
Liam merasa sangat heran mengapa Jane sangat senang sekali mengenakan pakaian yang sangat sexy serta saat di dalam rumah ataupun kamarnya, dia juga sering sekali mengenakan pakaian bikini. Liam sering sekali memperingatkan Jane bahkan saat mereka berdua masih tinggal bersama di apartement milik Liam, yang pada saat itu mereka berdua tidak memiliki status hubungan apapun dan hanya berstatus sebagai teman. Rasanya ingin sekali Liam membuang semua pakaian sexy milik Jane dan membakarnya, apalagi saat kemarin Mommy nya melihat Jane hanya memakai pakaian bikini saja hingga membuat Liam merasa malu. Namun walaupun begitu Jane masih tetaplah istri terbaiknya karena jika mengesampingkan itu semua, Jane telah berhasil menjadi istri yang baik. Dia selalu melayani Liam dengan baik bahkan dia selalu bangun pagi untuk menyiapkan segala kebutuhan Liam sebelum pergi ke kantor seperti memakaikan dasi, menyemir sepatu Liam sampai memakaikan di kakinya, dan membuat sarapan untuknya.
Liam juga selalu memeriksa CCTV rumahnya dan melihat bahwa Jane juga selalu membereskan rumah serta kamar tidur mereka berdua walaupun sudah ada bibi yang bertugas untuk melakukan itu semua. Saat dia pulang dari kantor, dia selalu disambut oleh senyuman manisnya serta secangkir teh hangat untuk melepaskan segala rasa lelahnya setelah seharian bekerja di kantor. Jane juga sangat menyanyangi keluarganya dan sudah menganggap Rosie seperti adik kandungnya sendiri. Jane itu sangat persis seperti mommy nya, hingga Liam berfikir bahwa dia akan sangat menyesal jika tidak menerima perjodohan waktu itu karena bagaimanapun orang tuanya sebenarnya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Saat ini Jane sedang mengoleskan body lotion di tubuhnya sembari bersenandung ria. Berbeda dengan Liam, dia justru memilih untuk membaca - baca kembali berkas dokumen di tablet pintarnya agar sebelum meeting besok pagi dia sudah menguasai isinya hingga diluar kepala. Liam juga berkirim pesan kepada Yunna mengenai pekerjaan dan isi berkas dokumen tersebut jika misalnya ada perubahan yang dikarenakan Liam merasa kurang puas dengan hasilnya.
"Hubby sedang apa?" tanya Jane sembari bersandar di bahu Liam.
"Sedang memeriksa ulang berkas dokumen untuk meeting besok jika ada sesuatu yang kurang pas."
Jane lalu membaca sebagian isi dari dokumen tersebut, dan kemudian dia mengambil tablet pintar dari tangan Liam.
"Sudah bekerjanya, sekarang waktunya untuk beristirahat!"
"Sebentar lagi ya sayang."
Jane menggelengkan kepalanya sembari memanyunkan bibirnya.
"Tidak boleh!! aku maunya sekarang Liam memanjakan aku."
"Eh kok aku tidak boleh bekerja? nanti kalau aku tidak bekerja nanti aku mendapatkan uang darimana untuk kamu shopping?"
"Bukannya tidak boleh bekerja, tetapi sekarang sudah larut malam dan waktunya kamu untuk memanjakan aku."
"Tadi aku sudah memanjakan kamu, bukan?"
"Iya tetapi masih kurang."
Liam kemudian mencium pipi chubby Jane.
"Masih kurang ternyata? ululuh sayangku," ucap Liam sembari menggelitiki perut Jane.
Jane tertawa dengan sangat keras.
"Hubby geli, jangan menggelitiku lagi hubby."
"Mari kita tidur, sudah jam setengah 12 malam."
"Okay hubby, mana ciuman selamat malamku?"
Liam langsung menciumi seluruh wajah Jane.
"Sudah puas sekarang?"
"Sudah."
*Keesokan harinya.*
"Pagi Liam," sapa Yunna yang berjalan di sampingnya.
"Pagi Yunna, sudah sarapan?"
"Kalau misalnya belum, apa kamu akan mengajakku untuk sarapan?" tanya Yunna bercanda.
"Lebih tepatnya aku akan membelikan kamu sarapan sih daripada mengajakmu sarapan diluar, karena aku sudah sarapan dari rumah."
__ADS_1
"Apa istrimu itu selalu membuatkan kamu sarapan?"
"Iya, dia selalu membuatkan aku sarapan."
"Baguslah sekarang sudah ada yang mengurusmu dengan baik, bahkan sekarang penampilanmu sudah sangat rapi sekali."
"Benar, dia sepertinya terlalu sempurna sebagai seorang istri."
