
Setelah pembicaraan tersebut Pak Kang lalu berpamitan untuk pulang ke rumahnya, sedangkan Jane langsung mengunci pintu serta mematikan semua lampu di ruangannya begitu Pak Kang keluar dari gerbang rumahnya, Setelah itu dia melakukan ritualnya sebelum tidur seperti menggunakan skincare dan lain - lain. Tiba - tiba saja Jane teringat jika dirinya mendapatkan sebuah lukisan buatan Liam, dia langsung turun ke bawah untuk mencari lukisannya tersebut. Jane kemudian menempelkan lukisan bergambar wajahnya tersebut di ruang tengah karena menurutnya lebih cocok jika memajangnya di sana. Selesai menempelkan lukisan tersebut Jane kemudian memandangi lukisan buatan Liam itu selama beberapa menit, lalu dia pergi ke kamarnya dan bersiap untuk tidur, tapi saat handphone miliknya berdering Jane justru tidak jadi tidur namun malah memainkan handphone miliknya sembari berkirim pesan kepada teman dekatnya.
Saat Jane menyadari bahwa sudah terlalu larut malam kemudian dia meletakkan handphone miliknya di atas meja samping tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya. Disaat tengah malam Jane terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil, dan begitu dia ingin kembali tidur tiba - tiba ada panggilan telepon dari Liam. Karena Jane masih marah kepadanya lalu dia memutuskan untuk tidak menjawab panggilan tersebut dan memilih membisukan nada dering handphonenya. Jane kemudian menarik selimutnya dan kembali tidur karena besok pagi dia harus pergi ke studio untuk pemotretan. Saat di pagi harinya Jane sengaja bangun lebih awal untuk melakukan senam yoga di tepi kolam renangnya. Selesai melakukan senam yoga tersebut Jane kemudian membuat sarapan untuknya agar kuat menjalani hari dengan penuh semangat. Jane lalu bergegas mandi begitu dia selesai sarapan dan segera bersiap untuk berangkat pemotretan cover majalah terbarunya, dan setelah itu dia pergi untuk casting film yang dia bicarakan kepada Liam waktu itu.
"Ada apa nona?" tanya Pak Kang sembari menyetir mobil.
"Sejujurnya aku sangat gugup untuk casting film karena ini pertama kalinya aku menerima tawaran tersebut," ucap Jane dari kursi penumpang.
"Rileks saja nona, saya yakin anda pasti mendapatkan peran tersebut."
"Semoga saja iya."
Begitu sampai di studio Jane langsung disambut oleh para staff yang akan membantu Jane di pemotretan ini.
"Hai Jane, bagaimana kabarmu?" tanya sang photografer.
"Baik," ucap Jane dengan senyuman di bibirnya.
"Aku dengar kamu liburan di Indonesia ya?"
"Iya."
"Bagaimana liburanmu?"
"Sangat menyenangkan."
"Uhhh aku sangat merindukanmu saat kamu pergi."
"Benarkah?"
"Iya, aku ingin kamu kembali ke Korea dengan segera karena aku ingin kembali memotretmu."
Jane tertawa "baiklah kalau begitu nanti kamu harus memotretku dengan sangat bagus."
"Sejak kapan aku memotretmu dengan sangat jelek, Jane? wajahmu sangat cantik sehingga aku tidak tega jika diminta untuk membuang hasil jepretanku walaupun hanya satu foto sekalipun."
Jane tersenyum "terima kasih atas kerja kerasmu, oppa."
"Sama - sama Jane."
Penata rias lalu memandangi wajah Jane begitu dia selesai merias wajahnya "aigoo, kamu sangat cantik sekali."
Jane tersipu malu "kalian ini selalu memujiku."
__ADS_1
"Karena kamu pantas untuk dipuji Jane, bahkan posisimu sekarang memang sangat pantas untuk kamu dapatkan karena ketekunanmu itu."
"Terima kasih, tapi ini berkat kalian juga yang selalu mendukungku dan menemaniku."
"Oh ya ngomong - ngomong, pria yang waktu kamu posting di instamili itu pacar baru kamu?" tanya photografer Jane.
"Dia hanya teman dekatku saja kok," ucap Jane menyangkal.
