Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #105


__ADS_3

Seketika Jane menjadi terdiam setelah mendengar jawaban dari Mrs Robinson. Jane lalu menunduk dan menatap wajah Liam yang sedang tertidur pulas di pangkuannya sejak tadi. Mendengar panggilan dari Rosie, Mrs Robinson lalu pergi meninggalkan Jane di sana bersama dengan Liam. Jane mulai memikirkan satu kalimat yang selalu terngiang - ngiang di kepalanya selama beberapa hari yang lalu, yaitu ajakan Liam untuk menikah atau lebih tepatnya Liam meminta Jane untuk menjadi istrinya dan menghabiskan sisa umur mereka bersama - sama. Kalimat yang mulai hilang secara perlahan itu kini kembali lagi karena perkataan Mrs Robinson yang tanpa sadar mengarah ke hal tersebut. Jika di fikir - fikir lagi sebenarnya Jane ingin langsung mengatakan iya namun di sisi lain dia belum sanggup dan belum siap untuk menjadi seorang istri maupun seorang ibu, jadi dia memilih untuk menggantung jawaban itu untuk memikirkannya terlebih dahulu secara berulang - ulang. Jane mengehela nafasnya dengan kasar, dan saat dia mulai tenggelam dalam lamunannya tiba - tiba Liam merubah posisi tidurnya serta kedua tangannya semakin erat memeluk perut Jane yang tentu saja membuyarkan lamunan Jane saat itu. Dia langsung spontan melihat ke arah Liam dan mengusap lembut rambutnya kembali. Setelah itu Jane lalu meminum teh yang tadi di sediakan oleh bibi yang bekerja di rumah Liam sembari terus mengusap rambut Liam yang masih tertidur.


Jane lalu bertekad untuk menghabiskan banyak waktunya bersama Liam sebelum dia kembali ke Korea Selatan karena dia tidak tau apakah dia bisa bertemu dengan Liam kembali atau tidak, apalagi jadwalnya akan lebih sibuk dari yang sebelumnya hingga mungkin dia tidak akan sempat untuk kembali ke Indonesia lagi. Tanpa terasa air mata Jane mulai menetes di pipi Liam saat dia memikirkan itu semua. Jane sebenarnya tidak ingin jauh dari Liam apalagi menurutnya Liam adalah pria paling unik yang pernah dia kenal selama ini. Jane takut jika suatu saat dia sudah sempat mengunjungi Indonesia kembali Liam sudah menjadi milik orang lain sehingga dia tidak bisa lagi se bebas melakukan hal apapun bersama Liam seperti sekarang. Liam yang merasa jika pipinya basah, dia langsung bangun karena dia mengira jika sudah mulai turun hujan. Jane langsung mengusap air matanya yang jatuh saat Liam mulai terbangun. Liam kemudian menatap Jane yang terlihat kalang kabut mengusap air matanya itu dengan mata yang masih sedikit mengantuk. Jane langsung memperlihatkan senyumannya kepada Liam saat Liam sedang menatap dirinya. Liam hanya diam dan terus menatap wajah Jane, terutama pada mata Jane yang terlihat sedikit memerah setelah menangis tadi.


"Sudah puas tidurnya?" tanya Jane sembari mengusap kepala Liam.


"Kamu habis menangis?" tanyanya dingin dengan ekspresi wajah yang datar.


Jane kembali memaksakan senyumannya itu "tidak."


"Kalau kamu tidak menangis lalu kenapa ada tetesan air yang membasahi pipiku?"


Jane langsung membalikkan badannya membelakangi Liam "mungkin sudah mulai hujan gerimis."


Mendengar jawaban dari Jane, Liam lalu menatap ke arah langit sembari menadahkan salah satu tangannya dan berharap tangannya itu basah terkena air hujan namun tangannya masih saja kering "jangan berbohong kepadaku," ucapnya dengan nada dingin.


Jane kembali menyangkal dugaan Liam "aku tidak menangis Liam."


"Jika kamu ingin berbohong seperti ini minimal setidaknya kamu harus bisa mengendalikan cuaca terlebih dahulu baru kamu bisa berbohong."


Jane menjadi kelepasan dan berteriak kepada Liam "aku tidak menangis Liam!"


"Dahulu ada seseorang yang memintaku untuk bercerita dengan sejujurnya namun sekarang orang yang memintaku untuk melakukan hal tersebut malah justru sedang berbohong kepadaku sekarang," ucap Liam menyindir Jane.


"Bagaimana jika aku tidak menerima tawaran yang aku ceritakan kepadamu waktu itu?" tanya Jane secara tiba - tiba.


