Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #109


__ADS_3

Berulang kali Liam mengusir Jane dengan berbagai cara namun tetap saja dia gagal mengusirnya. Liam akhirnya menyerah dan membiarkan Jane untuk tidur di sampingnya. Liam lalu mematikan lampu kamarnya untuk tidur karena dia tidak bisa tidur ketika lampunya menyala. Saat tengah malam Liam terbangun karena mimpi buruk yang selalu dia alami setiap malamnya, lalu dia berjalan ke arah balcony kamarnya dan berdiri di sana sembari menatap jalanan yang mulai sedikit sepi. Kedua tangannya berpegangan pada pembatas balcon sembari menghela nafasnya dengan kasar, dan fikirannya mulai memutar kilas balik kejadian pada saat malam dimana dia dirundung oleh beberapa orang pada 3 tahun yang lalu. Dia sebenarnya mampu melawan orang - orang tersebut jika kepalanya tidak ditutup menggunakan karung oleh orang - orang itu, namun ternyata orang - orang itu lebih pintar dari yang di duga. Sebenarnya jika Liam membawa bodyguard miliknya mungkin ceritanya akan beda lagi, mungkin dia tidak akan sampai koma dan mengalami trauma pasca kejadian itu. Liam lalu jatuh terduduk di lantai balcon sembari berteriak hingga membuat Jane terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Jane kemudian berlari menghampiri Liam dan memeluk tubuhnya yang gemetar untuk menenangkannya. Saat Jane memeluk tubuhnya, dia berteriak karena merasa ketakutan dan terus menerus memohon untuk tidak menyakitinya. Jane mengusap punggung Liam secara perlahan untuk menenangkannya karena cara itulah yang hanya dia ketahui untuk menenangkannya.


Liam menangis sejadi - jadinya di pelukan Jane karena dia sudah tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun lagi untuk mengekspresikan perasaannya saat ini. Sekitar 30 menit kemudian Liam sudah mulai tenang dan Jane langsung memapahnya untuk berjalan menuju ke ranjangnya. Jane lalu memberikan segelas air putih untuk Liam minum sembari terus mengusap lembut punggungnya. Liam kembali membaringkan tubuhnya dan Jane kemudian menghapus air mata Liam menggunakan tisu sembari menyelimutinya. Liam mulai kembali tertidur sedangkan Jane mengusap rambut Liam untuk menenangkannya, lalu setelah itu dia memandangi wajah Liam saat tertidur. Jane beralih mengusap pipi Liam dengan lembut, kemudian dia mulai tidur kembali. Di pagi harinya saat sinar matahari mulai menembus masuk ke dalam kamar Liam, Jane mengucek kedua matanya lalu membuka kedua matanya secara perlahan. Saat Jane ingin pergi ke kamar mandi tiba - tiba saja tangan Liam memeluk pinggulnya seperti biasanya. Jane langsung menoleh ke arah wajah Liam yang masih tertidur. Jane berusaha untuk melepaskan tangan Liam dari pinggulnya namun gagal karena Liam memeluknya dengan sangat erat.


"Kumohon jangan pergi dan biarkan seperti ini untuk beberapa saat," ucap Liam dengan suara parau.


Jane mengusap pipi Liam "aku hanya ingin ke kamar mandi sebentar lalu kembali lagi ke sini."


"Janji?"


"Iya janji," ucap Jane sembari tersenyum.


Liam lalu melepaskan tangannya dari pinggul Jane, dan Jane langsung pergi ke kamar mandi untuk buang air. Tidak lama kemudian Jane kembali duduk di samping Liam yang tertidur. Liam lalu memeluk kembali pinggul Jane dari samping, sedangkan Jane mengambil handphone untuk memeriksa apakah ada yang menghubunginya atau tidak.


"Jane."


"Ada apa Liam?" tanya Jane sembari menoleh ke arah Liam.


"Apakah aku sudah mati?"


"Kamu masih hidup Liam," ucap Jane yang merasa terheran dengan pertanyaaan Liam.


"Kalau aku masih hidup lalu kenapa aku bisa bertemu dengan bidadari yang sangat cantik?" tanya Liam dengan matanya yang masih terpejam.


Jane tertawa kecil "berhentilah berkata seperti itu Liam!"


"Kenapa begitu?"


"Ya tidak boleh saja."


"Kenapa tidak boleh?"

__ADS_1


"Ya tidak apa - apa."


"Kalau tidak ada apa - apa, kenapa tidak boleh?"


