
Setelah lelah berjalan - jalan, mereka berdua lalu memutuskan untuk pulang dan lagipula sudah larut malam apalagi besok mereka akan pergi ke California untuk berkunjung ke Disneyland. Mereka berdua lalu masuk ke dalam mobil Liam dan mengantarkan Nat pulang ke apartement miliknya. Sesampainya di depan gedung apartement Nat memeluk Liam dan mencium pipinya. Setelah itu Liam pergi untuk pulang ke hotelnya, awalnya Nat menawari Liam untuk menginap saja di unit apartement miliknya namun Liam menolak dan memilih untuk kembali ke hotelnya. Sesampainya di lobby hotel, Liam meminta Alexander untuk pulang saja tetapi Alexander menolak karena dia sudah berjanji kepada Mr Robinson jika dia akan selalu menjaga putra sulungnya tersebut dan akan selalu mengikuti kemanapun Liam pergi saat berada di New York. Alexander kemudian mengantarkan dan membawakan ransel milik Liam hingga sampai ke dalam kamarnya, lalu Alexander permisi untuk keluar. Alexander juga akan ikut Liam pergi ke California dan memantau Liam dari jarak yang tidak terlalu jauh seperti sebelum - sebelumnya.
Mr Robinson khawatir kepada Liam karena Liam hanya pergi sendiri dan Liam juga tidak mengatakan kepada Mr Robinson siapa orang yang akan dia temui, jadi dia memerintahkan Alexander untuk selalu mengikuti kemanapun Liam pergi. Saat Liam tau jika dia akan dikawal oleh satu bodyguard, dia lalu meminta kepada Alexander untuk tidak memberitahu Mr Robinson jika dia bertemu dengan Nat dan hanya boleh mengatakan jika dia bertemu dengan teman lamanya tanpa menyebutkan identitasnya karena sedikit berbahaya jika daddy nya itu tau jika dirinya bertemu dengan Nat teman dekatanya apalagi Mr Robinson sudah sangat menyayangi Jane. Bisa - bisa Liam tidak akan diizinkan lagi untuk pergi ke New York oleh Mr Robinson dan mungkin Mr Robinson juga akan melakukan segala cara untuk menghancurkan karier Nat jika tau bahwa Nat sangat mencintai Liam karena menurutnya, Mr Robinson ingin sekali jika Jane menjadi menantunya. Setelah mengganti bajunya, Liam kemudian berbaring di atas ranjangnya dan membuka handphone miliknya. Betapa terkejutnya Liam saat mengetahui jika ada banyak panggilan tak tertawab dari Jane. Liam lalu langsung menghubungi Jane kembali, siapa tau memang ada hal penting yang ingin Jane katakan kepadanya.
(On call)
"Kemana saja kamu sampai tidak menjawab telepon dariku?" teriak Jane di telepon.
Liam lalu menjauhkan handphone dari telinganya saat Jane berteriak kepadanya "sorry tadi ada urusan. Ada apa kamu menghubungiku sampai berkali - kali, pasti kamu rindu dengan aku ya?"
"Bukan itu bodoh, ada hal penting yang akan aku bicarakan kepadamu."
Liam merasa penasaran "apa itu?"
"Daddy kamu."
"Daddy aku kenapa?"
"Rahasia kita berdua jika kita tinggal bersama di apartement milikmu."
Liam terkejut "daddy sudah mengetahui jika kita tinggal bersama di apartement aku?"
"Belum, tapi daddy kamu sudah curiga jika kamu menyembunyikan sesuatu di apartement milikmu."
"Benar begitu?"
"Iya Liam." Jane lalu menceritakan semuanya kepada Liam melalui telepon.
"Untung saja, mulai sekarang kita harus berhati - hati kalau begitu."
"Iya kamu benar Li, bisa repot jika kita ketahuan."
"Mungkin kita di suruh menikah jika ketahuan hahaha," ucapnya bercanda.
Jane lalu berteriak kembali "aku yang tidak mau menikah denganmu."
"Kenapa, bukannya kamu ingin menikah denganku waktu itu?"
"Tidak jadi, yang ada kita akan ribut terus setiap hari jika kita menikah."
__ADS_1
"Dasar wanita plin plan."
"Kamu juga pria buaya."
"Aku bukan buaya, katamu aku ini ayam."
"Benar, wajahmu mirip ayam wlee." Jane menjulurkan lidahnya.
"Wajahmu juga mirip kucing garong wlee." Liam juga ikut menjulurkan lidahnya.
"Dasar menyebalkan. Benar kan apa kataku, jika kita menikah dan tinggal bersama pasti rumah kita akan langsung roboh karena kita terus bertengkar seperti ini."
"Tidak akan."
"Darimana kamu tau, kan kita belum mencobanya?"
