Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #291


__ADS_3

Mama Ricko banyak bercerita mengenai Liam saat masih menjadi anak SMP, waktu dimana putranya itu mengenal Liam untuk yang pertama kalinya. Saat itu mereka berdua merupakan murid baru yang pertama kali melangkah ke jenjang sekolah menengah pertama alias SMP. Ricko merupakan anak yang aktif serta mudah bergaul dengan semua orang, sedangkan Liam adalah anak yang populer namun dia pemalu. Ricko pernah bercerita kepada mamanya bahwa dia menjadi sangat dekat dengan Liam karena dia berada di kelompok ospek yang sama dengan Liam sehingga mereka sering bertemu serta berbincang untuk membahas tugas kelompok yang diberikan oleh kakak - kakak OSIS. Mama Ricko juga bercerita bahwa Liam menjadi sangat populer karena ketampanannya apalagi saat dia terpilih menjadi wakil ketua OSIS sewaktu SMP, walaupun begitu Liam selalu rendah hati dan tidak pernah merasa bahwa dirinya memiliki wajah yang tampan.


Saat mamanya tengah bercerita kepada Jane, tiba - tiba saja Ricko muncul dan melanjutkan cerita mamanya tersebut. Ricko bercerita bahwa Liam sebenarnya anak yang rajin namun dia tidak terlihat seperti anak rajin pada umumnya karena penampilannya yang tidak mencerminkan seperti anak rajin, tetapi penampilannya justru lebih cenderung seperti preman tukang palak di sekolah. Mendengar hal itu Jane langsung tertawa saat dia berusaha untuk membayangkan penampilan Liam pada saat itu. Ricko bisa mengatakan bahwa Liam adalah anak yang rajin karena dia selalu membawa peralatan sekolah yang selalu lengkap mulai dari buku paket, buku LKS, buku tulis, serta alat tulis yang sangat lengkap dan semuanya disusun dengan rapi di dalam tas miliknya seperti tas milik anak perempuan.


Tiba - tiba saja Dio dan Chicko menyelonong masuk ke dalam rumah Ricko seperti rumahnya sendiri.


"Eh sebenarnya kamu ini ingin melamar Gita atau melamar Jane, Ric?" tanya Dio bercanda.


"Ya melamar Gita lah mana mungkin aku melamar Jane, bisa - bisa aku langsung dijadikan bubur oleh Liam."


"Oh aku kira begitu, lalu Liam dimana?"


"Di kamarku," jawab Ricko.


"Oh."


"Om katanya masak banyak, mana nih Chicko belum sarapan hehe."


Papa Ricko tertawa.


"Ambil saja sendiri di ruang makan seperti biasanya."


"Okay om terima kasih," ucapnya langsung pergi ke ruang makan, sedangkan Dio pergi ke kamar Ricko untuk melihat Liam.


"Ya begitulah teman - teman Ricko dan Liam, rumah ini sudah mereka anggap seperti rumahnya sendiri."


"Benar Jane, mereka berdua juga sudah tante anggap seperti anak tante sendiri sama seperti tante menganggap Liam sebagai anak tante. Jika semuanya berkumpul ckckck rumah ini yang tadinya sepi menjadi sangat ramai sekali."


"Bukan hanya di rumah ini saja mah, tetapi di rumahnya mereka bertiga juga sama hahaha jadi rasanya seperti punya banyak rumah untuk singgah sementara."


"Karena terlalu sering mereka bertiga main kemari sejak dulu jadi rasanya seperti sudah mempunyai 4 orang putra karena dapat melihat pertumbuhan mereka secara langsung," ucap papa Ricko.


Jane mengangguk pelan.

__ADS_1


"Lalu mereka berempat pernah bertengkar tidak om?"


"Kalau bertengkar pasti sudah sering namun setelah itu mereka kembali baikan, justru kalau di dalam sebuah pertemanan tidak ada pertengkaran kecil ataupun perbedaan pendapat pasti terlihat sangat tidak seru. Pertengkaran kecil terkadang menjadi sebuah bumbu di dalam sebuah hubungan, entah itu hubungan keluarga, hubungan pertemanan, maupun hubungan rumah tangga."


"Saya setuju dengan pendapat anda," ucap Jane.


