisa menggagalkan niat ayahnya."


Liam berfikir sejenak.


"Aku rasa besok kamu harus pergi ke rumahnya Gita untuk menemui ayahnya, serta membicarakan niat baikmu itu untuk melamar putrinya."


"Tetapi aku takut jika tiba - tiba diusir oleh ayahnya, Li."


"Tenang saja, aku besok akan menemanimu untuk pergi ke Klaten menemui ayah Gita."


"Benarkah Li?" tanya Ricko dengan mata yang berbinar - binar.


Liam mengangguk.


"Iya Ric, santai saja."


Ricko beralih menatap Jane.


"Jane, Liam besok aku pinjam dulu ya?"


"Iya Ric," ucap Jane dengan tersenyum.


"Yakin nih Jane?"


"Iya Ric asalkan dikembalikan lagi ya," jawab Jane bercanda.


Ricko tertawa


"Pasti akan aku kembalikan jika urusannya sudah selesai. Besok kita berangkat sore hari saja bagaimana? aku akan mengabari Gita terlebih dahulu."


"Ide yang bagus, besok akan pulang kerja lebih awal."


"Okay Li."


Liam lalu meminum cokelat hangatnya serta memakan cookies buatan istrinya itu, dan Ricko juga melakukan hal yang sama. Saat itu suasananya menjadi hening karena mereka bertiga memilih untuk menikmati hidangan tersebut sembari memikirkan caranya untuk menaklukan ayah Gita. Kata Ricko, ayah Gita sangatlah galak sekali dan hal itu yang membuat Ricko merasa takut serta mentalnya ciut sebelum bertemu dengannya untuk meminang putrinya. Ricko kembali bercerita panjang lebar kepada Liam dan Jane mengenai hubungannya Gita, yang awalnya Gita sangat menyukai Liam saat masih sekolah hingga sekarang Gita sudah mulai move on dari Liam. 1 jam kemudian Ricko berpamitan untuk pulang karena sudah mulai larut malam. Setelah itu Liam membantu Jane untuk membereskan ruang tengah serta dapurnya, dan setelah itu mereka berdua bersiap untuk tidur.


"Memangnya hubby tidak takut dengan ayah Gita sampai hubby terlihat tenang sekali?"


"Tidak, tenang saja aku akan mempunyai jurus untuk menaklukan ayah Gita yang galak itu."


"Benarkah?"


"Iya, aku ini sudah sangat ahli untuk menaklukan orang galak."


"Dih."

__ADS_1


__ADS_2