
Liam terus menggendong anak Ricko yang mungil itu sembari membayangkan jika dia sedang menggendong anaknya sendiri. Gita lalu berbisik kepada Jane dan mengatakan bahwa Liam sudah sangat cocok menjadi seorang ayah. Setelah itu Ricko menghampiri Gita dan membiarkan Liam menggendong anaknya sampai puas agar Liam bisa belajar menggendong anaknya sendiri nanti. Liam lalu menghampiri Jane untuk menunjukkan anak Ricko yang masih tertidur pulas di gendongannya, dan tidak rewel sekalipun. Tidak lama kemudian tiba - tiba saja Dio, Chicko, dan Josh masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melihat anak Ricko yang baru saja lahir.
Namun seketika mereka bertiga sepertinya terkejut dan sempat mengira jika justru malah Jane yang melahirkan karena pada saat itu Liam yang menggendong bayinya. Setelah sadar jika anak itu ternyata adalah anak Ricko, mereka bertiga lalu mendekatinya sebentar dan setelah itu mereka berbincang dengan Gita untuk memberinya ucapan selamat. Josh lalu menatap sorot mata adiknya yang tertuju kepada Liam yang sedang menggendong anak Ricko. Entah apa yang difikirkan oleh adiknya tersebut hingga menatap Liam seperti itu dan setelah itu Josh merangkulkan kedua tangannya ke leher Jane dari belakang.
"Kenapa melamun seperti itu heum?" tanya Josh berbisik di telinga Jane.
"Tidak ada apa - apa kok, lagian siapa juga yang melamun."
"Li, kamu sudah cocok menggendong bayi hahaha."
"Iya aku tahu," jawab Liam.
"Katanya besok ketika anaknya sudah lahir Liam menginginkan anaknya diadu dengan anakku," ucap Ricko.
"Eh buseett gila," ucap Dio tertawa pelan.
"Adu apa?" tanya Chicko.
"Adu jotos katanya," jawab Ricko.
"Besok anakku akan aku ajari taekwondo dan muay thai," ucap Liam sembari menina bobokan anak Ricko.
"Duh berat sekali beban mu nak, masih dalam kandungan saja sudah seperti itu bapakmu hahaha," ucap Dio di samping Jane.
Jane hanya tertawa mendengar pembicaraan mereka semua.
"Dasar ada - ada saja tuh bapak - bapak muda," gerutu Gita.
"Yeee bukankah dari dulu mereka berdua seperti itu?" tanya Chicko.
Gita berdecak.
"Bukan hanya mereka berdua saja sih namun kamu dan Dio juga sama saja, sepertinya hanya Josh yang masih normal serta masih bisa diselamatkan."
"Yeee siapa bilang Josh masih normal? dia sebenarnya juga sudah tertular virus bertingkah aneh dan absurd seperti kami berempat namun bedanya dia hanya tidak terlihat saja," jawabnya membalas ucapan Gita.
Gita langsung mengela nafasnya kasar.
"Hah sepertinya secara tidak terduga virus itu lebih cepat menyebar. Awas saja jika kalian semua menulari anakku serta calon anaknya Jane dengan virus bertingkah absurd yang kalian derita itu!!"
"Yeee Gita tidak asyik."
__ADS_1
"Terserah aku dong Chic."
Dio menggelengkan kepalanya pelan.
"Sebegitu bencinya kah kamu dengan cricle kami sampai - sampai kamu tega berkata seperti itu dengan kita semua?"
"Halah tidak usah drama - dramaan deh Dio. Aku bukannya benci namun merasa jijik saja."
"Katanya merasa jijik, tapi mengapa kamu malah memilih menikah dengan salah satu anggota circle kami dan sampai mempunyai anak segala?" tanya Dio menyindir Gita.
Gita langsung menggaruk dahinya.
"Entahlah aku juga tidak tahu."
Chicko langsung berbisik kepada Dio sembari merangkul bahunya.
"Jangan - jangan Gita kena peletnya Ricko?"
"Iya juga sih, apa jangan - jangan Jane juga terkena peletnya Liam?"
"Masuk akal juga sih, lagipula dahulu mereka berdua pernah naik gunung bersama bukan?"
"Iya benar, dan mereka berdua juga keluar tenda malam - malam."
