Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #407


__ADS_3

Jane kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan Liam mie instan dan juga tteokbokki seperti yang diminta oleh Liam. Namun tiba - tiba saja Liam menghampiri Jane dan memeluknya dari belakang sembari menciumi lehernya. Liam memang selalu seperti itu saat sedang berduaan dengan istrinya, jadi itu bukanlah suatu hal yang baru lagi bagi Jane selaku istrinya. Jane hanya diam sembari mengaduk mie instan di dalam panci, dan membiarkan Liam melakukan apapun yang dia inginkan.


Namun semakin lama dia justru merasa geli karena Liam terus menempel kepadanya, dan setelah itu Jane menciumnya sebelum dia mengusirnya pergi agar kembali ke ruang tengah. Liam kemudian menuruti perintah Jane untuk kembali ke ruang tengah, dan duduk manis di sofa sembari melanjutkan menonton film. Tidak lama kemudian Jane datang menyajikan semangkuk mie instan dan tteokbokki untuk suami tercinta. Baunya sangat harum sekali hingga rasanya seperti sangat menggoda iman siapapun yang mencium baunya secara tidak sengaja.


Setelah itu Liam duduk di bawah untuk memakan mie instan itu bersama Jane. Satu mangkuk mie instan dimakan berdua bersama istri tercinta rasanya memang sangatlah mantap. Diperhatikannnya pipi chubby Jane yang semakin mengembang saat dia sedang memakan tteokbokki hingga membuatnya tersenyum gemas. Pipi chubbynya sangat mulus dan putih sekali seperti kue mochi, apalagi itu juga kenyal saat Liam mengigitnya. Untung saja baby Ace bukanlah anak yang sangat rewel, jadi hal itu membuat kedua orang tuanya merasa senang karena bebas berpacaran serta bermesraan saat kapanpun.


"Kamu sangat menggemaskan sekali saat sedang makan karena pipimu sangat chubby," ucap Liam tersenyum menatap ke arah Jane.


"Hubby ini menyebalkan sekali," ucap Jane cemberut.


"Kenapa menyebalkan?" tanyanya bingung.


"Itu artinya aku gendut kan?"


"Aduh mampus aku," gumam Liam.


"Hubby jawab!! malah melamun."


Liam lalu memeluk Jane dari samping.


"Tidak sayang, kamu tidak gendut sama sekali."


"Tadi kamu berkata jika pipiku sangat chubby, itukan artinya aku gendut."


"Kalaupun kamu gendut aku juga tetap mencintaimu karena kamu lebih nyaman dipeluk."


Jane langsung melepaskan pelukan Liam.


"Nahkan berarti aku gendut ya? ya sudah aku akan diet besok."


"Tidak usah sayang, kamu sudah cantik seperti ini dengan pipimu yang chubby dan baby Ace sedang sangat membutuhkan nutrisi darimu jadi kamu tidak boleh diet!"


"Ya sudah."


"Nah begitu dong, lebih banyak makan juga lebih bagus."


"Iya hubby."


"Sudah habiskan ini tteokbokkinya."


"Aku kenyang, hubby saja yang menghabiskannya dan juga sekalian mienya juga."


"Kamu juga sekalian dihabiskan tidak?" tanya Liam menggoda Jane.


"Hih tidak."


Liam tertawa.


"Hahaha sayang kamu ini sangat menggemaskan sekali."


"Benarkah? sepertinya itu hanyalah kata - kata manis dari seekor buaya saja."


"Aku bukan buaya."


"Lalu apa?"


"Kodomo."


"Komodo sayang, kodomo itu teman baikku."


Liam lalu meraih tubuh mungil Jane.

__ADS_1


"Kemarilah! aku perhatikan kamu sekarang jauh lebih berbeda dari dulu ya?"


"Beda bagaimana?" tanyanya penasaran.


"Kamu lebih dewasa dan keibuannya semakin terlihat jelas meskipun terkadang masih manja."


"Aku manja kalau hanya bersamamu saja, kalau dengan yang lain tidak."


"Memangnya ada yang lain selain diriku heum?"


"Tidak ada, kamu hanya satu - satunya suami tersayangku."


"Ku kira kamu mempunyai pria simpanan lain," ucap Liam yang mulai menghabiskan mie instan dan tteokbokki itu."


Jane menggeleng pelan.


"Tidak hubby, aku berani bersumpah bahwa aku tidak mempunyai pria simpanan."