Jane lalu menutup mulut Liam karena merasa kesal dengannya "sssttt, sudah diam! lebih baik kamu kembali tidur saja."


Liam lalu bangun dari tidurnya dan menggelitiki perut Jane "rasakan ini!"


"Kumohon berhenti ini sangat geli Liam," ucap Jane sembari tertawa.


"Baiklah." Liam lalu berhenti menggelitiki Jane.


Jane lalu duduk di atas ranjang Liam, dan kemudian Liam memeluk Jane sembari duduk di atas pangkuan Jane seperti anak kecil. "Kamu ini seperti anak kecil saja," ucap Jane mengusap rambut Liam.


"Di hari Minggu ini aku sedang ingin bermanja ria denganmu di sini sebelum kamu pergi kembali ke Korea."


"Oh begitu."


Jane tersenyum "tentu saja boleh Liam."


"Jane, aku sangat lelah."


"Kalau begitu kamu istirahat saja."


"Kalau lelah fisik masih bisa istirahat lalu sembuh, tetapi kalau lelah batinnya itu susah untuk menyembuhkannya."


"Memangnya ada masalah apa hingga membuatmu begini, Liam?" tanya Jane mengusap - ngusap rambut Liam.


"Aku bingung ingin mulai cerita darimana."


"Kalau begitu kamu makan saja terlebih dahulu, aku akan memasak makanan untukmu, bagaimana?"

__ADS_1


"Boleh."


Jane lalu beranjak dari ranjang Liam dan berjalan menuju dapur untuk memasak makanan. Sedangkan Liam menyalakan nintendo miliknya dan memainkannya sembari menunggu Jane selesai memasak. Tiba - tiba Liam berfikir jika dia ingin kembali saja ke Sydney karena dia sangat lelah dan merasa bosan di sini, namun tentunya pekerjaan di sana lebih berat daripada di sini. Saat sedang memikirkan hal tersebut lalu Jane datang ke kamarnya dengan membawa sepiring nasi, lauk dan segelas air putih untuk Liam. Setelah itu Jane memberikannya kepada Liam dan pergi mandi. Liam langsung memakannya dengan sangat lahap dan dia mencuci piringnya begitu dia selesai makan. Liam kemudian kembali ke kamarnya untuk melanjutkan bermain vidio game sembari menunggu Jane selesai mandi. Kenapa Liam tidak mandi juga? karena setiap akhir pekan atau hari Libur Liam malas untuk mandi, dan dia hanya mandi setiap sore saja. Dia akan mandi kalau dia diajak pergi untuk main. Begitu selesai mandi Jane kemudian menghampiri Liam dan menyandarkan kepalanya di bahu Liam.


"Tadi kamu ingin menceritakan apa Liam?"


"Oh itu, sebenarnya aku sangat bosan sekali bahkan bosan untuk hidup."


Jane terkejut mendengar ucapan Liam "kenapa begitu?"


"Tidak tau. Aku sangat lelah menuruti semua keinginan orang tuaku, dan rasanya semakin lama hatiku merasa sangat hampa hingga aku berfikir apakah aku ini manusia atau sebuah robot karena selalu menuruti keinginan orang tuaku tanpa memperdulikan apa keinginanku sendiri."


"Liam tidak boleh berbicara seperti itu lagi. Liam harus tetap menjalani hidup Liam dan menikmati hidup Liam," ucap Jane sembari mengusap punggung Liam.


"Tetapi bagaimana caranya? rasanya saja hidupku sudah sangat hampa, terkadang aku ingin menangis tetapi aku malu karena aku ini seorang pria."


"Kalau kamu ingin menangis, menangislah sekarang dan keluarkan semua yang selama ini kamu tahan. Lalu coba saja kamu melakukan hobimu seperti menggambar atau bermain skateboard."


"Aku sudah melakukannya namun tetap saja rasanya sama saja, aku sudah bosan mencobanya secara terus menerus."


Jane lalu mengusap rambut Liam kembali "coba kamu memulainya kembali secara perlahan, lalu setelah itu coba kamu memulai hidup baru dan mengubur semua yang mengusikmu selama ini."


"Caranya?"


"Mulailah dari hal kecil misalnya mengganti dekorasi kamar atau apartement, mulai mengembangkan hobimu secara perlahan namun juga secara berkala, dan bisa saja kamu berjalan - jalan santai di taman sembari menghirup udara segar."


"Baiklah aku akan mencobanya, apakah kamu mau menemaniku berjalan - jalan di taman sore nanti?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu aku akan pergi berolahraga sekarang."

__ADS_1


"Baiklah."


__ADS_2