Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #114


__ADS_3

Setelah itu Jane langsung pergi menuju kamarnya untuk mandi, sedangkan Liam merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruangan tengah sembari menonton televisi. Jane lalu membuka keran shower dan membiarkan air itu mengalir membahasahi seluruh bagian tubuhnya secara perlahan. Begitu selesai mandi dan berganti pakaian Jane lalu pergi ke dapur untuk memasak makan siang. Saat mewati ruang tengah Jane melihat jika Liam sedang tertidur pulas dengan televisi yang masih menyala menayangkan film kartun kesukaannya. Melihat Liam yang sedang tertidur pulas rasanya Jane gemas sekali ingin menjahili Liam sesekali saat dia sedang tertidur sebagai pembalasan dendam karena dirinya sering dijahili oleh Liam. Jane lalu melangkahkan kakinya menghampiri Liam yang sedang tertidur di sofa dan kemudian dia berdiri tepat di samping Liam. Dengan senyuman licik Jane kemudian melancarkan aksinya menjahili Liam mulai dari menekan - nekan hidung Liam yang mancung, lalu dilanjutkan dengan menekan - nekan perut Liam yang six pack dan memainkannya berkali - kali seperti sedang memainkan tuts piano. Setelah puas memainkan perut Liam kemudian Jane menguncir rambut Liam yang sudah mulai panjang.


Rambut Liam mudah sekali panjang dan sangat tebal sehingga jika dihitung - hitung mungkin 3 bulan atau 4 bulan dia sudah mulai pergi ke salon kembali untuk memotongnya agar kelihatan rapi terutama kumisnya yang setiap 2 atau 3 minggu juga sudah harus dicukur kembali agar tampilannya lebih rapi. Walaupun Jane memainkan rambutnya namun Liam tidak merasa terganggu bahkan tidurnya semakin pulas hingga kembali mendengkur. Setelah puas Jane kemudian pergi ke dapur untuk memasak makan siang. Sesampainya di dapur Jane langsung meraih celemek dan memakainya agar bajunya tidak kotor terkena cipratan minyak atau bahan masakan lainnya. Begitu selesai memasak Jane kemudian menyajikan hasil masakannya diatas meja, mulai dari sayur, lauk, nasi dan buah - buahan segar yang belum lama dia beli di supermarket. Setelah itu Jane melepas celemek yang dia pakai tadi dan kemudian menghampiri Liam kembali di ruang tengah untuk membangunkannya. Jane lalu menepuk pelan pergelangan tangan Liam sembari memanggil namanya berkali - kali. Mendengar panggilan dari Jane kemudian Liam membuka kedua matanya secara perlahan, namun dia langsung mengalihkan pandangannya karena belahan dada Jane sedikit terlihat.


"Maaf sebelumnya, belahan dada kamu sedikit terlihat."


Mendengar hal tersebut Jane yang tadinya membungkuk lalu dengan cepat menegakkan tubuhnya dan menutupnya menggunakan sebelah tangannya "oh iya."


"Kenapa jawabanmu hanya begitu?"


"Begitu kenapa?"


"Hanya biasa saja."


"Ya memang biasa saja kok, lagipula aku juga terkadang pemotretan hanya menggunakan bikini saja saat sedang mempromosikan produk underwear."


Liam hanya mengangguk sembari menunjukkan ekspresi yang tidak menyenangkan "oh seperti itu rupanya, baiklah."


"Ternyata kamu ini terlihat seperti tidak biasa dengan wanita yang seperti itu."


"Maksud kamu?" tanya Liam yang sedikit tidak memahami ucapan Jane.


"Bukankah kamu sering mengencani para wanita model atau pemain film dengan gaya busana yang tidak jauh berbeda denganku karena kamu memiliki banyak uang?"


"Maaf sebelumnya, kamu mengira jika aku ini pria playboy yang suka bergonta-ganti pasangan, begitu?"


Jane mengangguk sembari menatap sinis wajah Liam "ya begitulah kira - kira."


"Sayangnya aku bukan pria yang seperti itu, aku bukan pria playboy atau pria berhidung belang seperti yang kamu duga."


"Bukankah kamu memiliki banyak uang sehingga bisa memikat banyak wanita dengan uangmu itu?"


"Aku tidak pernah menggunakan uangku untuk melakukan hal yang seperti kamu fikirkan itu, jika aku memberi seseorang barang mewah sebagai hadiah itu berarti aku memang memberikannya dengan niat yang tulus dari hatiku."


"Lalu bagaimana dengan Nat?"


"Dia itu hanya sahabatku."


