
Setelah itu mereka berdua kembali berjalan - jalan melewati beberapa stan pedagang tersebut karena hanya ada satu jalur di pintu keluar, yaitu harus melewati stan pedagang yang panjang mengekor seperti di pasar. Para pedagang tersebut selain menjual makanan khas dan bahan makanan (tomat dan kentang), mereka juga menjual aneka tumbuhan terutama bunga serta beberapa souvenir seperti kupluk (topi beannie) maupun pakaian. Mereka juga menjual sebuah tongkat yang digunakan untuk menopang tubuh mereka saat sedang berjalan yang terbuat dari semacam bambu kecil, layakanya tongkat pendaki. Liam kemudian membeli jasuke (jagung rebus, susu, keju yang dicampur menjadi satu) karena dirinya merasa sedikit lapar. Namun setelah membelinya Liam tidak bisa langsung memakannya karena jasuke tersebut sangat panas hingga uap nya terlihat sangat jelas. Jane yang merasa penasaran dengan makanan yang dibeli oleh Liam, dia lalu mencicipinya dan langsung ingin membelinya juga karena rasanya sangat lezat. Satu cup jasuke harganya sekitar 10 ribu, yah menurut Liam itu termasuk murah sih hahaha.
Setelah menghabiskan jasuke tersebut sembari berkeliling menuju ke jalur pintu keluar, mereka berdua lalu pergi ke sebuah tempat yang bernama Goa Semar yang letaknya tidak jauh dari kawah tersebut. Kawasan wisata tersebut seperti hutan karena banyaknya pohon - pohon yang tinggi serta di tengah - tengahnya terdapat sebuah danau yang cukup luas. Setelah membeli tiket masuk mereka berdua lalu berjalan - jalan di sekitar area tersebut untuk bercengkrama bersama sembari menghirup udara segar. Namun karena tiba - tiba hujan gerimis, Jane langsung mengambil sebuah payung lipat yang sebelumnya dia masukkan ke dalam tas untuk berjaga - jaga jika terjadi hujan saat berada di dalam tempat wisata. Di dalam Goa Semar tersebut lumayan sepi sehingga Jane merasa sedikit takut karena tempatnya yang terlihat angker, apalagi saat melewati goa tersebut tercium bau melati yang sangat menyengat. Walaupun begitu, Jane mengakui bahwa tempat tersebut sangat indah dan sejuk karena banyak sekali pohon rindang yang di tanam di tempat tersebut. Tadi Liam juga sempat menyentuh air danau di kawasan itu dan katanya air di danau itu terasa sangat dingin sekali.
"Kamu merasa senang tidak berjalan - jalan ke Dieng?" tanya Liam sembari mengusap rambut Jane.
Jane mengangguk sembari tersenyum.
"Aku merasa sangat senang sekali hubby, apalagi saat di dalam perjalanan menuju tempat ini aku telah disuguhi pemandangan pegunungan yang sangat indah."
"Nah kan aku sudah bilang jika tempat wisata di sini juga tidak kalah bagusnya dengan yang diluar negeri."
"Kamu benar hubby."
"Jadi bagaimana kalau selain kita liburan ke luar negeri, kita juga liburan di dalam negeri? ya aku menginginkan jika kita memiliki banyak waktu untuk berjalan - jalan melihat keindahan alam di berbagai daerah."
"Aku setuju hubby, asalkan denganmu hehe."
"Memangnya dengan siapa kalau bukan denganku? dengan selingkuhanmu?" tanya Liam bercanda.
"Aku tidak mempunyai selingkuhan maupun pria idaman lain, karena di hatiku tetap ada kamu."
Liam langsung mencubit hidung Jane.
"Dih sekarang sudah mulai bisa ngegombal ya ternyata?"
"Aku belajar darimu yang merupakan raja gombal hahaha."
"Hahaha aku bukan raja gombal sayang."
"Kamu bohong, buktinya kamu sering merayuku dengan kata - kata manis."
"Itu berasa dari lubuk hatiku yang paling dalam sedalam palung mariana."
Jane langsung memukul lengan Liam secara perlahan.
"Tuh kan, mulai lagi."
"Hahaha habisnya ekspresi kamu sangat lucu sih."
"Mau foto denganmu."
__ADS_1
"Dimana?"
"Di sana saja bagaimana? sepertinya sangat bagus pemandangannya."
