Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #377


__ADS_3

Liam menenggelamkan wajahnya di leher Jane dan mulai tertidur nyenyak, dan semakin lama Liam justru mendengkur hingga membuat Jane merasa terganggu. Rasanya Jane ingin menyingkirkan Liam dari sampingnya namun Jane merasa tidak tega karena menurutnya lebih baik melihat Liam tidur nyenyak sembari mendengkur daripada melihatnya menangis dalam tidurnya. Jane lalu meletakkan handphone miliknya di meja samping ranjangnya, dan kemudian dia miring ke samping untuk memeluk Liam. Akhirnya Liam berhenti mendengkur saat Jane memeluknya serta mengusap rambut bagian belakang.


Sesekali Jane juga menciumi Liam untuk mencium bau harumnya yang sudah menjadi ciri khas Liam. Jane merasa heran mengapa wangi harumnya Liam tidak hilang meskipun dia berkeringat, padahal tadi dia sangat berkeringat sekali namun setelah keringatnya kering wangi harumnya kembali muncul dan malah semakin harum. Di belahan bagian bumi lainnya, sepasang pasutri yang normal sedang melakukan kegiatan yang sangat produktif di pagi hari. Ricko sedang berjalan - jalan santai bersama istri dan anaknya. Ricko mendorong stroler bayi, sedangkan Gita berjalan di sampingnya sembari menceritakan banyak hal kepada Ricko.


Pasutri itu adalah pasutri ternormal di cerita ini, dan author sendiri yang menobatkan mereka berdua sebagai pasutri ternormal. Mereka dijuluki pasutri ternormal karena mereka berdua jarang sekali melakukan hal diluar nalar serta saling sayang layaknya pasangan normal lainnya. Berbeda dengan pasutri tergaje alias Jane dan juga Liam yang selalu bertengkar, berdebat, dan selalu melempar ejekan satu sama lainnya.


Suasana rumah tangga Ricko sangat damai sekali karena mereka jarang berdebat maupun bertengkar, dan setiap ada masalah pasti selalu membicarakannya dengan kepala dingin. Setelah mereka bertiga berjalan - jalan santai, mereka berdua menyempatkan untuk berbincang di teras rumah. Ricko dan Gita duduk di tangga depan rumah mereka sembari menatap langit biru di pagi hari. Hari ini memang langitnya bewarna biru yang sedikit tua dan ada awan - awan putih sehingga membuat langit itu sangat indah sekali.


"Langitnya sangat indah sekali ya yang?" tanya Gita.


Ricko lalu mendongak ke atas.


"Benar sekali, warna biru itu adalah warna yang sangat disukai oleh Liam dan dia selalu mengatakan sekaligus memberinya nama warna biru tengah - tengah."


"Kenapa dinamakan begitu?" tanya Gita penasaran.


"Karena warnanya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, jadi dia memberinya nama seperti itu agar mempermudah untuk mendiskripsikannya."


"Hahaha oh begitu, aku paham sekarang. Warna biru tengah - tengah, karena memang itu berada di tengah - tengah antara biru muda dan biru tua."


"Yupss tepat sekali, hahaha dia memang anak yang aneh karena selalu mempunyai kamusnya sendiri."


"Iya, dia memang aneh dari dulu karena dia lebih memilihmu daripada para wanita yang mengejar - ngejarnya."


"Tidak juga," ucap Ricko menatap Gita.


"Kenapa menurutmu begitu?" tanya Gita penasaran.


"Karena kami para pria pasti akan lebih memilih sahabat yang menemani kita dari dulu meski taruhannya seorang wanita, berbeda dengan para wanita yang lebih memilih pacaranya lalu melupakan sahabatnya yang sudah menemaninya sejak dulu."


"Tidak juga," ucap Gita menyangkal.


"Kebanyakan wanita seperti itu, saat pria mengatakan kepada wanitanya jangan dekati dia lagi karena sudah ada aku eh dia benar - benar melakukannya. Kami para pria lebih solid dan kalian para wanita tidak bisa memerintah kami untuk menjauhi sahabat karibnya."


Gita berfikir sejenak.


"Mungkin itu semua karena cinta buta."


"Benar, aku heran mengapa para wanita selalu menggunakan perasaannya sedangkan para pria selalu menggunakan logikanya?"