"Bohong! kalian berdua pasti sudah berhubungan lebih dari seorang sahabat bukan?"

__ADS_1


"Tidak Jane, aku tidak pernah melakukan hubungan apapun dengannya kecuali sebagai seorang sahabat."


"Umur kamu sekarang sudah menginjak 25 tahun, lalu siapa yang memberikan kamu ciuman pertama?"


"Mommy, dia selalu mencium pipiku sebelum aku tidur."


"Wanita lain?"


"Rosie."


"Bagaimana dengan Nat?" tanya Jane yang sudah mulai emosi.


"Hanya mommy, Rosie, dan yang terakhir kamu."


Jane terkejut mendengar pengakuan dari Liam "apa? aku?"


Liam mengangguk "iya, wanita pertama yang menciumku selain anggota keluargaku itu kamu."


"Aku fikir kamu sudah sedikit mengerti tentang hal begitu dan sedikit lihai karena kamu sering bergonta-ganti pasangan."


Liam menggelengkan kepalanya "aku selama ini tidak terlalu akrab kepada wanita lain bahkan sangat menjaga jarak dengan wanita lain setelah kejadian tidak mengenakkan waktu itu, tetapi saat aku bertemu denganmu dan kamu menciumku waktu itu aku langsung merasa jatuh cinta kepadamu."


"Aku mengetahuinya dari film yang aku tonton."


"Memangnya kamu menonton film apa?"


"50 bayangan abu-abu."


Jane langsung menjewer telinga Liam "kamu jangan menonton film seperti itu lagi, paham?"


"Aduh sakit, tetapi aku sudah menonton semua serinya termasuk judul film yang sejenisnya."


"Pokoknya jangan menonton film seperti itu lagi!"


"Iya."


Karena tidak ingin berdebat lagi dengan Liam, Jane kemudian menarik tangan Liam dan mengajaknya ke ruang makan untuk menikmati hidangan makan siang yang telah dimasak tadi olehnya. Saat makan siang Liam hanya terdiam menikmati hidangan makan siangnya, begitupun juga dengan Jane yang hanya sibuk makan siang sembari memainkan handphone miliknya untuk menutupi rasa canggungnya di depan Liam karena kejadian tadi. Liam kemudian membawa peralatan makan miliknya menuju wastafle cuci piring untuk mencucinya sendiri, dan selesai mencucinya dia langsung pergi ke kamar tanpa sepatah kata apapun. Beberapa menit kemudian saat Jane sedang mencuci peralatan makan terlihat jika Liam sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian yang lumayan rapi.


Jane lalu buru - buru menghampiri Liam dan menarik tangannya "mau pergi kemana?"

__ADS_1


"Ke toko buku," ucapnya dengan nada dingin.


"Bolehkah aku ikut denganmu?"


Liam mengangguk, dan Jane langsung pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu mereka berdua pergi ke toko buku bersama. Sesampainya di toko buku Jane terus menggandeng tangan Liam sembari memilih buku yang ingin dia beli.


"Aku ingin pergi ke arah sana," ucap Liam sembari menunjuk ke arah rak buku komik.


Jane mengangguk "iya."


Saat sedang memilih buku komik yang ingin di beli tiba - tiba ada seorang wanita yang sedang kesusahan menjangkau buku di rak atas, dan kemudian Liam membantu mengambilkannya "ini buku yang ingin kamu ambil bukan?"


Wanita itu mengangguk "terima kasih."


"Sama - sama."


"Kamu sedang mencari buku komik juga?" tanya wanita itu.


"Iya."


Jane yang melihat dari kejauhan jika Liam sedang asyik berbincang dengan seorang wanita lalu dia berjalan mendekati ke arah Liam dan langsung menggandeng tangannya "sudah selesai memilih buku komiknya?"


Perhatian Liam langsung teralihkan oleh pertanyaan Jane "oh iya sudah," ucap Liam sembari menatap Jane.


Jane langsung menarik Liam untuk menjauhi wanita itu "kamu ini, dasar buaya."


"Aku bukan buaya! kalau kamu tidak ingin menjadi istriku setidaknya jangan membuatku tidak laku dong."


"Aku tidak suka jika kamu dekat dengan wanita lain, aku hanya ingin kamu untukku saja."


"Dasar plin plan."


"Kalau begitu mari kita bertunangan setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di Korea, bagaimana?"


"Baiklah."


"Datanglah ke Korea di hari ulang tahunku, aku akan mengaturnya."


"Janji?"

__ADS_1


"Janji," ucap Jane sembari memeluk Liam dari samping.


__ADS_2