
Jane lalu pergi ke dapur mengambilkan hidangan untuk kedua orang tua Liam. Mrs Robinson yang merasa tidak tega kepada menantunya tersebut lalu mengikutinya ke dapur dan membantu Jane membawakan sebuah nampan yang berisi camilan. Awalnya Jane menolak karena ingin membawanya sendiri namun Mrs Robinson tetap memaksa, dan akhirnya Mrs Robinson yang membawa nampan tersebut. Jane kembali duduk disamping Mrs Robinson dan berulang kali Mrs Robinson bertanya mengenai putranya tersebut, apakah masih nakal atau tidak. Jane lalu menjawab bahwa Liam sekarang sudah mulai berubah walaupun terkadang sifat nakalnya masih ada. Mendengar hal tersebut Mr dan juga Mrs Robinson seketika langsung tertawa kecil karena takut mengganggu Liam yang tengah pulas tertidur di samping mereka.
Sejak dulu sampai sekarang sifat jahil serta nakal Liam tidak pernah hilang, walaupun dia sudah mempunyai istri dan juga akan menjadi seorang ayah. Lalu Mrs Robinson bercerita kepada Jane bahwa dulu Liam selalu menjahili Rosie hingga membuatnya merasa kesal dan berakhir dengan tangisan dari Rosie yang sudah lelah dijahili oleh Liam. Namun setelah itu mereka berdua kembali bermain bersama, dan setiap harinya selalu saja seperti itu. Bahkan mungkin hingga saat ini mereka berdua masih saja seperti itu namun sudah tidak terlalu sering seperti sebelumnya. Walaupun begitu Liam merasa sangat sayang sekali kepada adiknya tersebut dan begitupun dengan sebaliknya. Tiba - tiba saja Liam terbangun saat mereka bertiga sedang asyik berbincang mengenai Liam saat masih kecil.
"Hai mom, dad."
"Hai juga Liam, bagaimana perasaanmu?" tanya Mr Robinson.
"Lumayan terkejut hahaha."
Mr Robinson lalu menepuk - nepuk punggung Liam.
"Mulai sekarang jaga Jane dengan baik - baik okay?"
"Okay dad."
"Oh ya jangan dijahili juga," ucap Mrs Robinson mengingatkan.
"Iya mom, aku janji akan menjaga Jane serta mengurusnya dengan sangat baik."
"Nah itu baru putraku," ucap Mr Robinson merasa bangga.
"Rosie kemana dad?" tanya Liam.
"Adikmu tidak ikut kemari karena sedang ujian, mungkin dia akan menyusul setelah selesai ujian."
"Oh begitu rupanya."
"Masih mual - mual tidak Jane?" tanya Mrs Robinson.
"Masih mom, tadi sebelum Liam tidur aku sempat merasa mual."
"Wajar saja namanya juga sedang mengandung, jangan lupa susunya diminum, dijaga pola makannya, perbanyak makan sayur dan buah."
"Iya mom, Liam sampai membelikan aku banyak sekali buah - buahan dan juga memasakkan aku makanan yang lezat serta bergizi."
"Li, selama disini nanti kamu yang masak serta membantu Jane membersihkan rumah juga."
"Liam sudah melakukan itu semua mom, bahkan aku saja sampai dilarang untuk melakukan pekerjaan rumah karena dia terlalu overprotective kepadaku."
Mrs Robinson tertawa.
"Tidak apa - apa Jane, supaya kamu tidak merasa kelelahan hingga menyebabkan kehamilanmu berisiko."
__ADS_1
"Tetapi sebenarnya aku merasa tidak enak dengan Liam."
"Mmm atau kamu ingin mommy carikan asisten rumah tangga?"
Liam lalu menyela pembicaraan mereka berdua.
"Tidak perlu mom, aku bisa melakukan semuanya sendiri."
"Benarkah? nanti kalau kamu keberatan bilang mommy saja okay?"
"Iya mom, lagipula dari dulu Liam juga sudah terbiasa melakukan semua hal tersebut sendirian."
"Ya sudah kalau seperti itu keinginanmu."
"Iya mom."
"Sudah tidak apa - apa jika itu keinginan Liam, hon namun jika membutuhkan sesuatu jangan sungkan - sungkan untuk menghubungi kita berdua."
"Okay dad."
