Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #272


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Liam kemudian menidurkan Jane di atas ranjang. Setelah itu dia melepas dasi serta sepatunya terlebih dahulu sebelum dia mandi, dan begitu di dalam kamar mandi dia langsung menyalakan kran air. 10 menit kemudian Liam yang telah selesai mandi lalu menghampiri Jane di atas ranjangnya. Rambutnya yang masih setengah basah itu dia gosokkan ke leher Jane sembari sesekali menciumi lehernya. Awalnya mata Jane sudah memerah karena mengantuk, akan tetapi setelah Liam melakukan hal tersebut kepadanya justru rasa kantuk Jane menjadi hilang dan dia tertawa dengan sangat keras.


Tidak hanya itu saja, Liam juga menggelitiki perut Jane hingga membuatnya semakin tertawa dengan keras. Leher Jane menjadi basah karena terkena air yang menetes dari rambut Liam, dan tiba - tiba saja Jane mencari alat pencukur kumis di dalam laci mejanya. Jane merasa sudah muak melihat kumis Liam yang sudah tumbuh panjang, dan setelah ini tidak akan ada sesuatu yang membuat Jane merasa geli lagi. Jane lalu mengoleskan cream pencukur di sekitar mulut Liam dan menyalakan alat pencukur kumis. Seketika hal itu membuat Liam terdiam dan berhenti tertawa hingga membuat suasana menjadi hening.


Ngrung! Ngrung! suara alat pencukur itu memecah keheningan di malam itu.


Jane mencukur kumis Liam secara perlahan hingga beberapa helai rambut kumisnya berjatuhan di sebuah kain yang telah Jane siapkan untuk menadahi rambut kumisnya. Sedari tadi Liam memperhatikan Jane yang sangat telaten mencukur kumisnya walaupun sesekali Liam merasa canggung saat secara tidak sengaja tatapan matanya saling bertemu satu sama lain. Raut wajah Liam terlihat sangat memelas dikala Jane mencukur kumis serta jenggot kesayangannya sampai habis tidak tersisa sedikitpun.


"Huh aku jadi menyesal karena telah menggendongmu ke kamar dan harusnya aku biarkan saja kamu tertidur di sofa ruang tengah jika seperti ini akhirnya," ucap Liam merasa sangat kesal.


"Memangnya kamu tega?" tanya Jane menantang Liam.


"Tentu saja, bahkan aku akan menguncimu di luar rumah agar kamu tidur kedinginan di lantai teras."


"Aku tidak akan kedinginan saat kamu mengunciku di luar rumah."


"Kenapa begitu?"


"Aku pasti akan memilih untuk menginap di rumah temanku daripada memohon - mohon untuk dibukakan pintu."


"Teman siapa? pria atau wanita?"


Mendengar pertanyaan dari Liam tersebut justru membuat Jane semakin ingin menjahili Liam sebagai balas dendam karena dia selalu menjahili dirinya.


"Pria, dia teman dekatku yang tinggalnya tidak jauh dari sini."


"Tidak bolehh!!" teriak Liam.


"Memangnya kenapa, bukankah kamu akan mengunciku diluar rumah? atau jangan - jangan kamu merasa cemburu ya?"


"Tidak, aku tidak merasa cemburu sama sekali."


"Lalu kenapa kamu melarangku untuk menginap dirumah temanku?"


"Karena temanmu itu seorang pria, dan aku hanya tidak mau jika kamu kena grebek warga saat menginap disana."


"Kalau aku sampai kena grebek warga, pasti kamu satu - satunya seseorang yang berada di balik itu semua."

__ADS_1


"Eh kenapa aku?"


"Karena bisa dipastikan jika kamu yang melaporkannya kepada warga setempat."


"Benar, lagipula seru saja sih melihat kamu di grebek warga dan aku yang akan ada di sana untuk menontonmu sembari memakan popcorn."


"Oh begitu rupanya? baiklah aku akan pergi."


"Silahkan saja pergi," ucap Liam sembari membuang muka.


