
Liam kemudian bersimpuh di depan Jane sembari menangis untuk meminta maaf kepadanya jika selama ini dia tidak bisa menjadi suami yang baik untuknya. Liam juga menjelaskan beberapa hal bahwasannya jika dia bukan pria yang sempurna seperti pria lainnya yang bisa memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Liam juga menyalahkan dirinya sendiri karena semua hal itu terjadi karena dirinya yang tidak bisa berbuat baik untuk rumah tangganya. Mendengar hal itu Jane lalu ikut bersimpuh untuk meminta maaf kepadanya dan juga menjelaskan semua bahwa ini tidak seperti yang difikirkan oleh Liam.
Jane memeluk Liam dengan sangat erat serta menjelaskan kepadanya bahwa pria itu hanyalah sebagai teman dekatnya saja, dan hal itu membuat Liam semakin naik pitam. Liam berkata bahwa dahulu mereka berdua juga teman dekat hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Liam lalu melampiskan emosinya dengan menonjok tembok yang berada di depannya hingga membuat tangannya berdarah, sedangkan Jane langsung menutup matanya serta telinganya karena dia takut melihat Liam yang sedang marah seperti itu. Jane langsung menangis sejadi - jadinya melihat suaminya yang marahnya sampai seperti itu untuk pertama kalinya.
Liam kemudian menghela nafasnya kasar dan setelah itu dia pergi ke ruangan pribadinya untuk bermain game bersama teman - temannya secara online. Liam sejujurnya merasa tidak tega dengan Jane namun Liam sudah terlanjur emosi dengannya sehingga dia bersikap seperti itu. Liam berusaha menenangkan dirinya sendiri, dan beberapa Jam kemudian saat jam 2 pagi Liam kembali ke kamarnya. Sesampainya disana dia melihat bahwa Jane sedang tertidur di lantai, dan Liam langsung menggendongnya untuk menidurkannya di atas ranjang.
Liam kemudian mengusap air mata yang membasahi pipi chubby Jane sembari meruntuki dirinya sendiri karena telah berbuat seperti itu kepada istrinya. Keesokan harinya saat Jane terbangun dari tidurnya dia merasa heran mengapa dia bisa di atas ranjang, sedangkan semalam dia tertidur di lantai. Dengan masih mengenakan piyamanya Jane berlari ke bawah untuk mencari Liam.
"Bi, Liam kemana?" tanyanya kepada bi Iyem yang sedang menyapu lantai.
"Tuan tadi sudah berangkat ke kantor pagi - pagi sekali nyonya, katanya ada rapat di luar kota."
"Kenapa Liam tidak bilang kepadaku sebelumnya ya?"
"Mungkin tuan lupa mengabari nyonya jika dia ada rapat di luar kota, tadi tuan terlihat buru - buru sekali membawa kopernya karena katanya biar tidak macet di jalan."
Jane menghela nafasnya kasar.
"Kenapa sih Li, kamu selalu saja seperti itu untuk menghindariku," gumam Jane.
"Nyonya ingin saya buatkan minuman dan sarapan sekarang?" tanya bibi menatap Jane.
"Nanti saja bi, terima kasih."
"Baik nyonya."
Jane lalu pergi ke kamar baby Ace untuk melihatnya apakah dia sudah bangun atau belum. Saat sesampainya disana ternyata baby Ace masih tertidur nyenyak.
"Maafkan eomma dan juga daddy kamu yang selalu bertengkar ya, kami berdua tahu bahwa sebenarnya kami berdua tidak cocok namun kami berdua memutuskan untuk menikah karena ingin menuruti keinginan orang tua kami berdua. Namun kami berdua berjanji kepadamu jika kami akan menjadi orang tua yang baik untukmu sayangku."
Disisi lain Liam saat ini sedang berada di dalam mobil bersama dengan Yunna menuju ke sebuah restaurant yang berada di kota sebrang. Yunna saat ini sedang memegang stir kemudi, sedangkan Liam duduk di kursi penumpang.
"Sialan kenapa sih harus diubah tempatnya serta jamnya?"
