
Mereka berdua terus berdansa mengikuti alunan musik tersebut dan semakin lama Jane semakin berani mengalungkan kedua tangannya di leher Liam, begitu juga dengan Liam yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jane karena mereka berdua semakin terbawa suasana. Di sela - sela mereka berdansa Liam kembali mengajak Jane untuk menikah dengannya dan berjanji akan selalu membahagiakannya ketika Jane mau menerima ajakannya tersebut. Tetapi lagi dan lagi Jane menjawab jika dia belum bisa menerima ajakan Liam tersebut karena dia juga harus mempertimbangkan banyak hal. Seketika senyuman Liam semakin memudar setelah mendengar jawaban dari Jane tersebut. Hatinya merasa sedih sekaligus merasa kecewa namun saat Jane tiba - tiba memanggil namanya karena Jane menyadari jika raut wajah Liam berubah, kemudian Liam memperlihatkan senyumannya yang terkesan dipaksakan dan memiliki makna yang terlihat sangat menyakitkan. Setelah selesai acara tersebut Liam ingin mengajak Jane untuk pulang ke apartement. Mereka berdua pergi secara diam - diam karena takut ketahuan oleh orang tua Jane maupun orang tu Liam.
Karena Jane memakai gaun yang tidak memiliki lengan jadi Liam melepas jas miliknya tersebut lalu memakaikannya di tubuh Jane agar dia tidak merasa kedinginan. Saat di dalam mobil Liam berubah menjadi pendiam tidak seperti biasanya hingga membuat Jane menjadi tidak enak hati kepada Liam karena terus menolaknya. Jane juga berfikir jika suasana hati Liam berubah menjadi buruk karena hal tersebut, oleh sebab itu Liam memilih untuk diam selama di perjalanan pulang. Jane lalu memandang ke arah luar kaca mobil dan dia memutuskan untuk meminta maaf kepada Liam dengan disertai alasannya mengapa dia belum bisa menerima ajakan Liam tersebut untuk menikah. Jane lalu menatap wajah Liam yang sedang fokus menyetir dan mulai mengucapkan kata maaf dengan di sertai alasan yang telah dia rangkai di dalam otaknya. Mendengar permintaan maaf dari Jane, Liam kemudian hanya terdiam seribu bahasa hingga membuat Jane merasa khawatir jika Liam tidak akan memaafkannya. Setelah itu tangannya mengambil tangan Jane dan menggenggamnya dengan erat, lalu Liam mencium punggung tangan Jane sembari menyetir.
Sesampainya di dalam unit apartement mereka berdua lalu masuk ke dalam kamar mereka masing - masing untuk mengganti baju mereka. Setelah itu Liam membaringkan tubuhnya di atas ranjang sembari memeriksa handphone miliknya, dan selang beberapa menit kemudian Jane mengetuk pintu kamar Liam. Jane lalu masuk ke dalam kamar Liam dan duduk tepat di samping Liam berbaring tadi. Jane hanya diam melihat Liam yang daritadi sibuk berkirim pesan kepada teman - temannya sembari mengusap lembut rambut Liam. Jane saat ini tau semua percakapan yang di bicarakan oleh Liam dan teman - temannya di grup chat karena daritadi Jane juga terus memperhatikan layar handphone milik Liam. Di sisi lain Liam juga tau jika sebenarnya Jane memperhatikan layar handphone miliknya namun Liam membiarkan saja karena itu hanya pesan biasa jadi tidak apa - apa jika Jane tau, lagipula itu hanya Jane dan bukannya orang asing jadi tidak masalah untuknya. Selesai berbicara dengan teman - temannya melalui grup chat Liam kemudian meletakkan handphone miliknya di ranjangnya lalu dia memiringkan badannya dan memeluk pinggul Jane yang masih duduk di sampingnya. Jane hanya tersenyum sembari masih mengusap lembut rambut Liam.
"Kamu akan pergi dengan teman - temanmu malam ini?" tanya Jane.
"Sepertinya begitu, tapi aku sudah berjanji kepadamu dan sekarang aku menjadi bingung."
"Tidak apa - apa, lain kali saja kamu tepati janjimu kepadaku dan sekarang pergilah untuk bermain bersama dengan teman - temanmu."