"Dia sangat tampan serta postur tubuhnya seperti seorang model professional, apakah dia juga berprofesi sebagai model sepertimu?"
"Bukan, dia hanya seorang pelukis dan pemain skateboard."
"Benarkah?"
"Iya."
"Walaupun dia hanya seorang pelukis tetapi tetap saja dia hebat karena tidak semua orang bisa melukis dan mempunyai bakat melukis sejak lahir."
"Benar apa yang dikatakan oleh Patrik, walaupun aku bisa merias wajahmu tetapi jika aku diminta untuk melukis di atas kanvas pasti tidak akan bisa sebagus pelukis professional."
"Benar, oh iya katanya di kota ini akan diadakan turnamen skateboard internasional sekitar 12 hari lagi."
"Lalu?"
"Dia tidak mungkin berminat untuk mengikutinya karena dia pria yang pemalu dan sangat sibuk banyak acara."
"Wah sayang sekali."
Jane lalu memulai untuk melakukan pemotretan dengan photografernya dengan didampingi oleh para staff lainnya. Beberapa jam kemudian Jane sudah menyelesaikan pemotretannya dan sekarang dia sedang makan siang bersama dengan Pak Kang sebelum dia berangkat untuk casting film. Saat menjelang malam Jane baru sampai ke rumahnya dan langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya lalu dia berbaring di atas ranjangnya hingga ketiduran karena merasa lelah. Tiba - tiba saja Jane dikejutkan oleh suara ketukan pintu sembari memanggil namanya yang membuatnya terbangun dari tidurnya. Jane kemudian berjalan menghampiri pintu kamarnya untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang sedari tadi mengganggunya tidur. Ternyata Josh yang sedari tadi mengetuk pintu kamar Jane untuk mengajaknya makan malam.
"Sudah makan malam?" tanya Josh penuh perhatian.
"Belum."
"Kalau begitu mari malam malam, aku sudah membelikan makanan kesukaan kamu."
"Terima kasih oppa."
"Iya."
Mereka berdua lalu turun ke bawah dan menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama. Josh memang sengaja melakukan hal tersebut karena dia mengetahui dari Pak Kang bahwa sekarang Jane memilih untuk beristirahat di rumah utamanya setelah melakukan casting film.
"Bagaimana dengan casting film dan pemotretanmu hari ini?"
__ADS_1
"Lancar - lancar saja," ucap Jane sembari mengunyah makanannya.
"Baguslah jika seperti itu, aku turut bahagia."
"Terima kasih."
"Lalu apakah kamu berhasil mendapatkan peran utama itu?"
"Tentu saja aku mendapatkannya."
"Wah selamat untukmu."
"Oh ya, kenapa oppa ikut pulang ke Korea?"
"Untuk mengawasimu, siapa tau kamu tiba - tiba kembali terbujuk rayuannya Kyle si pria brengsek itu."
"Aku tidak akan kembali terbujuk oleh rayuannya," ucap Jane tegas.
"Karena sudah ada Liam?" tanya Josh menggoda Jane.
Jane langsung menyangkal pernyataan Josh "ti-tidak, aku hanya sedang tidak ingin menjalin hubungan spesial dengan pria lain."
"Yang benar?" tanya Josh sembari menaikan alisnya.
"Iya oppa."
"Apakah kamu sudah merindukannya sekarang?"
"Sedikit, lebih tepatnya aku merindukan tingkah konyolnya itu."
"Liam bisa bertingkah konyol?"
"Tentu saja, bahkan tingkahnya sangat konyol sekali."
"Aku terkejut mendengar pernyataanmu bahwa Liam bisa bertingkah sangat konyol."
"Kenapa begitu?"
"Karena menurutku dia itu pria yang pendiam dan sedikit pemalu, jadi seperti tidak mungkin saja dia bisa bertingkah sangat konyol."
"Dia memang pria pemalu seperti yang kamu katakan namun sebenarnya di sisi lain dia bisa bertingkah konyol juga, walaupun sedikit aneh jika sebenarnya dia mempunyai dua kepribadian tetapi itulah Liam."
"Ya, aku setuju denganmu tetapi yang pasti dia tetap pria yang baik walaupun mempunyai dua kepribadian yang berbeda."
__ADS_1
"Benar."