
Setelah memakaikan sepatu suaminya, Jane kemudian berdiri dan menatap Liam dari ujung kepala sampai kaki. Liam sudah terlihat sangat tampan dan gagah sekali mengenakan setelah jas yang belum lama Jane beli untuknya, apalagi sepatu Liam juga terlihat sangat mengkilap hingga memberikan kesan pria yang sempurna dimatanya. Tidak lupa Jane juga memakaikan sebuah bros di kerah jas Liam sebelah kanan untuk menambah kesan indah di jas miliknya. Setelah itu Jane pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk mereka berdua dan begitu sesampainya di dapur Jane melihat bahwa Rosie sedang memakan sarapannya dengan sangat lahap. Ternyata Rosie sudah membuat cereal yang dicampur dengan susu sebagai menu sarapannya, dan tidak hanya itu juga ternyata disebelah Rosie juga sudah ada sepotong sandwich yang rencananya akan dimakan setelah selesai memakan cereal. Jane hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saat melihat bahwa adik iparnya itu seperti tidak mempunyai rasa kenyang di perutnya. Jane tidak merasa benci ataupun marah, akan tetapi menurut Jane itu merupakan hal yang sangat lucu hingga rasanya ingin menyediakan lebih banyak makanan lagi untuk adik ipar kesayangannya itu selama dia menginap disana.
Tidak lama kemudian Liam menghampiri Jane yang sedang membuat sandwich dan memeluknya dari belakang. Setelah itu Liam juga mencium pipi Jane sebelum duduk di kursinya namun tiba - tiba saja Rosie protes karena ingin dicium juga oleh Liam. Hal itu membuat Liam dan Jane tertawa, lalu Liam mencium pipi Rosie juga. Setelah menerima ciuman dari Liam, Rosie lalu kembali memakan cereal serta sandwich miliknya. Mereka bertiga sarapan sembari berbincang ringan bersama sebelum memulai kegiatannya masing - masing, dan tiba - tiba saja keluar dari mulut Rosie yang memuji Liam bahwa dia sekarang tampak lebih tampan dari sebelumnya setelah dirawat oleh Jane. Mendengar hal tersebut Jane langsung besar kepala dan merasa bangga terhadap dirinya sendiri karena telah berhasil merubah penampilan Liam. Selesai berbincang sembari sarapan mereka bertiga lalu beralih memulai kegiatannya masing masing seperti Liam yang pergi ke kantor, Jane yang pergi untuk pemotretan, serta Rosie yang pergi ke kampus. Sesampainya di kantor Liam lalu menghampiri Yunna yang sedang duduk di ruangannya sembari meminum kopi hangat.
"Pagi cantik," sapa Liam terhadap Yunna.
"Pagi Li, eh pagi tampan hahaha."
Seketika Liam langsung tersipu malu.
"Ehem, aku memang sudah tampan sejak masih dalam kandungan mommy."
"Najis sombong sekali anda, sudahlah tidak jadi tampan."
"Attitute nol, attitute nol."
"Dasar tidak jelas, bocah prik."
"Nanti siang lunch bareng mau tidak?" tanya Liam semakin mendekat ke arah Yunna.
"Dimana?" tanya Yunna sembari meminum kopinya.
"Dimanapun yang kamu mau."
"Baiklah."
*Saat makan siang.*
"Hei apa - apaan ini?" protes Liam.
"Katanya tadi terserah aku ingin makan dimana, jadi karena aku sedang ingin makan gado - gado maka aku mengajakmu kemari."
"I-iya sih, tapi aku tidak suka gado - gado apalagi sayuran."
"Coba dulu, nanti kamu akan ketagihan."
"Mmm meragukan."
"Sini aku suapi!"
Liam lalu membuka mulutnya lebar - lebar, tetapi tiba - tiba saja Yunna meletakkan sendoknya yang sudah terisi oleh gado - gado.
"Astaga aku lupa kalau kamu ini sudah menikah," ucap Yunna sembari memegang kepalanya.
Hal tersebut membuat Liam tertawa dengan sangat keras.
"Jadi sedari tadi kamu lupa jika aku ini sudah menikah?" tanya Liam sembari masih terus tertawa.
Yunna mengangguk.
__ADS_1
"Iya, maaf ya."
Liam semakin tertawa dengan sangat keras.
"Hahaha kamu ini lucu sekali, bisa - bisanya kamu lupa jika aku sudah menikah. Apa sebenarnya jika kamu tidak lupa, maka kamu akan menolak ajakanku untuk pergi makan siang?"
