
Liam kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi ke bandara dengan diantar oleh supirnya. Selama di perjalanan, Liam hanya terdiam sembari memandangi suasana jalanan dari dalam mobilnya. Liam terus memikirkan Jane karena sepertinya dia sudah mulai merasa sangat sulit ketika harus jauh darinya. Liam sangat merindukan Jane walaupun dia belum jadi berangkat ke New York. 20 menit kemudian, Liam sudah berada di gerbang bandara dan menuju pintu utama. Sesampainya di sana, Liam langsung turun dan supirnya menurunkan koper beserta barang bawaan Liam lainnya yang berada di bagasi mobilnya. Setelah itu dia membawa barang bawaannya menuju ke ruang tunggu karena waktunya masih sisa sekitar 15 menit. Lian lalu memainkan handphone miliknya untuk mengirim pesan kepada Jane jika dia sudah berada di bandara sembari mengirim foto selfinya yang terlihat sedikit kaku karena dia jarang foto. Setelah itu Liam meletakkan handphone miliknya dan membaca buku novel yang dibawa olehnya.
Sedangkan di sisi lain Jane yang selesai meeting bersama klien, dia berjalan untuk kembali ke ruangan kerjanya. Dia kemudian sibuk mengerjakan pekerjaannya di kantor, tetapi tiba - tiba dia menjadi tidak fokus dan merasa gelisah karena terus memikirkan Liam. Dia berfikir mungkin akan sangat sepi jika Liam tidak ada karena Liam terkadang bertingkah konyol untuk menghiburnya. Tiba - tiba handphone Jane muncul notifikasi pesan, dan Jane langsung membaca pesan tersebut. Betapa bahagianya dia karena mendapat pesan dari Liam sekaligus foto selfie perdana Liam. Di pesan tersebut berkata "hei Kitten, aku sedang berada di bandara untuk ke New York dan ini foto selfie pertama yang ku ambil jika kamu merindukanku. Tetapi maaf jika ini terlalu kaku karena aku tidak pernah mengambil foto selfie wajahku dan aku akan berusaha untuk mengambilnya lebih baik lagi saat aku sudah berada di New York, i miss you Kitten."
Jane tersenyum membacanya, lalu Jane bergegas keluar ruangannya dan meminta pak Kang untuk mengantarkannya ke bandara. Jane bergegas pergi ke bandara sebelum Liam lepas landas menuju New York. Sesampainya di bandara, Jane dan pak Kang mencari keberadaan Liam tetapi hasilnya nihil. Jane merasa sedih karena dia terlambat untuk bertemu dengan Liam sebelum dia pergi. Saat Jane sudah menyerah dan ingin pulang, tiba - tiba pak Kang menepuk bahunya. Pak Kang lalu menujuk ke arah seorang pria yang sedang duduk sembari membaca buku di ruang tunggu. Jane lalu melihat orang yang di tunjuk oleh pak Kang dan setelah mengetahui jika itu Liam, Jane langsung berlari ke arahnya dan menepuk bahunya. Liam lalu menoleh dan betapa terkejutnya dia karena ternyata Jane datang untuk mengantarnya.
"Kenapa kamu berada di sini, dan bukankah seharusnya kamu berada di kantor sekarang?" tanyanya sembari meletakkan buku yang sedang dia baca.
"Aku tiba - tiba tidak fokus untuk bekerja karena selalu memikirkanmu."
Liam tersenyum "kamu sudah merindukanku?"
"Sepertinya. Tetapi mungkin lebih tepatnya, aku merindukan pelukanmu yang hangat itu."
"Baiklah kemari, aku akan memberikan pelukan terakhir sebelum aku pergi ke New York," ucap Liam sembari memeluk Jane.
Jane mulai sedikit merasa damai dengan pelukan Liam hingga membuatnya meneteskan air mata "jangan lama - lama berada di New York, dan jangan melupakanku selama di sana."
"Aku tidak akan lama kok, dan aku juga tidak akan melupakanmu selama berada di New York."
"Awas saja jika kamu sampai melupakanku, nanti aku masak kamu menjadi sup daging."
Liam tertawa "tidak akan Kitten, aku berjanji."
Jane lalu menatap Liam "really?"
"Yes i promise," ucapnya sembari tersenyum.
Jane lalu memeluk Liam kembali "biarkanlah seperti ini sebelum kamu pergi."
"Baiklah."
__ADS_1
Jane lalu melihat ke arah gelang yang sedang Liam gunakan "kamu masih memakainya?"
Liam ikut melihat gelangnya "masih, bahkan aku selalu memakainya dimanapun."