"Sepertinya begitu."
"Kamu sih, aku ajak nikah tidak mau."
"Aku tidak ingin menikah denganmu karena aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri."
"Bukankah kamu sudah mempunyai adik laki - laki?"
"Benar."
"Sekarang sekolah dimana adikmu?"
"Dia sekarang sudah kuliah di unniversitas A jurusan photografi."
"Lho adikku Rosie juga kuliah di unniversitas A juga, tetapi jurusan bisnis."
"Oh begitu rupanya."
"Siapa nama adikmu?"
"Oh nanti aku akan menanyakannya kepada Rosie, siapa tau dia mengenalnya."
"Baiklah."
"Jadi kamu juga membiayai kuliah adikmu juga?"
"Iya, sebagai anak pertama aku yang harus menjadi tulang punggung keluargaku karena aku dan mami menginginkan jika Leon dapat kuliah di jurusan yang dia minati, walaupun Leon selalu meminta izin kepadaku agar dia bekerja saja saat dia lulus SMA namun aku tidak mengizinkannya."
Liam lalu memijat kedua bahu Yunna.
"Kamu itu wanita yang sangat hebat, pasti ibumu serta adikmu merasa bangga kepadamu serta punggungmu ini sangatlah kuat seperti beton."
"Terima kasih, dan terima kasih juga karena telah menerimaku untuk bekerja di perusahaan ini."
"Iya karena kamu pantas mendapatkannya, jangan sungkan - sungkan untuk meminta bantuan dariku."
"Iya Liam."
Sesampainya di depan ruangan Liam, mereka berdua lalu berpisah dan kembali ke tempatnya masing - masing. Liam meletakkan tas kerjanya dan menyalakan komputer miliknya, sedangkan Yunna memeriksa jadwal Liam pada hari itu serta menyusun beberapa kumpulan dokumen untuk diberikan oleh Liam. Tidak lama kemudian setelah semuanya beres, Yunna langsung masuk ke dalam ruangan Liam untuk memberikan beberapa file dokumen tadi. Terlihat bahwa Liam sedang bingung mencari sesuatu di atas mejanya, dan dengan sigap Yunna langsung membantu Liam mencari barang yang diinginkan oleh Liam.
"Tolong setelah ini beritahu ke semua OB agar jangan coba - coba untuk membereskan serta merapikan meja kerjaku."
"Baik pak."
"Huh jadi waktuku terbuang sia - sia jika aku terus - menerus mencari dimana letak semua barang yang aku butuhkan."
__ADS_1
"Sabar, nanti saya akan memberitahu OB untuk tidak membereskan meja anda."
"Okay."
"Pagi Liam," sapa Lian memasuki ruangan kerja Liam.
"Pagi, sedang apa kamu disini?"
"Tidak ada, aku hanya ingin menyapamu."
"Oh. Yunna, kenalkan ini kembaranku alias kakaku."
"Lian Gerald," ucapnya menjabat tangan Yunna.
"Yunna, sekretaris pribadi Liam."
"Jadi Yunna, dia sekarang menjabat sebagai manager keuangan di perusahaan ini."
"Iya, mohon bantuannya."
"Nah Lian, jadi jika ada apapun kamu bisa memberitahu Yunna karena dia sekarang menjadi wakilku jika aku tidak ada."
"Benar, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan dari saya."
"Baik."
****************
Beberapa hari kemudian saat hari Sabtu, tiba - tiba saja Liam diberitahu untuk menggantikan Mr Robinson menghadiri meeting di sebuah restaurant. Liam langsung bergegas untuk mandi dan langsung pergi ke sebuah restaurant yang telah disepakati sebelumnya. Sesampainya di restaurant tersebut Liam baru ingat jika dia belum berpamitan dengan Jane karena dia masih tidur, lalu Liam mengirim sebuah pesan kepada Jane untuk memberitahu bahwa dia ada meeting dadakan. Satu setengah jam kemudian Liam langsung pulang ke rumah sembari membawakan makanan untuk Jane agar dia tidak marah.
"Jane aku pulang, ini ada makanan untukmu."
"Hmm," jawab Jane dengan wajah yang cemberut.
"Sudah makan?" tanya Liam sembari mencium bibir Jane.
"Belum."
"Kenapa?"
"Malas."
"Jangan telat makan nanti perutmu sakit sayang, ayo makan dulu."
"Tidak mau!!"
Liam langsung menggendong Jane dan menyiapkan makanan untuknya.
"Bau parfume siapa yang menempel di pakaianmu hubby?"
"Tadi ada klien yang tiba - tiba nyosor memelukku seperti soang."
"Bohong!!"
__ADS_1