"Tentu saja," jawab Yunna dengan tegas.
"Kenapa begitu?"
"Aku tidak mau dicap sebagai pelakor alias perebut laki orang."
"Oh begitu rupanya," ucap Liam sembari mengangguk paham.
"Aku menjadi merasa tidak enak dengan Jane."
"Tidak apa - apa, santai saja."
"Kamu ini sangat menyebalkan sekali."
"Tenang saja, aku sudah memberitahu Jane jika aku akan pergi makan siang bersamamu."
"Lalu Jane menjawab apa?" tanya Yunna sedikit khawatir.
"Dia berkata bahwa tidak apa - apa kok jika aku pergi makan siang denganmu, lagipula hari ini dia juga sedang sangat sibuk pemotretan."
"Benarkah dia berkata seperti itu? aku takut jika sebenarnya Jane tidak setuju."
"Ah iya, kamu juga harus makan!"
"Iya Yunna."
"Oh iya, bagaimana liburanmu? aku rasa kalian berdua merasa sangat senang dan terlihat sangat mengasyikkan sekali."
"Bagaimana kamu tahu jika itu terlihat sangat mengasyikkan padahal aku belum menceritakannya kepadamu?"
"Kebahagiaan kalian berdua terlihat dari foto yang diunggah oleh Jane di instamili."
"Kamu ini terlalu mudah menyimpulkan sesuatu, padahal semua yang dilihat di media sosial itu tidak sepenuhnya nyata dan bahkan ada juga yang berbanding terbalik dengan yang aslinya."
"Ucapanmu itu memang benar, tetapi aura yang terlihat di wajah kalian itu yang tidak bisa berbohong karena memang tidak bisa disembunyikan."
"Oh begitu."
"Tetapi memang sebenarnya kalian berdua sangat bahagia bukan?"
"Tentu saja, walaupun ada sedikit cekcok sana sini hehe."
Liam kemudian mulai mencoba memakan gado - gado, dan ternyata rasanya sangat lezat seperti yang dikatakan oleh Yunna. Setelah dia mengatakan bahwa ini sangat lezat, Liam kemudian langsung memakannya dengan sangat lahap hingga hanya tersisa timun dan tomat saja karena Liam tidak menyukainya. Melihat hal tersebut Yunna lalu menatap Liam dengan perasaan bahagia seperti seorang kakak yang sedang menatap adiknya.
__ADS_1
"Oh ya, aku merasa bingung."
"Bingung kenapa?" tanya Yunna penasaran.
"Jane sangat menginginkan anak laki - laki yang wajahnya sangat mirip denganku."
"Lalu apa masalahnya? jika itu memang anak kandungmu pasti dia sangat mirip denganmu ataupun dengan Jane, dasar aneh."
"Iya sih, tetapi aku takut jika suatu saat nanti dia akan tumbuh menjadi anak pembuat onar sepertiku."
"Itu tergantung didikanmu dan juga Jane, jika kalian berdua berhasil mendidiknya dengan sangat baik pasti dia akan menjadi anak yang baik."
"Apakah aku bisa menjadi daddy yang baik?"
"Tentu saja bisa, percayalah!!" ucap Yunna sembari meminum es teh miliknya.
"Baiklah."
"Semangat Liam, aku juga tidak sabar untuk melihat keponakanku."
"Hahaha terima kasih."
"Iya."
5 menit kemudian mereka berdua lalu kembali ke kantor karena ada beberapa dokumen yang harus diperiksa serta ditandatangani oleh Liam. Yunna lalu memberikan semua berkas dokumen tersebut kepada Liam di ruangannya agar Liam segera memgerjakannya.
"Hai putraku Liam, bagaimana kabarmu?" tanya Mr Robinson saat memasuki ruangan Liam.
"Tumben berkata seperti itu, ada apa dad?"
"Tidak ada, aku hanya ingin bertemu dengan penghasil uangku ehem maksudku putraku."
"Dasar pak tua."
"Eh btw terima kasih untuk oleh - olehnya ya, daddy sangat menyukainya."
"Iya," ucap Liam dingin.
"Oh ya, besok kakakmu akan ikut bekerja disini."
"Untuk menggantikan posisiku?"
"Tentu saja tidak, mana mungkin aku menggantikan posisimu sedangkan kinerjamu sangat bagus dan kompeten."
"Oh."
"Daddy sudah menawarkan posisi manager kepadanya, bagaimana menurutmu?"
"Terserah daddy saja."
__ADS_1
"Hmm baiklah."