"Tidak tahu juga yang."

__ADS_1


Ricko lalu menggelitiki perut Gita hingga membuat Gita tertawa terbahak - bahak.


"Geli yang, sudah jangan hahaha."


Ricko lalu berhenti menggelitiki perut Gita dan menatap wajahnya.


"Apa kamu mencintaiku heum?"


"Tentu saja, kenapa kamu menanyakan hal yang sudah kamu ketahui jawabannya?"


"Tidak apa - apa, hanya memastikannya saja bahwa kamu tidak akan berpaling dengan pria lain."


"Aku tidak akan melakukan hal itu kepadamu, dan justru aku yang harusnya merasa cemas jika kamu akan berpaling dengan wanita lain yang lebih dariku."


Ricko lalu memeluk Gita dari samping.


"Aku tidak akan melakukan hal itu kepadamu karena aku sudah benar - benar mencintaimu."


"Terima kasih ya sayang."


"Terima kasih untuk apa?"


"Karena kamu sudah bersedia untuk menikah denganku serta bisa mengangkat derajat keluargaku. Mmm dan kamu juga sudah memberikan aku kehidupan yang lebih layak serta membelikan semua barang - barang yang aku inginkan sejak dulu."


"Rasanya masih sedikit aneh sih tinggal di rumah yang sebesar ini dengan dibantu oleh asisten rumah tangga hahaha."


"Astaga hahaha rumahku ini tidak ada apa - apanya dibandingkan dengan rumah Liam dan rumah orang tua Liam."


"Tetapi menurutku ini juga besar sih rumahnya, karena kamu tahu sendiri bukan bagaimana rumahku di kampung sana?"


"Iya aku tahu."


"Kamarku saja setengahnya dari kamar kita disini, apalagi ranjangnya sangat empuk sekali hingga membuatku selalu tertidur nyenyak."


"Iya sih tetapi lebih hangat di kamarmu yang itu hehe."


Gita yang mengerti apa maksud Ricko itu, dia lalu memukul lengan Ricko sembari tersenyum. Setelah itu Gita bersandar di bahu Ricko, sedangkan Ricko merangkul punggung Gita. Mereka berdua sangat menikmati kebersamaan mereka di hari Sabtu itu. Setelah itu Gita memandikan Ibra dan kemudian dia juga ikut mandi, sedangkan Ricko sedang menonton televisi di kamarnya. Tidak lama kemudian Gita menghampiri Ricko sembari menggendong Ibra, dan dia kemudian meminta Ricko untuk menggantikan baju Ibra karena dia ingin berpakaian.


"Tolong sebentar yang."


"Iya yang," ucap Ricko.

__ADS_1


"Ululuh, anakku yang tampan seperti papanya hehe."


"Dih," jawab Gita.


"Kamu pakai baju dulu ya agar tidak kedinginan."


Setelah itu Gita duduk di ranjangnya.


"Entah mengapa tiba - tiba aku sangat mengantuk sekali yang."


"Tidurlah dan aku yang akan menjaga Ibra."


"Benarkah?"


Ricko mengangguk.


"Iya sayang."


Ricko yang selesai mengganti baju Ibra lalu mengajaknya keluar setelah mendengar bahwa kedua orang tuanya akan segera datang, sedangkan Gita sedang tertidur. Tidak lama kemudian orang tua Ricko datang ke rumahnya.


"Sini kakek gendong," ucap papa Ricko.


Ricko lalu memberikan Ibra.


"Ini pah."


"Ululuh semakin berat saja kamu Ibra."


"Iya pah, akhir - akhir ini Ibra minum susunya lumayan banyak."


"Oh begitu, pantas saja cucuku semakin berat."


"Gita kemana Ric?" tanya mama Ricko.


"Dia sedang tidur setelah mandi pagi, katanya dia sangat mengantuk sekali karena Ibra semalaman rewel."


"Kenapa Ibra rewel?"


"Tidak tahu, mungkin dia sedang kelelahan saja ma."


"Coba kamu daftarkan Ibra untuk pijat bayi, siapa tau dia jadi jarang rewel."

__ADS_1


"Baik mah, nanti Ricko akan membicarakannya dengan Gita."


"Iya."


__ADS_2