Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #316


__ADS_3

Jane bercerita kepada grandpa serta grandma jika saat dia menunjukkan foto hasil USG anaknya kepada Mrs Kim dan Mrs Robinson, mereka berdua langsung mengomentari foto tersebut jika wajahnya terlihat mirip dengan Liam walaupun belum bisa dipastikan yang sebenarnya bagaimana. Mendengar hal tersebut grandpa dan juga grandma langsung tertawa mendengar cerita dari Jane tersebut. Mereka berdua langsung ingin melihat foto hasil USG itu karena merasa penasaran, dan setelah itu Liam langsung mengambilnya di laci meja milik Jane. Liam kemudian menunjukkannya kepada grandpa dan juga grandma. Saat mereka berdua mengamati foto tersebut, mereka berdua juga langsung mengatakan hal yang sama.


Grandma lalu bertanya kepada Jane mengenai jenis kelamin calon anaknya tersebut namun lagi - lagi Jane enggan memberitahu grandma karena dia masih ingin menyimpannya sendiri. Liam lalu mencibir perbuatan Jane tersebut dan mengatakan jika Jane sangat pelit sekali, akan tetapi grandma justru malah mendukung perbuatan Jane tersebut karena mengetahui jika Jane sebenarnya memiliki sebuah rencana kejutan untuk Liam sehingga dia hanya tersenyum saja. 2 jam kemudian sepulangnya grandpa serta grandma, Liam lalu memasak makan siang untuk Jane dan tiba - tiba saja Jane ingin pergi ke rumah Ricko untuk melihat anaknya.


Liam langsung berkata jika dia masih malas untuk pergi kemanapun, dan jika ingin pergi kesana maka harus menunggu nanti sore sampai dirinya selesai melakukan urusannya yaitu tidur hahaha. Setiap hari libur memang rutinitasnya seperti itu, kalau tidak tidur ya main game selalu saja seperti itu sampai sekarang sudah mau punya anak juga masih seperti itu kelakuannya. Menurut Liam memang hari libur itu harusnya untuk beristirahat serta mengisi energi, dan bukannya melakukan kegiatan yang menguras energi. Namun jika berkaitan dengan ngegym masih bisa dibicarakan baik - baik haha. Jane kemudian duduk di sofa untuk menonton televisi begitu dia selesai makan siang, sedangkan Liam sedang sibuk mencuci piring.


"Sayang sedang apa?" tanya Liam mendekati Jane.


"Sedang main petak umpet," jawabnya ketus.


"Masa sih? hahaha."


"Sudah tahu sedang menonton televisi, pakai tanya segala sedang apa hhh."


"Santai dong, jangan marah - marah begitu."


"Iya," jawab Jane singkat.


Liam kemudian berbaring di pangkuan Jane.


"Paling enak setelah makan itu tidur siang," ucapnya sembari meregangkan tubuhnya.


"Hhh apa kamu tidak bosan setiap kali sedang libur kerja pasti selalu tidur dan tidur?"


"Tidak, aku suka tidur walaupun sering bermimpi buruk."


"Apa sekarang kamu sudah tidak mengalami mimpi buruk lagi?"


"Aku sudah tidak sering bermimpi buruk lagi semenjak ada kamu, ehem maksudku semenjak kamu tidur bersamaku."


"Kenapa begitu?"


"Entahlah aku juga tidak tahu mengapa bisa seperti itu, tetapi yang pasti sekarang aku sudah tidak mengalami mimpi buruk lagi."


"Syukurlah jika seperti itu."


Liam berfikir sejenak.


"Apa karena kamu sangat galak jadi setan tidak berani menggangguku lagi ya?" tanya Liam sembari melihat ke langit - langit rumahnya.


Seketika Jane langsung menepuk wajah Liam dengan sangat keras.


"Sembarangan kalau berbicara."


Liam yang merasa kesakitan itu lalu berteriak sembari mengusap wajahnya.


"Sakit."


"Ihh kamu nangis ya? hahaha cengeng."

__ADS_1


"Aku tidak menangis!!"


"Hahaha sudah akui saja jika kamu itu pria yang cengeng."


"hufftt iya aku ini memang pria yang cengeng serta perasa, kalau tidak mau terima ya sudah mending aku tidur."


"Ya sudah sana."


"Iya," ucapnya lalu pergi ke kamar.