Liam tersenyum "bagaimana kalau kita mencobanya?"
"Pernikahan itu bukan untuk coba - coba ya Liam?"
"Baiklah nona Jane, kalau begitu aku tidak akan mencobanya jadi aku akan langsung menikah saja karena aku rasa aku sudah mantap untuk menikah."
"Baiklah, aku akan mengirimkan desainnya kepadamu."
"Hei aku bukan tukang cetak undangan, dasar bodoh."
"Siapa bilang aku akan mencetak undangan melaluimu, aku ingin nama kamu ada di seluruh undangan itu bersamaku Jane."
"Jangan bercanda Chicken."
Liam tertawa "aku tidak bercanda, setelah aku pulang dari New York aku akan langsung melamarmu tenang saja."
"Chicken jangan bercanda, aku tidak suka candaanmu yang ini."
Panggilan itu langsung dimatikan oleh Liam tanpa memberitahu apa penyebabnya kepada Jane. Hal itu membuat Jane berfikir jika Liam sudah merasa tersinggung oleh ucapan Jane tadi, entah ucapan yang mana. Beberapa menit kemudian Liam mengirim pesan kepada Jane dan memberitahunya jika dia akan pergi ke California bersama dengan Nat yang membuat hati Jane sedikit merasakan sakit karena Jane membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka berdua pergi bersama ke California apalagi setelah Liam mengatakan hal tadi bersamanya yang membuat Jane merasa kesal kepada Liam setelah candaannya tadi. Jane menjadi berfikir jika Liam tetaplah seperti pria yang lainnya, seorang pria yang sering mengucapkan dan memberi janji manis kepada seorang wanita tetapi di kemudian hari dia malah pergi bersama dengan wanita yang lainnya. Apalagi Liam juga mempunyai banyak uang jadi dia bisa memanjakan semua wanita yang diinginkannya dan kemungkinan termasuk dirinya yang menjadi salah satu dari banyaknya wanita tersebut. Saat sedang melamunkan hal tersebut tiba - tiba handphone Jane berbunyi dan Jane langsung mengangkatnya. Sedangkan Liam pergi membawa skateboard miliknya dan menuju ke skate park terdekat dengan diantar oleh Alexander. Ternyata jam 10 malam masih ramai sekali para remaja yang sedang bermain skateboard di tempat tersebut. Liam lalu turun dari mobilnya dan mulai bermain di sana sembari berbaur dengan para remaja yang berada di skate park.
"Hei bro permainanmu sangat bagus juga, apakah kamu seorang atlet?" tanya seorang remaja yang menghampiri Liam.
"Bukan, aku hanya melakukannya karena hobi."
Remaja itu lalu mengulurkan tangannya "aku Jeff."
__ADS_1
Liam lalu membalas jabatan tangan remaja tersebut sembari tersenyum "aku Liam."
"Kamu sudah bermain berapa lama?"
Liam lalu duduk di tepi tempat tersebut "Sekitar 9 tahun an tetapi aku sempat berhenti sekitar 3 tahun dan baru memulainya kembali tahun ini."
"Kenapa begitu?"
"Ada sebuah tragedi yang memaksaku untuk vaccum dari dunia skateboard. Kalau kamu?"
"Oh begitu, kalau aku ya sekitar 10 tahunan sih dan sudah sering ikut olimpiade juga."
"Wah bagus sekali."
"Kenapa kamu tidak ikut olimpiade saja sepertiku, nanti aku akan memberitahumu melalui instamili."
"Baiklah, username instamiliku @itss.liamgerard."
Jeff lalu menunjukkan handphone miliknya kepada Liam setelah mencari username milik Liam "yang ini bukan?"
"Ya, yang itu."
"Baiklah, aku sudah mengikutimu."
Liam lalu membuka handphone miliknya "aku juga sudah mengikutimu."
Lalu ada segerombolan remaja yang menghampiri mereka berdua dan mereka ternyata adalah teman satu club Jeff. Lalu Jeff memperkenalkan Liam kepada mereka semua dan ada salah satu anak yang memberitahu mereka tentang olimpiade skateboard "hei 3 bulan lagi olimpiadenya diadakan di Seoul, Korea Selatan."
"Benarkah?" tanya Jeff.
"Benar, kita semua akan berangkat dan mendaftar melalui situs online terlebih dahulu seperti biasanya."
"Wah baguslah. Hei Liam, ikutlah besok dan jangan sia - siakan teknik permainanmu yang bagus itu."
"Baiklah, aku akan mencobanya untuk ikut."
"Baguslah, temui aku di sana 3 bulan lagi."
"Baik, kalau begitu aku harus kembali ke hotel karena sudah larut malam."
"Okay, take care."
__ADS_1