Liam masih memeluk Jane dengan erat "nanti saja, aku masih sedikit lelah setelah pesta tadi lagipula ini juga belum terlalu malam."
"Baiklah jika itu kemauanmu tetapi jangan pulang terlalu malam karena kamu besok pagi harus bekerja bukan?"
"Iya Jane."
"Anak pintar."
Kepala Liam lalu mendongak ke atas melihat Jane "kan tadi katamu aku tidak boleh pulang terlalu malam, jadi bagaimana jika aku pulang pagi saja?"
Jane lalu memandang Liam dengan sinis, kemudian Jane mencubit pipi Liam "tidak, nanti kamu mengantuk di kantor dan menjadi kelelahan apalagi besok hari Senin."
__ADS_1
"Baiklah aku akan menuruti perintahmu."
"Kalau begitu bersiap - siaplah dan jangan lupa memakai jaket, aku akan pergi ke kamarku untuk tidur."
Liam lalu menahan tangan Jane "tunggu sebentar! aku belum ingin pergi sekarang, aku masih ingin bersamamu karena aku masih merindukan kamu."
Jane tertawa "tadi malam aku sudah menemanimu tidur sampai siang terus tadi sore jalan - jalan berdua, apa masih kurang?"
"Masih sangat kurang."
"Terus mau kamu sekarang bagaimana?"
"Maunya kamu menemani aku lagi malam ini."
"Sepertinya begitu, kamu juga sih membuat aku selalu merasa nyaman jadi aku ingin selalu dekat dengan kamu."
"Kalau misalnya aku kembali ke Korea bagaimana?"
Liam menggelengkan kepalanya sembari memanyunkan bibirnya "tidak boleh! kamu terus disini saja sampai kamu mau menjadi istriku."
"Tidak bisa begitu Liam, aku juga ada kerjaan di Korea. Bagaimana kalau kapan - kapan kamu mengunjungiku ke Korea?"
"Baiklah aku akan mengunjungimu ke Korea jika kamu kembali ke Korea."
__ADS_1
"Sekarang kamu bersiap - siap agar tidak kemalaman perginya dan kamu bisa puas bermain bersama teman - teman kamu."
"Baik Jane."
Liam kemudian beranjak dari ranjang miliknya dan bersiap - siap akan pergi, sedangkan Jane melangkah pergi dari kamar Liam dan bersiap untuk tidur. Sebelum tidur saat Jane sedang membereskan ranjang miliknya tiba - tiba Liam mengetuk pintu kamar Jane, dan saat mendengar suara ketukan pintu tersebut Jane kemudian berteriak mengizinkan Liam masuk ke dalam kamarnya. Rupanya Liam ingin berpamitan dan meminta pelukan terlebih dahulu dari Jane sebelum pergi bersama teman - temannya. Jane hanya tersenyum sembari memberikan pelukan untuk Liam. Setelah itu Liam bergegas pergi untuk berpesta bersama teman - temannya. Sebelumnya Liam sudah memesan tempat di sebuah restaurant mewah untuk berpesta bersama teman - temannya. Sesampainya di restaurant tersebut Liam langsung mencari meja yang sudah di pesan sebelumnya dan ternyata teman - temannya telah berkumpul semua di meja tersebut. Liam lalu menyapa satu persatu teman - temannya itu.
"Tidak biasanya kamu datang terlambat seperti ini Li, biasanya selalu datang tepat waktu bahkan lebih awal."
"Iya Ric ada urusan sebentar tadi."
"Liam sudah mempunyai seorang kekasih," ucap Dio menyela pembicaraan mereka berdua.
"Bohong!" ucap Liam berteriak, sedangkan Ricko dan Josh hanya saling menatap satu sama lain sembari tersenyum.
"Kekasihnya Liam siapa?" tanya Chicko merasa penasaran.
"Aku tidak mempunyai seorang kekasih. Dio hanya sedang memfitnahku," ucap Liam menyangkal perkataan Dio tadi.
"Sudah hentikan! kalian ingin makan apa?" tanya Josh mengalihkan pembicaraan.
"Semua makanan yang lezat dan mahal pastinya," ucap Dio dan Chicko secara kompak.
"Baiklah terserah kalian saja ingin memakan apa," ucap Liam melihat buku menu.
__ADS_1