
Seketika hati Liam yang sekeras batu es menjadi luluh seperti disiram oleh air panas. Tangan Liam kemudian bergerak dengan sendirinya mengusap lembut rambut Jane, lalu dia memeluk Jane dengan erat. Liam kemudian menidurkan Jane sembari melanjutkan menonton film sampai film itu selesai. Setelah itu dia mematikan lampu dan tidur, tapi saat tengah malam Liam terbangun karena ingin buang air. Liam lalu kembali ke ranjangnya dan menarik selimut untuk menyelimuti Jane. Liam lalu membawa tubuh Jane ke dalam dekapannya dan kembali tidur. Saat matahari mulai terbit dari ufuk timur dan cahayanya memaksa masuk menembus kaca jendela hingga menerangi wajah seorang wanita yang masih tengah tertidur dengan nyenyak, wanita itu lalu membuka matanya secara perlahan.
Jane kemudian melihat keadaan sekelilingnya termasuk jendela kamar Liam, lalu setelah itu dia menatap Liam yang masih tertidur nyenyak. Jane tersenyum sembari mengusap rambut Liam yang tengah tertidur tersebut karena mau bagaimanapun tetap dialah pemenangnya karena tubuh Liam sekarang berada di genggamannya. Jane kemudian mencium pipi Liam dengan meninggalkan bekas lipstick di pipinya secara samar - samar. Wajahnya masih sangat tampan walaupun ketika dia sedang tertidur, dan sekarang Jane sering melihat wajah tampan Liam saat tertidur karena setiap akhir pekan mereka berdua berada di unit apartement yang sama. Jane kembali mengusap wajah tampan Liam secara lembut, lalu setelah itu dia memegang hidung mancung Liam hingga bibir Liam.
"Good morning handsome," bisik Jane di telinga Liam.
"Good morning," ucap Liam sembari membuka matanya secara perlahan.
"Apakah tidurmu sangat nyenyak tadi malam heum?"
"Sedikit."
"Kenapa? apakah kamu kembali bermimpi buruk?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Tidak ada apa - apa."
"Apakah kamu mau menemaniku berjalan - jalan nanti sore?"
"Kemana?"
"Bekeliling kota saja, bagaimana?"
"Boleh."
"Kamu dari kemarin sangat aneh sekali, ada apa?"
"Perasaan aku bersikap biasa saja."
"Sikapmu kembali dingin kepadaku."
"Benarkah?" tanya Liam sembari memejamkan matanya kembali.
Jane lalu mencubit perut roti sobek milik Liam "Li, kamu ini sangat menyebalkan sekali."
Liam tertawa namun masih memejamkan matanya "memangnya kenapa menurutmu aku bisa menyebalkan?"
"Sikapmu sangat dingin sekali kepadaku seperti dulu."
"Ya memang sikapku seperti ini dari dulu, jika kamu mengharapkan aku bersikap romantis seperti kebanyakan pria yang lainnya tentu saja itu sangat sulit."
__ADS_1
"Tetapi dahulu kamu bersikap sangat romantis."
"Kapan?"
"Ah masa bodoh, pokoknya aku ingin dipeluk lagi."
"Tidak bisa karena waktunya sudah habis."
Jane lalu memukul tubuh Liam "ya sudah kalau begitu biar aku saja yang memelukmu."
Liam kemudian bangkit dari tidurnya "eitss tidak bisa."
"Liam!!!"
Liam kemudian keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Jane untuk kembali tidur. Liam kemudian berbaring di atas ranjang milik Jane dan melihat langit - langit kamar sebelum dia kembali tertidur, sedangkan Jane hanya berbaring di atas ranjang dan tidak mengejar Liam karena dia merasa malas untuk mengejarnya. Jane lalu menyalakan televisi dan menonton film sembari bermalas - malas ria sebelum dia melakukan perjalanan jauh, yaitu kembali ke negara asalnya Korea Selatan. Karena mulai merasa bosan menonton film, Jane memutuskan untuk berkeliling di dalam kamar Liam sembari mengamati hal - hal unik yang mungkin akan ditemukan olehnya.
Jane bergumam "apakah semua lukisan ini dia yang melukisnya? ternyata dia sangat pandai sekali melukis dan aku jadi ingin di lukis olehnya. Dia seperti temanku si Minmin yang juga sangat pandai melukis seperti ini, eh tapi lukisan wanita yang ini aku sepertinya mengenal orangnya tetapi aku lupa namanya."
