
Jane menyangkal dugaan Mrs Robinson itu karena memang kenyataannya Liam sudah bersikap sangat baik kepadanya, bahkan terlalu baik. Sebenarnya Jane juga tidak ingin jika misalnya Mrs Robinson mengadu kepada Mr Robinson mengenai Liam, nanti justru Mr Robinson akan menghukum Liam seperti yang diceritakan oleh kakaknya waktu itu. Jane takut jika terjadi sesuatu hal yang buruk ketika Mr Robinson menghukum Liam, karena bagaimanapun Liam adalah orang yang dicintainya serta tidak ingin dia terluka.
Jane selalu berdoa di setiap pagi saat Liam pergi berangkat bekerja agar suaminya itu selalu diberikan keselamatan di setiap langkahnya mencari nafkah untuk keluarganya. Setelah itu Jane menjelaskan kepada Mrs Robinson mengenai penyebab pelipisnya sampai luka seperti itu untuk meyakinkannya, agar Mrs Robinson juga tidak terus - menerus menyangkutpautkan Liam karena kecerobohannya itu. Setelah Mrs Robinson percaya, Jane lalu menggendong baby Ace untuk memberinya susu sembari masih berbincang dengan Mrs Robinson.
Disisi lain setelah makan siang Liam lalu pergi ke toko alat tulis terdekat untuk membeli beberapa kertas untuk membuat sesuatu. Bahan yang terpenting adalah kertas manila, lertas origami, dan juga kertas karton. Sebelumnya Liam menulis beberapa kalimat yang dia rangkai sendiri di kertas origami tersebut, lalu setelah itu dia membuat beberapa kotak yang menyerupai sebuah potongan cokelat. Setelah selesai menulis rangkaian kalimat - kalimat manis di kerta origami, Liam lalu memasukkan semua kertas itu satu persatu di beberapa kotak yang telah dia buat tadi.
Setelah itu dia merangkai semua kotak itu menjadi sebuah bentuk menyerupai cokelat. Tidak lupa Liam membalutnya dengan kertas bewarna emas serta menambahkan beberapa detail agar tampilannya lebih terlihat seperti cokelat sungguhan. Liam kemudian menambahkannya di sebuah bouquet bunga yang tadi dia pesan sebelumnya, dan ditambah dengan beberapa cokelat kesukaan Jane. Setelah jadi, Liam langsung meletakannya di sofa sembari terus memandanginya. Saat sore hari Liam berniat akan langsung memberikan bunga tersebut kepada Jane saat sesampainya di rumah.
"Sayang aku pulang!!" teriak Liam saat masuk ke dalam rumahnya.
"Iya, aku sudah tahu. Mmm itu kamu membawa apa?" tanya Jane melihat sesuatu yang disembunyikan oleh Liam di belakang badannya.
Liam langsung memberikannya kepada Jane.
"Ini untukmu."
"Wah apa ini lucu sekali cokelat yang ini."
"Itu bisa dibuka seperti ini," ucap Liam sembari mencontohkannya kepada Jane.
"Oh begitu, eh diminum dulu tehnya sayang."
"Oh iya terima kasih."
"Jadi bagaimana pekerjaanmu hari ini, apakah semuanya lancar?"
"Iya semuanya lancar," ucap Liam mencubit pipi Jane yang chubby itu.
"Ih hubby, jangan begitu."
"Memangnya kenapa?"
"Sakit," ucapnya sembari memanyunkan bibirnya.
"Eh pelipismu bagaimana? aku semalam terkejut melihat pelipismu luka seperti itu, dan oleh sebab itu aku langsung mengobatinya dengan obat merah."
"Sudah sedikit lebih baik hubby."
"Syukurlah jika seperti itu, memangnya kenapa bisa sampai seperti ini heum?" tanya Liam penasaran.
__ADS_1
"Kemarin aku terkena pinggiran meja saat sedang mengambil barangku yang terjatuh ke lantai, dan aku tidak menyadari bahwa sampai seperti ini lukanya."
"Lain kali hati - hati," ucap Liam mengusap rambut Jane.
"Iya hubby sayang."
"Nanti setelah aku mandi, aku ingin berbicara kepadamu."
"Okay."
Liam lalu pergi mandi setelah menghabiskan secangkir teh hangat buatan istrinya itu. 10 menit kemudian Jane langsung pergi ke kamar setelah Liam memanggilnya.
