Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #292


__ADS_3

Acara berjalan dengan lancar dan keluarga kedua belah pihak sudah mencicil membahas mengenai tanggal serta konsep pernikahan, mungkin setelah itu masih akan ada rapat ulang untuk menetapkannya. Saat acara selesai teman - teman Ricko masih berbincang di rumah Gita, sedangkan keluarga besar Ricko sudah pulang kecuali papa dan mama Ricko karena ingin berbincang lebih lanjut kepada orang tua Gita. Jane berbincang dengan Gita karena Gita meminta saran dari Jane konsep seperti apa yang sangat cocok untuk mereka berdua, serta memilih - milih perintilan - perintilan souvenir pernikahan (hahaha nyicil). Sekarang Gita sudah mencicil beberapa hal agar kedepannya tidak ribet jika semuanya dipikirkan besok. Liam kemudian menghampiri Jane dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Jane saat Jane sedang berbincang dengan Gita.


Melihat Liam yang tiba - tiba super manja dengan Jane membuat Gita merasa keheranan, pasalnya Gita tidak pernah melihat Liam menjadi semanja itu dengan seseorang bahkan sejak masih sekolah. Saat Gita menanyakannya, Jane menjawab bahwasannya Liam merasa rindu dengannya karena semalam di menginap di rumah Ricko serta tidur bersama Ricko. Hal itu membuat Gita tertawa serta tidak menyangka walaupun Liam sudah menikah, dia masih saja memilih menginap di rumah Ricko daripada tidur bersama istrinya. Gita menjadi berfikir apakah Liam akan tetap sama saat Ricko sudah menikah dengannya nanti atau justru tidak. Mereka berdua sepertinya sudah menjadi sahabat bagai kepompong sejak dulu, jadi itu sudah menjadi hal yang biasa di antara mereka berdua.


"Kenapa semalam kamu menginap di rumah tunanganku?" tanya Gita sembari tertawa.


"Ya suka - suka akulah!" jawab Liam ketus.


"Dih pasti gara - gara lagi marahan dengan Jane ya, makanya kamu menginap di rumah Ricko?" tanyanya semakin menggoda Liam.


"Iya Jane nakal sekali, maka dari itu aku memilih menginap di rumah Ricko sembari bermain game terbaru yang belum sempat aku beli."


"Tumben, biasanya kalau ada game baru kamu pasti menjadi yang pertama membelinya."


"Darimana kamu mengetahuinya?" tanya Liam penasaran.


"Dari dulu pasti kamu selalu pamer kepada teman - temanmu jika kamu mempunyai game baru."


"Aku tidak pamer namun aku mengajak mereka semua untuk bermain bersama," ucap Liam menyangkal.


"Oh begitu."


"J, nanti belikan aku DVD PS yang semalam aku mainkan bersama Ricko."


"Jangan dibelikan Jane," ucap Gita berbisik.


"Bukankah semalam kamu sudah memainkannya bersama Ricko?" tanya Jane mengusap pipi Liam.


"Sudah, tapi aku ingin memilikinya untuk koleksi."


"Dih kenapa kamu tidak membelinya sendiri Li?" tanya Gita protes.


"Biarkan saja, lagipula uang Jane lebih banyak daripada punyaku."


"Benarkah?"


Liam mengangguk.


"Iya Gita."


"Iya nanti aku belikan, hubby."


"Nah begitu dong hehe," ucapnya dengan tersenyum.


"Enaknya punya istri kaya beli apa juga bisa, beli planet mars juga bisa hahaha."


"Dasar Liam pria matre," ejek Gita


"Masa bodoh, yang penting aku senang."


"Katanya kemarin kamu punya motor baru, apa benar begitu?"


"Iya, Jane juga yang membelikannya."

__ADS_1


"Apa? astaga Li," ucap Gita sembari menepuk dahinya.


"Bodo amat wlee. Jane ayo pulang."


"Iya ayo. Gita kita berdua pamit dulu ya."


"Iya Jane hati - hati ya."


Dio kemudian menghampiri Liam.


"Eh kamu ingin pulang sekarang?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Ayo main satu match dulu."


"Nanti sore saja, aku lelah."


"Huu, ya sudah deh."


"Okay."