Mr dan Mrs Robinson lalu memakan kue serta camilan yang telah disediakan oleh menantunya tersebut sembari menatap sekeliling rumah pribadi Jane yang tampak cozy. Tatapan Mrs Robinson beralih ke sebuah lukisan yang dipajang di samping tangga rumah Jane, dan sepertinya lukisan tersebut tampak tidak asing bagi Mrs Robinson. Saat bertanya mengenai lukisan tersebut Jane lalu berkata bahwa lukisan itu dibuat oleh Liam sebagai seouvenir saat dahulu dirinya hendak pulang ke Korea Selatan, lebih tepatnya sebagai ucapan dukungan Liam untuk dirinya yang hendak bermain sebuah film atau drama korea.
"Sebenarnya kemarin appa dan eomma menawari kami berdua agar tinggal di rumahnya namun Jane menolak."
"Tidak tau, tanya saja dengan menantumu itu."
"Karena aku ingin tinggal berdua saja dengan Liam dan rasanya akan terlihat sangat ribet jika tinggal bersama walaupun hanya untuk sementara, lagipula dahulu Liam mengajakku untuk tinggal berdua karena alasan seperti itu eh entah mengapa tiba - tiba prinsipnya itu seperti hilang ditelan bumi."
Liam menggaruk rambutnya.
"Bukan hilang sih, lebih tepatnya aku merasa tidak enak saja dengan appa dan eomma."
Mr Robinson menertawakan Liam.
"Hahaha kamu ini sedari dulu selalu saja merasa tidak enakan sampai - sampai selalu dimanfaatkan oleh orang lain."
"Ihh hubby kenapa harus merasa seperti itu? tidak apa - apa, kenapa kamu selalu memikirkan perasaan orang lain yang terkadang mereka saja tidak memikirkan perasaanmu."
"Nah benar ucapan menantu daddy. Mungkin saja Jane bisa membentengimu dari sikap tidak enakan yang berada di dalam diri kamu sehingga berujung kamu dimanfaatkan oleh orang lain."
"Ya terserah."
"Liam itu seperti mommy nya, selalu saja merasa tidak enakan dengan orang lain."
__ADS_1
"Bukan merasa tidak enakan dad namun lebih tepatnya terlalu baik hahaha," ucap Jane kepada Mr Robinson sembari bertoss alias high five.
"Sejak kapan kalian berdua ini menjadi terlihat sangat akrab?" tanya Liam merasa keheranan.
"Kasih tau tidak ya Jane?"
"Hahaha terserah daddy saja."
"Tidak usah ya?"
"Okay dad hahaha."
"Hmmpp kalian ini menyebalkan sekali, benar kan mom?"
"Tidak apa - apa sayang, bukankah justru itu baik?"
"Hati - hati dad, Liam orangnya cemburuan."
"Hahaha benarkah? dasar Liam, masa dengan daddy nya sendiri seperti itu?"
"Hei aku bukan orang yang cemburuan, dasar suka mengada - ngada."
Mereka bertiga lalu menertawakan Liam. Saat sore hari mereka berdua lalu berpamitan pulang dan berjanji akan kembali besok, terutama Mrs Robinson yang ingin sekali menemani Jane dirumah jika saja Liam sedang pergi. Liam yang sehabis mandi langsung sibuk di dapur memasak hidangan makan malam untuk mereka, sembari menunggu Jane selesai mandi Liam memutuskan untuk mencuci peralatan makan yang kotor dan juga membereskan dapurnya. Jane lalu memeluk Liam dari belakang ketika dia sudah berada di dapur.
"Hai hubby, kamu terlihat sangat sexy saat sedang seperti ini."
Liam tertawa mendengar ucapan Jane tersebut.
"Kamu ini bicara apa sayang?"
"Aku sedang berpura - pura menjadi dirimu. Dahulu saat aku sedang seperti ini bukankah kamu juga melakukan hal yang sama? jadi aku ingin membalasnya."
Liam lalu mencuci tangannya dan membalikkan tubuhnya menghadap Jane.
"Kamu ini ada - ada saja. Ayo makan, aku sudah memasak makanan yang sangat lezat khusus untuk istriku yang paling cantik," ucap Liam mencium Jane.
Jane lalu berjalan ke arah meja makan.
"Wah kelihatannya sangat lezat sekali."
"Ini memang sangat lezat, ayo makan yang banyak!"
"Iya."
__ADS_1