"Ada apa hubby?" tanya Jane penasaran.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, yang sebenarnya sudah kamu ketahui selama ini."
"Apa itu?"
"Bahwa selama ini aku menyukai...."
"Yunna kan?" tanya Jane memotong pembicaraan Liam.
"Benar, aku selama ini telah menyukai Yunna, maafkan aku jika kamu menjadi berfikir bahwa selama ini aku membohongi perasaanmu."
"Kenapa kamu bisa menyukainya? apa ada hal yang dia miliki sedangkan aku tidak?" tanya Jane berusaha tenang.
"Sebenarnya mengapa aku bisa menyukainya karena aku sudah merasa nyaman dengannya bahkan saat kita berdua sedang berbincang, apalagi kita berdua sudah satu frekuensi."
Tanpa sadar Jane meneteskan air matanya.
"I-iya maafkan aku yang tidak bisa mengimbangi topik pembicaraanmu karena kamu tahu sendiri bukan jika aku ini hanyalah seorang model, dan bukanlah seorang sarjana dengan lulusan cumlaude seperti kalian berdua. Mungkin karena hal itu aku tidak bisa mengimbangi pembicaraanmu."
Liam lalu berjongkok di depan Jane.
"Bu-bukan begitu maksudku Jane, kamu tahu kan jika setiap kita berbicara selalu saja ada perdebatan diantara kita berdua? itulah yang membuatku menjadi merasa tidak nyaman saat berbicara kepadamu, dan aku lebih nyaman berbicara dengan Yunna karena dia tidak pernah sekalipun mengajakku berdebat."
"Maaf jika aku selalu seperti itu sehingga membuatmu menjadi merasa tidak nyaman saat sedang berbincang denganku."
"Aku yang harusnya meminta maaf kepadamu Jane, semuanya aku yang salah dan seharusnya aku bisa lebih jujur kepadamu namun sekarang aku sedang belajar untuk mencintaimu serta melupakan Yunna."
__ADS_1
"Maafkan aku hubby."
Setelah pembicaraan tersebut mereka berdua menjadi sedikit berjauhan, bahkan saat makan malampun mereka berdua memilih untuk diam seribu bahasa dan tanpa perbincangan mengenai apapun seperti biasanya. Setelah makan malam Jane kemudian pergi ke kamar baby Ace untuk memberikannya susu, sedangkan Liam duduk di balcony kamarnya. Liam menjadi merasa tidak enak dengan Jane karena hal ini, karena tadi wajah Jane terlihat sangat kecewa sekali dengannya. Begitu Jane selesai memberi susu baby Ace sekaligus menidurkannya, Jane kemudian kembali ke kamarnya dan langsung tidur tanpa mengatakan apapun. Melihat hal tersebut Liam kemudian memilih untuk tidur di sofa.
"Hubby bangun," ucap Jane membangunkan Liam disaat tengah malam.
"Nggg."
"Ayo tidur di ranjang saja dan jangan di sofa, nanti badanmu akan merasa sakit jika kamu tidur di sofa."
"Oh baiklah."
Liam lalu pindah tidur di ranjang, dan diikuti oleh Jane. Keesokan harinya saat sebelum berangkat kerja Liam tengah bingung mencari keberadaan dompetnya.
"Dompetku dimana lagi? aku nanti bisa terlambat jika tidak kunjung menemukannya," gumam Liam.
Melihat Liam yang tengah mencari dompetnya, Jane lalu mengambil dompet Liam dari atas meja riasnya dan memberikannya kepada Liam.
"Ini dompetmu."
"Oh iya, aku selalu saja lupa dimana meletakkannya."
"Ayo sarapan dulu," ucap Jane dingin.
"Okay."
Liam kemudian berjalan di belakang Jane dan merasa bahwa sekarang suasanya sedang tidak enak sekali. Liam merasa sangat menyesal bahwa dia telah melakukan hal seperti itu kepada Jane. Setelah sarapan saat Liam hendak berangkat kerja tiba - tiba saja Jane menghampiri Liam dan langsung membenarkan dasi Liam.
"Dirapikan seperti ini agar lebih enak dipandang."
"Oh iya."
Saat Liam hendak mencium keningnya, tiba - tiba saja Jane sedikit menghindar.
"Sudah sana berangkat, nanti kamu telat."
"Mmm maafkan aku Jane."
"Sampai bertemu nanti sore," ucap Jane yang kemudian pergi ke kamar baby Ace.
__ADS_1