"Baguslah, aku juga selalu memakainya."
"Memangnya kenapa?"
"Apakah bulan akan selalu muncul di langit malam ketika aku menatapnya walaupun kamu jauh dariku?"
Liam mengusap lembut rambut Jane "tentu saja, bulan akan selalu tau dimana seharusnya dia berada dan bersinar walaupun aku jauh darimu, karena kita masih menatap langit yang sama dimanapun kita berada."
"Aku tidak tau apa yang harus aku katakan karena aku telah kehabisan kata - kata."
"Kalau begitu diam lebih baik daripada kita berbicara namun malah salah mengatakan sesuatu."
Tiba - tiba ada panggilan untuk pesawat Liam karena akan segera berangkat. Liam lalu memasukkan bukunya tadi ke dalam tas dan berdiri untuk menyempatkan memeluk Jane kembali "aku akan pergi."
Mata Jane meneteskan air mata yang membasahi pipi chubby nya itu "kabari aku jika kamu sudah sampai."
"Okay, safe flight babe," ucapnya lalu mencium pipi Liam.
"I will definitely miss you, and see you." Liam lalu mencium pipi Jane yang putih dan chubby seperti bakpao.
"See you."
Liam lalu menggendong tas ransel miliknya dan menarik kopernya untuk pergi menuju pintu masuk pesawat. Jane hanya berdiam di sana sembari manatap punggung Liam yang semakin menjauh dari pandangannya. Pak Kang lalu menghampiri Jane dan mengajaknya untuk pulang. Jane lalu berjalan mengikuti pak Kang menuju mobilnya. Selama di perjalanan, Jane hanya terdiam sembari menatap ke luar jendela. Pak Kang lalu bertanya kepada Jane dia akan pulang ke rumah atau kembali ke kantor, dan Jane lebih memilih untuk kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaannya sekalian menyibukkan diri untuk menghibur dirinya yang sedang merasa sedih. Sesampainya di kantor, Jane lalu berjalan menuju ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya kembali hingga jam makan siang. Saat sudah jam makan siang, Jane lalu mendapat telepon dari Jolee jika dia ingin bertemu dengan Jane di restaurant tempat dia bekerja. Jane lalu pergi mengambil tasnya dan berjalan keluar kantor begitu dia mendapat lokasi restaurant tersebut. Pak Kang lalu membukakan pintu untuk Jane begitu dia mengetahui jika Jane hendak pergi. Jane lalu memberitahu lokasi yang akan dia tuju kepada pak Kang. Sesampainya di sana, Jane lalu menghampiri meja Jolee.
"Hai Jolee." Sapa Jane.
"Hai juga Jane. Eh mau makan apa biar aku pesankan?"
"Terserah kamu saja."
__ADS_1
"Baiklah." Jolee lalu memanggil waiters dan memesan makanan beserta minumannya.
Mereka berdua lalu berbincang sembari menunggu pesanannya siap disajikan. Jane lalu bertanya kepada Jolee "kamu bekerja di sini?"
"Iya. Tadi aku sengaja mengajakmu untuk bertemu karena aku sudah merindukanmu Jane, dan aku kira kamu sudah kembali ke Korea."
"Aku belum kembali ke Korea karena aku sekarang mengurus kantor cabang di sini."
"Wah hebat sekali."
Jenia tersenyum "biasa saja kok."
Tidak lama kemudian, waiters datang membawa pesanan mereka lalu menyajikannya di atas meja. Setelah itu waiters permisi untuk pergi. Mereka berdua lalu menyantap hidangan tersebut sembari berbincang bersama. Jolee lalu bertanya kepada Jane karena wajahnya terlihat sedih " kamu kenapa, apa ada masalah? "
"Tidak, aku baik - baik saja."
"Lalu kenapa wajahmu terlihat sedih begitu?"
"Tidak ada apa - apa kok."
Jolee lalu mendesak Jane "ayolah katakan kepadaku apa yang membuatmu merasa sedih."
"Sebenarnya aku sedih karena Liam pergi ke New York hari ini."
"Untuk apa?"
"Untuk bertemu seseorang."
Jolee menganggukan kepalanya "oh begitu. Dia pasti akan cepat kembali, tenang saja."
"Iya."
Mereka terus menyantap makanan mereka sembari berbincang. Setelah selesai makan dan jam kantor Jane sudah hampir selesai, Jane lalu berpamitan kepada Jolee untuk kembali ke kantornya. Dia juga tidak lupa berterima kasih kepada Jolee karena sudah mentraktirnya dan menghiburnya.
__ADS_1
Notes: jangan lupa like di setiap episodenya ya, terima kasih