"Iya benar, apakah kita juga harus mulai memakai pelet juga agar mendapat istri?"
"Tentu saja, besok kita coba."
"Okay."
Liam kemudian memberikan bayi yang dia gendong kepada Gita agar Gita memberinya susu, karena terlihat jika bayi tersebut sudah mulai haus serta lapar. Mereka berlima lalu pergi keluar untuk membiarkan Gita beristirahat sembari memberikan ASI kepada bayinya. Tiba - tiba saja datang orang tua Gita yang tengah membawa beberapa makanan termasuk gorengan serta se galon (jumbo) teh hangat untuk mereka semua yang datang menjenguk putrinya. Beberapa teman Liam juga sempat berbincang dengan orang tua Gita sembari meminum segelas teh hangat, dan tidak lama kemudian orang tua Ricko juga datang menyusul mereka serta menjenguk menantunya tersebut.
Orang tua Ricko beserta Ricko telah meminta ruangan VVIP selama sementara agar teman - teman ataupun keluarga mereka juga bisa menjenguknya dengan sedikit lebih leluasa, dan juga memberikan ruang pribadi untuk Gita setelah melahirkan. Setelah itu mereka bertiga berpamitan untuk pulang termasuk Liam dengan Jane. Saat di tengah - tengah perjalanan tiba - tiba saja Liam mengajak Jane untuk pergi berjalan - jalan di sekitaran alun - alun kota, dan saat mendengar hal tersebut Jane langsung menyetujui ajakan Liam itu. Mereka berdua dengan ditemani oleh Pak Kang berjalan santai di sekitaran alun - alun kota sembari menikmati suasana malam, dan tidak lupa mereka juga membeli beberapa jajanan yang dijual di sekitaran tempat itu.
"Ini sangat lezat hubby," ucap Jane sembari mengunyah cumi bakar.
"Nanti kalau ingin tambah lagi bilang saja kepadaku, nanti aku akan membelikannya untukmu."
"Okay hubby."
"Aku fikir menggendong seorang bayi sangat menakutkan sekali namun kenyataannya tidak semenakutkan yang aku bayangkan."
__ADS_1
"Iya hubby memang tidak menakutkan sama sekali kok."
Liam menghela nafasnya.
"Aku merasa penasaran bagaimana rasanya menggendong anak sendiri, apakah rasanya sangat bahagia seperti tadi saat aku belajar menggendong Ibra?"
"Mungkin saja begitu hubby, dan bisa saja rasanya sangat bahagia melebihi tadi."
"Hmm sepertinya begitu."
Liam lalu mengusap perut Jane.
"Jagoan daddy baik - baik ya di dalam perut eomma kamu supaya nanti kita bisa bermain bersama."
"Iya daddy," jawab Jane tersenyum.
"Sebenarnya jenis kelamin anak kita itu apa?"
"Kan aku sudah bilang jika itu masih rahasia, memangnya kenapa sih hubby?"
"Aku merasa sangat penasaran sekali dan harus menyiapkan segala sesuatunya."
"Sabar sayang, besok kamu juga akan mengeyahuinya disaat yang tepat."
Liam berdecak.
"Ck iya deh iya, sebenarnya kamu ini ingin membuat acara apasih sampai harus memyembunyikan jenis kelamin anak kita?"
"Acara apa? aku tidak berniat untuk membuat sebuah acara seperti dugaanmu itu."
"Oh."
Pak Kang hanya tersenyum menyimak perdebatan kecil antara Liam dengan Jane, dan setelah perbincangan serta perdebatan kecil itu Liam mengajak Jane untuk pulang ke rumah karena ingin segera beristirahat. Sesampainya di rumah Liam langsung mengganti pakaiannya dan melompat ke atas ranjangnya, sedangkan Jane juga melakukan hal yang sama yaitu berganti pakaian dan tidak lupa Jane mengambil sebotol air minum di dapur.
"Kamu selalu naik turun mengambil air minum, apa besok kita beli dispenser saja untuk di kamar?" tanya Liam.
"Terserah hubby saja, tapi belinya yang kecil saja dan jangan yang besar."
"Kenapa?"
"Agar tidak memakan tempat."
__ADS_1
"Okay."