Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #58


__ADS_3


Liam kemudian berdiri dan melangkah pergi menuju kamarnya, sedangkan Jane masih di ruang tengah untuk membereskan semua paper bag itu. Sesampainya di kamar Liam berbaring di ranjangnya, tetapi saat berbaring dia merasakan sakit di punggungnya. Akhirnya Liam berdiri menghadap kaca dan membuka bajunya untuk melihat punggungnya. Saat melihat punggungnya di kaca, Liam terkejut karena efek terjatuh saat bermain skateboard tadi punggungnya menjadi memar. Liam lalu memakai bajunya kembali dan pergi mengambil salep di kotak obat yang berada di dekat ruang tamu.


Liam berjalan mengendap - endap sembari memperhatikan keadaan sekitar. Sesampainya di ruang tengah, terlihat Jane yang tengah asik melihat semua isi paper bag tadi sembari menonton acara televisi kesukaannya. Liam kemudian mulai berfikir bagaimana caranya mengambil obatnya tanpa ketahuan dengan Jane karena jika sampai ketahuan pasti Jane akan menceramahinya habis - habisan karena sikapnya yang susah di kasih tau. Liam lalu menghampiri Jane dan duduk di sebelahnya untuk mengusirnya dengan halus.


"Lho katanya ingin tidur, kok malah kembali kesini?"


"Ah itu."


"Ada apa Liam?" ucap Jane sembari melihat cat kuku yang tadi dia beli.


"Tidak ada apa - apa, cuma sedang ingin berbincang dengan mu saja."


Jane lalu beralih menatap Liam "apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"


Liam lalu berbaring di pangkuan Jane "sedang bingung saja."


"Bingung kenapa sih?"


"Tidak tau, kalau aku bingung ya itu artinya aku tidak tau kenapa dan bagaimana."


Jane kemudian menepuk - nepuk pipi Liam "dasar pria aneh."


"Walaupun aneh, tapi kamu suka kan sama aku?"


Jane tertawa "ihhh najis, aku justru benci denganmu."


Liam langsung memanyunkan bibirnya setelah memdengar ucapan dari Jane "huuu menyebalkan."


Jane masih menertawakan Liam "hahaha, sudah minggir sana."


"Tidak mau."


"Ihh minggir aku mau mencuci tanganku dan mencoba cat kuku nya."


"Besok saja, kan ini sudah malam."


Jane merasa sedikit kesal dengan Liam "ihh minggir, katanya tadi mau tidur."


"Tidak jadi."


Jane lalu berdiri dengan paksa sehingga membuat Liam terjatuh dari sofa dan membuat Jane tertawa terbahak - bahak "hahaha mampus, siapa suruh dikasih tau bandel banget."


"Sakit tau."


Jane lalu pergi untuk mencuci tangannya, sedangkan Liam kembali duduk di sofa dan melihat semua cat kuku milik Jane. Beberapa menit kemudian Jane kembali dan duduk di sofa "menurutmu bagus yang warna apa?"


"Duduk sini, jangan jauh - jauh."

__ADS_1


"Tidak mau wlee." Jane menjulurkan lidahnya.


Liam lalu berdiri "ya sudah kalau tidak mau, biar aku saja yang duduk di dekatmu."


Jane mengambil semua cat kukunya "terserah."


Liam duduk di samping Jane dan langsung mengambil cat kuku yang bewarna soft pink "yang ini bagus."


Jane lalu mengambil cat kukunya dari tangan Liam "hm baiklah."


Liam kembali berbaring di pangkuan Jane "memangnya kamu suka sekali dengan cat kuku?"


"Iya memangnya kenapa? ihh kamu minggir sana, aku jadi susah ingin mengecat kuku aku."


"Ihh tidak mau."


"Memangnya kamu mau aku cat muka kamu?"


"Tidak mau."


"Ya sudah minggir sana."


Liam lalu duduk dan memperhatikan Jane saat sedang mengecat kukunya "ah iya, eh Jane coba lihat lukisanku yang berada di samping jendela dekat balcon deh."


Jane kemudian melihat ke arah yang Liam ucapkan "ha, memangnya lukisanmu kenapa?"


"Lukisanku miring itu."


"Benar kok itu miring 2 derajat, tolong di benarkan dong!"


"Kamu bohong kan?"


Liam merasa panik, tetapi dia mencoba bersikap tenang agar Jane semakin tidak mencurigainya "aku tidak bohong kok, kalau kamu mendekat pasti akan mengetahuinya."