"Dia sendiri yang memintanya karena dia ternyata memiliki acara lain," jawab Yunna menjelaskan kepada Liam.
"Hoaamm aku masih mengantuk."
__ADS_1
"Maka dari itu aku memintamu untuk menjadi penumpang saja karena aku tahu bahwa kamu masih mengantuk jika diminta untuk bangun jam 6 pagi."
"Darimana kamu mengetahuinya?"
"Handphonemu."
"Handphoneku?"
"Status online di pesan, setiap hari pasti kamu online di jam 7 kurang karena bangunnya mepet sebelum berangkat kerja."
"Oh iya hehe," ucap Liam menggaruk rambutnya.
"Kenapa selalu bangun mepet?" tanya Yunna sembari menyetir mobil Liam.
"Ah itu karena setiap malam aku bermain game dan juga..."
"Dan juga apa?"
"Ya begitulah hahaha."
"Ckckck dasar kamu ini."
"Ya karena aku membantu mami untuk memasak sarapan serta mengerjakan hal - hal lainnya termasuk berolahraga ringan."
"Oh begitu."
Yunna lalu berhenti di sebuah SPBU sebentar untuk mengisi bahan bakar. Setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, sedangkan Liam membuka handphone miliknya dan mengirim pesan kepada Jane bahwa dia sedang keluar kota sebentar. Tidak lama kemudian Yunna kembali ke mobil dan mengambil beberapa berkas dokumen agar Liam membacanya selama diperjalanan.
"Ini dibaca sebentar selama diperjalanan."
"Iya deh iya, hoammm."
"Ckckck kamu masih saja menguap, lebih baik cuci wajahmu dulu agar tidak mengantuk."
"Iya deh iya."
Liam langsung keluar dari mobilnya untuk pergi ke kamar mandi, dan tiba - tiba saja Yunna membaca semua pesan di handphone Liam secara tidak sengaja karena Liam tidak mematikan handphonenya. Yunna terkejut membaca pesan Liam yang ternyata dia sedang ribut dengan Jane, tidak lama kemudian Liam datang ke mobil sembari membawa 2 gelas kopi untuknya dan juga Yunna.
__ADS_1
"Ini untukmu," ucap Liam memberikan kopi tersebut kepada Yunna.
"Terima kasih."
Mereka berdua lalu meminum kopi bersama di dalam mobil tersebut, dan setelah itu Liam membaca - baca kembali dokumen materi meeting.
"Aku sekarang sudah merasa sedikit fresh."
"Nah kan apa kubilang," ucap Yunna meminum kopinya.
Setelah itu Yunna kembali mengemudikan mobil Liam dan saat di tengah - tengah perjalanan, Liam malah tertidur. Sesekali Yunna menatap Liam yang tengah tertidur di sampingnya dan juga dia menatap mata sembab Liam. Entah apa yang terjadi semalam sehingga membuat mereka berdua berani berbicara seperti itu satu sama lain melalui pesan, dan sepertinya semalam mereka berdua bertengkar dengan sangat hebat sehingga membuat mata Liam menjadi sembab seperti itu. 30 menit kemudian Liam telah terbangun dari tidurnya.
"Belum sampai Yun?" tanya Liam melihat ke depan.
"Sebentar lagi sampai Li," jawab Yunna sembari fokus menyetir.
"Nanti setelah meeting kamu ingin jalan - jalan denganku tidak?"
"Eh tidak kembali bekerja di kantor?"
"Tidak perlu, lagipula kita berdua ini juga sedang bekerja."
"Oh iya sih."
"Bagaimana?" tanya Liam kembali.
"Baiklah, tetapi jangan lama - lama."
"Iya santai. Eh bukankah kita berdua harus meeting di luar kota selama 2 hari ya?"
"Astaga, iya juga ya kenapa aku berfikir jika hanya sehari."
"Hahaha kenapa memangnya? kamu tidak membawa baju ganti?"
"Bawa, tapi hanya sedikit dan mungkin hanya cukup untuk sehari saja."
"Halah tenang saja nanti kita beli di mall."
__ADS_1
"Hmm baiklah."