Jane lalu menemukan sebuah kartu ucapan ulang tahun dari seseorang di atas meja dan membacanya "happy birthday my handsome boyfie, have a amazing birthday from your pretty girlfriend. Hah, entah wanita mana lagi yang sedang dekat denganya? dasar international playboy awas saja jika kamu sudah menikah denganku dan berani selingkuh dariku maka aku akan mengikatmu di atas ranjang agar kamu tidak berani berselingkuh lagi."
Liam kemudian kembali ke kamarnya dan langsung melompat ke atas ranjangnya hingga membuat Jane merasa terkejut "astaga kamu jangan melompat seperti itu, nanti kalau ranjangnya jebol bagaimana?"
"Tinggal beli yang baru."
Liam lalu kembali berdiri dan berjalan setengah melompat seperti anak kecil (cit cit cit) "lihat, aku seperti seorang astronout yang berjalan di bulan."
Jane kembali memperingati Liam "jangan begitu, nanti rusak ranjangnya jika kamu seperti itu karena badanmu sangat besar."
"Masa bodoh, aku ingin bermain peran menjadi seorang astronout."
"Liam!!" teriak Jane.
"Apa?"
"Kemari!"
"Tidak mau."
Jane lalu menarik kaki Liam yang sedang asyik bermain tersebut hingga dia terjatuh, lalu dengan segera Jane mendekap tubuh Liam agar dia bisa diam "sudah diam! aku pusing melihatmu seperti itu."
"Jane aku tiba - tiba menjadi lelah dan mengantuk."
"Kan aku sudah bilang jangan seperti itu, sudah sekarang kamu kembali tidur saja daripada kamu berbuat onar."
__ADS_1
Jane lalu menidurkan Liam seperti seorang ibu yang menidurkan anaknya. Sekitar 10 menit kemudian Liam berhasil tertidur di pelukan Jane, dan setelah dia mengetahui bahwa Liam sudah bisa tertidur Jane lalu menarik selimut untuk menyelimuti Liam. Jane lalu memainkan handphone miliknya sembari terus mengusap rambut Liam, sedangkan Liam mulai kembali tertidur dengan sangat pulas sembari memeluk Jane. Sesekali Jane merasa gemas seperti ingin meremas wajah Liam ketika dia menatap Liam yang tengah tertidur itu, bagaimana tidak? wajahnya sangat tampan tetapi di sisi lain wajahnya sangat polos seperti anak kecil ketika dia tertidur.
Liam kemudian mencium leher Jane ketika dia masih tertidur sembari mengatakan "Jane sangat bau karena belum mandi."
"Kamu juga bau apalagi ketika kamu berkeringat seperti ini karena perbuatanmu itu," ucap Jane dengan matanya masih tertuju pada layar handphone miliknya.
"Memangnya telah berbuat apa?"
"Kamu ingin merusakkan ranjang milikmu dengan melompat - lompat di atasnya."
"Aku kira aku telah melakukan sesuatu hal."
"Sesuatu hal apa?"
"Tidak ada, mungkin hanya fikiranku saja."
"Hayoo, pasti kamu memikirkan hal yang jorok kan?"
"Tidak."
"Bohong! wajahmu saja terlihat sangat mesum, mana mungkin kamu tidak memikirkan hal seperti itu."
"Habisnya kamu juga yang terlalu dekat denganku tanpa memberikan celah sedikitpun kepadaku untuk bernafas."
"Kalau kamu tidak bernafas dari kemarin mungkin kamu sudah meninggal sayang."
"Oh iya juga sih, tapi itukan hanya sebuah perumpamaan saja."
"Iya deh iya."
"Aku tidak suka dikekang oleh siapapun termasuk orang tuaku, aku selalu melakukan apapun hal yang aku suka atau hal yang diperintahkan oleh otakku."
"Apakah kami pernah melakukan sesuatu hal yang diperintahkan oleh hati kecilmu?"
"Tidak pernah, aku lebih suka mengikuti kata yang dikatakan oleh otakku."
"Misalnya?"
"Cium aku!"
"Itu bukan berasal dari hatimu?"
"Bukan, itu berasal dari otakku."
__ADS_1