
Setelah makan malam Liam memberanikan diri meminta izin kepada Jane untuk pergi ke rumah Ricko, dan saat melihat ekspresi Jane yang seperti itu membuat Liam merasa pesimis jika dia akan diizinkan pergi namun kenyataannya Jane justru langsung mengizinkan Liam pergi ke rumah Ricko. Mendengar hal tersebut Liam langsung bersorak gembira dan berjingkrak - jingkrak seperti anak kecil. Liam langsung bergegas ke kamarnya untuk mengambil jacket serta kunci motornya dengan hati yang gembira, sedangkan Jane hanya terdiam melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil sembari menggeleng - nggelengkan kepalanya. Menurutnya, tingkah Liam itu terlihat sangat lucu seperti anak kecil yang diizinkan main oleh ibunya saat jam tidur siang. Liam kemudian mencium pipi Jane terlebih dahulu sebelum dia pergi ke rumah Ricko, dan setelah itu dia pergi ke basement rumahnya dengan menggunakan lift untuk mengambil motornya.
Jane sebenarnya tahu jika Liam itu lebih mudah rindu kepada Ricko daripada kepada dirinya, bahkan dia juga sering mendengar ejekan dari teman - teman dekat Liam bahwa Ricko adalah pacarnya Liam karena mereka berdua terlalu dekat jika hanya sebatas sahabat hahaha. Selepas Liam pergi Jane kemudian mencuci piring yang tadi digunakan untuk makan malam dan tiba - tiba saja dia merasa sangat rindu sekali dengan eomma nya. Jane lalu bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan mengirim pesan jika dia ingin pergi mengunjungi rumah orang tuanya. Lalu setelah itu dia pergi ke rumah orang tuanya bersama dengan Pak Kang, karena kebetulan keponakannya sedang berada di sana. Sesampainya di rumah orang tuanya, Jane langsung disambut dengan teriakan dari keponakannya yang menghampiri dirinya saat masih berada di depan pintu. Jane kemudian langsung menggendongnya masuk ke dalam rumah sembari mencium pipinya yang juga sama - sama chubby itu. Jane kemudian bermain balok susun bersama keponakannya itu di ruang tengah.
"Liam kemana Jane?" tanya Mr Kim.
"Dia sedang bermain ke rumah Ricko."
"Oh begitu."
Jane kemudian mencubit pipi Seojun keponakannya itu karena merasa gemas.
"Ihh kamu itu semakin menggemaskan saja."
"Sekarang pipi Seojun semakin chubby seperti pipimu," ucap eomma nya Seojun.
"Benar, bahkan pipi Jane juga semakin chubby semejak dia menikah hahaha," balas Mrs Kim bercanda.
"Pipiku semakin chubby karena ulah Liam," ucap Jane memanyunkan bibirnya.
"Kenapa begitu Jane?" tanya Mrs Kim.
"Dia selalu memasak makanan yang sangat lezat."
"Lho, Liam sangat pandai memasak?" tanya eomma Seojun keheranan.
"Iya, bahkan Liam lebih pandai memasak daripada Jane," balas Mrs Kim.
"Benarkah? aku sangat tidak menyangka jika Liam sangat pandai memasak, secara tampilannya bukan tidak terlihat seperti pria yang pandai memasak melainkan lebih terlihat seperti petarung MMA."
"Kamu tidak tau saja jika dia sebenarnya sangat lemah lembut, badannya saja yang terlihat menyeramkan namun sebenarnya hatinya itu hati hello kitty."
Eomma Seojun tertawa.
"Oh begitu rupanya."
Disisi lain Liam yang telah sampai di rumah Ricko, dia langsung memarkirkan motornya itu di halaman rumah Ricko dan ternyata dia sudah ditunggu oleh Ricko yang sedang duduk di teras rumah lengkap dengan kopi serta pisang goreng.
"Wah enak nih," ucap Liam saat duduk di kursi lincak itu. (sebuah bangku panjang lengkap dengan sandaran yang biasanya terbuat dari bambu).
"Iya ini, kebetulan mama sedang ingin menggorengnya dan baru saja matang. Silahkan di makan," ucap Ricko mengambil cangkir kopi miliknya.
"Iya terima kasih."
"Eh sedang ingin curhat apalagi denganku?" tanya Ricko menebak.
__ADS_1
Liam tiba - tiba saja tertawa.
"Ti-tidak, aku sedang ingin bertemu denganmu karena aku sangat merindukanmu."
"Dih najis."
