Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #381


__ADS_3

Liam tersenyum dan memeluk Jane kembali. Suara rintik - rintik hujan masih terdengar meskipun secara samar - samar. Sepasang suami istri itu masih saja terus bermanja ria sembari sesekali saling melemparkan candaan. Kamar berukuran 3×2 dengan nuasa yang bewarna putih itu menjadi saksi bisu bagaimana mereka berdua saling menyayangi satu sama lainnya secara tulus. Namun terkadang rasa gengsi serta ego masing - masing yang membuat hubungan mereka menjadi renggang.


Lalu dibelainya rambut hitam panjang itu saat dia menceritakan mengenai beberapa hal yang di sukai oleh dirinya dari wanita yang sedang berbaring disampingnya. Feminim, itulah yang menjadi inti dari beberapa hal yang dia sampaikan belum lama ini. Sesekali Liam mengusap punggung Jane serta memijatnya. Suasana di kamar itu terasa lebih hangat saat mereka berdua berada di sana, apalagi Liam telah memasang sprei maupun selimut bulu yang membuat mereka merasakan kehangatan ketika diluar sedang hujan.


Jane kemudian tertidur di pelukan Liam, dan Liam beralih memandangi wajah Jane. Matanya yang seperti mata kucing, hidungnya yang sedikit mancung. Bibirnya yang rasanya seperti strawberry, serta pipinya yang chubby dan putih seperti kue mochi. Liam menyukai semua itu bahkan semua hal tentang Jane, Liam sangat menyukainya. Setiap bangun pagi pasti Liam disinari oleh dua cahaya matahari, yaitu matahari sungguhan dan senyuman Jane yang sangat cerah layaknya sinar matahari.


Liam kemudian menjadi berfikir bahwa dia akan mulai mengurungkan niat buruknya untuk mengakhiri hidupnya, karena dia harus tetap hidup dan menepati janjinya kepada Mr Kim untuk selalu menjaga putrinya yang dititipkan olehnya. Liam kemudian mencium kening Jane dan dia ikut tertidur sebentar. Namun Liam hanya bisa tertidur selama 20 menit saja, dan setelah itu dia kembali terbangun. Saat dia melihat ke arah Jane, ternyata Jane belum bangun dan mungkin dia masih merasa lelah.


"Kamu terlihat sangat menggemaskan sekali saat sedang tidur," gumam Liam sembari tersenyum.


Jane kemudian meregangkan tubuhnya saat masih di pelukan Liam.


"Nggg, hubby."


"Ya sayang?" tanya Liam.


"Aku lelah."


"Sini aku akan memijat tubuhmu."


Liam kembali memijat tubuh Jane yang masih sedikit mengantuk itu.


"Kamu masih sangat harum sekali," ucap Liam mencium leher Jane.


"Hubby juga sama."


"Benarkah?"


"Heem. Hubbya sekarang sudah percaya tidak dengan cinta sejati?" tanya Jane memastikan.


Liam menggeleng.


"Belum, cinta sejati itu tidak ada dan hanyalah sebuah kebohongan belaka."


Jane langsung membalikkan tubuhnya dan duduk menatap Liam.


"Tidak, itu nyata dan bukannya sebuah kebohongan belaka seperti yang kamu katakan itu."


"Kalau begitu jelaskanlah jika itu memang bukan sebuah kebohongan belaka."


"Cinta sejati itu adalah dua orang yang selalu ditakdirkan untuk bersama meskipun sempat terpisah untuk waktu yang lama, seperti kita berdua ini."


"Benarkah begitu?" tanya Liam ragu.


Jane mengangguk.

__ADS_1


"Tentu saja, dan kita berdua adalah contohnya. Dahulu kita sempat terpisah untuk waktu yang lama setelah kamu kecelakaan dan mengalami koma namun tiba - tiba saja kita berdua bersama kembali, lalu setelah itu kita akhirnya bisa menikah."


Liam menggaruk lehernya.


"Sepertinya bukan itu yang dimaksud dengan cinta sejati."


"Benar hubby, itulah cinta sejati."


"Hmm ya sudah iyain sajalah daripada nanti ribet urusannya."


Jane lalu mencubit perut sixpack Liam.