Liam dan Jane lalu berpamitan kepada orang tua Ricko serta Gita. Setelah itu mereka bertiga (termasuk Pak Kang) pulang ke rumah, dan selama di perjalanan pulang Liam memilih menyandarkan kepalanya di bahu Jane untuk beristirahat sebentar. Semakin lama Liam justru tertidur nyenyak di dalam mobil. Jane kemudian mengambil sebuah bantal di sampingnya yang biasanya untuk dia beristirahat setelah syuting atau photoshoot di dalam mobil. Jalanan pada hari itu lumayan padat sehingga membuat waktu perjalanan mereka semakin lama, dan entah mengapa tiba - tiba saja hujan deras mengguyur di sekitar kota tersebut.


Saat sesampainya di rumah, Jane lalu membangunkan Liam agar pindah ke kamar. Dengan setengah mengantuk Liam lalu berjalan memasuki lift rumahnya untuk pergi ke kamar melanjutkan tidur nyenyaknya. Liam langsung melompat begitu saja ke atas ranjangnya walaupun masih menggunakan sepatu karena sudah sangat mengantuk. Jane kemudian mengganti pakaiannya dan melepas sepatu yang masih digunakan oleh Liam. Jane lalu memandangi wajah polos bayi besarnya itu saat tengah tertidur sebelum melepaskan semua pakaiannya. Hujan terus mengguyur area sekitar rumah Liam dengan derasnya hingga membuat mereka berdua memilih berbaring di balik selimut tebal.


"Jane," panggil Liam.


Liam langsung memeluk Jane dengan erat.


"Aku merindukanmu," ucapnya dengan mata terpejam.


"Iya aku juga hubby, nanti malam jangan tinggalkan aku tidur sendirian lagi ya?"


"Iya asalkan kamu jangan nakal. Maaf ya atas sikapku, aku sebagai seorang pria yang sudah berumah tangga terkadang aku juga ingin hasratku alias kebutuhan biologisku terpenuhi."


Jane mencium pipi Liam.


"Tidak apa - apa hubby. Ummm masih mengantuk?"


"Tidak terlalu, memangnya kenapa?"


"Ummm itu...."


Tangan Liam lalu bergerak seperti ular yang sedang mencari mangsa, dan kemudian ular itu singgah sebentar di sebuah bukit kembar lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke bukit selanjutnya, yaitu pantat Jane yang sintal. Liam kemudian menepuk - nepuk pantat Jane dan semakin lama dia menurunkan secara perlahan sebuah kain yang melekat di bagian bawah tubuh Jane.


"Hubby."


"Aku tahu apa maksudmu dengan pertanyaan seperti tadi."


"Memangnya apa?"


Liam lalu menyeringai.

__ADS_1


"Nanti kamu juga akan mengetahuinya sendiri."


"Jangan nakal hubby."


"Aku tidak nakal, tetapi aku berusaha untuk mendapatkan hak ku."


Liam terus melancarkan misinya dengan sangat gagah berani serta memainkan samurainya dengan sangat lihai walaupun masih hujan deras. Begitu selesai menjalankan misinya Liam lalu menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya serta istri tercintanya yang masih t*lanj*ng. Setelah itu Liam mengatur nafasnya dan berbaring di samping Jane. Berkali - kali Liam menciumi Jane serta mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Hubby ada rencana mengajakku liburan lagi tidak?"


"Ya ampun, pasti setelah bercocok tanam dia selalu saja mengajak liburan sebagai imbalannya," gumam Liam di dalam hati.


"Hubby," panggil Jane sembari menggigit leher Liam.


"Aduh sakit, kenapa sayang?"


"Kamu ada rencana liburan tidak?"


"Belum ada, memangnya kenapa?"


"Ayo liburan lagi."


"Kemana?"


Jane berfikir sejenak.


"Maldives, aku ingin kesana."


"Iya besok bulan depan."


"Kok bulan depan sih? aku maunya minggu depan!!"


"Tidak bisa sayang aku sedang banyak kerjaan bulan ini, tidak apa - apa ya bulan depan setelah kita pulang ke Australia?"


"Kamu ada rencana pulang ke Australia?"


"Iya daddy memintaku pulang ke Australia untuk menjenguk grandpa dan grandma, sekalian merayakan natal disana."


"Oh."


"Kalau tidak mau ikut ya sudah."


"Ikut. Aku penasaran dengan rumahmu yang ada di Australia."


"Mau lihat Petra?"


Jane menggeleng.


"Tidak, takut digigit."


"Hahaha dia jinak kok, tenang saja."


"Tetap tidak mau."

__ADS_1


__ADS_2