"Apakah ada masalah dengan itu sehingga kamu tidak ingin menerima tawaran itu?"


Jane lalu membalikkan badannya ke arah Liam "tidak ada."

__ADS_1


"Lalu mengapa kamu ingin menolaknya?"


"Karena kamu."


Liam lalu menunjuk dirinya sendiri "karena aku? tapi kenapa?"


"Kenapa kamu tidak merasa peka sekali sih? aku tidak ingin menerima tawaran itu karena aku tidak ingin jauh darimu," ucap Jane dengan berteriak.


Liam seketika menjadi terdiam sejenak, lalu dia memeluk Jane dengan erat "aku tidak ingin kamu menjadi seperti ini karena aku, apakah sebelumnya kamu pernah bermain drama?"


Jane menggelengkan kepalanya "belum."


"Kalau begitu kamu harus menerima tawaran itu dan jadikanlah sebagai pengalaman, aku tidak ingin jika di kemudian hari kamu menjadi menyesal karena tidak menerima tawaran itu Jane," ucap Liam sembari mengusap punggung Jane.


"Tetapi bagaimana jika aku tidak bisa kembali kesini karena aku terlalu sibuk, dan bagaimana jika kamu menjadi milik orang lain setelah aku bisa mengunjungimu kesini?"


Liam tertawa "apakah kamu mulai menyukaiku?"


"Tentu saja karena aku juga harus mempertimbangkan perasaan istriku nanti, tetapi jika kamu yang menjadi istriku maka ceritanya akan berbeda."


"Aku tidak mau menjadi istrimu," ucapnya dengan berteriak.


Liam kembali menertawakan Jane "kemarilah! kalau begitu aku sesekali akan ke Korea Selatan untuk mengunjungimu, bagaimana?" tanya Liam sembari kembali memeluk Jane.


Jane mengeluarkan jari kelingking kanannya "Janji?"


"Janji," ucap Liam tersenyum sembari mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Jane.


Liam kemudian mengusap air mata Jane yang membasahi pipi chubby nya, setelah itu Liam memeluk Jane dari samping dan Jane lalu menyandarkan kepalanya di bahu Liam. Sekitar 30 menit mereka berbincang kembali lalu Liam pergi untuk kembali ke kamarnya menemui teman - temannya. Liam takut mereka akan curiga jika dia meninggalkan mereka terlalu lama, dan sesampainya di kamar Liam langsung duduk di sebelah Ricko. Liam lalu bermain game bersama teman - temannya, dan tidak lama kemudian bibi mengetuk pintu kamar Liam untuk memberitahunya jika sudah di tunggu Mr Robinson di ruang makan larena sudah waktunya makan siang.

__ADS_1


Liam berdiri dan kemudian bertanya "kalian mau ikut makan siang tidak?"


"Kami di sini saja karena kami merasa tidak enak dengan Mr Robinson," ucap Dio dengan matanya yang masih terpaku pada layar televisi.


Liam tertawa "bilang saja jika kalian takut kepada daddy.Baiklah nanti aku akan meminta bibi untuk membawa makan siang kalian ke sini."


"Tidak perlu repot - repot lah Li, kami di sini kan hanya berniat untuk mencoba game barumu."


"Tidak apa - apa Chiko."


"Baiklah terserah kamu saja," jawab Chicko.


Liam lalu turun ke bawah untuk menemui Mr Robinson, dan sesampainya di ruang makan sudah ada anggota keluarganya termasuk Jane yang sedang menunggu Liam. Kemudian dia duduk di samping Jane "bi tolong nanti bawa makan siang ke atas untuk teman - temanku juga!"


"Baik tuan muda," jawab bibi sembari mengangguk.


"Kenapa tidak diajak makan siang bersama saja?" tanya Mrs Robinson.


"Mereka sejak dulu masih takut kepada daddy, mom."


"Memangnya aku sangat menyeramkan sehingga teman - temanmu sangat takut kepadaku?"


"Liam fikir iya, apalagi daddy tubuhnya sangat besar dan sangat menyeramkan jika sedang marah," ucapnya dengan bercanda.


"Dasar kamu ini anak kurang ajar."


"Memang kenyataannya begitu kan? daddy waktu itu juga membuat takut Jane juga karena pertanyaan daddy yang dilontarkan daddy dengan wajah menyeramkan."


"Daddy kan hanya bertanya saja."

__ADS_1


"Hanya bertanya tetapi seperti polisi yang sedang menginterogasi penjahat saja."


Mrs Robinson kemudian melerai Mr Robinson dan Liam yang sedang beradu mulut "sudahlah, sekarang kalian makan saja."


__ADS_2