Jane lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu namun saat dia hendak membuka pintu tiba - tiba saja pintunya dikunci, padahal sebelumnya dia belum mengunci pintu kamarnya. Ternyata diam - diam Liam mengunci pintu kamar dengan menggunakan sebuah remote yang dia letakkan di atas meja samping ranjangnya. Jane lalu kembali menghampiri Liam yang sedang memainkan handphone dengan wajahnya yang masih dipenuhi dengan cream pencukur.


"Cepat buka, katanya ingin aku pergi namun kenapa kamu malah mengunci pintunya?"


"Selesaikan dulu tugasmu mencukur kumisku, baru aku membukanya."


"Iya." Jane lalu menyelesaikannya dan membilas wajah Liam dengan kain yang sudah direndam dengan air hangat.


"Nah begitu dong, jangan setengah - setengah!"


"Iya, eh ngomong - ngomong katanya dia ingin membeli tanah kosong yang berada di desa ini."


"Teman priaku itu."


"Oh begitu, besok aku yang akan terlebih dulu membeli tanah itu!!"


"Kalau begitu aku akan memberitahunya jika lebih baik membeli di sebelah lapangan bola voli saja, karena kamu akan membelinya."


"Tanah itu juga akan aku beli!!"


"Oh nanti aku...." Belum selesai berbicara, Liam langsung memotong ucapan Jane.


"Aku akan membeli semua tanah di desa ini dan jika perlu aku akan membeli semua tanah di bumi ini!!"


"Kamu ini kenapa sih aneh sekali, bilang saja kalau kamu cemburu."


"Sudah kubilang berapa kali kalau aku ini tidak cemburu!!"

__ADS_1


"Ya sudah, buka saja pintunya."


"Okay."


Liam lalu menekan tombol di remote tersebut, dan setelah pintunya terbuka Jane langsung pergi meninggalkan Liam di kamar sendirian. Namun Jane tidak benar - benar pergi ke rumah temannya itu dan dia hanya ingin menjahili suaminya saja. Setelah itu Jane pergi ke rooftop rumahnya dan merenung disana. Disisi lain Liam yang hendak tidur tiba - tiba saja dirinya mendadak tidak bisa tidur, padahal saat masih di kantor dia ingin cepat pulang agar bisa segera tidur. Liam kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk mencari Jane sembari menggerutu. Liam mencari di sekitar rumahnya namun Jane tidak kunjung ditemukan. Lalu setelah itu Liam kembali ke kamar untuk tidur, dan kenapa tiba - tiba saja badannya merasa tidak enak seperti ingin meriang. Keesokan harinya Jane yang keluar dari kamar sebelah langsung pergi ke kamar utama membangunkan suaminya untuk pergi bekerja.


"Hubby bangun, sudah pagi."


"Nggg."


"Kamu sakit?" tanya Jane saat memengang kepala Liam.


Uhuk!! Uhuk!! Liam batuk.


"Aku tidak sakit," ucap Liam berbohong."


"Huu baru begitu saja langsung sakit."


"Aku sehat kok, dan aku akan bersiap - siap untuk pergi bekerja."


"Hari ini jangan pergi bekerja dulu, kamu sakit kok ingin pergi bekerja."


"Bodo amat mau aku sakit kek atau mau sehat kek, aku tetap akan pergi bekerja."


"Ya sudah terserah, yang penting aku sudah melarangmu untuk pergi."


"Cih."


Liam yang bangkit dari tidurnya tiba - tiba saja kepalanya terasa sangat pusing serta rasanya semua berputar - putar. Hal itu membuat Liam hampir terjatuh, dan untungnya Jane dengan cepat memegangi tubuh Liam.


"Kan apa kubilang? lebih baik istirahat saja dirumah, kamu ini mungkin sedang kelelahan karena semalam habis bekerja lembur."


"Cerewet."


"Huh dasar keras kepala," ucap Jane melepaskan Liam.


Seketika Liam langsung terjatuh ke lantai, dan karena Jane merasa tidak tega akhirnya Jane membawa Liam naik ke atas ranjangnya kembali.

__ADS_1


"Sudah istirahat saja dirumah, aku akan menghubungi daddy untuk memberitahunya jika kamu tidak masuk kerja karena sakit."


"Iya," ucap Liam sembari menarik selimutnya.


__ADS_2