Liam lalu memilih untuk bermain game begitu sesampainya di kamar, Liam sedang malas sekali meladeni Jane saat dia sedang mengejek dirinya karena jika diladeni pasti akan sampai kemana - mana. Liam tidak mau jika nantinya ada perkataannya yang menyakitkan keluar dari mulutnya apalagi saat Jane sedang mengandung, karena Liam takut jika itu akan membuat Jane sedikit stress serta bisa berpengaruh kepada janinnya. Tiba - tiba saja notif handphonenya muncul yang ternyata dari Yunna membalas pesannya semalam. Seketika Liam membalas jawaban Yunna tersebut serta menanyakan mengenai keberadaannya sekarang. Setelah Yunna membalas jika dia sedang dirumah, Liam langsung berganti pakaian dan pergi ke rumah Yunna dengan menaiki motor sport miliknya.


"Hai Yunna," sapa Liam.


"Tumben kemari, ada apa?"


"Aku kemari hanya ingin main karena merasa bosan dirumah."


"Oh. Mau masuk ke dalam atau diluar saja?"


"Di luar saja, sepertinya lebih enak di teras rumahmu."


"Oh okay. Mau minum apa? atau mau order makanan secara online?"


"Ayo pesan online saja."


"hahaha pasti kamu kan yang membayarnya?"


Liam lalu membuka aplikasi di handphonenya untuk memesan makanan dan minuman secara online, dan sembari menunggu pesanannya datang Liam berbincang dengan Yunna sembari bermain kartu uno. Entah mengapa Yunna tiba - tiba mengajak Liam bermain kartu uno tersebut. Setelah satu babak permainan akhirnya yang ditunggu - tunggu datang juga yaitu, abang gopud yang datang mengantarkan pesanan mereka berdua.


"Ini milikmu," ucap Yunna memberikan pesanannya yang tertukar dengan milik Liam.


"Oh iya salah hehe, makasih."


"Aneh sekali, walaupun kamu sudah mempunyai seorang istri dan bahkan akan menjadi seorang ayah juga mengapa kamu masih saja bermain ke rumahku."


"Aku hanya sedang pusing saja, makanya aku bermain ke rumahmu agar rasa pusingku ini hilang."


"Lalu kemana teman - temanmu?"


"Mereka sedang berkumpul di cafe namun aku hanya sedang tidak ingin berkumpul dengan mereka."


"Kenapa begitu?"


"Tidak tau, mungkin aku hanya sedang ingin bertukar fikiran kepadamu."


"Mengenai apa?"


"Entah," ucap Liam menyedot minumannya.

__ADS_1


"Halah bilang saja kalau kamu belum bisa move on dariku, iyakan?" tanya Yunna dengan tertawa.


"Iya."


"Eh mmm.... Ayo kita kembali bermain kartu uno!"


"Ayo, kamu harus siap - siap kalah dariku hahaha."


"Dih sombong, sombong adalah awal dari kehancuran."


"Bodo amat."


"Sebenarnya kamu ini pasti sedang bertengkar dengan Jane bukan?" tanya Yunna sembari mengocok kartunya.


"Tidak juga, hanya saja aku sedang malas meladeni dia saat sedang seperti itu."


"Memangnya Jane kenapa?"


"Dia hanya sedikit cerewet serta mengejekku, tadi saja wajahku dipukul olehnya huffttt."


"Hahaha yang sabar ya namanya juga sedang mengandung, pasti moodnya sedang naik turun."


"Ya."


"Haiss kenapa respondmu menyebalkan seperti itu?"


"Lalu aku harus merespondmu bagaimana? apakah aku harus mengatakan, wah terima kasih banyak atas infonya kak Yunna. Begitu kah?"


"Ya sudah terserah kamu saja."


"Burger ini sangat lezat."


"Iya benar, ternyata pilihanmu ini memang sangat mantap."


"Apa kubilang? semua pilihanku itu memang yang terbaik."


"Iya deh iya. Bagaimana dengan kandungan istrimu?" tanya Yunna secara tiba - tiba.


"Semuanya baik, anaknya tumbuh dengan sehat walaupun aku tidak tahu apa jenis kelaminnya."


Yunna terkejut.


"Eh bukankah usia kandungan saat 4 bulan itu sudah tahu apa jenis kelaminnya?"


"Iya benar namun karena kemarin aku tidak ikut menemaninya ke dokter jadi aku tidak diberitahu apa jenis kekaminnya."


"Kenapa begitu?"


"Entahlah katanya besok ada suprised."

__ADS_1


"Oh."


__ADS_2