
Pesta masih berlanjut dan Jane masih berbincang dengan teman - teman yang menurutnya sangat lucu serta memiliki selera humor yang tidak buruk seperti Liam. Teman - teman dekat Liam mempunyai tingkah yang sangat lucu sehingga Jane lebih sering tertawa kecil melihat tingkah mereka semua, apalagi si Dio dan Chicko yang merupakan duo konyol. Pantas saja Josh yang merupakan kakaknya lebih senang bermain dengan mereka semua sampai tingkah konyolnya menular ke kakaknya itu. Kemudian Jane dipanggil oleh teman - teman dekatnya, dan Jane mencolek - colek perut Liam untuk meminta izin kepada Liam karena ingin menemui teman - temannya. Liam mengangguk dan Jane langsung melepaskan gandengan tangannya lalu dia pergi menghampiri teman - teman dekatnya.
Tidak lama setelah itu ada yang menepuk punggung Liam dan ternyata orang itu adalah Arthur, sepupu Liam yang berasal dari Australia. Arthur orangnya sebelas dua belas dengan Liam, yaitu sama - sama cuek dan dingin namun lebih parah Arthur karena dia sering berkata kasar kepada orang lain. Maksud berkata kasar bukan hanya berkata dengan bahasa kotor namun lebih tepatnya dia orang yang selalu berkata spontan tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang tersebut. Pria bernama lengkap Dionisius Arthur Wilson itu lebih mementingkan pekerjaannya daripada menjalin hubungan dengan seseorang. Arthur yang membawa dua gelas wine itu kemudian memberikan satu gelas wine kepada Liam sembari mengucapkan selamat atas pertunangannya dan mengurungkan niatnya untuk melajang seumur hidupnya.
"Congratulation on your engagement," ucap Arthur sembari mengangkat gelas wine miliknya.
"Thank you, and how about you?"
"I don't know."
"How about Jenia? bukankah kamu dijodohkan dengannya dan kamu sudah setuju dengan perjodohan itu?"
"Iya benar, tetapi aku masih bingung."
Liam menepuk bahu Arthur "bingung kenapa? bukankah Jenia itu wanita yang sexy dan cantik seperti wanita yang sedang berbincang dengan teman - temannya," ucap Liam menunjuk Jane.
Arthur kemudian meminum wine miliknya "selalu saja kamu memikirkan wanita yang mempunyai paras sexy dan menggoda."
Liam tertawa "hahaha aku tidak selalu memikirkan tentang hal itu."
Arthur merangkul Liam dan menepuk dadanya "jika kamu menikahinya hanya karena dia sexy lebih baik batalkan saja pertunangan ini, karena pemikiran seperti itu hanya sesaat saja dan jika kamu bertemu dengan wanita yang lebih sexy dari istrimu maka kamu bisa saja langsung meninggalkan istrimu."
"Tumben sekali pemikiranmu sangat lurus seperti seseorang yang sudah memiliki pengalaman dalam dunia pernikahan selama bertahun - tahun."
"Hei walaupun aku memutuskan untuk melajang seumur hidupku tetapi aku juga pernah menjalin hubungan dan berencana untuk menuju ke tahap yang lebih serius."
"Oh benarkah?"
"Iya. Kalau kamu masih berfikir seperti itu lebih baik batalkan pertunangan ini dan pergilah mencari wanita sewaan untuk menjalani cinta satu malam, lagipula uangmu juga banyak dan mampu untuk menyewa wanita sexy."
"Kenapa kamu tiba - tiba peduli seperti ini?" tanya Liam merasa terheran - heran dengan ucapan Arthur.
"Karena aku tidak mau kamu menyakiti wanita sebaik Jane, itu saja."
"Wah ternyata hatimu masih berfungsi juga, apa itu karena Jenia yang sudah menghidupkan kembali hatimu yang keras seperti batu?"
"Tidak!! aku hanya sedang peduli saja."
"Awas lho nanti kalau kamu sudah bucin dengannya bisa - bisa akal sehatmu sudah tidak akan terpakai lagi alias hilang."
__ADS_1
"Sepertimu bukan?"
"Aku tidak bucin kok hanya mencintai sewajarnya saja," ucap Liam menyangkal dugaan Arthur.