"Jadi kalau sedang bertengkar lalu kembali berbaikan pasti hubungannya akan semakin kuat dan terus begitu, tetapi jangan terlalu sering bertengkar."


"Jane hobinya selalu saja memulai huru hara om," ucap Liam yang keluar dari kamar Ricko.


"Ihh bukankah kebalik?" tanya Jane.


"Tidak mungkin aku seperti itu wlee."


"Dasar menyebalkan."


Ricko tertawa.


"Nah kan mulai."


"Sebentar lagi menunggu yang lain datang serta menunggu para cecunguk itu selesai sarapan."


"Oh okay."


"Rambutmu di sisir sana! agar lebih rapi."


"Sini hubby, biar aku sisir rambutmu."


Liam lalu duduk mendekati Jane dan membiarkan Jane menyisir rambutnya serta menyemprotkannya parfume agar tubuhnya menjadi harum. Tidak lama kemudian keluarga dekat Ricko telah sampai di rumah Ricko dan setelah itu mereka semua menyempatkan untuk berbincang - bincang terlebih dahulu sembari beristirahat sebentar. Suasana di rumah tersebut menjadi sangat ramai sekali. Ketika Dio dan Chicko telah menyelesaikan sarapannya, mereka semua langsung berangkat menuju ke rumah Gita yang berada di Klaten. Dio dan Chicko masuk ke dalam mobil keluarga Ricko karena tadi mereka hanya menaiki motor, lalu Liam dan Jane naik mobil pribadi dengan sopirnya Pak Kang, sedangkan keluarga Ricko yang lain menaiki mobil mini bus atau travel.


Perjalanan memakan waktu sekitar 1 setengah jam dan saat sampai di gang rumah Gita, mereka semua lalu turun untuk berjalan kaki menuju ke rumah Gita karena tidak bisa dimasuki oleh mini bus ataupun mobil lain. Keluarga serta teman - teman dekat Ricko termasuk Liam membawa seserahan atau oleh - oleh untuk keluarga Gita. Jane berjalan di samping Liam dengan ditemani oleh Pak Kang yang berjalan di belakangnya. Begitu sampai di rumah Gita, ternyata rumahnya sudah ramai dan orang tua Gita langsung menyambut rombongan Ricko dengan sangat ramah. Papa Ricko lalu mulai berbicara dengan ayah Gita untuk melamar Gita agar menjadi pendamping hidup putranya, yaitu Ricko.


Ayah Gita lalu meminta pendapat Gita dan saat Gita mengangguk sembari berkata iya, mereka semua langsung mengucap syukur. Setelah itu Ricko memasangkan cincin di jari manis Gita dan begitupun dengan sebaliknya. Mereka semua lalu menikmati hidangan yang telah disediakan sembari berbincang - bincang, terutama orang tua kedua belah pihak.

__ADS_1


"Cieee yang akan menyusul kita berdua," ucap Liam menggoda Ricko dan Gita.


Ricko tertawa, sedangkan Gita hanya tersenyum bahagia.


"Selamat ya Git akhirnya kamu akan menikah juga dengan Ricko," ucap Jane tersenyum.


"Terima kasih Jane. Eh ayo dimakan hidangannya, maaf hanya seadanya saja."


"Kamu sudah menyediakan banyak makan enak kok dibilang seadanya," ucap Dio dengan mulutnya yang penuh makanan.


Ricko berdecak sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Maaf ya Git, temanku yang satu itu memang sangat memalukan sekali."


"Tidak apa - apa yang, Dio dari dulu juga seperti itu hahaha."


"Dulu waktu datang ke acara pertunangan serta pernikahan Liam juga seperti itu tuh kelakuannya, dasar memalukan."


"Hei ssttt, tidak apa - apa karena belum tentu aku selalu makan enak seperti saat di pernikahan Liam."


"Oh jadi kamu yang membuat hidangan pernikahanku kurang hingga ada yang tidak kebagian?"


Dio lalu menepuk - nepuk punggung Chicko.


"Ini nih dia juga pelakunya."


"Ckckck kalian berdua ini memang keterlaluan."


"Maka dari itu hidangannya dilebihkan dan jangan di pas agar tidak kurang," ucap Chicko protes.


Gita dan Jane hanya tertawa.


"Besok jangan di undang saja."

__ADS_1


"Iya benar."


__ADS_2