Liam langsung menggandeng tangan Ricko.
"Aku benar - benar merindukanmu huhu."
"Ihh apaan sih? lepaskan!!" teriak Ricko sembari melepaskan tangannya.
"Tidak mau."
"Eh ada Liam ternyata," ucap mama Ricko yang tiba - tiba berada di samping mereka.
"Hai tante sudah lama tidak bertemu," jawab Liam sembari mencium tangan mama Ricko.
Mama Ricko lalu mengusap punggung Liam.
"Iya sudah lama tante tidak bertemu denganmu, katanya waktu itu pindah ke Australia ya?"
"Lebih tepatnya pulang kampung sih tante hehe."
"Sehat tante."
"Tolong sampaikan tante kepada mommy dan daddy Liam ya? eh dengan istrimu juga."
"Siap tante."
"Istrinya bagaimana, sudah isi (hamil) belum?"
"Saya masih ingin menundanya terlebih dahulu...."
"Liam masih ingin main keluyuran dan belum ingin mengurus anak katanya hahaha," jawab Ricko menyela pembicaraan mereka berdua.
"Tidak apa - apa kalau belum siap menjadi orang tua apalahi menjadi orang tua itu sulit dan masih butuh kesiapan mental juga."
"Benar tante, tetapi misalnya tiba - tiba diberi oleh Tuhan tidak apa - apa sih hehe."
"Iya, Tuhan memberi kita seorang anak juga karena sebenarnya Tuhan memang mengetahui jika kita ini sudah pantas diberi seorang anak alias siap menjadi orang tua bukan?"
"Iya tante."
"Kalaupun misalnya belum, itu berarti masih belum rezeki kita dan kita harus memantaskan diri terlebih dahulu agar Tuhan percaya bahwasannya kita sudah siap menjadi orang tua. Ya sudah ya tante tinggal ke dalam."
__ADS_1
"Baik tante."
"Kamu inginnya itu anak laki - laki atau perempuan?" tanya Ricko.
"Aku inginnya laki - laki, tetapi terserah juga sih sama saja menurutku mau perempuan atau laki - laki."
"Benar."
"Aku sebenarnya bingung sekaligus merasa tidak enak kepada Jane."
"Kenapa tuh?"
"Kemarin Lian datang ke rumah."
"Hah Lian? Lian kembaranmu itu?"
"Iya Ric."
"Terus?"
Liam langsung menceritakan semuanya kepada Ricko dan Ricko mendengarkannya secara saksama. Setelah berada di pertengahan cerita Liam lalu meminum kopinya dan memakan pisang goreng yang mulai dingin. Lalu dia kembali melanjutkan ceritanya dan setelah selesai dia kemudian meminta saran kepada Ricko karena dia sangat mempercayai Ricko. Sejak dahulu setiap Liam merasa sedang bingung ataupun fikirannya buntu, dia langsung mencari Ricko untuk meminta saran kepadanya. Bahkan dahulu sebelum dia pergi ke Korea Selatan untuk melamar Jane menjadi istrinya, Liam memilih menemui Ricko terlebih dahulu untuk meminta saran atas keputusannya. Liam lebih dekat dengan Ricko daripada dengan Lian, yang notabene Lian adalah saudara kembarnya sendiri.
"Gila, masa Lian beraninya berkata seperti itu?" tanya Ricko merasa tidak percaya.
"Benar Ric hufftt, aku menjadi tidak enak dengan Jane setelah kejadian itu."
"Menurutku sih langkahmu sejak awal memang sudah benar untuk memilih pisah rumah sendiri setelah menikah karena menghindari hal seperti itu. Buktinya saja walaupun kamu pisah rumah dengannya, dia tetap bisa berbicara seperti itu lalu bagaimana jika kalian masih satu rumah?"
"Benar, padahal aku sendiri yang menginginkan Jane agar bisa bersantai saja dirumah eh tiba - tiba dia datang berbicara seperti itu. Rasanya membuatku menyesal mengajaknya berkunjung ke rumahku."
"Jangan seperti itu karena bagaimanapun dia juga kakakmu walaupun akhlaknya minus hahaha."
"Iya stress bikin malu saja."
Setelah mulai larut malam Liam kemudian berpamitan untuk pulang, dan begitu sampai dirumah Liam langsung disambut oleh istrinya uang berpakaian sexy.
"Hai hubby."
"Hai baby girl, kamu sangat sexy sekali."
"Ini semua untukmu."
"Benarkah?"
"Iya hubby."
__ADS_1