"Ihh hubby menyebalkan sekali, tapi aku masih sayang."


Liam tertawa.


"Hmmm sudah sayang, itunya ditutup memakai selimut."


"Kenapa begitu?" tanya Jane menayunkan bibirnya.


"Tidak apa - apa, takutnya nanti kamu kurang merasa nyaman saat aku melihatnya secara tidak sengaja."


"Kamu terus melihatnya saja tidak apa - apa kok. kan kamu suamiku. Hubby aku ingin digendong olehmu," ucap Jane manja.


"Eh."


"Hubby kamu ini kenapa sangat cuek sekali denganku serta tidak ada romantis - romantisnya," ucap Jane protes.


"Benarkah begitu? sepertinya aku sudah sering memberimu beberapa hadiah kecil serta membantumu mengerjakan pekerjaan rumah tangga."


"Bukan romantis yang itu maksudku."


"Lalu yang mana?" tanya Liam bingung.


"Perlakuan kamu, aku sangat ingin diperlakukan romantis seperti orang lain."


"Eh, ya sudah besok aku akan belajar untuk bersikap romantis seperti orang lain."


"Aku tidak suka denganmu yang tsundere."


Liam kembali tertawa.


"Iya sayang," ucap Liam mencium bibir Jane sekilas.


Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk mandi bersama sembari melanjutkan perbincangan mereka tadi. Beberapa jam kemudian saat ini Liam sedang bermain bersama baby Ace, sedangkan Jane membereskan lemari baju miliknya dan suaminya. Jane memilah beberapa baju yang sekiranya sudah tidak akan dia gunakan lagi ataupum sudah tidak muat di badannya, meskipun menurut penggemarnya Jane hanya memakai bajunya sekali saja. Berbeda dengan Liam yang justru memilih untuk memakai baju yang itu - itu saja karena dia tidak suka jika terlalu banyak baju. Liam malas jika dia harus berfikir mengenai baju yang akan dipakaianya, jadi dia memilih untuk menggunakan baju yang itu - itu saja.

__ADS_1


"Sedang apa sayang?" tanya Liam menepuk bahu Jane.


"Eh, aku sedang membereskan lemari baju kita karena sudah terlihat sangat berantakan."


"Sudah besok saja, tadi katanya kamu merasa lelah."


"Iya hubby, tapi nanti justru akan kepikiran jika tidak segera dibereskan."


"Oh begitu, mau dibantu membereskannya?"


"Tidak perlu hubby, aku ingin kamu mengajak baby Ace bermain saja."


"Oh baiklah."


Liam lalu kembali menghampiri baby Ace dan mengajaknya bermain, dan 3 jam kemudian Liam langsung menidurkan baby Ace di ranjang box miliknya. Setelah itu Liam membersihkan ranjangnya sebelum dia tidur disana, dan tidak lama kemudian Jane menyusul Liam berbaring di atas ranjang. Liam meraih sebuah buku novel di atas mejanya dan membacanya.


"Hubby sedang membaca lagi?"


Liam mengangguk.


"Yupss," ucap Liam dengan matanya yang tertuju ke buku novel itu.


Jane lalu membaca judul buku novel yang sedang dibaca oleh Liam.


"Eh kamu sudah ganti buku lagi?"


"Iya sayang, kemarin sudah aku baca sampai habis."


"Bukankah waktu itu kamu baru membaca beberapa halaman saja? kenapa tiba - tiba sudah selesai kamu baca padahal buku itu lumayan sangat tebal?" tanya Jane merasa heran.


"Aku memang selalu membacanya secara memindai, jadi itu tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya."


"Membaca memindai? apa itu?" tanya Jane bingung.


"Membaca dengan cepat atau secara sekilas namun bisa mengetahui hampir seluruh isi bukunya."


"Oh begitu rupanya. Mmm kamu sudah sampai di halaman 150, memangnya kapan kamu mulai membaca buku ini?"


"Kemarin sore sebelum makan malam."


"Astaga, cepat sekali."


"Hahaha hanya biasa saja sih, setiap aku membaca pasti tidak akan sadar jika tiba - tiba sudah menuju ke halaman 150."


"Hebat sekali suamiku ini."

__ADS_1


"Hehe."


__ADS_2