Jane kemudian beranjak pergi menuju ke arah lukisan tersebut untuk memastikannya, dan Liam memanfaatkan kesempatan itu untuk bergerak cepat mengambil salep dan berlari menuju kamarnya dengan secepat kilat. Jane lalu memperhatikan lukisan tersebut dengan seksama. Liam yang telah sampai di kamarnya langsung menutup pintu kamarnya dan menghela nafasnya lega, menurutnya ketegangan ini seperti dia waktu menyelesaikan misi yang sulit atau saat sedang melawan boss di dalam vidio game.


Jane kemudian kembali melihat ke arah Liam "eh mana si Chicken itu, kok menghilang? ah sepertinya aku telah ditipu olehnya dasar bocah ayam."


Liam lalu membuka bajunya dan mencoba mengoleskan salep itu di punggungnya "ah kenapa sulit sekali sih? perasaan aku dulu sangat mudah menjangkaunya."


Terdengar suara langkah kaki dan suara teriakan dari Jane yang menuju ke kamar Liam, lalu dia merasa semakin panik "ah gawat si Kitten itu berjalan menuju ke sini."


Liam lalu melempar salep tersebut ke atas mejanya lalu dia berlari menuju ranjangnya dengan posisi tengkurap karena punggungnya masih sakit dan berpura - pura sudah tertidur agar tidak ketahuan. Jane yang melihat Liam sudah tertidur saat masuk ke dalam kamar Liam, lalu dia menghampiri ranjang Liam. Jane hanya diam menatap sejenak wajah Liam saat tertidur, kemudian Jane menghidupkan AC di kamar tersebut dan menyelimuti tubuh Liam dengan selimut. Tetapi saat hendak menarik selimut, Jane melihat memar yang berada di punggung Liam.


Jane bergumam "sudah aku bilang untuk berhenti tetapi malah memilih untuk terus melanjutkannya kan jadi memar begini, dasar bodoh."


Liam tanpa sadar malah menjawab ucapan Jane "ya maaf, kan aku tidak mau kalah."


Jane merasa terkejut "jadi kamu hanya berpura - pura tidur saja agar aku tidak memarahimu?"

__ADS_1


Liam lalu membuka matanya "hehe sorry."


Jane langsung memukul punggung Liam "dasar Chicken, rasakan ini."


Liam merintih kesakitan "aww sakit Kitten, jangan memukulku."


"Biar kamu semakin sakit, ha rasakan ini di kasih tau bandel sih."


"Aww sakit, ini termasuk KDRT kalau begini."


Jane semakin memukuli punggung Liam "makan nih KDRT, kita aja tidak menikah kok KDRT."


Liam kemudian membalikkan tubuhnya dan meraih tangan Jane, dia menarik tangan Jane lalu Jane terjatuh di atas perut Liam hingga membuat Jane berteriak "hei apa yang kamu lakukan?"


"Cukup berhenti, bukannya di obati malah di tambahin sakitnya."


"Habisnya kamu bandel sih."


Jane kemudian berdiri dan mengambil salep yang berada di atas meja Liam. Dia menghela nafasnya "cepat tengkurap! aku akan mengobati punggungmu itu."


Liam lalu tengkurap dan Jane mulai mengoleskan salep itu di punggung Liam dengan hati - hati. Liam mulai berbicara kepada Jane "kamu kalau besok merasa kesepian saat aku pergi ke New York, pulang saja ke rumahku."


"Iya, tapi sejujurnya aku masih merasa canggung jika bertemu dengan mommy atau daddy kamu."


"Hahaha, mom calon menantu mommy dan daddy merasa canggung nih."


Jane kemudian memukul kepala Liam "berhenti berkata seperti itu."


"Aww sakit Jane."


"Mampus, siapa suruh berkata seperti itu?"


"Ya aku hanya ikut - ikutan mereka. Eh Jane aku jadi takut jika akan mengenalkan Nat kepada orang tuaku karena sepertinya mereka lebih menginginkan kamu menjadi menantunya."


Mendengar ucapan dari Liam, Jane tiba - tiba berhenti dan terdiam sejenak. Menyadari jika Jane terdiam, lalu Liam bertanya "kok berhenti?"


Jane menjawabnya dengan gugup "ah ini sudah selesai, aku akan pergi ke kamarku."


Liam kemudian membalikkan badannya "hei tunggu dulu, aku belum selesai berbicara."


Jane berteriak "sudah kubilang jangan berbalik dulu nanti punggungmu semakin sakit."


"Hei kenapa tiba - tiba berteriak begitu?"


Jane menahan air matanya agar tidak terjatuh "aku akan pergi ke kamar aku lelah dan ingin tidur."


Liam menatap wajah Jane "are you okay?"


"Yes, i am okay."

__ADS_1


Note: Jangan lupa like di setiap episodenya terima kasih


__ADS_2