"Iya aku percaya sayang," ucap Liam mengusap rambut Jane.


"Mmm jadi, kamu tidak marah kepadaku kan?"


"Tidak, untuk apa aku marah kepadamu jika kamu tidak mempunyai salah denganku?"


"Kalau misalkan aku tiba - tiba tergoda pria lain dan berselingkuh darimu, kamu akan bagaimana?"


Liam berfikir sejenak.


"Tergantung situasi kondisi sih."


"Maksudnya?"


"Kalau diposisi aku benar - benar mencintaimu mungkin aku akan merelakan kamu untuk bersama dengannya, dan mengakhiri hubungan kita."


"Karena aku ingin kamu bahagia meskipun kamu berbahagia bersama orang lain, dan nanti aku akan tetap bertanggungjawab penuh untuk menafkahi kalian berdua apalagi baby Ace. Oh ya rumah ini juga sudah aku balikkan nama menjadi namamu, jadi misalnya hal itu terjadi maka aku yang akan keluar dari sini dengan tidak membawa apapun."


Seketika Jane merasa sangat terkejut dengan pernyataan suaminya itu.


"Hubby, kenapa kamu membalik nama rumah ini atas namaku?"


"Tidak apa - apa, anggap saja ini sebagai kado pernikahan kita juga."


"Waktu itu kamu sudah memberiku banyak kado pernikahan yang harganya tidak murah, aku menjadi merasa tidak enak denganmu."


"Ini tidak ada apa - apanya dengan yang kamu berikan kepadaku belum lama ini."


"Memangnya aku memberikan kamu apa?"


"Sesuatu yang sangat berharga dari apapun di dunia ini, yaitu seseorang yang sedang tertidur nyenyak di kamar sebelah."


"Maksud kamu baby Ace?"


"Yupss benar sekali, itu sangat berharga sekali bagiku. Kamu rela mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan baby Ace, jadi aku sangat sayang sekali dengannya."


"Kalau denganku sayang tidak?"


"Tentu saja aku juga sangat menyayangimu," ucap Liam mengeratkan pelukannya.


Setelah itu Liam mematikan televisinya dan membantu Jane membereskan ruang tengah. Mereka berdua lalu naik ke lantai atas namun sebelum masuk ke kamar, mereka pergi ke kamar baby Ace terlebih dahulu untuk melihatnya. Lalu barulah mereka berdua tidur. Keesokan harinya Liam yang sedang berada di kantor, tiba - tiba saja didatangi oleh Rosie.


"Liam!!" teriak Rosie.

__ADS_1


"Ada apa adikku yang paling cantik," ucap Liam sembari masih fokus mengetik di laptopnya.


"Uang jajanku kok belum di transfer padahal ini sudah tanggal 5?"


Liam langsung menepuk dahinya.


"Astaga maaf aku lupa, sebentar aku transfer dulu."


"Okay," ucap Rosie duduk di sofa.


"Sudah masuk ya?"


Rosie lalu memeriksa handphone miliknya.


"Iya, terima kasih kakakku yang paling tampan."


"Iya sama - sama, kuliah yang rajin."


"Okay Liam."


Bukannya langsung pergi, Rosie masih saja duduk di sofa dan memainkan handphone miliknya.


"Lho kok belum pergi kuliah?"


"Aku sudah pulang dari kampus."


"Eh memangnya ini jam berapa?" tanya Liam bingung.


"Ini sudah jam setengah 12 siang."


Liam lalu melihat ke arah jam tangannya.


"Oh iya astaga aku tidak sadar jika sudah jam segini."


"Kamu terlalu fokus bekerja, sedangkan anak buahmu santai - santai saja."


Liam lalu beralih duduk di samping Rosie


"Sudah tidak apa - apa. Kamu mau makan siang bersamaku?"


"Boleh. Eh Liam, masa temanku ada yang cuti lama tapi ternyata dia sudah melahirkan seorang anak pacarnya."


"Kamu jangan ikut - ikutan, awas saja kalau kamu sampai ikut - ikutan!"


"Iya Liam, mmm btw buat anak itu bagaimana?"


"Kamu tidak tahu?"


Rosie menggeleng.


"Tidak tahu."


"Kalau begitu jangan tahu."


"Kenapa?"


"Kamu masih kecil, besok saja."


"Ihh Liam menyebalkan sekali, aku akan bertanya kepada eonni saja."


"Jangan aneh - aneh!"

__ADS_1


"Ya sudah."


__ADS_2