Kemudian ada seseorang yang menghampiri Arthur dan menggandeng lengannya "kamu sedang membicarakan apa sih dengan sepupumu? kok sepertinya terlihat sangat seru sekali."
Arthur lalu melepaskan tangan wanita itu secara paksa "lepaskan! jangan menggandeng tanganku seperti ini di depan umum, membuat malu saja!"
Ekspresi wanita tersebut seketika langsung berubah setelah Arthur melepaskan tangannya "maaf."
Liam kemudian menghela nafasnya panjang "Arthur, jangan seperti itu dengannya."
"Bukan urusanmu!"
"Kamu itu keterlaluan, dengan berbicara seperti itu dihadapan orang banyak sama saja kamu mempermalukannya."
"Aku tidak peduli."
"Maaf mengganggu lebih baik aku pergi saja," ucap Jenia sembari menahan tangisnya dan kemudian pergi.
Melihat seorang wanita sedang menangis kemudian Josh menghampiri Jenia yang sedang menangis di pojokan "hei kenapa menangis?" tanya Josh sembari memberikan sapu tangannya.
Jenia kemudian mengusap air matanya dengan sapu tangan Josh "terima kasih."
"Lihatlah! sepertinya calon kakak iparku mulai menyukai Jenia," ucap Liam sembari menunjuk ke arah pojok.
Arthur kemudian melihat ke arah yang ditunjuk oleh Liam "bukan urusanku."
"Apa kamu tidak merasa cemburu?"
"Tidak."
"Baguslah, jadi Josh bisa mendekati Jenia dengan mudah."
"Terserah."
Liam kemudian mengirim pesan agar Josh membantunya dan Josh langsung merangkul Jenia dengan sangat akrab sembari berbincang. Josh juga memperkenalkan Jenia kepada kedua orang tuanya. Melihat hal tersebut Liam kembali berkata "sepertinya Josh akan langsung bertunangan menyusul adiknya apalagi mereka berdua juga sangat cocok, terlihat lebih bahagia daripada saat bersamamu apalagi mereka berdua sama - sama orang Korea."
Sepertinya Arthur mulai termakan ucapan Liam karena dia langsung menghampiri Josh dan langsung menarik tangan Jenia "sorry, dia calon tunanganku."
__ADS_1
"Oh sorry dude, aku fikir dia belum mempunyai kekasih karena aku menemukan dia menangis di pojokan."
"Kumohon jangan membuat keributan di acara penting sepupumu," ucap Jenia menenangkan Arthur.
"Ayo ikut denganku! aku juga bisa membahagiakan kamu lebih dari dia."
Liam tertawa melihat drama sepupunya dengan calon kakak iparnya itu "lumayan dapat asupan drama gratis," ucap Liam sembari meminum wine miliknya.
Jane menepuk pundak Liam "kamu kenapa sih tertawa seperti orang gila?"
"Aku baru saja melihat sebuah drama yang sangat bagus."
"Drama apa?"
"Drama antara Arthur dengan oppa mu Josh."
"Maksudnya?"
Liam kemudian menggenggam kedua tangan Jane dan berkata "ayo ikut denganku, karena aku juga bisa membahagiakan kamu lebih dari dia."
"Bukankah kamu juga sudah bisa membahagiakan aku?"
Liam merangkul pinggul Jane "itulah drama yang aku maksud."
"Oh aku kira apaan."
"Ayo pulang! aku sudah mengantuk sayang, apalagi besok kita juga harus bangun pagi untuk mengurus pernikahan kita."
"Tetapi ini belum selesai."
"Ssttt, kita menyelinap saja dan kembali ke kamarku."
Jane tersenyum "baiklah"
Sesampainya di kamar hotel Liam, mereka berdua langsung merebahkan tubuhnya di ranjang karena merasa sangat lelah dengan acara tersebut. Jane kemudian mengganti bajunya, begitupun juga dengan Liam.
"Menyenangkan sekali bisa rebahan."
Jane merebahkan tubuhnya di samping Liam "kamu benar sayang."
__ADS_1
Liam memeluk Jane dan mencium kening Jane "kamu sangat cantik sekali."
"Terima kasih."