"Boleh, ayo."
"Tapi aku mau pipis dulu."
"Mau pipis lagi?"
Jane mengangguk.
"Heem, disini cuacanya sedikit dingin jadi rasanya aku ingin pipis terus."
"Kamu mungkin kebanyakan minum juga, makanya pipis terus."
"Bisa jadi."
"Ya sudah ayo kita cari toilet!"
Liam langsung menggandeng tangan Jane dan mencari toilet yang masih berada di dalam kawasan wisata tersebut, karena jika mereka keluar dari kawasan tersebut maka harus membayar tiket masuk kembali saat ingin kembali ke dalam apalagi mereka masih belum puas berkeliling di sana. Seperti biasa Liam selalu menunggu Jane tepat di depan pintu kamar mandi saat Jane sedang menuntaskan hajatnya di dalam kamar mandi. Tidak lama kemudian Jane keluar dari kamar mandi, dan Liam langsung memperhatikan Jane karena takutnya ada sesuatu hal yang dibutuhkan oleh Jane ataupun saat dia merasa tidak nyaman. Karena sepertinya terlihat baik - baik saja, Liam langsung menggandeng tangan Jane kembali dan menuju ke sebuah tempat untuk mengambil beberapa foto. Jane merasa terkejut karena tiba - tiba saja Liam berpose mencium rambut Jane dari samping sembari memejamkan matanya dan terlihat sangat mesra sekali, padahal Liam jarang sekali memperlihatkan kemesraan di tempat umum.
"Boleh, memangnya kamu sangat menyukai foto ini ya?"
"Iya, karena hubby sangat lucu."
Liam tertawa.
"Kamu sudah mulai lapar belum?"
"Belum terlalu, memangnya kenapa hubby?"
"Di sana ada stan makanan kalau kamu ingin jajan untuk mengganjal perutmu terlebih dahulu."
"Ya sudah ayo, aku ingin jajan lagi."
"Okay."
"Hubby, sampai kapan ya kita bisa jalan - jalan berdua mengunjungi berbagai tempat wisata seperti ini?"
"Sampai kita berdua menjadi kakek dan nenek, bahkan kalau perlu walaupun umur kita sudah mencapai seratus tahun kalau kamu menginginkannya tidak masalah dan aku akan memakai tongkatku untuk berjalan."
__ADS_1
"Memangnya umur kita bisa mencapai seratus tahun?"
"Siapa tau begitu, umur tidak ada yang tahu. Bisa jadi hanya sampai besok dan bisa jadi juga umur kita bisa mencapai seratus tahun karena umur itu tidak ada yang tahu bukan?"
"Iya sih, tapi jangan besok karena aku masih ingin bermain - main denganmu serta berkeliling dunia seperti janjimu padaku."
"Benar juga, lagipula aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya ada sesuatu pergerakan pertandingan sepak bola di dalam perutmu saat aku sentuh."
"Maksudnya?" tanya Jane bingung.
"Calon anak kita saat sedang menendang - nendang di dalam perutmu."
"Oh begitu."
Liam lalu mengusap - ngusap perut Jane.
"Aku menjadi penasaran apakah calon anakku itu laki - laki atau perempuan."
"Iya aku juga hubby."
Karena hari mulai menjelang sore, maka dari itu setelah jajan serta makan siang mereka berdua langsung pergi ke sebuah tempat wisata yang bernama Telaga Cebong. Rencananya Liam mengajak Jane kesana untuk menginap disana alias camping di sekitar telaga tersebut, karena dari dulu Liam ingin merasakan bagaimana rasanya jika pergi bermalam di dalam sebuah tenda bersama seseorang yang dicintainya. Sesampainya di sana Liam langsung pergi menyewa tenda dan mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda.
"Kita nanti tidurnya di tenda ini hubby?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak apa - apa hubby, hanya saja aku sedikit merasa canggung saja."
"Canggung kenapa?"
"Rasanya jika tidur di tenda nanti kita berdua akan semakin dekat dan terasa lebih intim saja, berbeda dengan di kamar."
Liam tertawa.
"Dasar fikiran kamu itu ternyata lumayan mengejutkan ya?"
"Masalahnya aku belum pernah tidur di tenda apalagi bersama seorang pria."
"Tapi pria yang akan menjadi teman tidurmu adalah suamimu sendiri."
"Iya sih."
__ADS_1